Langsung ke konten utama

5 Guru Zen & Ajarannya

Istilah "Guru Zen" adalah istilah umum. Ada sebutan gelar untuk memanggil di berbagai aliran Zen yang hampir mirip sebutan "guru", Walau begitu, kita bisa menyebut guru Zen saja bila bertemu mereka. Seringkali pembawaan mereka eksentrik, cerdas, dan selalu tak terprediksi dan mengejutkan, guru Zen adalah contoh dari cara hidup yang lain dalam memandang dunia dan mengalami kehidupan.

Ada begitu banyak guru Zen berpengaruh, apa yang mereka ajarkan, dan bagaimana mereka mempraktikkan fialsafah hidupnya. Berikut lima di antaranya.

Bodhidharma

Dinisbatkan sebagai Patriark I, Bodhidharma adalah pendiri Zen yang kisahnya bercampur legenda. Ia seorang bikkhu berasal dari India, ada pula yang mengatakan dari Persia, yang pergi ke Tiongkok pada abad ke-6 dengan maksud mengajarkan meditasi. Naskah-naskah awal tentang para guru Buddhis berpengaruh di Tiongkok memasukkan namanya dan mencatat dedikasinya dalam mengajarkan metode meditasi. Kisah-kisahnya lebih kompleks lagi setelah ia dinobatkan sebagai Patriark Zen I di kemudian waktu.

Kemungkinan besarnya sebagian kisah akan Bodhidharma ditulis demi menaikkan pamornya, tetapi legenda-legenda yang mengitarinya menjadi dasar bagi kehidupan para bikkhu setelah zamannya. Setibanya di Tiongkok selatan, ia diminta untuk memberi ceramah tentang Buddhisme ke khalayak. Tak ingin membuat kecewa, ia naik ke atas mimbar dan bermeditasi di depan audiens beberapa saat sebelum akhirnya bangkit dan pergi. Di akhir kiprahnya, diperkirakan pada usia 150 tahun, ia menguji para pengikutnya untuk mencari tahu apakah mereka lulus memahami atau tidak. Ia meluluskan siapa saja yang tidak memberikan jawaban adalah yang paling memahami ajaran Buddha.

Meditasi adalah inti, yang sering diistilahkan "menatap dinding" dalam teks-teks awal tentang dirinya, merupakan inti pemahamannya akan Buddhisme. Persisnya seperti apa model meditasi yang ia praktikkan tidak diketahui, tetapi secara umum dianggap mirip dengan Zazen, yaitu model meditasi yang secara definitif telah menjadi praktik Zen.


Mazu Daoyi

Mazu Daoyi adalah seorang bikkhu Tiongkok yang mengajar selama era Dinasti Tang dan menemukan beberapa teknik pengajaran yang nantinya dipergunakan di banyak aliran Zen. Sementara biaranya adalah satu di antara banyak biara di Tiongkok selatan, dan doktrinnya secara umum bersesuaian dengan teori yang ada, Mazu memberikan solusi atas pertanyaan praktis penting yang dihadapi Zen pada abad ke-8 dan menetapkan standar yang hendak dicapai oleh para sesepuh kepala kuil.

Saat itu terjadi perdebatan antara Utara dan Selatan tentang bagaimana mencapai pencerahan. Utara cenderung bertahap, mendukung adanya refleksi rasional terhadap teks kanon, banyak bermeditasi, dan langkah tahap demi tahap untuk lahirnya pemahaman yang benar akan dunia. Meski masih mengadopsi banyak teknik yang dipergunakan Utara, Selatan berpendapat bahwa pencerahan adalah hal yang sifatnya tiba-tiba, yang tidak dapat dicapai selangkah demi selangkah. Sebaliknya, pencerahan, atau "melihat ke dalam sifat asali seseorang", seperti yang sering mereka katakan, akan datang seketika dan tidak begitu bergantung pada refleksi rasional, melainkan intuisi.

Aliran di Selatan memenangkan perdebatan itu. Namun, mereka gagal menjawab pertanyaan tentang bagaimana menghadirkan pencerahan yang seketika itu. Pada titik inilah Mazu masuk, merumuskan metode teknis yang akhirnya menjadi populer di biara-biara tertentu. Metodenya masih mempengaruhi banyak orang akan Zen.

