Langsung ke konten utama

Film All Quiet in Western Front: Manusia sebagai Individu dan Kelompok

All Quiet in Western Front adalah produksi Jerman. Berkisah di tahun-tahun akhir kekalahan Jerman, bersekutu dengan Turki Utsmani sebagai Blok Sentral, dan penanda ambruknya dua imperium selaku pihak kalah perang melawan Prancis dan sekutu dalam PD I. 

Film ini mungkin rasa-rasanya agak susah dipahami oleh mereka yang memiliki kekurangan dalam pengetahuan sejarah dasar latar belakang terjadinya penyebab perang PD I dan dinamika politik di internal Kekaisaran Jerman.

Meski begitu, film digarap dengan gambar sinematik bagus yang bisa menghadirkan kesan mengalaminya sendiri bagi penontonnya, membayangkan tragedi kemanusiaan dan absurdnya relasi antar individu manusia dalam suatu kelompok, sebagai individu yang berkuasa atau dikuasai. Film ditayangkan di Netflik pada Oktober 2022. Banyak hal bisa direnungkan akan apa itu manusia.


Kisah dan Makna

Kisah dimulai ketika Kekaisaran Jerman mengalami tanda-tanda kekalahan, kekurangan pasukan akibat tingginya korban berjatuhan. Perlu merekrut anak-anak mudanya sebanyak mungkin untuk ditempatkan di Front Barat melawan Prancis. Mereka direkrut dengan diindoktrinasi rasa bangga akan bangsanya, mirip penjejalan rasa nasionalisme melalui indoktrinasi, lebih tepatnya menjejalkan fanatisme. F-a-n-a-t-i-s-m-e.

Iming-iming kebanggaan semu. Benefit hanya mengalir ke individu-individu elit. Fanatisme hanya mungkin terjadi ketika kondisi mental mayoritas kelas inferior dikondisikan sedemikian rupa oleh kelas superior dalam internal suatu kelompok. Bila fanatisme kebangsaan tumbuh dalam orang-orang biasa atau kelas inferiror, terlepas meraka menerima benefit-benefit atau tidak. 

Sekelompok pemuda kepincut, demi harga diri bangsa dan, tak dipungkiri dalam hasrat seorang individu, angan-angan indah di masa depan akan dirinya setelah perang nanti. Jabatan, terpandang, dan penghasilan lebih dari cukup, dan tentu saja perempuan/pasangan. Paul Bäumer dan tiga kawannya mendaftar. Setelah menerima seragam kemiliteran, khotbah seorang elit militer Jerman kepada anak-anak muda yang dikirim perang:
.... Dengan begitu, majulah perang! Demi Kaisar, Tuhan, dan tanah air!
Sebuah petikan kalimat khotbah ganjil. Tentu juga urutan susunannya. 

Figur utama film, Paul Bäumer, bersorak riang pasca khotbah seorang elit kelompok.

Pelatihan singkat dan segera dalam penugasan. Perang parit, begitu perang khas PD I, membuat mereka terkaget dengan apa yang terjadi dalam perang, tak seperti gambaran angannya. Satu per satu kawan Bäumer tewas di front itu, di parit, demi mempertahankan tanah yang kurang dari 500 meter dari parit lawan. Tahun-tahun melelahkan dan menguras mental. Diikuti munculnya gangguan psikis.

Bäumer mengenal Kat, si buta huruf yang membentak dirinya ketika pikirannya penuh gambaran traumatis akan perang, kematian kawan-kawannya dan kengerian. Ujar Kat:

Tuhan melihat selagi kita saling bantai .... Tapi aku tahu apa? Aku hanya sepasang bot dan senapan.

Ungkapan absurd antara penegasan atau keluhan mendapati dirinya yang lemah tanpa kuasa dalam relasi tatanan kelompok. Seabsurd kematiannya yang ditembak anak laki-laki seorang peternak ketika, bersama Bäumer, mencuri beberapa butir telur untuk isi perutnya. Aksi pencurian di tempat sama untuk yang kedua kali.

Singkat cerita, pihak Jerman dan Prancis menyepakati perang diakhiri, pukul 11 bulan 11 (tahun 1918), Delegasi Jerman dalam perundingan damai diketuai Matthias Erzberger, seorang Sosialis-Demokrat Jerman. Beberapa kalangan elit militer Kekaisaran yang mengidap waham kebesaran, mengidap ilusi harga diri, dan kehormatan menentang dperundingan meski realitas di medan perang menunjukkan tanda-tanda Kekaisaran Jerman kalah. Jawab Erzberger:

... Kehormatan? Putraku tewas dalam perang. Di mana kehormatannya?

