Langsung ke konten utama

Descartes & Buddhisme

Ada titik kesejajaran antara Buddhisme dengan filsafat Barat, yaitu zaman ketika filsafat Barat menjungkirbalikkan cara berpikir kefilsafatan yang sekedar rasionalisme-metafisis ke empirisme-logis. Menarik. Titik kesejajaran itu adalah dualisme pikiran/materi yang dicetuskan Descartes.

Walau begitu, ada titik persimpangan jalan berpisahnya analitik Barat dengan kontinental, merujuk perkembangan filsafat dalam rahim tradisi India. Tradisi analitik memusatkan pada dunia objektif, fokus utamanya adalah materi, diverifikasi melalui kegiatan penyelidikan empiris dan logis. Sementara itu tradisi kontinen berfokus pada penyintesisan subjektif mentalitas dan sistem bangun metafisikanya dan eksistensi orang dengan lingkungan sosialnya.

Skeptisisme Cartesian

Kita mulai dengan Descartes. Skeptisisme ala Cartesian adalah proses mempertanyakan secara runtut atau metodologis semua keyakinan yang diyakini seseorang/orang-orang. Descartes mengakhiri serangan substansialnya terhadap semua bentuk keyakinan yang dipegang orang-orang dengan pernyataan Cogito ergo sum, 'aku bepikir, maka aku ada'. Kalimat pamungkas penutup serangan. Tanda bahwa dirinya telah mengidentifikasi aksioma landasan cara pandang akan dunia, yaitu aktivitas mental subjektif.

Descartes menggunakan eksperimen berpikir nan cerdas yang dikenal "The evil demon". Itu pendahulu adikodrati dari eksperimen terkini brain-in-a-vat (BIV). Istilah Descartes tadi menggambarkan bahwasanya seseorang dapat ditipu oleh indra dan pikirannya, tidak bisa membedakan mana fakta dan mana fiksi. Mungkin sekilas terdengar konyol, film Matrix adalah gambaran ide umum itu dengan penggambaran populer kekinian, versi argumen Descartes "reborn" adalah apa yang acapkali disebut Hipotesis Simulasi.

Jean Baudrillard, filsuf pasca-strukturalis, dalam Simulacra and Simulation menggunakan konsep simulasi untuk menjelaskan bagaimana masyarakat kini cenderung semakin abstrak, hidup dalam simbol-simbol dan terputus dari realitas di bawah kapitalisme.[4] Pernyataan Baudrillard adalah argumen naturalistik dalam rumusan lain yang menentang adanya kepastian didasarkan pada analisis sosial produksi melalui bahasa dan simbol. Singkatnya, Baudrillard menyatakan bahwa manusia saat ini telah mengganti keseluruhan realitas dan maknanya dengan simbol dan tanda. Dengan kata lain, pengalaman manusia sekedar simulasi realitas, bukan realitas itu sendiri.

Kata kunci lain dari skeptisisme ala Cartesian melibatkan pula pengakuan adanya halusinasi dan menipu dari indra dan pikiran meski dalam kondisi normal. Pengakuan semacam ini argumen bercorak sangat naturalistik dalam membantah adanya kepastian. Hal ini sering diabaikan oleh penentang skeptisisme. Solipsisme adalah hal penting dan pokok dalam kajian Skeptisisme. 

Hal tadi semakin diterima dalam neurologi. Neurolog menyimpulkan bahwa memang—meminjam istilah Anil Seth dari Universitas Sussex—otak berhalusinasi, atau "menciptakan" realitas untuk kita. Seperti yang diutarakan neurolog Patrick Cavanagh, profesor riset di Dartmouth College:

Penting sekali untuk memahami bahwa kita tidak melihat realitas, kita melihat cerita yang sedang dibuat untuk kita.

Meski paparan singkat, jelas, empirisme nyatanya bergantung pada persepsi indrawi. Jadi, itu masih menyisakan kepada kita jengkal ruang bertanya  bagaimana mengetahui senyata-nyatanya realitas itu.


