Kata "agama" dalam perbendaharaan kosakata kita bersumber dari Sanskrit atau mungkin lebih kuno lagi dari proto-Sanskrit, āgama. Hari ini kata tersebut dipadankan dengan bahasa Inggris, religion.
Untuk menangkap maksud kata, lekta, sebaiknya kita melacak masing-masing akar kata iru yang mengacu pada apa makna kata ini oleh penutur asal kosakata itu. Sering dikatakan bahwa asal kata religion sendiri berakar dari Latin religare, artinya "mengikat." Rasa-rasanya, penerjemahan ini digandrungi berangkat dari asumsi bahwa arti tersebut bisa menjelaskan agama yang memiliki daya ikat terhadap individu-individu dalam suatu komunitas, budaya, tata perilaku, ideologi/cara pandang hidup, dll. Namun, menengok orang seperti Cicero, ia menghubungkan istilah ini dengan relegere, yang yang artinya "membacai kembali", yang mungkin dengan maksud menekankan pada watak ritusnya. Sementara itu kata āgama dalam pegertian asal secara umum merujuk pada teks yaitu ajaran para guru yang ditulis, dalam tradisi India kuno umumnya berkaitan bagaimana menjalani hidup dengan bail dan bijak.
![]() |
| Beberapa simbol keagamaan di antara banyaknya agama di dunia. |
... ketika ada banyak data, fenomena, pengalaman dan ekspresi manusia yang dapat dicirikan ke dalam satu budaya atau lain budaya, satu atau lain kriteria, sebagai agama—tidak tersedia data untuk agama. Agama semata-mata hanya kajian yang diciptakan para pembelajar. Diciptakan untuk tujuan analitik para pembelajar itu dengan cara membandingkan dan generalisasi imajinatif. Agama tidak memiliki eksistensi selain eksistensi pembelajaran.
![]() |
| Ruang atau tempat ibadah agama Yoruba di Republik Benin. |
Definisi Fungsional vs. Substantif akan Agama
Banyak pihak secara ilmiah dan akademik berupaya mendefinisikan atau menggambarkan agama yang garis besarnya terkelompokkan menjadi dua pendefinisian, yaitu fungsional dan esensialis/subtantif. Masing-masing upaya pendefinisian ini mewakili perspektif yang bertolak belakang terkait karakter dan fungsi agama. Mungkin ada sebagian pihak bisa menerima dua model tadi sebagai sama-sama valid. Namun pada kenyataannya, kebanyakan orang akan cenderung terfokus pada salah satu definisi dan mengesampingkan lainnya.
Definisi Substantif/Esensialis
![]() |
| Seseorang di hadapan objek sakral agama Buddha. |
Menyetujui pengartian agama secara substantif semacam ini berarti memandang agama hanya sebagai semacam filsafat, sistem kepercayaan yang aneh, atau mungkin sekedar pemahaman primitif manusia berkenaan semesta dan realitas. Dari perspektif substantif atau esensialis ini, asal-usul agama dan pelestariannya adalah sebagai upaya spekulatif memahami eksistensi kita dan dunia, tidak ada hubungannya dengan kehidupan sosial atau psikologis.
Definisi Fungsionalis
Bagi pihak yang terfokus pada pendefinisian fungsionalis atau menitikberatkan pada fungsinya, agama adalah tentang sikap dan tata perilaku di dunia ini. Jika sistem kepercayaan anda entah itu memiliki peran tertentu dalam kehidupan sosial anda, misalnya memilih peran yang bagaimana di tengah masyarakat anda atau memiliki peran untuk suasana psikologis/ruhaniah anda di dunia ini, maka itu merupakan agama. Jika tidak, maka itu adalah yang lain, misalnya filsafat. Termasuk cara penggambaran definisi fungsionalis terhadap agama adalah memandangnya sebagai sesuatu yang menciptakan ikatan komunitas. Bisa pula agama dipergunakan oleh seseorang untuk mengurangi rasa takut akan impermanensi diri atau kefanaan diri, kematian.
