Langsung ke konten utama

Nietzsche & Nihilisme

Ada kesalahpahaman bahwa filsuf Jerman, Friedrich Wilhelm Nietzsche, adalah nihilis. Kita dapat menemukan pernyataan ini dalam literatur populer dan kajian akademik yang banyak tersebar luas. Hal ini bukanlah penggambaran akurat dari karya-karyanya. Memanglah benar bahwa Nietzsche banyak menulis tentang nihilisme, tetapi itu bertolak dari kekhawatirannya akan efek nihilisme pada masyarakat dan kebudayaan, bukan untuk mengampanyekan nihilisme itu sendiri.

Bagaimanapun, menganggap ia sebagai seorang nihilis adalah ungkapan yang menyederhanakan perihal. Pertanyaan terkait apakah Nietzsche memang benar-benar mengampanyekan nihilisme atau tidak, sebagian besar jawabannya tergantung konteks. Filsafat Nietzsche adalah filsafat yang membidik target yang bergerak, sebab ia memiliki begitu banyak hal berbeda untuk ia dedah, sebagaimana bila kita menengok betapa banyaknya subjek yang menjadi kajian kefilsafatannya. Memang tidak semua yang ia tulis konsisten dengan subjek lainnya.


Benarkah Nietzsche adalah Nihilis?

Dalam pengartian deskriptif, Nietzsche dapat dikategorikan sebagai nihilis karena ia percaya tidaklah ada yang benar-benar konkrit dalam nilai-nilai sosial, politik, moral, dan agama tradisional. Ia membantah bahwa nilai-nilai dalam hal tersebut memiliki validitas objektif atau nilai-nilai tersebut membebankan suatu kewajiban yang mengikat ke kita. Sudah barang tentu, ia berpendapat bahwa hal-hal tadi kadang kala menimbulkan konsekuensi negatif bagi kita. Kita mungkin dapat mengelompokkan Nietzsche sebagai seorang nihilis dalam pengertian deskriptif bahwa ia melihat banyak orang di masyarakat sekitarnya sebenarnya adalah seorang nihilis. Ada beberapa atau mungkin sebagian besar dari mereka mungkin menampik hal itu.

Bagaimanapun Nietzsche melihat nilai-nilai lama dan moralitas lama tidak memiliki kekuatan yang sama lagi seperti dahulu. Di titik inilah ia mendeklarasikan "kematian Tuhan" yang mana entitas tertinggi dan transenden ini yang sebumnya sebagai sumber nilai-nilai moral tradisional tidak lagi menjadi acuan sumber utama moral di kebudayaan modern dan karenanya secara efektif Tuhan—yang selama ini menjadi sandaran nilai-nilai moral dalam kebudayaan—telah mati bagi kita.

Mendeskripsikan nihilisme tidaklah sama dengan mengampanyekan nihilisme. Jadi, apakah benar jika Nietzsche adalah nihilis? Faktanya, dalam pemaknaan normatif ia digambarkan sebagai seorang nihilis berangkat dari anggapan kita terhadapnya yang menyatakan "kematian Tuhan" sebagai entitas tertinggi dan hal itu baik bagi masyarakat. Sebagaimana telah disebutkan di atas, Nietzsche meyakini bahwa ambruknya nilai-nilai moral tradisional, dan terkhusus yang bersumber dari Kekristenan tradisional, adalah berbahaya bagi umat manusia. Sebab hilangnya sumber penopang utama tadi bisa mengarah pada ambruknya masyarakat—dan itulah, menurut Nietzsche, satu-satunya hal baik yang terjadi.


Bagaimana Ceritanya Nietzsche Bertolak dari Nihilisme?

Bagaimanapun pada titik inilah Nietzsche memisahkan diri menjauh dari nihilisme. Para nihilis semata tertuju melihat kematian Tuhan-nya Nietzsche dan menarik kesimpulan bahwa tanpa sumber nilai absolut, universal, dan transenden, maka menjadi tidak ada nilai sama sekali. Nietzsche berpendapat bahwa ketiadaan nilai absolut tadi bukan berarti menyiratkan bahwa tidak ada nilai sama sekali.