Apa Diajarkan Buddhisme akan Kebenaran Realitas?

Sang Buddha pada mulanya prihatin akan penderitaan/ketidakpuasan dan bertujuan terbebas darinya, ini sebagai lawan dari usaha membangun kebenaran objektif akan realitas. Guru Gotama tidak pula mendorong skeptisisme atau dogmatisme, tetapi jalan tengah. 

Umpama Sang Buddha bisa berdialog dengan Descartes, pihak yang pertama disebut sepertinya akan menawarkan kepada yang disebut kedua untuk mengikuti Jalan Berunsur Delapan, dan tentu mempersilakan mengujinya terlebih dulu apakah ajaran Jalan Berunsur Delapan bermanfaat untuk membebaskan dari penderitaan/ketidakpuasan atau tidak.

Descartes kemungkinan besar akan menyadari spekulasi-spekulasi pikirannya atas apa yang eksisten, realitas aktual. Menyadari akan kemungkinan tertipu aktivitas pikiran (realitas faktual), yang menjadi penghalang menuju kebebasan dari penderitaan/ketidakpuasan.

Dari perspektif Mahayana, Nagarjuna bisa jadi ikut dalam aktivitas analisis kritis dengan Descartes dan menunjukkan kepadanya bahwa, bahkan yang disebut diri yang menurut Descartes adalah riil/nyata karena berpikir, adalah kosong atau Sunjata (tidak memiliki kualitas sifat dan terpisah mandiri dari sekitarnya seperti halnya anggapan umumnya dan tidak dapat ditentukan).

Nagarjuna mungkin juga akan bergeser mendiskusikan dari apa yang dapat kita ketahui sebagai fakta, menganalisis fenomena yang muncul dalam pikiran manusia dan mendekonstruksi gagasan umum manusia semisal waktu, sebab-akibat (kausalitas), dll. Pada akhirnya yang dituju dari semua itu adalah merobohkan penghalang terhadap realisasi realitas yang bebas dari konsepsi pikiran, atau pikiran lepas dari tathata, demi benar-benar merasakan kemenyatuan hidup tanpa perlu mempertanyakan apa yang nyata atau apa mungkin persepsi yang salah. Mahayana sepertinya menekankan pada pengembangan kesadaran nonkonseptual/nondikotomi melalui latihan praktik meditasi, masuk ke pikiran Bodhisattva, berbuat melayani kehidupan dengan kualitas sikap welas dan mengasihi.


Kesimpulan

Descartes menawarkan runtutan argumen menarik yang seringnya kurang dihargai, tetapi sepertinya juga mereifikasi aku/diri melalui identifikasi kerja pikiran. Agak tragis. Sebab Buddhisme menawarkan kita jalan bagaimana untuk bebas dari aktivitas pikiran apapun (dan juga, aku/diri), sehingga kita mengalami hidup secara lebih langsung. Ajaran Sang Buddha menawarkan jalan tengah antara skeptisisme dan dogmatisme, dan dengan demikian menghindari banyak perangkap cara pandang hidup filosofis yang ekstrem.*


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Buku Harmoni Dengan Segala Kehidupan Karya Eckhart Tolle

Buku ini diperhatikan bab-babnya berisi beberapa topik yang di awal-awal menyampaikan perihal kesaatkinian dan korelasinya adalah pelampuan gagasan yang mana meliputi gagasan waktu dan gagasan keterpisahan perihal ilusi eksistensi atau aku terpisah mutlak dari keberadaan lainnya ( atta ), kemudian topik diakhiri perihal "harmoni dengan segala kehidupan", yang dalam bahasa sederhana saya adalah: yang biasa dikira aku sejatinya adalah elemen tiada terpisah dari alam semesta. Anda adalah alam semesta itu sendiri.  Secara sistematis, bab-bab secara serial mengarahkan pembaca kepada kesadaran—apa yang diistilahkan Tolle sebagai—"ruang internal". Sebab di sanalah sumber keberhidupan dan arah tepat pencarian kebahagiaan, ketenangan batiniah. Itu muncul ketika konsepsi aku padam—tidak membersit pada pikiran Anda. Dengan kata lain, Anda menjalani, melakukan, menghadapi yang saat-kini Anda di situ dengan mode pikiran intuitif. Gaya Kebahasaan Gaya pengungkapan keb...

