Langsung ke konten utama

Apa itu Agama?

Kata "agama" dalam perbendaharaan kosakata kita bersumber dari Sanskrit atau mungkin lebih kuno lagi dari proto-Sanskrit, āgama. Hari ini kata tersebut dipadankan dengan bahasa Inggris, religion.

Untuk menangkap maksud kata, lekta, sebaiknya kita melacak masing-masing akar kata iru yang mengacu pada apa makna kata ini oleh penutur asal kosakata itu. Sering dikatakan bahwa asal kata religion sendiri berakar dari Latin religare, artinya "mengikat." Rasa-rasanya, penerjemahan ini digandrungi berangkat dari asumsi bahwa arti tersebut bisa menjelaskan agama yang memiliki daya ikat terhadap individu-individu dalam suatu komunitas, budaya, tata perilaku, ideologi/cara pandang hidup, dll. Namun, menengok orang seperti Cicero, ia menghubungkan istilah ini dengan relegere, yang yang artinya "membacai kembali", yang mungkin dengan maksud menekankan pada watak ritusnya. Sementara itu kata āgama dalam pegertian asal secara umum merujuk pada teks yaitu ajaran para guru yang ditulis, dalam tradisi India kuno umumnya berkaitan bagaimana menjalani hidup dengan bail dan bijak.

Beberapa simbol keagamaan di antara banyaknya agama di dunia.
Beberapa pihak lainnya berpendapat bahwa agama bukanlah sesuatu yang muncul dengan sendirinya, melainkan produk derivatif dari suatu kebudayaan dan agama hanyalah aspek mendasar dari setiap kebudayaan manusia. Jonathan Z. Smith menulis dalam Imagining Religion:

... ketika ada banyak data, fenomena, pengalaman dan ekspresi manusia yang dapat dicirikan ke dalam satu budaya atau lain budaya, satu atau lain kriteria, sebagai agama—tidak tersedia data untuk agama. Agama semata-mata hanya kajian yang diciptakan para pembelajar. Diciptakan untuk tujuan analitik para pembelajar itu dengan cara membandingkan dan generalisasi imajinatif. Agama tidak memiliki eksistensi selain eksistensi pembelajaran.

Ruang atau tempat ibadah agama Yoruba di Republik Benin.
Memang kenyataannya tak bisa dibantah bahwa banyak kelompok masyarakat tidak memberi batasan jelas antara mana yang kategori budaya mereka dan mana yang oleh para scholar dikelompokkan sebagai "agama". Jadi, Smith sudah pasti menyuguhkan poin valid. Namun hal ini tidak berarti bahwa agama itu tidak ada, akan tetapi perlu diingat bahwa bahkan ketika kita berpikir bahwa kita memiliki pegangan terkait apa itu pengertian dari agama, kita mungkin membodohi diri sendiri karena tidak dapat membedakan secara persis mana yang benar-benar "budaya religius" dan mana yang secara lebih luas merupakan bagian dari kebudayaan itu sendiri.


Definisi Fungsional vs. Substantif akan Agama

Banyak pihak secara ilmiah dan akademik berupaya mendefinisikan atau menggambarkan agama yang garis besarnya terkelompokkan menjadi dua pendefinisian, yaitu fungsional dan esensialis/subtantif. Masing-masing upaya pendefinisian ini mewakili perspektif yang bertolak belakang terkait karakter dan fungsi agama. Mungkin ada sebagian pihak bisa menerima dua model tadi sebagai sama-sama valid. Namun pada kenyataannya, kebanyakan orang akan cenderung terfokus pada salah satu definisi dan mengesampingkan lainnya.


Definisi Substantif/Esensialis

Seseorang di hadapan objek sakral agama Buddha.
Apa yang menjadi titik fokus seseorang bisa memberi tahu kita banyak tentang gambaran agama di benaknya serta bagaimana cara ia memandang agama dalam kehidupan manusia. 

Bagi pihak yang fokus pada definisi substantif atau esensialis cenderung memandang agama dengan menitikberatkan pada konten. Sebagai contoh, jika kamu percaya hal tertentu, maka kamu memiliki agama. Sementara jika kamu tidak percaya itu, kamu tidak memiliki agama. Umpamanya kepercayaan pada tuhan (god) monoteisme atau dewa-dewa (gods) politeisme yang sama-sama digambarkan antromorfis, percaya pada roh, atau percaya pada sesuatu yang dapat dibilang sebagai "yang sakral".