Sebaliknya, dengan membebaskan diri dari belenggu yang merantainya pada satu perspektif tertentu yang umumnya dikait-kaitkan pada sosok Tuhan, Nietzsche mampu memberi penjelasan yang fair akan nilai dari perspektif yang berbeda-beda, yang mana saling klaim eksklusivitas terhadap satu sama lain. Dengan demikian, Nietzsche menyimpulkan bahwa nilai ini "benar" dan sesuai dengan perspektif yang ini, sekalipun nilai-nilai "ini" mungkin tidak sesuai dan tidak valid dari perspektif lainnya. Tentu, "dosa besar" dari nilai-nilai Kekristan dan nilai-nilai Abad Pencerahan, menurut Nietzsche, adalah usaha untuk berpura-pura bahwa nilai-nilai mereka itu berlaku universal dan mutlak ketimbang memandangnya dalam beberapa bingkai historis dan kefilsafatan tertentu.

Nietzsche sebenarnya sangat kritis terhadap nihilisme, meski kenyataan ini sering ditampik. Dalam Kehendak untuk Berkuasa, kita dapat temukan pernyatannya sebagai berikut:

Nihilisme … tidak semata keyakinan bahwa segala sesuatu pantas untuk binasa; tetapi seseorang benar-benar telah meletakkan pada satu bahunya untuk membajak; pada bahu yang lain untuk menghancurkan.

Memanglah benar Nietzsche memikul bajak filosofinya, memporakporandakan banyak asumsi dan kepercayaan bernilai.

Sekali lagi, ia berpisah jalan dengan nihilis karena dia tidak sependapat bahwa semua hal pantas enyah. Ia memang tidak saja tertarik untuk merobohkan kepercayaan tradisional yang sebelumnya menjadi topangan nilai-nilai tradisional, tetapi ia juga ingin membantu membangun nilai-nilai baru. Ia menawarkan sosok "manusia adikodrati" yang mampu membangun seperangkat nilai-nilai kehidupannya sendiri terlepas dari apa yang dipikirkan pihak lain.

Nietzsche tentu saja filsuf pertama yang mempelajari nihilisme secara meluas dan mencoba menyimpulkan dampaknya dengan serius, akan tapi itu bukan berarti bahwa ia adalah nihilis dalam arti yang dimaksud oleh kebanyakan orang ketika melabelinya. Ia mungkin memandang serius nihilisme, tetapi itu hanya sebagai bagian dari upayanya untuk menghadirkan alternatif bagi adanya Kekosongan nilai.

Postingan populer dari blog ini

Review Buku Harmoni Dengan Segala Kehidupan Karya Eckhart Tolle

Buku ini diperhatikan bab-babnya berisi beberapa topik yang di awal-awal menyampaikan perihal kesaatkinian dan korelasinya adalah pelampuan gagasan yang mana meliputi gagasan waktu dan gagasan keterpisahan perihal ilusi eksistensi atau aku terpisah mutlak dari keberadaan lainnya ( atta ), kemudian topik diakhiri perihal "harmoni dengan segala kehidupan", yang dalam bahasa sederhana saya adalah: yang biasa dikira aku sejatinya adalah elemen tiada terpisah dari alam semesta. Anda adalah alam semesta itu sendiri.  Secara sistematis, bab-bab secara serial mengarahkan pembaca kepada kesadaran—apa yang diistilahkan Tolle sebagai—"ruang internal". Sebab di sanalah sumber keberhidupan dan arah tepat pencarian kebahagiaan, ketenangan batiniah. Itu muncul ketika konsepsi aku padam—tidak membersit pada pikiran Anda. Dengan kata lain, Anda menjalani, melakukan, menghadapi yang saat-kini Anda di situ dengan mode pikiran intuitif. Gaya Kebahasaan Gaya pengungkapan keb...