Orang Ewe dan Agama Kepercayaan Tradisionalnya

Orang Ewe bisa dijumpai di  Ghana, Togo, dan Benin. Semuanya adalah negara-negara di bagian barat benua Afrika. Populasi terbesar mendiami Ghana. Tradisi dan kepercayaanya banyak dipengaruhi kebudayaan orang Akan dan Yoruba. Bahasa ibu orang Ewe termasuk rumpun Gbe. Orang Ewe terbagi menjadi klan-klan, tetapi menurut cerita lisan dikatakan berakar pada garis leluhur yang sama. Sistem kepemilikan properti adalah komunal, tidak menganut kepemilikan properti secara individu. Asesedwa , kesenian kayu menyerupai bangku, sangat esensial dalam tradisi Ewe. Karenanya, hal itu dibuat dan diukir sangat hati-hati. Dalam ukiran benda tersebut kaya narasi mengenai klan bersangkutan. Dalam ritual, Asesedwa merupakan media yang berfungsi sebagai tempat memanggi roh leluhur. Asesedwa. Menurut cerita turun temurun, asal-usul mereka berasal dari Kotu/Ketu atau Amedzowe, terletak di sebelah timur Sungai Niger. Kira-kira pada 1500, leluhur mereka bermigrasi ke Notsie, Togo. Pada mulamya, migrasi merek...

Dua Kelahiran (Sebuah Esai Kontemplatif)

Kita kerap disuguhkan bahwa lahir, menua, kemerosotan fisik atau sakit/penyakitan, dan kemudian kematian adalah Penderitaan ( dukkha ). Bahasa sehari-harinya, kita sering kali tidak rela ketiga peristiwa akibat dari dilahirkan tadi menimpa kita dan orang-orang terdekat. Keempat fenomena alam tadi masuk klasifikasi penderitaan disebakan jasmani.  Ada klasifikasi penderitaan lainnya: bersama yang tak disenangi/dicintai, berpisah ataupun kehilangan yang disenangi/dicintai, dan terakhirnya adalah tidak memeroleh apa yang dihasratingini/dinafsui. Saya istilahkan penderitaan disebabkan oleh kemampuan mengada yang darinya muncul kemampuan mengingini (mengidealkan dunia kita alami). Mohon diingat. Ini adalah tulisan bersifat kontemplatif dan ini rasa-rasanya tak ada dalam pengajaran naratif Buddhisme arus utama. Sekedar hasil perenungan dan proses memperjelas istilah yang bagi penulis cukup membingungkan mulanya   Mengapa Kita kerap Alami Suasana Batin Tak Nyaman Kita secara emos...

Apa Itu 4 Kebenaran Hakiki dalam Buddhisme?

Awal-awal ceramah Guru Gautama setelah pencerahannya berkisar di seputar Empat Kebenaran Hakiki, yang merupakan dasar dari Buddhisme. Salah satu cara untuk memahaminya adalah dengan memandang Kebenaran-Kebenaran tersebut sebagai hipotesis dan Buddhisme sebagai proses pemverifikasiannya untuk menjadi tesis, atau merealisasi hakikat akan Kebenaran-Kebenaran itu. Empat Kebenaran Hakiki Umumnya, arti Kebenaran ini ditangkap secara serampangan. Kebenaran tersebut memberi tahu kita bahwa hidup adalah penderitaan. Penderitaan disebabkan oleh loba (ketamakan), dosa (kualitas-kualitas psikiis mengganggu semisal amarah dan ras frustasi), dan moha (pandangan deluaif). Penderitaan berakhir ketika kita terbebas dari 3 kotoram batim tadi. Caranya dengan mempraktikkan apa yang disebut 4 Kebenaran Beruas Delapan. Secara urutan formalnya, Kebenaran tersebut bunyinya berikut: Benar ada penderitaan atau rasa ridak puas ( dukkha ) Benar ada sumber munculnya penderitaan atau tasa tidak puas ( samudaya...