Dengan maksud bisa menolong para muridnya mengatasi aspek rasional dari pikiran mereka, yang sering-seringnya menjadi penghambat terjadinya pencerahan, Mazu mengembangkan taktik kejut. Ia akan meneriaki siswa, memanggil nama mereka saat mereka meninggalkan ruangan, menjatuhkan mereka ke tanah, dan menjawab pertanyaan mereka dengan jawaban yang tidak masuk akal dengan harapan mengejutkan mereka dari mode kesadaran khas mereka. Dengan menunjukkan kepada siswa bahwa yang nyata-ada itu tepat di depannya dan bahwa tidak ada kewajiban untuk memuaskan pikiran rasional dan keingintahuan mereka, ia berharap murid-muridnua merasakan pencerahan batin—atau sebaliknya justru kotoran batin, seperti yang kadang terjadi.


Dōgen

Pendiri Soto Zen Jepang, Dogen disanjung sebagai salah satu pemikir terbesar dalam sejarah Jepang. Menolak kehidupan sebagai bangsawan dan memilih menjadi bikkhu. Ia ditahbiskan pada umur 13 tahun. Meski belajar dari banyak tokoh terkemuka di Jepang abad ke-13, tapi ia tidak puas dengan ajaran Buddhisme di Jepang yang ada di era itu dan memutuskan mencari guru lain ke Tiongkok.

Sebelum menaiki kapal menuju Tiongkok, ia bertemu dengan seorang juru masak sebuah kuil Zen yang penguasaannya akan Buddhisme melampaui dirinya. Dogen mengembara ke Tiongkok terdorong untuk mencari seorang guru dan akhirnya menemukannya pada diri Rujing. Seperti banyak guru Zen masyhur lainnya, Rujing menekankan meditasi, yang sangat diperhatikan oleh Dogen. Setelah mencapai pencerahan saat belajar di bawah bimbingan Rujing, Dogen kembali ke Jepang untuk memulai mendirikan sekolahnya sendiri.

Ajaran Dogen paling baik adalah yang tertulis di buku Shōbōgenzō. Seperti banyak guru lainnya, ia juga menekankan pentingnya meditasi duduk. Dia menaruh pada pentingnya shikantaza, yaitu model meditasi di mana meditator mengawasi gerak-gerik pikiran sendiri, tetapi tidak berinteraksi atau larut ke dalamnya. Secara doktrin, ia mendukung ketidakterpisahan antara praktik dan pencerahan itu sendiri, sifat universalitas sifat kebuddhaan, dan kebajikan internal tak terpisahkan dengan yang eksternal.

Ia juga menyuguhkan jawaban akan pencerahan seketika atau bertahap dengan mengemukakan bahwa "semua yang tercerahkan ... berlatih Zazen tanpa Zazen dan langsung tercerahkan." Dia mengutarakan bahwa apa saja bisa bersifat meditatif, bahwasanya mereka yang mencapai pencerahan yang seolah dwngan seketika telah berlatih meditasi sepanjang waktu, dan kiranya ini membuat meditasi menjadi lebih penting lagi. Karena pendapatnya, ini menempatkan dirinya lebih dekat ke pendukung argumen "gradualisme".


Ikkyu Sojun

Merupakan seorang murid Rinzai Zen Jepang pada abad ke-15, Ikkyu mengenal Zen ketika masih kanak-lanak, ketika Zen semakin rusak karena terkontaminasi politik, komersialisasi, dan kurangnya perhatian pada inti ajaran. Ikkyu adalah sosok ikonoklastisk Zen yang agung dan dipuka-puja layaknya santa sekaligus penghujat.

Belajar di bawah bimbingan seorang kepala biara yang sulit di sebuah kuil terpencil di tepi danau, Ikkyu bermeditasi pada malam hari di atas sampan. Ia mencapai pencerahan seketika pada umur 26 tahun setelah dikejutkan oleh seekor burung gagak. Pada usia 46 tahun, dia diundang untuk memimpin sebuah kuil, tetapi kemudian muak hanya dalam waktu sepuluh hari.

