Kosong, scraped tablet, waraqat al-baidlo', dalam khasanah kebahasaan kita diistilahkan tabula rasa. Seorang manusia lahir tanpa isi pikiran atau bentuk mental bawaan. Dengan kata lain kosong, asalinya tiada ada apa-apa, kondisi asali.
Seluruh pengetahuan, utamanya yang didapat dari lingkungan sekitar terdekat, diperoleh sedikit demi sedikit melalui pergaulan dan bersosial, pengalaman akan dunia di luar diri semakin matang seiring perkembangan mawasnya dalam mengembangkan persepsi terhadap hal-hal, akan dunia. Dengan kata lain, pengalaman yang dicerap pikiran mawasnya adalah yang mempengaruhi pernak-pernik apa saja yang akan menjadi hiasan interior pikiran dan bentuk mentalnya, meliputi nilai-nilai budaya dan keyakinan-keyakinan yang terinput, kepribadian, perilaku sosial, dan emosional serta kecerdasan. Ini yang kemudian ia yakini sebagai identitas diri dan cara ia mempersepsikan aku dan dunia.
Seiring tumbuhnya mawas, dualisme dalam kerja pikiran dimulai dan terbentuk. Ini adalah identitas cara pikir dan menjebak di mana kita tanpa bisa keluar darinya. Pendekatan ini di era modern menjadi corak aktivitas intelektual yang dalam dirinya melekati istilah dan bahasa. Dalam perlakuan berbeda, juga pendekatan dalam psikologi dan neurologi.
Tabula Rasa
Tabula rasa sebagai pandangan dalam epistemologi bahwa pikiran atau kesadaran (orang kuno mengistilahkan roh atau jiwa dengan konsepsi rumitnya dan spekulatif) asalinya kosong, dianalogikan "kertas putih". Pada dasarnya semua anak dilahirkan layaknya kertas putih hingga orangtuanya (dan lingkungannya) mengisikan apa-apa di pikirannya. Manusia kebanyakannya hanyalah fotokopi lingkungannya.
Pengandaian bahwa pikiran/jiwa/roh pada mulanya layaknya kertas kosong dan masih belum tertulisi dapat ditemukan dalam 𝘋𝘦 𝘢𝘯𝘪𝘮𝘢 karya Aristoteles (4 SM) dan kefilsafatan kaum Stoa. Juga Peripatetika yaitu murid-murid di Lyceum yang didirikan oleh Aristoteles.
Walau begitu, baik Aristoteles dan kaum Stoa menekankan pada potensinya bila menerima rangsangan yang dicerap indera dan kemudian menanggapinya dengan proses mengolahnnya menjadi pengetahuan yang melekat dalam pikiran. Penekanan pada gagasan intelektual. Ide yang sampai pula ke telingan pendiri Islamisme. Sementara itu, setelah mengenali bagaimana pikiran terisi pernak-pernik, Zen tidak berhenti di titik ini, tetapi modal untuk membebaskannya, menyadari kondisi asali. Kebebasan spirit habya bisa dicapai dengan ini.
Pengetahuan Yunani, ketika Iskandar zul-Qornain atau Aleksander Agung dari Georgia menaklukkan negeri-negeri sekitar hingga lembah Indus, banyak memberi pengaruh negeri-negeri sekitar dalam pemikiran dan ada indikasi pemikiran tentang tabula rasa ini sampai ke orang-orang Jazirah. Dikatakan, "Bayi yang baru lahir ibarat kertas putih yang masih bersih, suci, berpotensi, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia Judais, Kristiani, atau Zoroastrian," riwayat Abdul Barri. Pernyataan yang intrinsik mengandung ide tabula rasa—juga konformitas. Dalam tempo lain, konsep tabula rasa ini dipadankan "fitrah".
Pandangan bahwa pikiran/jiwa/roh pada asalinya kosong diradikalkan oleh seorang empiris Inggris John Locke pada abad ke-16, dengan mengamputasi anggapan ilahiahnya bahwa keabadian roh tak ada. Pikiran menurut Locke memiliki kekuatan bawaan "refleksi", yaitu kesadaran akan ide, sensasi, emosi, dan sebagainya yang memeroleh bahan kontemplasi dan berpikir dari indera, kemudian termemori dan menjadi "tempelan pikiran". Seturut dengan Locke adalah Hume.
Tabula rasa adalah sebuah pandangan yang garis besarnya menyatakan bahwa asalinya pikiran/mental adalah kosong dan kemudian terisi bersamaan kemampuannya yang berkembang mencerap hal-hal dan fenomena. Kondisi pikiran yang asalinya hening bergeser semarak berisi beraneka rupa. Kita dapat katakan bahwa semarak isi pikiran bukanlah pikiran itu sendiri. Dalam analogi, poster di dinding kamar bukanlah dinding itu sendiri.
Zen: Kembali ke Tabula Rasa
Zen adalah pemikiran untuk tiada pemkiran, tidak berdiam melekat pada pendedahan dunia objektif ataupun melekati poster-poster pikiran, merobohkan tembok dualisme. Apa yang dipelajari dalam Zen adalah tidak mempelajari apa-apa, mengembalikan pikiran pada kondisi asalinya, tabula rasa.
Zen membangun perancahnya sedemikian rupa, karenanya Zen kadang ada yang mempersamakannya sebagai suatu pemikiran. Bagaimanapun tiada sistem baku pemikiran, hanya didasarkan pada spontanitas. PIkiran pada asalinya adalah kosong, tiada dualisme dan tempelan poster-poster yang selama ini kita melekati dan meyakini itu sebagai pikiran itu sendiri. Bangunan perancah Zen dengan media istilah dan bahasa—yang bisa dijumpai dalam gatha—bukan untuk berdiam di dalam dualisme pikiran dan bahasa, melainkan untuk keluar darinya, membebaskan pikiran dan/atau mental. Zen adalah anti simpul logika dualismw yang merupakan jebakan-jebakan bagi manusia. Seperti nasihat Ajahn Chah, "Sang Buddha menyuruh kita mengamati pikiran ini. Apalah yang ada di sana pada mulanya?"
Cara Zen adalah membangkitkan spontanitas dan ini hanya dimungkinkan bila pikiran berlogika istirahat, untuk melampaui dualisme. Mengajak pulang pikiran dari penjara labirin yang dibuatnya, melepas poster-poster dinding, dan dengan begitu melibati kehidupan keseharian, momen ke momen, dalam spontanitas di mana kebahagiaan berada.