Orang Ewe dan Agama Kepercayaan Tradisionalnya

Orang Ewe bisa dijumpai di  Ghana, Togo, dan Benin. Semuanya adalah negara-negara di bagian barat benua Afrika. Populasi terbesar mendiami Ghana. Tradisi dan kepercayaanya banyak dipengaruhi kebudayaan orang Akan dan Yoruba. Bahasa ibu orang Ewe termasuk rumpun Gbe. Orang Ewe terbagi menjadi klan-klan, tetapi menurut cerita lisan dikatakan berakar pada garis leluhur yang sama. Sistem kepemilikan properti adalah komunal, tidak menganut kepemilikan properti secara individu. Asesedwa , kesenian kayu menyerupai bangku, sangat esensial dalam tradisi Ewe. Karenanya, hal itu dibuat dan diukir sangat hati-hati. Dalam ukiran benda tersebut kaya narasi mengenai klan bersangkutan. Dalam ritual, Asesedwa merupakan media yang berfungsi sebagai tempat memanggi roh leluhur. Asesedwa. Menurut cerita turun temurun, asal-usul mereka berasal dari Kotu/Ketu atau Amedzowe, terletak di sebelah timur Sungai Niger. Kira-kira pada 1500, leluhur mereka bermigrasi ke Notsie, Togo. Pada mulamya, migrasi merek...

Dua Kelahiran (Sebuah Esai Kontemplatif)

Kita kerap disuguhkan bahwa lahir, menua, kemerosotan fisik atau sakit/penyakitan, dan kemudian kematian adalah Penderitaan ( dukkha ). Bahasa sehari-harinya, kita sering kali tidak rela ketiga peristiwa akibat dari dilahirkan tadi menimpa kita dan orang-orang terdekat. Keempat fenomena alam tadi masuk klasifikasi penderitaan disebakan jasmani.  Ada klasifikasi penderitaan lainnya: bersama yang tak disenangi/dicintai, berpisah ataupun kehilangan yang disenangi/dicintai, dan terakhirnya adalah tidak memeroleh apa yang dihasratingini/dinafsui. Saya istilahkan penderitaan disebabkan oleh kemampuan mengada yang darinya muncul kemampuan mengingini (mengidealkan dunia kita alami). Mohon diingat. Ini adalah tulisan bersifat kontemplatif dan ini rasa-rasanya tak ada dalam pengajaran naratif Buddhisme arus utama. Sekedar hasil perenungan dan proses memperjelas istilah yang bagi penulis cukup membingungkan mulanya   Mengapa Kita kerap Alami Suasana Batin Tak Nyaman Kita secara emos...

Apa Itu 4 Kebenaran Hakiki dalam Buddhisme?

Awal-awal ceramah Guru Gautama setelah pencerahannya berkisar di seputar Empat Kebenaran Hakiki, yang merupakan dasar dari Buddhisme. Salah satu cara untuk memahaminya adalah dengan memandang Kebenaran-Kebenaran tersebut sebagai hipotesis dan Buddhisme sebagai proses pemverifikasiannya untuk menjadi tesis, atau merealisasi hakikat akan Kebenaran-Kebenaran itu. Empat Kebenaran Hakiki Umumnya, arti Kebenaran ini ditangkap secara serampangan. Kebenaran tersebut memberi tahu kita bahwa hidup adalah penderitaan. Penderitaan disebabkan oleh loba (ketamakan), dosa (kualitas-kualitas psikiis mengganggu semisal amarah dan ras frustasi), dan moha (pandangan deluaif). Penderitaan berakhir ketika kita terbebas dari 3 kotoram batim tadi. Caranya dengan mempraktikkan apa yang disebut 4 Kebenaran Beruas Delapan. Secara urutan formalnya, Kebenaran tersebut bunyinya berikut: Benar ada penderitaan atau rasa ridak puas ( dukkha ) Benar ada sumber munculnya penderitaan atau tasa tidak puas ( samudaya...