Mendengar berita telah tercapainya kesepakatan, seorang perwira tinggi Kekaisaran yang maniak yang bangga akan kebangsaannya, yang sebenarnya menyembunyikan keinginan menguasai suatu bidang ekonomi pasca perang nanti, mengumpulkan pasukannya dan menginstruksikan serangan ke parit lawan sebelum pukul sebelas berdentang, lagi-lagi disampaikan melalui khotbahnya. Watak maniaknya tergambar dalam dialog.

Apa gunanya prajurit tanpa perang?

Bäumer tewas di jam-jam akhir menuju efektifnya gencatan karena
kuasa perintah elit yang tiada bisa ditolak.

Undangan bunuh diri bagi pasukannya, yang selama perang si perwira, ditampilkan dalam film, di tempat nyaman dan meja makan. Siapa saja yang menolak, dieksekusi. Tembak.

Walau melakukan kesepakatan damai adalah alternatif realistis, ia tak terima untuk diakhirinya perang. Dadanya terlalu membusung. Sebelum denting, dimulailah serangan itu. Pemuda terakhir yang tersisa itu, Bäumer, akhirnya tewas menyusul kawan-kawannya, beberapa jam sebelum berlakunya kesepakatan damai.


Untuk Direnungkan

Dari perspektif manusia. Pertama, sebagai individu, ada dua hal yang bisa kita tarik dari kisah tokoh utama, dalam diri Bäumer, juga kematian kawan-kawannya. Dalam jaringan kelompok yang besar, relasi internal kelompok sering-seringnya mengorbankan individu biasa atau kelas inferior, baik sebagai cara mempertahankan kelompok atau—seperti terganbar jelas dalam film—untuk melindungi dan melayani kepentingan elit atau kelas superior di kelompok itu, dengan kerelaan (dan rasanya itu mustahil) atau tidak. 

Sering-seringnya, kalaupun menyadari, tak kuasa oleh individu itu untuk ditentang. Kita bisa bertanya, dengan mengandaikan diri sebagai Bäumer yang mati tragis, apakah benar bahwa perang itu murni melayani kepentingan kelompok—terlebih melayani nilai tertinggi yang biasa oleh pikiran kita dianggap Tuhan? Rasa-rasanya Tuhan tidak punya kepentingan.

Manusia sering terjerembab pada kebanggaan semu. Seperti kata Ezrberger:

Satu-satunya penghalang gencatan senjata adalah kebanggan palsu.

Konflik, perseteruan, dan peperangan muncul di tengah kehidupan manusia karena hal-hal serta kebanggaan semu, dan hasrat imajinatif yang palsu akan diri. 

Kedua. Dari film, kita juga memeroleh bahan perenungan hakikat watak militerisme, angkatan perang. Bagaimanapun, yang tak bisa dibantah, militerisme adalah termasuk fenomena purba dalam sejarah manusia yang berkelompok-kelompok. Dari bentuk paling sederhana hingga mematikan seperti era modern.

Militer adalah mesin. Ia dibuat oleh suatu kelompok untuk melindungi kelompok itu dari ancaman kelompok luar. Atau kalau perlu, seperti sebutannya "angkatan perang", untuk dikerahkan menghancurkan kelompok lain dan, jika punya angkatan perang, militer pihak lain. "Demiliterisasi" lawan, istilah yang sedang popular dalam konflik Russia vs. Ukraina. Keberadaan angkatan perang di dalam banyak kelompok di dunia adalah gambaran dunia manusia yang ringkih, naluri untuk mendominasi, dan dunia dalam dirinya memang mengendap konflik. Namun, tak ayal, ketika tak ada kanal penyaluran sebagai sosok manusia dengan senjata dan naluri mengeliminir, jika kita menengok sejarah di dunia ini, sering kali memusuhi yang harus dilindunginya, misalnya yang dilakukan Tatmadaw hari ini, militer juga bukan mesin dalam arti sebenar-benarnya mesin.