Menyetujui pengartian agama secara substantif semacam ini berarti memandang agama hanya sebagai semacam filsafat, sistem kepercayaan yang aneh, atau mungkin sekedar pemahaman primitif manusia berkenaan semesta dan realitas. Dari perspektif substantif atau esensialis ini, asal-usul agama dan pelestariannya adalah sebagai upaya spekulatif memahami eksistensi kita dan dunia, tidak ada hubungannya dengan kehidupan sosial atau psikologis.


Definisi Fungsionalis

Bagi pihak yang terfokus pada pendefinisian fungsionalis atau menitikberatkan pada fungsinya, agama adalah tentang sikap dan tata perilaku di dunia ini. Jika sistem kepercayaan anda entah itu memiliki peran tertentu dalam kehidupan sosial anda, misalnya memilih peran yang bagaimana di tengah masyarakat anda atau memiliki peran untuk suasana psikologis/ruhaniah anda di dunia ini, maka itu merupakan agama. Jika tidak, maka itu adalah yang lain, misalnya filsafat. Termasuk cara penggambaran definisi fungsionalis terhadap agama adalah memandangnya sebagai sesuatu yang menciptakan ikatan komunitas. Bisa pula agama dipergunakan oleh seseorang untuk mengurangi rasa takut akan impermanensi diri atau kefanaan diri, kematian.

Tokoh Katolik sedang mencium benda sakral (ilustrasi).
Menyetujui deskripsi fungsional tadi otomatis menghantarkan kita pada pemahaman yang bertolak belakang dengan definisi esensialis/subtantif tadi berkenaan asal-usul dan karakter agama. Dari perspektif fungsionalis, agama bukan untuk menyediakan penjelasan akan kedirian kita dan realitas dunia, melainkan untuk membantu kita survive di tengah dunia, baik dengan cara mengikatkan duru kita dengan yang lain dalam kelompok sosial atau yang menyediakan sarana dukungan psikologis dan emosional kepada kita. Misalnya, upacara ritus keagamaan adalah untuk menyatukan masing-masing individu ke dalam ikatan kelompok, sebagai satu kesatuan atau untuk menghindari ambruknya kejiwaan/psikologis kita di dunia yang tidak bisa diprediksi atau tidak bisa ditebak, dunia yang chaos.

Definisi agama yang akan disuguhkan dalam tukisan ini tidak terfokus pada perspektif yang diusung fungsionalis maupun esensialis. Sebaliknya, mencoba menggabungkan dua model tadi, yaitu menggabungkan yang menjadi unsur-unsur kepercayaan agama dan fungsinya, yang umumnya terdapat dalam agama. Jadi, mengapa menghabiskan waktu untuk menjelaskan dan mendiskusikan perbedaan jenis definisi tadi?

Namun begitu, jika kita tidak menggunakan definisi fungsionalis atau esensialis tadi, dua definisi tadi tetaplah dapat dibenarkan bahwa keduanya tetap menawarkan cara menarik kepada kita dalam memahami agama, mengajak kita untuk fokus pada beberapa aspek yang mungkin kita abaikan selama ini. Merupakan hal penting untuk mencari tahu mengapa masing-masing definisi tadi adalah valid dan mengapa dua definisi tadi tidak ada yang lebih unggul.

Pada akhirnya, karena begitu banyak buku yang telah mengupas tentang apa itu agama cenderung memilih satu dari dua pendekatan tadi dalam memandang agama dan mengabaikan yang lain, memahami apa itu agama dapat menyuguhkan pandangan yang lebih jernih tentang bias dan asumsi-asumsi di benak penulis buku-buku tadi.


