Film Utvandrarna, atau The Emigrants, adalah drama produksi Swedia dan rilis pada Desember 2021. Garis besar film ini bisa diringkas dalam tiga subplot, yaitu latar tempat masih di Swedia, kisah-kisah dalam pelayaran menuju Amerika, dan pergulatan iman Kristina di kampung barunya, di Minnesota, Amerika Serikat. Film ini, meski plot cerita sederhana dan sepertinya film low badget, memberi kita kisah menarik kehidupan.
Plot
Bermula di perkampungan religius Lutheran di Swedia, pada 1849. Karl Oskar dan istrinya hidup serta anak-anaknya, Lill-Marta, Anna, dan Harold, dalam kemelaratan. Kristina Nelsson, seperti perempuan-perempuan di kampung itu, adalah perempuan religius, konservatif, dan tak bisa baca tulis karena memang perempuan dilarang belajar sesuai tradisi yang dipegang Lutheran kala itu. Kristina yang religius adalah tipikal perempuan pasrah menerima apapun keadaan hidup dan percaya bahwa semua adalah takdir Tuhan. Bahkan, ketika gudang gandum panenannya terbakar habis, ia masih sanggup menghadapi, meski penuh ekspresi muram. Persediaan pangan yang rencananya untuk musim dingin yang segera tiba. Pandangan buta yang ditentang Karl dalam beberapa ungkapan (dalam dialog),
Tuhan membantu orang yang membantu dirinya sendiri
Karl, suaminya, selaku kepala keluarga adalah sosok pekerja tekun sebagai petani, bisa membaca, dan merasa gelisah atas iman Kristen dan Tuhan, mempertanyakan nasib dan keinginan mengubahnya, dan menghadapi penentangan tokoh gereja di kampungnya atas keinginannya beremigrasi ke Amerika Serikat. Dengan mengutip nama Tuhan, menuduh Karl berperilaku sombong dan serakah. Juga tak mendapat persetujuan Kristina, meski kemalangan hidup terus menghampiri pasangan ini dan anak-anaknya. Kristina selalu mengingatkan suaminya untuk beriman. Ucap Karl ke istrinya, Kristina:
Haruskan kita menghukum anak-anak kita untuk hidup? ... Kesengsaraan karena tidak berani memikirkan diri kita sendiri?
Hingga pada suatu saat, ketika kematian anak perempuannya yang malang dalam kemiskinan orang tuanya, telah mengubah pikiran Kristina. Ia bersedia mengikuti suaminya ke Amerika, demi kehidupan lebih baik. Ada program tanah gratis di sana bagi pendatang baru, masa ekonomi Amerika menggeliat dengan monumen sepoor uap dan, di pelabuhan-pelabuhannya, kapal-kapal uap. Sesuatu yang baru di zamannya. Amerika dan dunia baru.
Perjalanan dengan menumpang kapal layar melintasi Atlantik dimulai, panjang dan melelahkan. Tak dinyana, di kapal itu ternyata ada Ulrika, perempuan malang yang sejak kecil yatim piatu, yang di kampungnya sundal dan di-ekskomuni, dijauhi atas nama iman. Kelak Ulrika, yang memiliki anak remaja satu dan tak jelas bapaknya, akan menjadi sahabat Kristina di Minnesota, sejak kejadian di stasiun. Di kapal, Kristina juga mengenal Judith Olausson, istri seorang pastur bernama Petrus yang konon ditunjuk menjadi imam gereja di Wiscounsin, yang kelak setelah Karl dan Kristina bermukim di Minnesota, ternyata mereka juga tinggal di sana.
Kehidupan Lebih Baik, Nilai-nilai Amerika, dan Gegar Iman
Iming-iming tanah gratis adalah pendorong Karl bermigrasi ke Amerika. Dunia baru yang sedang menggeliat. Tiba di Minnesota, tanpa sengaja mereka bertemu dan kemudian ditolong oleh Pendeta Jackson, seorang pastur dari denominasi di luar tradisi dan nilai-nilai religius Kristina. Ia juga menujukkan bagian-bagian mana di Minnesota yang bisa didiami dan sekiranya layak untuk berladang oleh Karl. Pendeta Jackson, dengan semangat nilai-nilai baru Amerika, membantu mereka dan memberi tumpangan mereka.
Ternyata Petrus dan istrinya tidak ke Wiscounsin, mereka tinggal juga di Minnesota. Ada beberapa puluh emigran dari Swedia juga. Bersama mereka, komunitas Swedia dibentuk, mendirikan seperti gereja dan sarana sekolah untuk anak-anak mereka. Membangun "Swedia kecil". Namun Petrus, tak beda dengan imam di kampungnya, berwatak represif atas nama iman, melarang anak-anak perempuan sekolah. Kekecewaan menyembul dalam diri Karl, padahal anak perempuannya Lill-Marta, antusias untuk sekolah. Kelak keinginan Marta ini menjadi cekcok kecil dengan ibunya. Karl sendiri juga pengurus gereja dan mulai berbaikan dengan agamanya, agak menentang. Namun diredam Kristina.
Kristina perlahan, atas pengaruh Judith yang mendalihkan iman, diminta menjauhi Ulrika. Terlebih ia kawin dengan lelaki denominasi berbeda, yang menurut keyakinan mereka adalah perbuatan bidat dan, seperti kebanyakan pemercaya agama yang gemar mengutuk liyan, dimurkai Tuhan. Berkombinasi dengan pengalaman lain, misalnya dirampok oleh Indian, Kristina mengalami gegar iman. Namun, ada peristiwa yang membuatnya berbalik menyadari dan menentang penindasan halus pendeta Petrus dan istrinya kemudian. Ketika ia ditolong Indian.
Apa Pelajaran dari Film Ini?
Ada beberapa hal yang menarik untuk dicatat, yaitu identitas tumpah darah atau kampung halaman yang selama ini mengusik batin Kristina, gegar iman dan pencarian jati diri Kristina, dan pilihan sadar akan kemerdekaannya bukan untuk ditindas oleh imam gerejanya yang konservatif seperti halnya di Swedia dahulu, membiarkan anak perempuannya sekolah di sekolah umum Amerika, bukan di sekolah komunitasnya tadi yang melarang perempuan sekolah. Meski konsekuensinya adalah ekskomuni.
Kristina lebih memilih bersahabat dengan Ulrika yang dianggap hina tanpa pernah mencari tahu mengapa dan menolongnya, kecuali hanya mengalamatkan label-label buruk atas nama agama. Kristina, setelah mengenal dekat dan kerap ditolongnya, berubah memandang diri Ulrika, yang kini telah sukses di Amerika sebagaimana harapannya bermigrasi. Kristina pada akhirnya meninggal dan dikebumikan di tanah tumpah darah atau "kampung halaman kedua", jauh dari Swedia, akibat masalah kandungan yang merenggut hidupnya.