Dalam puisi pengunduran dirinya, ia menuliskan bahwa lebih banyak Zen bisa dijumpai dalam daging, anggur, dan seks daripada di biara. Ia dikenal sebagai pelanggar sumpah monastiknya, dengan mengingat ia selalu menuruti dirinya akan ketiga hal tadi dan ia juga selalu menentang selibat dalam tulisannya. Terganggu oleh komersialisasi, intrik politik, dan secara umum biara yang gagal, ia pergi mengembara ke Jepang.

Dia menghabiskan beberapa dekade berikutnya sebagai gelandangan. Momen yang memberinya kesempatan untuk berinteraksi dengan orang-orang dari semua lapisan masyarakat Jepang, ia menulis puisi yang isinya mengkritik ajaran-ajaran yang diberikan di biara, dan menulis prosa tentang falsafah Buddhisme. Catatan tentang petualangan (keliru) dirinya dapat ditemukan dalam puisi-puisinya dan sejumlah cerita legenda rakyat.

Di akhir hayatnya, ia ditahbiskan menjadi kepala biara di Kyoto dengan harapan ia akan membantu membangunnya kembali setelah perang Onin. Tidak pernah sepenuhnya nyaman dengan peran diembannya, ia kemudian merefkeksikan yang dirasakannya secara puitis: "Lima puluh tahun seorang pengembara desa, Sekarang malu dalam jubah ungu". Ia juga dikenang karena menginspirasi upacara minum teh Zen, kaligrafinya yang luar biasa, dan beberapa lukisan tinta. Puisi-puisinya yang seringnya dinilai mendalam dan juga sangat dihargai, bisa jadi yang paling meluas dibaca.


Thich Nhat Hanh

Seorang siswa aliran Thiền, yaitu aliran Zen di Vietnam, Thich Nhat Hanh mungkin adalah bikkhu Buddhis paling tersohor selain Dalai Lama di abad ke-20.

Masuk biara pada umur 16 tahun, Thich Nath Hanh adalah orang yang aktif dan pembelajar yang bersemangat. Ia meninggalkan akademi Buddhis pertamanya karena merasa tidak menawarkan cukup cakupan mata pelajaran modern dan sekuler. Setelah menemukan yang diinginkan, ia mulai mengambil kelas sains modern di Universitas Saigon. Sekitar waktu belajarnya itu, ia mulai menulis, mengajar, dan melakukan gerakan aktivisme antiperang. Seruannya untuk mempersatukan berbagai organisasi Buddhis di Vietnam Selatan memantik kemarahan dari elit biaranya. Seruannya untuk perdamaian menjadi pemicu pemerintah Vietnam Selatan menuduhnya sebagai seorang Komunis dan melakukan pengkhianatan.

Ia tidak menjejakkan kakinya di tanah kelahirannya Vietnam hingga tahun 2005, rezim Komunis Vietnam juga tidak menyukainya. Ia berdiam di Prancis dan mendirikan Plum Village Monastery. Ia berdiam di Prancis hingga kepulangannya terakhir ke Vietnam pada tahun 2018. Beberapa dekade di antaranya, ia menjadi aktivis dan guru yang tersohor di dunia.

Ajarannya membentuk dasar dari tradisi Plum Village, yang menggabungkan ide-ide dari beberapa aliran Buddhis dan sangat menekankan praktik mindfulness. Praktik hidupa penuh-kesadaran modern berhutang budi pada bukunya tahun 1975, The Miracle of Mindfulness.

Ia juga dianggap sebagai inspirasi untuk "engaged Buddhism", sebuah istilah yang ia cetuskan. Engaged Buddhism bertujuan untuk menggabungkan praktik Buddhis dengan aksi-aksi sosial dalam banyak hal. Gerakan yang semakin populer, dan Dalai Lama berkomentar apresiatif akan itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orang Ewe dan Agama Kepercayaan Tradisionalnya