Definisi Agama yang Problematis

Definisi agama cenderung mengandung problem, terlalu sempit dan mengecualikan banyak sistem kepercayaan di mana sebagian besar pihak mengiyakan bahwa hal itu memang agama, atau terlalu kabur dan ambigu, ketika mengutarakan apa-apa atau segala sesuatunya itu dapat disebut agama. Karena begitu mudahnya terperangkap ke dalam satu problem pendefinisian manakala berupaya menghindari problem lainnya, perdebatan tentang apa yang dimaksud agama mungkin tidak akan pernah ketemu titik akhir.

Contoh bagus dari pendefinisian sempit yang akhirnya menyempitkan arti agama itu sendiri adalah usaha mendefinisikan "agama" dengan menggeneralisasi sebagai "kepercayaan kepada tuhan", yang dengan sendirinya mengecualikan agama politeistik dan agama yang ajarannya tidak mengusung ide dan konsep ketuhanan atau non-teistik. Pendefinisian tadi dengan sendirinya hanya merujuk teisme sekalipun tidak memiliki sistem kepercayaan dan ritus keagamaan. Kita menjumpai problematika ini seringnya terjadi pada siapa saja yang berasumsi bahwa sifat monoteistik agama-agama barat yang ketat dan lebih akrab dengan keseharian mereka yang entah bagaimana menjadi karakteristik yang harus ada secara umum dari suatu agama. Begitu jarang dari kita menyadari kurang akuratnya pendefinisian yang dibuat oleh para penstudi tadi, setidaknya sebagai poin tambahan akan ketidakakuratan definisi yang kita bicarakan di sini.

Peziarah khidmat mencium Tembok Ratapan, objek sakral Yudaisme
(agama Yahudi) di Jerusalem.

Ada contoh lain yang layak dipertimbangkan dari definisi yang tidak jelas tadi, yaitu mendefinisikan agama sebagai "cara pandang akan dunia". Dapatkah setiap cara pandang akan dunia disebut agama? Alangkah menggelikan jika kita berpikir bahwa setiap sistem kepercayaan atau ideologi sebagai agama, apalagi agama secara komprehensif. Bagaimanapun itulah konsekuensi ketika beberapa pihak mencoba menggunakan pengartian tersebut.

Beberapa pihak mengemukakan tidaklah sulit mendefinisikan apa itu agama dan berangkat dari banyaknya definisi yang saling bertentangan satu sama lain adalah bukti betapa mudahnya itu sebenarnya. Problem sebenarnya, menurut pihak yang menyatakan hal ini, terletak pada menemukan definisi yang berguna secara empiris dan dapat diuji secara empiris pula. Dan, tentu saja begitu banyak pendefinisian yang buruk akan segera dieliminir jika para pendukung kedua definisi tadi tidak tergerak untuk mengujinya.

Adapun The Encyclopedia of Philosophy me-listing ciri-ciri dari agama, ketimbang menyatakan agama dalam kalimat definitif, berangkat dari alasan bahwa semakin banyak ciri-ciri yang ada dalam sistem kepercayaan itu, semakin "agama dari penampakannya" itu. Berikut penerjemahannya secara bebas:

  • Ada kepercayaan pada supranatur.
  • Adanya pembedaan antara objek sakral dan objek profan.
  • Terdapat tindakan ritual yang berpusat pada objek sakral.
  • Adanya kode etika yang diyakini dari Tuhan/dewa (God/gods) yang bila dilanggar akan dijatuhi hukuman/tulah.
  • Dicirikan oleh perasaan religius penganutnya (perasaan kagum, rasa misteri, rasa bersalah, pemujaan) yang cenderung akan muncul dalam diri penganut ketika di hadapan benda-benda sakral dan selama praktik ritual, yang mana secara ide benda-benda itu terhubung dengan Tuhan/dewa.
  • Adanya penyembahan/ibadah dan bentuk lain komunikasi dengan Tuhan atau tuhan-tuhan/dewa-dewa.
  • Berkenaan cara pandang akan dunia, atau gambaran umum akan dunia secara keseluruhan dan tempat seseorang berada di dalamnya. Gambaran ini meliputi beberapa spesifikasi tujuan dan hakikat dunia secara keseluruhan dan indikasi bagaimana individu menyelaraskan terhadapnya.
  • Kurang lebih tentang pengorganisasian kehidupan orang perorang yang didasarkan pada cara pandang akan dunia.
  • Adanya sekelompok orang yang dipersatukan oleh yang dari atas.