Postingan populer dari blog ini

Review Buku Harmoni Dengan Segala Kehidupan Karya Eckhart Tolle

Buku ini diperhatikan bab-babnya berisi beberapa topik yang di awal-awal menyampaikan perihal kesaatkinian dan korelasinya adalah pelampuan gagasan yang mana meliputi gagasan waktu dan gagasan keterpisahan perihal ilusi eksistensi atau aku terpisah mutlak dari keberadaan lainnya ( atta ), kemudian topik diakhiri perihal "harmoni dengan segala kehidupan", yang dalam bahasa sederhana saya adalah: yang biasa dikira aku sejatinya adalah elemen tiada terpisah dari alam semesta. Anda adalah alam semesta itu sendiri.  Secara sistematis, bab-bab secara serial mengarahkan pembaca kepada kesadaran—apa yang diistilahkan Tolle sebagai—"ruang internal". Sebab di sanalah sumber keberhidupan dan arah tepat pencarian kebahagiaan, ketenangan batiniah. Itu muncul ketika konsepsi aku padam—tidak membersit pada pikiran Anda. Dengan kata lain, Anda menjalani, melakukan, menghadapi yang saat-kini Anda di situ dengan mode pikiran intuitif. Gaya Kebahasaan Gaya pengungkapan keb...

Orang Ewe dan Agama Kepercayaan Tradisionalnya

Orang Ewe bisa dijumpai di  Ghana, Togo, dan Benin. Semuanya adalah negara-negara di bagian barat benua Afrika. Populasi terbesar mendiami Ghana. Tradisi dan kepercayaanya banyak dipengaruhi kebudayaan orang Akan dan Yoruba. Bahasa ibu orang Ewe termasuk rumpun Gbe. Orang Ewe terbagi menjadi klan-klan, tetapi menurut cerita lisan dikatakan berakar pada garis leluhur yang sama. Sistem kepemilikan properti adalah komunal, tidak menganut kepemilikan properti secara individu. Asesedwa , kesenian kayu menyerupai bangku, sangat esensial dalam tradisi Ewe. Karenanya, hal itu dibuat dan diukir sangat hati-hati. Dalam ukiran benda tersebut kaya narasi mengenai klan bersangkutan. Dalam ritual, Asesedwa merupakan media yang berfungsi sebagai tempat memanggi roh leluhur. Asesedwa. Menurut cerita turun temurun, asal-usul mereka berasal dari Kotu/Ketu atau Amedzowe, terletak di sebelah timur Sungai Niger. Kira-kira pada 1500, leluhur mereka bermigrasi ke Notsie, Togo. Pada mulamya, migrasi merek...

Dua Kelahiran (Sebuah Esai Kontemplatif)

Kita kerap disuguhkan bahwa lahir, menua, kemerosotan fisik atau sakit/penyakitan, dan kemudian kematian adalah Penderitaan ( dukkha ). Bahasa sehari-harinya, kita sering kali tidak rela ketiga peristiwa akibat dari dilahirkan tadi menimpa kita dan orang-orang terdekat. Keempat fenomena alam tadi masuk klasifikasi penderitaan disebakan jasmani.  Ada klasifikasi penderitaan lainnya: bersama yang tak disenangi/dicintai, berpisah ataupun kehilangan yang disenangi/dicintai, dan terakhirnya adalah tidak memeroleh apa yang dihasratingini/dinafsui. Saya istilahkan penderitaan disebabkan oleh kemampuan mengada yang darinya muncul kemampuan mengingini (mengidealkan dunia kita alami). Mohon diingat. Ini adalah tulisan bersifat kontemplatif dan ini rasa-rasanya tak ada dalam pengajaran naratif Buddhisme arus utama. Sekedar hasil perenungan dan proses memperjelas istilah yang bagi penulis cukup membingungkan mulanya   Mengapa Kita kerap Alami Suasana Batin Tak Nyaman Kita secara emos...

Apa Itu 4 Kebenaran Hakiki dalam Buddhisme?