𝙀𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙣 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖, 𝗔𝗽𝗮 𝙨𝙞𝙝 𝗠𝗮𝗸𝘀𝘂𝗱𝗻𝘆𝗮?

Leluhur mewariskan kita ajian tentang bagaimana menjalani hidup yang damai dalam diri, dituangkan dalam 𝘴𝘢𝘯é𝘱𝘢. Dengan itu kita diminta membuka kitab kita sendiri. Kitab itu adalah batin kita masing-masing untuk 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘯𝘢𝘰𝘯𝘪 dan 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪. Orang Sunda dan orang Kenekes (Badui di Lebak, Banten) menyebut "ngaji diri". 𝘌𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘢𝘥𝘩𝘢 (baca: 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘰𝘥𝘩𝘰) adalah ajaran bagaimana mergondisikan batin tiada gangguan agar kembali tenang, tiadanya semacam lubang dalam ruhani atau psikis atau batin, batin puas dengan yang ada, batin bening dan suci sebagaimana sifat asalinya, atau psikis bagaimana mengalami rasa syukur yang sebenar-benarnya syukur (bukan syukur 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘣é) apapun sedang dijumpai. 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖 "Waspadha" (baca: waspodho) atau 𝘯𝘺𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢'𝘯é adalah hadirnya pikiran pada saat-kini, pada momen yang berlangsung. Kita sering makan tetapi kita tak sepenuhnya benar-benar makan, tidak a𝘸𝘢𝘳𝘦 denga...

Apa Maksud Ungkapan Ikonik "Gott Ist Tot" Nietzsche?

Friedrich Wilhelm Nietzsche lahir dari seorang ayah pendeta Kristen pada 1844. Seperti ayahnya yang meninggal usia sangat muda yaitu 36 tahun, ia meninggal pada usia 56 tahun, setelah menghabiskan sepuluh tahun terakhir hidupnya dalam kegilaan yang disebabkan oleh gangguan mental, pada tahun 1900. Ia menulis beberapa buku mencekam dan menelanjangi cara pandang manusia. Di antara paling elegan ada Thus Spoke Zarathustra (Sabda Zarathustra),   Kelahiran Tragedi , Beyond Good and Evil (Melampaui Kebaikan dan Kejahatan) , Silsilah Moral , dan beberapa lainnya adalah yang populer dan dibaca kalangan luas. Terkenal bukan sekedar karya filosofisnya yang luar biasa, tetapi juga pengaruhnya terhadap ratusan pemikir filsafat, psikologi, dan sastra di era setelahnya. Sesuatu yang tak bersambut dan dihargai semasa hidupnya karena ide-ide dan gaya kefilsafatannya di luar arus ortodoksi, hal yang sangat mengganggunya. Namun, setelah itu, seperti ungkapan terkenalnya, "Beberapa lah...

Apa Maksud Samsara dalam Buddhisme?

Dalam Buddhisme, samsara sering diartikan sebagai roda siklus tumimbal lahir tiada berujung. Atau, anda mungkin menangkapnya sebagai dunia penderitaan dan ketidakpuasan ( dukkha ), lawan dari nibbana  yang mana istilah kedua ini merujuk pada suatu kondisi terbebas dari penderitaan dan siklus tumimbal lahir—atau orang umum mengenal dan menyamakannya dengan reinkarnasi. Secara literal, istilah samsara yang berasal dari Sansekerta, berarti "mengalir" atau "melewati", yang dilustrasikan dengan Roda Kehidupan dan digambarkan dengan Dua Belas Asal Muasal Saling Bertaut Kemengadaan. Pada umumnya dipahami sebagai kondisi terbelenggu oleh keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan, atau terjebak ilusi yang mengaburkan realitas sejati ( Sunyata ). Dalam falsafah Buddhis tradisional, kita terjebak dalam samsara dari satu kehidupan ke lain kehidupan hingga kita menemukan kebangkitan melalui ketercerahan. Namun, pengartian samsara paling baik, dan mungkin pengartiannya dapat dit...