Peziarah mencium Hajr Aswad (Batu Hitam), objek sakral dalam Islam,
terpasang di salah sudut bangunan Kakbah.
Definisi seperti di atas bisa mencakup banyak hal di berbagai ragam kebudayaan berkenaan apa itu "agama", mencakup faktor sosiologis, psikologis, dan kesejarahannya. Juga, pendefinisian menimbulkan wilayah abu-abu lebih luas lagi dalam usaha mengonsepsi agama. Cara mendefinisikan dengan membuat list ciri-ciri tadi dengan sendirinya mengakui adanya "agama" kontinum dengan sistem kepercayaan lain selain agama. Sehingga efeknya ada yang sama sekali tidak bisa disebut agama, ada yang memliki kemiripan yang dekat dengan agama, dan ada pula yang sudah pasti agama.

Bagaimanapun mendefinisikan dengan cara membuat list ciri-ciri di atas bukan tanpa kekurangan. Misal, ciri pertama tentang "sosok supranatur" dan penggambarannya adalah "tuhan/dewa" sebagai amsal, tetapi setelah itu hanya dewa yang disebutkan. Bahkan penggunaan istilah "sosok supranatur" agaknya terlalu spesifik; Mircea Eliade mendefinisikan agama dengan menitikberatkan pada "yang sakral" dan itu adalah pengganti yang layak untuk "sosok supranatur" karena tidak semua agama berkutat pada hal supranatur.


Penyesuaian Definisi Agama

Tūmatauenga, salah satu dewa dalam agama kuno Maori yang deitis-politeis.
Kekurangan definisi di atas relatif kecil, mudah untuk membuat beberapa penyesuaian kecil demi menghasilkan suatu definisi yang jauh lebih baik tentang apa itu agama:

  • Kepercayaan pada hal yang sakral (contoh, sosok Tuhan tunggal dalam monoteisme atau berbagai macam model tuhan/dewa dalam konsep politeisme atau sosok supranatur lainnya).
  • Adanya pembedaan antara objek sakral dan objek profan.
  • Terdapat tindakan ritualistik dalam ruang dan/atau pada objek.
  • Adanya kode etika yang dipercayai sakral yang sumbernya dari yang supranatur.
  • Dicirikan oleh perasaan religius (perasaan kagum, diselimuti rasa misteri, rasa bersalah, pemujaan), yang menjadi kecenderungan dalam diri penganut ketika mendatangi ruang dan/atau objek sakral dan selama praktik ritual, yang pada intinya berkisar pada tempat, objek, atau suatu sosok.
  • Penyembahan/ibadah dan bentuk komunikasi lainnya dengan yang supranatur.
  • Cara pandang akan dunia, ideologi, atau gambaran umum akan dunia sebagai keseluruhannya dan tempat bagi indidu berada yang memuat penjabaran keseluruhan tujuan dan hakikat akan dunia dan bagaimana cara individu menyeleraskan diri terhadapnya.
  • Kurang lebih tentang pengorganisasian kehidupan orang perorang yang didasarkan pada cara pandang akan dunia.
  • Adanya sekelompok orang yang dipersatukan oleh yang dari atas.

Pendefinisian agama sebagaimana tadi adalah cara menggambarkan sistem agama, tetapi tidak mencakup sistem non-agama. Mencakup ciri-ciri umum dalam sistem kepercayaan yang secara umum diakui sebagai sebuah agama dengan menghindari penekanan pada ciri-ciri tertentu yang hanya dimiliki beberapa agama di antara agama-agama.