Orang Ewe bisa dijumpai di  Ghana, Togo, dan Benin. Semuanya adalah negara-negara di bagian barat benua Afrika. Populasi terbesar mendiami Ghana. Tradisi dan kepercayaanya banyak dipengaruhi kebudayaan orang Akan dan Yoruba. Bahasa ibu orang Ewe termasuk rumpun Gbe. Orang Ewe terbagi menjadi klan-klan, tetapi menurut cerita lisan dikatakan berakar pada garis leluhur yang sama. Sistem kepemilikan properti adalah komunal, tidak menganut kepemilikan properti secara individu. Asesedwa , kesenian kayu menyerupai bangku, sangat esensial dalam tradisi Ewe. Karenanya, hal itu dibuat dan diukir sangat hati-hati. Dalam ukiran benda tersebut kaya narasi mengenai klan bersangkutan. Dalam ritual, Asesedwa merupakan media yang berfungsi sebagai tempat memanggi roh leluhur. Asesedwa. Menurut cerita turun temurun, asal-usul mereka berasal dari Kotu/Ketu atau Amedzowe, terletak di sebelah timur Sungai Niger. Kira-kira pada 1500, leluhur mereka bermigrasi ke Notsie, Togo. Pada mulamya, migrasi merek...

Review Buku Harmoni Dengan Segala Kehidupan Karya Eckhart Tolle

Buku ini diperhatikan bab-babnya berisi beberapa topik yang di awal-awal menyampaikan perihal kesaatkinian dan korelasinya adalah pelampuan gagasan yang mana meliputi gagasan waktu dan gagasan keterpisahan perihal ilusi eksistensi atau aku terpisah mutlak dari keberadaan lainnya ( atta ), kemudian topik diakhiri perihal "harmoni dengan segala kehidupan", yang dalam bahasa sederhana saya adalah: yang biasa dikira aku sejatinya adalah elemen tiada terpisah dari alam semesta. Anda adalah alam semesta itu sendiri.  Secara sistematis, bab-bab secara serial mengarahkan pembaca kepada kesadaran—apa yang diistilahkan Tolle sebagai—"ruang internal". Sebab di sanalah sumber keberhidupan dan arah tepat pencarian kebahagiaan, ketenangan batiniah. Itu muncul ketika konsepsi aku padam—tidak membersit pada pikiran Anda. Dengan kata lain, Anda menjalani, melakukan, menghadapi yang saat-kini Anda di situ dengan mode pikiran intuitif. Gaya Kebahasaan Gaya pengungkapan keb...

Dua Kelahiran (Sebuah Esai Kontemplatif)

Kita kerap disuguhkan bahwa lahir, menua, kemerosotan fisik atau sakit/penyakitan, dan kemudian kematian adalah Penderitaan ( dukkha ). Bahasa sehari-harinya, kita sering kali tidak rela ketiga peristiwa akibat dari dilahirkan tadi menimpa kita dan orang-orang terdekat. Keempat fenomena alam tadi masuk klasifikasi penderitaan disebakan jasmani.  Ada klasifikasi penderitaan lainnya: bersama yang tak disenangi/dicintai, berpisah ataupun kehilangan yang disenangi/dicintai, dan terakhirnya adalah tidak memeroleh apa yang dihasratingini/dinafsui. Saya istilahkan penderitaan disebabkan oleh kemampuan mengada yang darinya muncul kemampuan mengingini (mengidealkan dunia kita alami). Mohon diingat. Ini adalah tulisan bersifat kontemplatif dan ini rasa-rasanya tak ada dalam pengajaran naratif Buddhisme arus utama. Sekedar hasil perenungan dan proses memperjelas istilah yang bagi penulis cukup membingungkan mulanya   Mengapa Kita kerap Alami Suasana Batin Tak Nyaman Kita secara emos...

Apa Itu 4 Kebenaran Hakiki dalam Buddhisme?

Awal-awal ceramah Guru Gautama setelah pencerahannya berkisar di seputar Empat Kebenaran Hakiki, yang merupakan dasar dari Buddhisme. Salah satu cara untuk memahaminya adalah dengan memandang Kebenaran-Kebenaran tersebut sebagai hipotesis dan Buddhisme sebagai proses pemverifikasiannya untuk menjadi tesis, atau merealisasi hakikat akan Kebenaran-Kebenaran itu. Empat Kebenaran Hakiki Umumnya, arti Kebenaran ini ditangkap secara serampangan. Kebenaran tersebut memberi tahu kita bahwa hidup adalah penderitaan. Penderitaan disebabkan oleh loba (ketamakan), dosa (kualitas-kualitas psikiis mengganggu semisal amarah dan ras frustasi), dan moha (pandangan deluaif). Penderitaan berakhir ketika kita terbebas dari 3 kotoram batim tadi. Caranya dengan mempraktikkan apa yang disebut 4 Kebenaran Beruas Delapan. Secara urutan formalnya, Kebenaran tersebut bunyinya berikut: Benar ada penderitaan atau rasa ridak puas ( dukkha ) Benar ada sumber munculnya penderitaan atau tasa tidak puas ( samudaya...

