Film drama ini berlatar pendudukan NAZI di Prancis. Seorang perempuan janda borjuis, Madame Angellier, yang berperangai dominan, otoriter, dan penuh keterusterangan, hidup di chatteu mewah bersama menantunya, Lucille, perempuan yang gemar bermain piano dan perlahan hatinya direbut perwira NAZI duda, Bruno. Gaston, suaminya, anak laki-laki Madame Angellier, pergi berperang melawan Jerman.
![]() |
| Bruno. |
Bussy dan Perangai Individunya
Kompleksitas relasi sosial individu-individu Bussy dan perangainya digambarkan dalam ketimpangan ekonomi dan konflik kelas. Tak ketinggalan, affair serta asmara. Juga patriotisme dan humanisme.
Perangai serakah kelas borjuis tersuguhkan secara apik dalam diri Nyonya Perrin yaitu pengungsi di Bussy dari Paris yang digambarkan sebagai sosok dengan ketidakpedulian dan hanya peduli dengan propertinya, Madam Angellier yang masih sempat-sempatnya mencari untung dari pengungsi dan menimbun bahan pangan ketika sebagian warga Bussy mengalami kesulitan hidup karena perang, dan tentu saja si kikir istri Viscount—layaknya Hawa membujuk Adam—yang merayu dan membujuk suaminya dengan memfitnah Benoit setelah ia mendapati suami Medelaine itu mencuri ayamnya di suatu malam, seperti halnya yang telah dilakukan individu kelas bawah Bussy lainnya pada ayam-ayamnya karena semakin terhimpit ekonomi akibat perang.
![]() |
| Medeleine bersama seorang perwira NAZI yang sering melecehkannya. |
Ayahku selalu bilang, 'Sifat asli manusia akan terlihat saat ada perang'.
Manusia Apa Adanya
Meski berlatar perang, film tidak dominan menyuguhkan kekerasan peperangan. Potret manusia, film menyuguhkan apik apa itu manusia dan relasi antar sesamanya. Manusia sebagai individu yang tergambar apik dalam ucapan Bruno,Anggap saja aku percaya pada semangat kebersamaan. Tak ada dari kita menampakkan hal itu. Tapi bertindak sendiri tidak memiliki arti apa-apa.
Memotret manusia sebagai kelompok sekaligus manusia sebagai individu apa adanya dengan kecenderungan dan perasaannya. Relasinya dengan individu lain terbingkai dalam kepentingan ekonomi dan penguasaan aset. Jernih tergambar misalnya ketika keluarga Celine meminta tempo kekurangan membayar uang sewa lahan, si Madame ketus dan segera menjawab:
Jika aku membuat pengecualian, maka Gaston tak punya rumah untuk pulang. Lalu, apa yang ia perjuangkan?
Dalam perjalanan pulang menarik uang sewa itu, di dalam mobil melaju, kepada menantunya, Lucille, ia menasihati untuk tidak menunjukkan lemah dan menaruh iba. Tergambar pula dalam perangai Nyonya Perrin yang bermanis-manis muka ke Lucille demi asetnya aman dari dipergunakan serdadu NAZI, sebab tahu dari kasak-kusuk masyarakat bahwa Lucille dekat dengan perwira NAZI, Bruno, perwira NAZI melankoli. Tentu saja juga ada istri Viscount yang tak peka kesengsaraan sesamanya yang tak beruntung ketika dilanda perang, lebih peduli ekor ayamnya.
![]() |
| Lucile dan Bruno |
Affair tergambar dalam diri Lucille sebagai sosok perempuan mudah bimbang, yang setelah tahu perangai dan perbuatan suaminya, perlahan menjadikan Bruno sebagai pelarian dan jatuh hati, mereka sama-sama menggemari musik. Tak ketinggalan Celine yang menjalin asmara dengan serdadu Jerman rendahan.
Dengan ending film adalah terbuka. Ketika Lucille yang nekat berusaha membawa Benoit yang buron ketahuan oleh tentara Jerman di pintu penjagaan keluar Bussy, Bruno yang mengetahui hal itu segera datang kemudian, sepertinya takut ada apa-apa dengan kekasihnya itu, dan membantu perempuan yang dicintanyainya, Lucille, mengangkat Benoit yang terluka ke dalam mobil, membiarkan mereka pergi. Campur aduk perasaan Lucille atas keadaan dan perasaannya ke Bruno, antara kecamuk rasa cintanya dan rasa nasionalismenya.

.jpeg)