Postingan populer dari blog ini

Review Buku Harmoni Dengan Segala Kehidupan Karya Eckhart Tolle

Buku ini diperhatikan bab-babnya berisi beberapa topik yang di awal-awal menyampaikan perihal kesaatkinian dan korelasinya adalah pelampuan gagasan yang mana meliputi gagasan waktu dan gagasan keterpisahan perihal ilusi eksistensi atau aku terpisah mutlak dari keberadaan lainnya ( atta ), kemudian topik diakhiri perihal "harmoni dengan segala kehidupan", yang dalam bahasa sederhana saya adalah: yang biasa dikira aku sejatinya adalah elemen tiada terpisah dari alam semesta. Anda adalah alam semesta itu sendiri.  Secara sistematis, bab-bab secara serial mengarahkan pembaca kepada kesadaran—apa yang diistilahkan Tolle sebagai—"ruang internal". Sebab di sanalah sumber keberhidupan dan arah tepat pencarian kebahagiaan, ketenangan batiniah. Itu muncul ketika konsepsi aku padam—tidak membersit pada pikiran Anda. Dengan kata lain, Anda menjalani, melakukan, menghadapi yang saat-kini Anda di situ dengan mode pikiran intuitif. Gaya Kebahasaan Gaya pengungkapan keb...

Orang Ewe dan Agama Kepercayaan Tradisionalnya

Orang Ewe bisa dijumpai di  Ghana, Togo, dan Benin. Semuanya adalah negara-negara di bagian barat benua Afrika. Populasi terbesar mendiami Ghana. Tradisi dan kepercayaanya banyak dipengaruhi kebudayaan orang Akan dan Yoruba. Bahasa ibu orang Ewe termasuk rumpun Gbe. Orang Ewe terbagi menjadi klan-klan, tetapi menurut cerita lisan dikatakan berakar pada garis leluhur yang sama. Sistem kepemilikan properti adalah komunal, tidak menganut kepemilikan properti secara individu. Asesedwa , kesenian kayu menyerupai bangku, sangat esensial dalam tradisi Ewe. Karenanya, hal itu dibuat dan diukir sangat hati-hati. Dalam ukiran benda tersebut kaya narasi mengenai klan bersangkutan. Dalam ritual, Asesedwa merupakan media yang berfungsi sebagai tempat memanggi roh leluhur. Asesedwa. Menurut cerita turun temurun, asal-usul mereka berasal dari Kotu/Ketu atau Amedzowe, terletak di sebelah timur Sungai Niger. Kira-kira pada 1500, leluhur mereka bermigrasi ke Notsie, Togo. Pada mulamya, migrasi merek...

Dua Kelahiran (Sebuah Esai Kontemplatif)

Kita kerap disuguhkan bahwa lahir, menua, kemerosotan fisik atau sakit/penyakitan, dan kemudian kematian adalah Penderitaan ( dukkha ). Bahasa sehari-harinya, kita sering kali tidak rela ketiga peristiwa akibat dari dilahirkan tadi menimpa kita dan orang-orang terdekat. Keempat fenomena alam tadi masuk klasifikasi penderitaan disebakan jasmani.  Ada klasifikasi penderitaan lainnya: bersama yang tak disenangi/dicintai, berpisah ataupun kehilangan yang disenangi/dicintai, dan terakhirnya adalah tidak memeroleh apa yang dihasratingini/dinafsui. Saya istilahkan penderitaan disebabkan oleh kemampuan mengada yang darinya muncul kemampuan mengingini (mengidealkan dunia kita alami). Mohon diingat. Ini adalah tulisan bersifat kontemplatif dan ini rasa-rasanya tak ada dalam pengajaran naratif Buddhisme arus utama. Sekedar hasil perenungan dan proses memperjelas istilah yang bagi penulis cukup membingungkan mulanya   Mengapa Kita kerap Alami Suasana Batin Tak Nyaman Kita secara emos...

Apa Itu 4 Kebenaran Hakiki dalam Buddhisme?

Awal-awal ceramah Guru Gautama setelah pencerahannya berkisar di seputar Empat Kebenaran Hakiki, yang merupakan dasar dari Buddhisme. Salah satu cara untuk memahaminya adalah dengan memandang Kebenaran-Kebenaran tersebut sebagai hipotesis dan Buddhisme sebagai proses pemverifikasiannya untuk menjadi tesis, atau merealisasi hakikat akan Kebenaran-Kebenaran itu. Empat Kebenaran Hakiki Umumnya, arti Kebenaran ini ditangkap secara serampangan. Kebenaran tersebut memberi tahu kita bahwa hidup adalah penderitaan. Penderitaan disebabkan oleh loba (ketamakan), dosa (kualitas-kualitas psikiis mengganggu semisal amarah dan ras frustasi), dan moha (pandangan deluaif). Penderitaan berakhir ketika kita terbebas dari 3 kotoram batim tadi. Caranya dengan mempraktikkan apa yang disebut 4 Kebenaran Beruas Delapan. Secara urutan formalnya, Kebenaran tersebut bunyinya berikut: Benar ada penderitaan atau rasa ridak puas ( dukkha ) Benar ada sumber munculnya penderitaan atau tasa tidak puas ( samudaya...