๐™€๐™ก๐™ž๐™ฃ๐™œ ๐™ก๐™–๐™ฃ ๐™’๐™–๐™จ๐™ฅ๐™–๐™™๐™๐™–, ๐—”๐—ฝ๐—ฎ ๐™จ๐™ž๐™ ๐— ๐—ฎ๐—ธ๐˜€๐˜‚๐—ฑ๐—ป๐˜†๐—ฎ?

Leluhur mewariskan kita ajian tentang bagaimana menjalani hidup yang damai dalam diri, dituangkan dalam ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏรฉ๐˜ฑ๐˜ข. Dengan itu kita diminta membuka kitab kita sendiri. Kitab itu adalah batin kita masing-masing untuk ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ช dan ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช. Orang Sunda dan orang Kenekes (Badui di Lebak, Banten) menyebut "ngaji diri". ๐˜Œ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ด๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ฉ๐˜ข (baca: ๐˜ธ๐˜ข๐˜ด๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ฉ๐˜ฐ) adalah ajaran bagaimana mergondisikan batin tiada gangguan agar kembali tenang, tiadanya semacam lubang dalam ruhani atau psikis atau batin, batin puas dengan yang ada, batin bening dan suci sebagaimana sifat asalinya, atau psikis bagaimana mengalami rasa syukur yang sebenar-benarnya syukur (bukan syukur ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃรฉ) apapun sedang dijumpai. ๐™’๐™–๐™จ๐™ฅ๐™–๐™™๐™๐™– "Waspadha" (baca: waspodho) atau ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข'๐˜ฏรฉ adalah hadirnya pikiran pada saat-kini, pada momen yang berlangsung. Kita sering makan tetapi kita tak sepenuhnya benar-benar makan, tidak a๐˜ธ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ denga...

Apa Maksud Ungkapan Ikonik "Gott Ist Tot" Nietzsche?

Friedrich Wilhelm Nietzsche lahir dari seorang ayah pendeta Kristen pada 1844. Seperti ayahnya yang meninggal usia sangat muda yaitu 36 tahun, ia meninggal pada usia 56 tahun, setelah menghabiskan sepuluh tahun terakhir hidupnya dalam kegilaan yang disebabkan oleh gangguan mental, pada tahun 1900. Ia menulis beberapa buku mencekam dan menelanjangi cara pandang manusia. Di antara paling elegan ada Thus Spoke Zarathustra (Sabda Zarathustra),   Kelahiran Tragedi , Beyond Good and Evil (Melampaui Kebaikan dan Kejahatan) , Silsilah Moral , dan beberapa lainnya adalah yang populer dan dibaca kalangan luas. Terkenal bukan sekedar karya filosofisnya yang luar biasa, tetapi juga pengaruhnya terhadap ratusan pemikir filsafat, psikologi, dan sastra di era setelahnya. Sesuatu yang tak bersambut dan dihargai semasa hidupnya karena ide-ide dan gaya kefilsafatannya di luar arus ortodoksi, hal yang sangat mengganggunya. Namun, setelah itu, seperti ungkapan terkenalnya, "Beberapa lah...

Apa Maksud Samsara dalam Buddhisme?

Dalam Buddhisme, samsara sering diartikan sebagai roda siklus tumimbal lahir tiada berujung. Atau, anda mungkin menangkapnya sebagai dunia penderitaan dan ketidakpuasan ( dukkha ), lawan dari nibbana  yang mana istilah kedua ini merujuk pada suatu kondisi terbebas dari penderitaan dan siklus tumimbal lahir—atau orang umum mengenal dan menyamakannya dengan reinkarnasi. Secara literal, istilah samsara yang berasal dari Sansekerta, berarti "mengalir" atau "melewati", yang dilustrasikan dengan Roda Kehidupan dan digambarkan dengan Dua Belas Asal Muasal Saling Bertaut Kemengadaan. Pada umumnya dipahami sebagai kondisi terbelenggu oleh keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan, atau terjebak ilusi yang mengaburkan realitas sejati ( Sunyata ). Dalam falsafah Buddhis tradisional, kita terjebak dalam samsara dari satu kehidupan ke lain kehidupan hingga kita menemukan kebangkitan melalui ketercerahan. Namun, pengartian samsara paling baik, dan mungkin pengartiannya dapat dit...