𝙀𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙣 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖, 𝗔𝗽𝗮 𝙨𝙞𝙝 𝗠𝗮𝗸𝘀𝘂𝗱𝗻𝘆𝗮?

Leluhur mewariskan kita ajian tentang bagaimana menjalani hidup yang damai dalam diri, dituangkan dalam 𝘴𝘢𝘯é𝘱𝘢. Dengan itu kita diminta membuka kitab kita sendiri. Kitab itu adalah batin kita masing-masing untuk 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘯𝘢𝘰𝘯𝘪 dan 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪. Orang Sunda dan orang Kenekes (Badui di Lebak, Banten) menyebut "ngaji diri". 𝘌𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘢𝘥𝘩𝘢 (baca: 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘰𝘥𝘩𝘰) adalah ajaran bagaimana mergondisikan batin tiada gangguan agar kembali tenang, tiadanya semacam lubang dalam ruhani atau psikis atau batin, batin puas dengan yang ada, batin bening dan suci sebagaimana sifat asalinya, atau psikis bagaimana mengalami rasa syukur yang sebenar-benarnya syukur (bukan syukur 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘣é) apapun sedang dijumpai. 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖 "Waspadha" (baca: waspodho) atau 𝘯𝘺𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢'𝘯é adalah hadirnya pikiran pada saat-kini, pada momen yang berlangsung. Kita sering makan tetapi kita tak sepenuhnya benar-benar makan, tidak a𝘸𝘢𝘳𝘦 denga...

Apa Maksud Ungkapan Ikonik "Gott Ist Tot" Nietzsche?

Friedrich Wilhelm Nietzsche lahir dari seorang ayah pendeta Kristen pada 1844. Seperti ayahnya yang meninggal usia sangat muda yaitu 36 tahun, ia meninggal pada usia 56 tahun, setelah menghabiskan sepuluh tahun terakhir hidupnya dalam kegilaan yang disebabkan oleh gangguan mental, pada tahun 1900. Ia menulis beberapa buku mencekam dan menelanjangi cara pandang manusia. Di antara paling elegan ada Thus Spoke Zarathustra (Sabda Zarathustra),   Kelahiran Tragedi , Beyond Good and Evil (Melampaui Kebaikan dan Kejahatan) , Silsilah Moral , dan beberapa lainnya adalah yang populer dan dibaca kalangan luas. Terkenal bukan sekedar karya filosofisnya yang luar biasa, tetapi juga pengaruhnya terhadap ratusan pemikir filsafat, psikologi, dan sastra di era setelahnya. Sesuatu yang tak bersambut dan dihargai semasa hidupnya karena ide-ide dan gaya kefilsafatannya di luar arus ortodoksi, hal yang sangat mengganggunya. Namun, setelah itu, seperti ungkapan terkenalnya, "Beberapa lah...

Apa Maksud Samsara dalam Buddhisme?

Dalam Buddhisme, samsara sering diartikan sebagai roda siklus tumimbal lahir tiada berujung. Atau, anda mungkin menangkapnya sebagai dunia penderitaan dan ketidakpuasan ( dukkha ), lawan dari nibbana  yang mana istilah kedua ini merujuk pada suatu kondisi terbebas dari penderitaan dan siklus tumimbal lahir—atau orang umum mengenal dan menyamakannya dengan reinkarnasi. Secara literal, istilah samsara yang berasal dari Sansekerta, berarti "mengalir" atau "melewati", yang dilustrasikan dengan Roda Kehidupan dan digambarkan dengan Dua Belas Asal Muasal Saling Bertaut Kemengadaan. Pada umumnya dipahami sebagai kondisi terbelenggu oleh keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan, atau terjebak ilusi yang mengaburkan realitas sejati ( Sunyata ). Dalam falsafah Buddhis tradisional, kita terjebak dalam samsara dari satu kehidupan ke lain kehidupan hingga kita menemukan kebangkitan melalui ketercerahan. Namun, pengartian samsara paling baik, dan mungkin pengartiannya dapat dit...