![]() |
| Tokoh Katolik sedang mencium benda sakral (ilustrasi). |
Definisi agama yang akan disuguhkan dalam tukisan ini tidak terfokus pada perspektif yang diusung fungsionalis maupun esensialis. Sebaliknya, mencoba menggabungkan dua model tadi, yaitu menggabungkan yang menjadi unsur-unsur kepercayaan agama dan fungsinya, yang umumnya terdapat dalam agama. Jadi, mengapa menghabiskan waktu untuk menjelaskan dan mendiskusikan perbedaan jenis definisi tadi?
Namun begitu, jika kita tidak menggunakan definisi fungsionalis atau esensialis tadi, dua definisi tadi tetaplah dapat dibenarkan bahwa keduanya tetap menawarkan cara menarik kepada kita dalam memahami agama, mengajak kita untuk fokus pada beberapa aspek yang mungkin kita abaikan selama ini. Merupakan hal penting untuk mencari tahu mengapa masing-masing definisi tadi adalah valid dan mengapa dua definisi tadi tidak ada yang lebih unggul.
Pada akhirnya, karena begitu banyak buku yang telah mengupas tentang apa itu agama cenderung memilih satu dari dua pendekatan tadi dalam memandang agama dan mengabaikan yang lain, memahami apa itu agama dapat menyuguhkan pandangan yang lebih jernih tentang bias dan asumsi-asumsi di benak penulis buku-buku tadi.
Definisi Agama yang Problematis
Definisi agama cenderung mengandung problem, terlalu sempit dan mengecualikan banyak sistem kepercayaan di mana sebagian besar pihak mengiyakan bahwa hal itu memang agama, atau terlalu kabur dan ambigu, ketika mengutarakan apa-apa atau segala sesuatunya itu dapat disebut agama. Karena begitu mudahnya terperangkap ke dalam satu problem pendefinisian manakala berupaya menghindari problem lainnya, perdebatan tentang apa yang dimaksud agama mungkin tidak akan pernah ketemu titik akhir.
Contoh bagus dari pendefinisian sempit yang akhirnya menyempitkan arti agama itu sendiri adalah usaha mendefinisikan "agama" dengan menggeneralisasi sebagai "kepercayaan kepada tuhan", yang dengan sendirinya mengecualikan agama politeistik dan agama yang ajarannya tidak mengusung ide dan konsep ketuhanan atau non-teistik. Pendefinisian tadi dengan sendirinya hanya merujuk teisme sekalipun tidak memiliki sistem kepercayaan dan ritus keagamaan. Kita menjumpai problematika ini seringnya terjadi pada siapa saja yang berasumsi bahwa sifat monoteistik agama-agama barat yang ketat dan lebih akrab dengan keseharian mereka yang entah bagaimana menjadi karakteristik yang harus ada secara umum dari suatu agama. Begitu jarang dari kita menyadari kurang akuratnya pendefinisian yang dibuat oleh para penstudi tadi, setidaknya sebagai poin tambahan akan ketidakakuratan definisi yang kita bicarakan di sini.
![]() |
| Peziarah khidmat mencium Tembok Ratapan, objek sakral Yudaisme (agama Yahudi) di Jerusalem. |
Ada contoh lain yang layak dipertimbangkan dari definisi yang tidak jelas tadi, yaitu mendefinisikan agama sebagai "cara pandang akan dunia". Dapatkah setiap cara pandang akan dunia disebut agama? Alangkah menggelikan jika kita berpikir bahwa setiap sistem kepercayaan atau ideologi sebagai agama, apalagi agama secara komprehensif. Bagaimanapun itulah konsekuensi ketika beberapa pihak mencoba menggunakan pengartian tersebut.
Beberapa pihak mengemukakan tidaklah sulit mendefinisikan apa itu agama dan berangkat dari banyaknya definisi yang saling bertentangan satu sama lain adalah bukti betapa mudahnya itu sebenarnya. Problem sebenarnya, menurut pihak yang menyatakan hal ini, terletak pada menemukan definisi yang berguna secara empiris dan dapat diuji secara empiris pula. Dan, tentu saja begitu banyak pendefinisian yang buruk akan segera dieliminir jika para pendukung kedua definisi tadi tidak tergerak untuk mengujinya.
