All Quiet in Western Front adalah produksi Jerman. Berkisah di tahun-tahun akhir kekalahan Jerman, bersekutu dengan Turki Utsmani sebagai Blok Sentral, dan penanda ambruknya dua imperium selaku pihak kalah perang melawan Prancis dan sekutu dalam PD I.
Film ini mungkin rasa-rasanya agak susah dipahami oleh mereka yang memiliki kekurangan dalam pengetahuan sejarah dasar latar belakang terjadinya penyebab perang PD I dan dinamika politik di internal Kekaisaran Jerman.
Meski begitu, film digarap dengan gambar sinematik bagus yang bisa menghadirkan kesan mengalaminya sendiri bagi penontonnya, membayangkan tragedi kemanusiaan dan absurdnya relasi antar individu manusia dalam suatu kelompok, sebagai individu yang berkuasa atau dikuasai. Film ditayangkan di Netflik pada Oktober 2022. Banyak hal bisa direnungkan akan apa itu manusia.Kisah dan Makna
.... Dengan begitu, majulah perang! Demi Kaisar, Tuhan, dan tanah air!
![]() |
Figur utama film, Paul Bäumer, bersorak riang pasca khotbah seorang elit kelompok. |
Tuhan melihat selagi kita saling bantai .... Tapi aku tahu apa? Aku hanya sepasang bot dan senapan.
Ungkapan absurd antara penegasan atau keluhan mendapati dirinya yang lemah tanpa kuasa dalam relasi tatanan kelompok. Seabsurd kematiannya yang ditembak anak laki-laki seorang peternak ketika, bersama Bäumer, mencuri beberapa butir telur untuk isi perutnya. Aksi pencurian di tempat sama untuk yang kedua kali.
Singkat cerita, pihak Jerman dan Prancis menyepakati perang diakhiri, pukul 11 bulan 11 (tahun 1918), Delegasi Jerman dalam perundingan damai diketuai Matthias Erzberger, seorang Sosialis-Demokrat Jerman. Beberapa kalangan elit militer Kekaisaran yang mengidap waham kebesaran, mengidap ilusi harga diri, dan kehormatan menentang dperundingan meski realitas di medan perang menunjukkan tanda-tanda Kekaisaran Jerman kalah. Jawab Erzberger:
... Kehormatan? Putraku tewas dalam perang. Di mana kehormatannya?
Mendengar berita telah tercapainya kesepakatan, seorang perwira tinggi Kekaisaran yang maniak yang bangga akan kebangsaannya, yang sebenarnya menyembunyikan keinginan menguasai suatu bidang ekonomi pasca perang nanti, mengumpulkan pasukannya dan menginstruksikan serangan ke parit lawan sebelum pukul sebelas berdentang, lagi-lagi disampaikan melalui khotbahnya. Watak maniaknya tergambar dalam dialog.
Apa gunanya prajurit tanpa perang?
![]() |
| Bäumer tewas di jam-jam akhir menuju efektifnya gencatan karena kuasa perintah elit yang tiada bisa ditolak. |
Untuk Direnungkan
Dari perspektif manusia. Pertama, sebagai individu, ada dua hal yang bisa kita tarik dari kisah tokoh utama, dalam diri Bäumer, juga kematian kawan-kawannya. Dalam jaringan kelompok yang besar, relasi internal kelompok sering-seringnya mengorbankan individu biasa atau kelas inferior, baik sebagai cara mempertahankan kelompok atau—seperti terganbar jelas dalam film—untuk melindungi dan melayani kepentingan elit atau kelas superior di kelompok itu, dengan kerelaan (dan rasanya itu mustahil) atau tidak.
Sering-seringnya, kalaupun menyadari, tak kuasa oleh individu itu untuk ditentang. Kita bisa bertanya, dengan mengandaikan diri sebagai Bäumer yang mati tragis, apakah benar bahwa perang itu murni melayani kepentingan kelompok—terlebih melayani nilai tertinggi yang biasa oleh pikiran kita dianggap Tuhan? Rasa-rasanya Tuhan tidak punya kepentingan.
Manusia sering terjerembab pada kebanggaan semu. Seperti kata Ezrberger:
Satu-satunya penghalang gencatan senjata adalah kebanggan palsu.
Konflik, perseteruan, dan peperangan muncul di tengah kehidupan manusia karena hal-hal serta kebanggaan semu, dan hasrat imajinatif yang palsu akan diri.
Kedua. Dari film, kita juga memeroleh bahan perenungan hakikat watak militerisme, angkatan perang. Bagaimanapun, yang tak bisa dibantah, militerisme adalah termasuk fenomena purba dalam sejarah manusia yang berkelompok-kelompok. Dari bentuk paling sederhana hingga mematikan seperti era modern.
Militer adalah mesin. Ia dibuat oleh suatu kelompok untuk melindungi kelompok itu dari ancaman kelompok luar. Atau kalau perlu, seperti sebutannya "angkatan perang", untuk dikerahkan menghancurkan kelompok lain dan, jika punya angkatan perang, militer pihak lain. "Demiliterisasi" lawan, istilah yang sedang popular dalam konflik Russia vs. Ukraina. Keberadaan angkatan perang di dalam banyak kelompok di dunia adalah gambaran dunia manusia yang ringkih, naluri untuk mendominasi, dan dunia dalam dirinya memang mengendap konflik. Namun, tak ayal, ketika tak ada kanal penyaluran sebagai sosok manusia dengan senjata dan naluri mengeliminir, jika kita menengok sejarah di dunia ini, sering kali memusuhi yang harus dilindunginya, misalnya yang dilakukan Tatmadaw hari ini, militer juga bukan mesin dalam arti sebenar-benarnya mesin.