Dua Kebenaran dalam Mahayana Buddhis

Apa itu kenyataan? Kamus memberi tahu kita bahwa kenyataan adalah "kondisi sebagaimana adanya". Dalam Buddhisme Mahayana, kenyataan dijelaskan dalam doktrin Dua Kebenaran. Doktrin ini memberi tahu kita bahwa kenyataan dapat dimengerti baik sebagai kenyataan ultim sekaligus kenyataan konvensional (atau absolut dan relatif). Kebenaran konvensional adalah seperti kita sehari-hari melihat dunia, tempat yang penuh dengan hal-hal dan fenomena-fenomena khas yang beragam. Kenyataan ultim-nya adalah tidak ada hal-hal atau fenomena khas. Mengatakan tidak ada perbedaan hal-hal atau fenomena yang khas bukan berarti tidak ada yang eksis sama sekali, yang jelas tidak ada perbedaan. Yang mutlak absolut adalah  dhammakaya , kemenyeluruhan segala sesuatu dan eksistensi, tiadalah pula tampak. Mendiang Chogyam Trungpa menyebut dhammakaya sebagai "dasar dari ketidaklahiran yang asli." Bingung? Anda banyak temannya  kok . Ini bukan ajaran yang mudah untuk "ditangkap", tetapi s...

Mengapa Banyak Orang Amerika Menganggap Buddhisme Sekedar Filsafat?

Di Asia timur, Buddhis merayakan mangkatnya Buddha dan datangnya pencerahan di akhir bulan Februari. Akan tetapi di kuil  Zen  lokal saya di North Carolina, pencerahan Buddha diperingati selama musim liburan bulan Desember, diisi dengan ceramah singkat bagi anak-anak, penyalaan lilin, dan makan malam ala kadarnya di akhir acara. Selamat datang di Buddhisme, gaya Amerika. Pengaruh Awal Pengaruh Buddhisme dalam kesadaran budaya masyarakat Amerika muncul di akhir-akhir abad ke-19. Zaman ketika gagasan romantis tentang mistisisme Timur nan eksotis memantik imajinasi filsuf dan penyair Amerika, penikmat seni, dan angkatan awal para penstudi religi-religi global. Penyair dengan kecenderungan gaya transendentalis seperti Henry David Thoreau dan Ralph Waldo Emerson mempelajari filsafat Hindu dan Buddha secara mendalam. Juga ada Henry Steel Olcott, yang rela pergi ke Sri Lanka pada 1880, yang melakukan konversi ke Buddhisme dan mendirikan aliran filosofi mistik yang terkena...

Berkenalan Tema-tema Dasar Buddhisme dari Buku Peter D. Santina

Anda akan dapat menemui banyak ragam dikenali dari Buddhisme di tataran kasarnya. Namun ragam rupa tampakan tradisi dan pengajaran Buddhisme, yang seolah berbeda, disamakan oleh tema-tema utama: Empat Kebenaran Ariya dan Delapan Ruasnya, Tiga Ciri Universal Keberadaan, Karma, dan tumimbal lahir (saya pahami sebagai kemampuan mengada (bereksistensi), bukan sekadar ada, yang dalam konteks filsafat Buddhis adalah produk ilusi mental). Jika Anda ingin mengenal apa kiranya yang bermanfaat untuk kesehatan mental kita di dunia yang cepat nan sesak ramai objek-objek merangsang hasrat keinginan kita tanpa sudah, maka buku Dr. Peter D. Santina ini layak. Menyuguhkan dasar-dasar bagi siapa saja yang baru awal-awal mengenal Buddhisme. Santina mengupas dalam pendekatan sekuler. Tak salah kalau bab pertama buku ini diberi tajuk "Agama Buddha: Sebuah Sudut Pandang Modern". Walau di beberapa titik tampak sekilas Santina menyinggung nilai-nilai Buddhisme yang kebanyakannya memenuhi alam pikir...