Awal-awal ceramah Guru Gautama setelah pencerahannya berkisar di seputar Empat Kebenaran Hakiki, yang merupakan dasar dari Buddhisme. Salah satu cara untuk memahaminya adalah dengan memandang Kebenaran-Kebenaran tersebut sebagai hipotesis dan Buddhisme sebagai proses pemverifikasiannya untuk menjadi tesis, atau merealisasi hakikat akan Kebenaran-Kebenaran itu. Empat Kebenaran Hakiki Umumnya, arti Kebenaran ini ditangkap secara serampangan. Kebenaran tersebut memberi tahu kita bahwa hidup adalah penderitaan. Penderitaan disebabkan oleh loba (ketamakan), dosa (kualitas-kualitas psikiis mengganggu semisal amarah dan ras frustasi), dan moha (pandangan deluaif). Penderitaan berakhir ketika kita terbebas dari 3 kotoram batim tadi. Caranya dengan mempraktikkan apa yang disebut 4 Kebenaran Beruas Delapan. Secara urutan formalnya, Kebenaran tersebut bunyinya berikut: Benar ada penderitaan atau rasa ridak puas ( dukkha ) Benar ada sumber munculnya penderitaan atau tasa tidak puas ( samudaya...

𝙀𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙣 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖, 𝗔𝗽𝗮 𝙨𝙞𝙝 𝗠𝗮𝗸𝘀𝘂𝗱𝗻𝘆𝗮?

Leluhur mewariskan kita ajian tentang bagaimana menjalani hidup yang damai dalam diri, dituangkan dalam 𝘴𝘢𝘯é𝘱𝘢. Dengan itu kita diminta membuka kitab kita sendiri. Kitab itu adalah batin kita masing-masing untuk 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘯𝘢𝘰𝘯𝘪 dan 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪. Orang Sunda dan orang Kenekes (Badui di Lebak, Banten) menyebut "ngaji diri". 𝘌𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘢𝘥𝘩𝘢 (baca: 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘰𝘥𝘩𝘰) adalah ajaran bagaimana mergondisikan batin tiada gangguan agar kembali tenang, tiadanya semacam lubang dalam ruhani atau psikis atau batin, batin puas dengan yang ada, batin bening dan suci sebagaimana sifat asalinya, atau psikis bagaimana mengalami rasa syukur yang sebenar-benarnya syukur (bukan syukur 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘣é) apapun sedang dijumpai. 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖 "Waspadha" (baca: waspodho) atau 𝘯𝘺𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢'𝘯é adalah hadirnya pikiran pada saat-kini, pada momen yang berlangsung. Kita sering makan tetapi kita tak sepenuhnya benar-benar makan, tidak a𝘸𝘢𝘳𝘦 denga...

Apa Maksud Ungkapan Ikonik "Gott Ist Tot" Nietzsche?

Friedrich Wilhelm Nietzsche lahir dari seorang ayah pendeta Kristen pada 1844. Seperti ayahnya yang meninggal usia sangat muda yaitu 36 tahun, ia meninggal pada usia 56 tahun, setelah menghabiskan sepuluh tahun terakhir hidupnya dalam kegilaan yang disebabkan oleh gangguan mental, pada tahun 1900. Ia menulis beberapa buku mencekam dan menelanjangi cara pandang manusia. Di antara paling elegan ada Thus Spoke Zarathustra (Sabda Zarathustra),   Kelahiran Tragedi , Beyond Good and Evil (Melampaui Kebaikan dan Kejahatan) , Silsilah Moral , dan beberapa lainnya adalah yang populer dan dibaca kalangan luas. Terkenal bukan sekedar karya filosofisnya yang luar biasa, tetapi juga pengaruhnya terhadap ratusan pemikir filsafat, psikologi, dan sastra di era setelahnya. Sesuatu yang tak bersambut dan dihargai semasa hidupnya karena ide-ide dan gaya kefilsafatannya di luar arus ortodoksi, hal yang sangat mengganggunya. Namun, setelah itu, seperti ungkapan terkenalnya, "Beberapa lah...

Apa Maksud Samsara dalam Buddhisme?

Dalam Buddhisme, samsara sering diartikan sebagai roda siklus tumimbal lahir tiada berujung. Atau, anda mungkin menangkapnya sebagai dunia penderitaan dan ketidakpuasan ( dukkha ), lawan dari nibbana  yang mana istilah kedua ini merujuk pada suatu kondisi terbebas dari penderitaan dan siklus tumimbal lahir—atau orang umum mengenal dan menyamakannya dengan reinkarnasi. Secara literal, istilah samsara yang berasal dari Sansekerta, berarti "mengalir" atau "melewati", yang dilustrasikan dengan Roda Kehidupan dan digambarkan dengan Dua Belas Asal Muasal Saling Bertaut Kemengadaan. Pada umumnya dipahami sebagai kondisi terbelenggu oleh keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan, atau terjebak ilusi yang mengaburkan realitas sejati ( Sunyata ). Dalam falsafah Buddhis tradisional, kita terjebak dalam samsara dari satu kehidupan ke lain kehidupan hingga kita menemukan kebangkitan melalui ketercerahan. Namun, pengartian samsara paling baik, dan mungkin pengartiannya dapat dit...