Adapun The Encyclopedia of Philosophy me-listing ciri-ciri dari agama, ketimbang menyatakan agama dalam kalimat definitif, berangkat dari alasan bahwa semakin banyak ciri-ciri yang ada dalam sistem kepercayaan itu, semakin "agama dari penampakannya" itu. Berikut penerjemahannya secara bebas:
- Ada kepercayaan pada supranatur.
- Adanya pembedaan antara objek sakral dan objek profan.
- Terdapat tindakan ritual yang berpusat pada objek sakral.
- Adanya kode etika yang diyakini dari Tuhan/dewa (God/gods) yang bila dilanggar akan dijatuhi hukuman/tulah.
- Dicirikan oleh perasaan religius penganutnya (perasaan kagum, rasa misteri, rasa bersalah, pemujaan) yang cenderung akan muncul dalam diri penganut ketika di hadapan benda-benda sakral dan selama praktik ritual, yang mana secara ide benda-benda itu terhubung dengan Tuhan/dewa.
- Adanya penyembahan/ibadah dan bentuk lain komunikasi dengan Tuhan atau tuhan-tuhan/dewa-dewa.
- Berkenaan cara pandang akan dunia, atau gambaran umum akan dunia secara keseluruhan dan tempat seseorang berada di dalamnya. Gambaran ini meliputi beberapa spesifikasi tujuan dan hakikat dunia secara keseluruhan dan indikasi bagaimana individu menyelaraskan terhadapnya.
- Kurang lebih tentang pengorganisasian kehidupan orang perorang yang didasarkan pada cara pandang akan dunia.
- Adanya sekelompok orang yang dipersatukan oleh yang dari atas.
![]() |
| Peziarah mencium Hajr Aswad (Batu Hitam), objek sakral dalam Islam, terpasang di salah sudut bangunan Kakbah. |
Bagaimanapun mendefinisikan dengan cara membuat list ciri-ciri di atas bukan tanpa kekurangan. Misal, ciri pertama tentang "sosok supranatur" dan penggambarannya adalah "tuhan/dewa" sebagai amsal, tetapi setelah itu hanya dewa yang disebutkan. Bahkan penggunaan istilah "sosok supranatur" agaknya terlalu spesifik; Mircea Eliade mendefinisikan agama dengan menitikberatkan pada "yang sakral" dan itu adalah pengganti yang layak untuk "sosok supranatur" karena tidak semua agama berkutat pada hal supranatur.
Penyesuaian Definisi Agama
![]() |
| Tūmatauenga, salah satu dewa dalam agama kuno Maori yang deitis-politeis. |
- Kepercayaan pada hal yang sakral (contoh, sosok Tuhan tunggal dalam monoteisme atau berbagai macam model tuhan/dewa dalam konsep politeisme atau sosok supranatur lainnya).
- Adanya pembedaan antara objek sakral dan objek profan.
- Terdapat tindakan ritualistik dalam ruang dan/atau pada objek.
- Adanya kode etika yang dipercayai sakral yang sumbernya dari yang supranatur.
- Dicirikan oleh perasaan religius (perasaan kagum, diselimuti rasa misteri, rasa bersalah, pemujaan), yang menjadi kecenderungan dalam diri penganut ketika mendatangi ruang dan/atau objek sakral dan selama praktik ritual, yang pada intinya berkisar pada tempat, objek, atau suatu sosok.
- Penyembahan/ibadah dan bentuk komunikasi lainnya dengan yang supranatur.
- Cara pandang akan dunia, ideologi, atau gambaran umum akan dunia sebagai keseluruhannya dan tempat bagi indidu berada yang memuat penjabaran keseluruhan tujuan dan hakikat akan dunia dan bagaimana cara individu menyeleraskan diri terhadapnya.
- Kurang lebih tentang pengorganisasian kehidupan orang perorang yang didasarkan pada cara pandang akan dunia.
- Adanya sekelompok orang yang dipersatukan oleh yang dari atas.
Pendefinisian agama sebagaimana tadi adalah cara menggambarkan sistem agama, tetapi tidak mencakup sistem non-agama. Mencakup ciri-ciri umum dalam sistem kepercayaan yang secara umum diakui sebagai sebuah agama dengan menghindari penekanan pada ciri-ciri tertentu yang hanya dimiliki beberapa agama di antara agama-agama.



.jpeg)