𝙀𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙣 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖, 𝗔𝗽𝗮 𝙨𝙞𝙝 𝗠𝗮𝗸𝘀𝘂𝗱𝗻𝘆𝗮?

Leluhur mewariskan kita ajian tentang bagaimana menjalani hidup yang damai dalam diri, dituangkan dalam 𝘴𝘢𝘯é𝘱𝘢. Dengan itu kita diminta membuka kitab kita sendiri. Kitab itu adalah batin kita masing-masing untuk 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘯𝘢𝘰𝘯𝘪 dan 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪. Orang Sunda dan orang Kenekes (Badui di Lebak, Banten) menyebut "ngaji diri". 𝘌𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘢𝘥𝘩𝘢 (baca: 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘰𝘥𝘩𝘰) adalah ajaran bagaimana mergondisikan batin tiada gangguan agar kembali tenang, tiadanya semacam lubang dalam ruhani atau psikis atau batin, batin puas dengan yang ada, batin bening dan suci sebagaimana sifat asalinya, atau psikis bagaimana mengalami rasa syukur yang sebenar-benarnya syukur (bukan syukur 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘣é) apapun sedang dijumpai. 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖 "Waspadha" (baca: waspodho) atau 𝘯𝘺𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢'𝘯é adalah hadirnya pikiran pada saat-kini, pada momen yang berlangsung. Kita sering makan tetapi kita tak sepenuhnya benar-benar makan, tidak a𝘸𝘢𝘳𝘦 denga...

Apa Maksud Ungkapan Ikonik "Gott Ist Tot" Nietzsche?

Friedrich Wilhelm Nietzsche lahir dari seorang ayah pendeta Kristen pada 1844. Seperti ayahnya yang meninggal usia sangat muda yaitu 36 tahun, ia meninggal pada usia 56 tahun, setelah menghabiskan sepuluh tahun terakhir hidupnya dalam kegilaan yang disebabkan oleh gangguan mental, pada tahun 1900. Ia menulis beberapa buku mencekam dan menelanjangi cara pandang manusia. Di antara paling elegan ada Thus Spoke Zarathustra (Sabda Zarathustra),   Kelahiran Tragedi , Beyond Good and Evil (Melampaui Kebaikan dan Kejahatan) , Silsilah Moral , dan beberapa lainnya adalah yang populer dan dibaca kalangan luas. Terkenal bukan sekedar karya filosofisnya yang luar biasa, tetapi juga pengaruhnya terhadap ratusan pemikir filsafat, psikologi, dan sastra di era setelahnya. Sesuatu yang tak bersambut dan dihargai semasa hidupnya karena ide-ide dan gaya kefilsafatannya di luar arus ortodoksi, hal yang sangat mengganggunya. Namun, setelah itu, seperti ungkapan terkenalnya, "Beberapa lah...

Apa Maksud Samsara dalam Buddhisme?

Dalam Buddhisme, samsara sering diartikan sebagai roda siklus tumimbal lahir tiada berujung. Atau, anda mungkin menangkapnya sebagai dunia penderitaan dan ketidakpuasan ( dukkha ), lawan dari nibbana  yang mana istilah kedua ini merujuk pada suatu kondisi terbebas dari penderitaan dan siklus tumimbal lahir—atau orang umum mengenal dan menyamakannya dengan reinkarnasi. Secara literal, istilah samsara yang berasal dari Sansekerta, berarti "mengalir" atau "melewati", yang dilustrasikan dengan Roda Kehidupan dan digambarkan dengan Dua Belas Asal Muasal Saling Bertaut Kemengadaan. Pada umumnya dipahami sebagai kondisi terbelenggu oleh keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan, atau terjebak ilusi yang mengaburkan realitas sejati ( Sunyata ). Dalam falsafah Buddhis tradisional, kita terjebak dalam samsara dari satu kehidupan ke lain kehidupan hingga kita menemukan kebangkitan melalui ketercerahan. Namun, pengartian samsara paling baik, dan mungkin pengartiannya dapat dit...