Dua Kebenaran dalam Mahayana Buddhis

Apa itu kenyataan? Kamus memberi tahu kita bahwa kenyataan adalah "kondisi sebagaimana adanya". Dalam Buddhisme Mahayana, kenyataan dijelaskan dalam doktrin Dua Kebenaran. Doktrin ini memberi tahu kita bahwa kenyataan dapat dimengerti baik sebagai kenyataan ultim sekaligus kenyataan konvensional (atau absolut dan relatif). Kebenaran konvensional adalah seperti kita sehari-hari melihat dunia, tempat yang penuh dengan hal-hal dan fenomena-fenomena khas yang beragam. Kenyataan ultim-nya adalah tidak ada hal-hal atau fenomena khas. Mengatakan tidak ada perbedaan hal-hal atau fenomena yang khas bukan berarti tidak ada yang eksis sama sekali, yang jelas tidak ada perbedaan. Yang mutlak absolut adalah  dhammakaya , kemenyeluruhan segala sesuatu dan eksistensi, tiadalah pula tampak. Mendiang Chogyam Trungpa menyebut dhammakaya sebagai "dasar dari ketidaklahiran yang asli." Bingung? Anda banyak temannya  kok . Ini bukan ajaran yang mudah untuk "ditangkap", tetapi s...

Mengapa Banyak Orang Amerika Menganggap Buddhisme Sekedar Filsafat?

Di Asia timur, Buddhis merayakan mangkatnya Buddha dan datangnya pencerahan di akhir bulan Februari. Akan tetapi di kuil  Zen  lokal saya di North Carolina, pencerahan Buddha diperingati selama musim liburan bulan Desember, diisi dengan ceramah singkat bagi anak-anak, penyalaan lilin, dan makan malam ala kadarnya di akhir acara. Selamat datang di Buddhisme, gaya Amerika. Pengaruh Awal Pengaruh Buddhisme dalam kesadaran budaya masyarakat Amerika muncul di akhir-akhir abad ke-19. Zaman ketika gagasan romantis tentang mistisisme Timur nan eksotis memantik imajinasi filsuf dan penyair Amerika, penikmat seni, dan angkatan awal para penstudi religi-religi global. Penyair dengan kecenderungan gaya transendentalis seperti Henry David Thoreau dan Ralph Waldo Emerson mempelajari filsafat Hindu dan Buddha secara mendalam. Juga ada Henry Steel Olcott, yang rela pergi ke Sri Lanka pada 1880, yang melakukan konversi ke Buddhisme dan mendirikan aliran filosofi mistik yang terkena...

Berkenalan Tema-tema Dasar Buddhisme dari Buku Peter D. Santina

Anda akan dapat menemui banyak ragam dikenali dari Buddhisme di tataran kasarnya. Namun ragam rupa tampakan tradisi dan pengajaran Buddhisme, yang seolah berbeda, disamakan oleh tema-tema utama: Empat Kebenaran Ariya dan Delapan Ruasnya, Tiga Ciri Universal Keberadaan, Karma, dan tumimbal lahir (saya pahami sebagai kemampuan mengada (bereksistensi), bukan sekadar ada, yang dalam konteks filsafat Buddhis adalah produk ilusi mental). Jika Anda ingin mengenal apa kiranya yang bermanfaat untuk kesehatan mental kita di dunia yang cepat nan sesak ramai objek-objek merangsang hasrat keinginan kita tanpa sudah, maka buku Dr. Peter D. Santina ini layak. Menyuguhkan dasar-dasar bagi siapa saja yang baru awal-awal mengenal Buddhisme. Santina mengupas dalam pendekatan sekuler. Tak salah kalau bab pertama buku ini diberi tajuk "Agama Buddha: Sebuah Sudut Pandang Modern". Walau di beberapa titik tampak sekilas Santina menyinggung nilai-nilai Buddhisme yang kebanyakannya memenuhi alam pikir...