Dua Kebenaran dalam Mahayana Buddhis

Apa itu kenyataan? Kamus memberi tahu kita bahwa kenyataan adalah "kondisi sebagaimana adanya". Dalam Buddhisme Mahayana, kenyataan dijelaskan dalam doktrin Dua Kebenaran. Doktrin ini memberi tahu kita bahwa kenyataan dapat dimengerti baik sebagai kenyataan ultim sekaligus kenyataan konvensional (atau absolut dan relatif). Kebenaran konvensional adalah seperti kita sehari-hari melihat dunia, tempat yang penuh dengan hal-hal dan fenomena-fenomena khas yang beragam. Kenyataan ultim-nya adalah tidak ada hal-hal atau fenomena khas. Mengatakan tidak ada perbedaan hal-hal atau fenomena yang khas bukan berarti tidak ada yang eksis sama sekali, yang jelas tidak ada perbedaan. Yang mutlak absolut adalah  dhammakaya , kemenyeluruhan segala sesuatu dan eksistensi, tiadalah pula tampak. Mendiang Chogyam Trungpa menyebut dhammakaya sebagai "dasar dari ketidaklahiran yang asli." Bingung? Anda banyak temannya  kok . Ini bukan ajaran yang mudah untuk "ditangkap", tetapi s...

Mengapa Banyak Orang Amerika Menganggap Buddhisme Sekedar Filsafat?

Di Asia timur, Buddhis merayakan mangkatnya Buddha dan datangnya pencerahan di akhir bulan Februari. Akan tetapi di kuil  Zen  lokal saya di North Carolina, pencerahan Buddha diperingati selama musim liburan bulan Desember, diisi dengan ceramah singkat bagi anak-anak, penyalaan lilin, dan makan malam ala kadarnya di akhir acara. Selamat datang di Buddhisme, gaya Amerika. Pengaruh Awal Pengaruh Buddhisme dalam kesadaran budaya masyarakat Amerika muncul di akhir-akhir abad ke-19. Zaman ketika gagasan romantis tentang mistisisme Timur nan eksotis memantik imajinasi filsuf dan penyair Amerika, penikmat seni, dan angkatan awal para penstudi religi-religi global. Penyair dengan kecenderungan gaya transendentalis seperti Henry David Thoreau dan Ralph Waldo Emerson mempelajari filsafat Hindu dan Buddha secara mendalam. Juga ada Henry Steel Olcott, yang rela pergi ke Sri Lanka pada 1880, yang melakukan konversi ke Buddhisme dan mendirikan aliran filosofi mistik yang terkena...

Berkenalan Tema-tema Dasar Buddhisme dari Buku Peter D. Santina

Anda akan dapat menemui banyak ragam dikenali dari Buddhisme di tataran kasarnya. Namun ragam rupa tampakan tradisi dan pengajaran Buddhisme, yang seolah berbeda, disamakan oleh tema-tema utama: Empat Kebenaran Ariya dan Delapan Ruasnya, Tiga Ciri Universal Keberadaan, Karma, dan tumimbal lahir (saya pahami sebagai kemampuan mengada (bereksistensi), bukan sekadar ada, yang dalam konteks filsafat Buddhis adalah produk ilusi mental). Jika Anda ingin mengenal apa kiranya yang bermanfaat untuk kesehatan mental kita di dunia yang cepat nan sesak ramai objek-objek merangsang hasrat keinginan kita tanpa sudah, maka buku Dr. Peter D. Santina ini layak. Menyuguhkan dasar-dasar bagi siapa saja yang baru awal-awal mengenal Buddhisme. Santina mengupas dalam pendekatan sekuler. Tak salah kalau bab pertama buku ini diberi tajuk "Agama Buddha: Sebuah Sudut Pandang Modern". Walau di beberapa titik tampak sekilas Santina menyinggung nilai-nilai Buddhisme yang kebanyakannya memenuhi alam pikir...