Dua Kebenaran dalam Mahayana Buddhis

Apa itu kenyataan? Kamus memberi tahu kita bahwa kenyataan adalah "kondisi sebagaimana adanya". Dalam Buddhisme Mahayana, kenyataan dijelaskan dalam doktrin Dua Kebenaran. Doktrin ini memberi tahu kita bahwa kenyataan dapat dimengerti baik sebagai kenyataan ultim sekaligus kenyataan konvensional (atau absolut dan relatif). Kebenaran konvensional adalah seperti kita sehari-hari melihat dunia, tempat yang penuh dengan hal-hal dan fenomena-fenomena khas yang beragam. Kenyataan ultim-nya adalah tidak ada hal-hal atau fenomena khas. Mengatakan tidak ada perbedaan hal-hal atau fenomena yang khas bukan berarti tidak ada yang eksis sama sekali, yang jelas tidak ada perbedaan. Yang mutlak absolut adalah  dhammakaya , kemenyeluruhan segala sesuatu dan eksistensi, tiadalah pula tampak. Mendiang Chogyam Trungpa menyebut dhammakaya sebagai "dasar dari ketidaklahiran yang asli." Bingung? Anda banyak temannya  kok . Ini bukan ajaran yang mudah untuk "ditangkap", tetapi s...

Mengapa Banyak Orang Amerika Menganggap Buddhisme Sekedar Filsafat?

Di Asia timur, Buddhis merayakan mangkatnya Buddha dan datangnya pencerahan di akhir bulan Februari. Akan tetapi di kuil  Zen  lokal saya di North Carolina, pencerahan Buddha diperingati selama musim liburan bulan Desember, diisi dengan ceramah singkat bagi anak-anak, penyalaan lilin, dan makan malam ala kadarnya di akhir acara. Selamat datang di Buddhisme, gaya Amerika. Pengaruh Awal Pengaruh Buddhisme dalam kesadaran budaya masyarakat Amerika muncul di akhir-akhir abad ke-19. Zaman ketika gagasan romantis tentang mistisisme Timur nan eksotis memantik imajinasi filsuf dan penyair Amerika, penikmat seni, dan angkatan awal para penstudi religi-religi global. Penyair dengan kecenderungan gaya transendentalis seperti Henry David Thoreau dan Ralph Waldo Emerson mempelajari filsafat Hindu dan Buddha secara mendalam. Juga ada Henry Steel Olcott, yang rela pergi ke Sri Lanka pada 1880, yang melakukan konversi ke Buddhisme dan mendirikan aliran filosofi mistik yang terkena...

Berkenalan Tema-tema Dasar Buddhisme dari Buku Peter D. Santina

Anda akan dapat menemui banyak ragam dikenali dari Buddhisme di tataran kasarnya. Namun ragam rupa tampakan tradisi dan pengajaran Buddhisme, yang seolah berbeda, disamakan oleh tema-tema utama: Empat Kebenaran Ariya dan Delapan Ruasnya, Tiga Ciri Universal Keberadaan, Karma, dan tumimbal lahir (saya pahami sebagai kemampuan mengada (bereksistensi), bukan sekadar ada, yang dalam konteks filsafat Buddhis adalah produk ilusi mental). Jika Anda ingin mengenal apa kiranya yang bermanfaat untuk kesehatan mental kita di dunia yang cepat nan sesak ramai objek-objek merangsang hasrat keinginan kita tanpa sudah, maka buku Dr. Peter D. Santina ini layak. Menyuguhkan dasar-dasar bagi siapa saja yang baru awal-awal mengenal Buddhisme. Santina mengupas dalam pendekatan sekuler. Tak salah kalau bab pertama buku ini diberi tajuk "Agama Buddha: Sebuah Sudut Pandang Modern". Walau di beberapa titik tampak sekilas Santina menyinggung nilai-nilai Buddhisme yang kebanyakannya memenuhi alam pikir...