Dua Kebenaran dalam Mahayana Buddhis

Apa itu kenyataan? Kamus memberi tahu kita bahwa kenyataan adalah "kondisi sebagaimana adanya". Dalam Buddhisme Mahayana, kenyataan dijelaskan dalam doktrin Dua Kebenaran. Doktrin ini memberi tahu kita bahwa kenyataan dapat dimengerti baik sebagai kenyataan ultim sekaligus kenyataan konvensional (atau absolut dan relatif). Kebenaran konvensional adalah seperti kita sehari-hari melihat dunia, tempat yang penuh dengan hal-hal dan fenomena-fenomena khas yang beragam. Kenyataan ultim-nya adalah tidak ada hal-hal atau fenomena khas. Mengatakan tidak ada perbedaan hal-hal atau fenomena yang khas bukan berarti tidak ada yang eksis sama sekali, yang jelas tidak ada perbedaan. Yang mutlak absolut adalah  dhammakaya , kemenyeluruhan segala sesuatu dan eksistensi, tiadalah pula tampak. Mendiang Chogyam Trungpa menyebut dhammakaya sebagai "dasar dari ketidaklahiran yang asli." Bingung? Anda banyak temannya  kok . Ini bukan ajaran yang mudah untuk "ditangkap", tetapi s...

Mengapa Banyak Orang Amerika Menganggap Buddhisme Sekedar Filsafat?

Di Asia timur, Buddhis merayakan mangkatnya Buddha dan datangnya pencerahan di akhir bulan Februari. Akan tetapi di kuil  Zen  lokal saya di North Carolina, pencerahan Buddha diperingati selama musim liburan bulan Desember, diisi dengan ceramah singkat bagi anak-anak, penyalaan lilin, dan makan malam ala kadarnya di akhir acara. Selamat datang di Buddhisme, gaya Amerika. Pengaruh Awal Pengaruh Buddhisme dalam kesadaran budaya masyarakat Amerika muncul di akhir-akhir abad ke-19. Zaman ketika gagasan romantis tentang mistisisme Timur nan eksotis memantik imajinasi filsuf dan penyair Amerika, penikmat seni, dan angkatan awal para penstudi religi-religi global. Penyair dengan kecenderungan gaya transendentalis seperti Henry David Thoreau dan Ralph Waldo Emerson mempelajari filsafat Hindu dan Buddha secara mendalam. Juga ada Henry Steel Olcott, yang rela pergi ke Sri Lanka pada 1880, yang melakukan konversi ke Buddhisme dan mendirikan aliran filosofi mistik yang terkena...

Berkenalan Tema-tema Dasar Buddhisme dari Buku Peter D. Santina

Anda akan dapat menemui banyak ragam dikenali dari Buddhisme di tataran kasarnya. Namun ragam rupa tampakan tradisi dan pengajaran Buddhisme, yang seolah berbeda, disamakan oleh tema-tema utama: Empat Kebenaran Ariya dan Delapan Ruasnya, Tiga Ciri Universal Keberadaan, Karma, dan tumimbal lahir (saya pahami sebagai kemampuan mengada (bereksistensi), bukan sekadar ada, yang dalam konteks filsafat Buddhis adalah produk ilusi mental). Jika Anda ingin mengenal apa kiranya yang bermanfaat untuk kesehatan mental kita di dunia yang cepat nan sesak ramai objek-objek merangsang hasrat keinginan kita tanpa sudah, maka buku Dr. Peter D. Santina ini layak. Menyuguhkan dasar-dasar bagi siapa saja yang baru awal-awal mengenal Buddhisme. Santina mengupas dalam pendekatan sekuler. Tak salah kalau bab pertama buku ini diberi tajuk "Agama Buddha: Sebuah Sudut Pandang Modern". Walau di beberapa titik tampak sekilas Santina menyinggung nilai-nilai Buddhisme yang kebanyakannya memenuhi alam pikir...