Langsung ke konten utama

Man's Search Meaning: Frankl dan Makna Hidup

Berkisah pengalaman penulis sebagai penghuni beberapa kamp konsentrasi NAZl, dari Auschwitz, Munchen, hingga Dachau. Frankl, berprofesi sebagai dosen, neurolog, dan psikiater, bercerita bagaimana kehidupan para penghuni kamp di bagian pertama bukunya. Bagian pertama ini yang menjadi fokus saya di sini, mengingat bukan neurolog dan psikiater sebagaimana Frankl.

Buku ini bisa dikatakan satu dari sekian rekam jejak tabiat umat manusia dalam sejarah panjangnya. Seperti dalam Kata Pengantar-nya oleh Harold S. Kushner:
Kita pada akhirnya mengenal manusia sebagaimana adanya. Bagaimanapun juga, manusialah mahluk yang menciptakan kamar gas di kamp Auschwitz; Namun manusia pulalah mahluk yang masuk dalam kamar gas itu (h. xv).
Isi buku ini bukan melulu tentang kengerian. Man's Search for Meaning terdiri tiga bagian. Bagian pertama membahas pengalaman Frankl selama di kamp konsentrasi, dengan penyampaian naratif. Bagian kedua terdiri dari pelajaran yang dapat diterapkan secara universal, aplikasi psikologi klinis. Disusul bagian ketiga.

Dalam bagian pertama, Frankl menyuguhkan bagaimana gambaran psikis manusia kala dihadapkan situasi tak menentu yang menciptakan regresi mental: ketidakpastian hidup, kekurangan makanan, afeksi, dan ketidakberdayaan menghadapi ancaman atas keberlangsungan hidupnya yang terbayangkan bisa datang kapan saja, dikirim ke kamar gas. Berjejer nasihat-nasihat baik dan, yang demen berbagai quotes tentang motivasi hidup, anda akan banyak menemukan di buku ini. Dari buku ini, kita bisa memetik nasihat-nasihat.

Siapa Frankl?

Viktor Emil Frankl (26 Maret 1905 – 2 September 1997) pernah memghuni beberapa kamp konsentrasi Nazi rentang 1942 dan 1945. Ia, selama menjadi penghuni, mengamati psikologis manusia ketika dihadapkan tekanan dari struktur sosial yang secara mental menekan dan menghancurkannya, sempitnya akses ke kebutuhan materiil semisal kurang makan dan immateriil semisal hubungan afeksional. Dari pengalaman ini, ia berusaha membuat anasir sejelas mungkin apa itu penderitaan—sebagaimana klaimnya—secara metodis dan bagaimana menghadapi dan mengatasi itu, menciptakan makna hidup, menciptakan tujuan-tujuan ingin kita raih ke depan.

Viktor E. Frankl (GettyImages).
Frankl adalah Jewis-Austria. Lahir dari keluarga kelas menengah dan terdidik. Seorang profesor di bidang neurologi dan psikiatri di Universitas Vienna dan dosen terbang Harvard di AS, Afrika Selatan, hingga Venezuela dan Brazil. Penerima lebih dari seratus gelar honoris causa. Ia diasosiasikan pendiri mazhab aliran ketiga Wina, biasa dikenal analisis eksistensialis, setelah Sigmeund Freud dengan pleasure principle-nya atau kehendak mencari kesenangan dalam memuaskan batin diri, dan Adler yang memusatkan striving for superiority atau memfokuskan hidup untuk menjadi yang terunggul.

Fase Pergeseran Psikologis Penghuni Kamp

Orang-orang yang dikirim ke kamp mulanya adalah orang-orang dengan keseharian hidup normal. Seperti dicatat Frankl, berikut 3 fase reaksi kejiwaan atau mental yang teramati dari para tawanan kamp. Fase pertama adalah keguncangan jiwa atau mental oleh sebab bayangan-bayangan pikiran tawanan bahkan formalnya belum masuk ke kamp, berangkat dari kesan-kesan akan kehidupan kamp dan pemusnahan yang diperoleh dari informasi yang beredar.

Fase kedua terjadi pada diri tawanan kamp dalam rutinitas sehari-hari di kamp yang selain melelahkan juga menciptakan regresi mental, yaitu tekanan batin dari adanya struktur sosial di mana seseorang itu hidup. 

Kondisi kehidupan yang sangat primitif, dan terpusatnya perhatian para tawanan pada upaya untuk bertahan hidup membuat mereka tidak lagi menghiraukan semua hal yang terkait upaya tersebut. Itulah sebabnya mereka seperti kehilangan perasaan sentimental mereka (h. 45).

Gejala mental fase ini dicirikan oleh munculnya apati, yaitu menumpulnya kepekaan berbagai emosi yang membuat seseorang tidak memedulikan apa saja yang terjadi di sekitarnya entah perasaan emosional semisal melihat siksaan yang diterima penghuni lain kamp dari Capo atau serdadu NAZI atau melihat satu persatu penghuni kamp menemui ajal. Para tawanan benar-benar secara kejiwaan/mental menarik diri dan kepekaannya mengabur dari realitas sekitar yang sering dijumpainya. Berbagai emosi, istilah awamnya perasaan, menjadi bebal. Kehidupan kamp cenderung mendorong para tawanan bereaksi dengan cara-cara tertentu. 

Secara mental ditandai pula oleh meningkatnya religiusitas. Karena itulah, sepertinya, satu-satunya saluran pemuas kebutuhan psikis, tempat mengasingkan diri dari kenyataan sulit yang dialami beralih ke dalam kehidupan batin yang kaya dan bebas. (Ini pula alasan mengapa ketika seseorang terhimpit perihal ekonomi yang efek lanjutannya ke kualitas psikis, seorang itu umumnya semakin mengalami peningkatan religiusitas; Itu adalah sarana mencari subtitusi bagi psikis atas apa yang tidak bisa terpenuhi secara lumrahnya.)

Meningkatnya kehidupan batin seperti ini membantu para tawanan menemukan tempat berlindung dari kehampaan, dari keterasingan dan kemiskinan rohaniah hidupnya... (h. 54).

Fase ketiga adalah kehidupan selepas bebas dari kamp,  bagi mereka yang beruntung. Seperti didapati Frankl, ternyata banyak dari mereka tak sendirinya terbebas secara psikis. Kehidupan kamp di bawah tekanan psikis yang begitu besar dalam jangka waktu panjang menjatuhkan derajat mentalitas manusianya ke watak primitif. Semakin kuat munculnya watak primitif, semakin kuat perangainya meluapkan apa yang sebelumnya terjadi padanya. Diistilahkan "depersonalisasi". Dicirikan oleh penurunan kualitas moral.

Selama fase psikologis tersebut, akan tampak bahwa orang yang sifatnya berjenis primitif tidak mampu melepaskan diri dari pengaruh kebrutalan yang menyelimuti mereka selama hidup di kamp .... Mereka menjadi penggerak ... kekuatan dan ketidakadilan (h. 133).

Dicirikan untuk meluapkan apa yang menjadi beban psikisnya selama ini dengan keinginan dan perilaku menindas, meluapkan inferioritas dan pengalaman tertindas selama di kamp. Berperilaku semena-mena dan mencari pembenaran atas tindakannya itu, umumnya dalam bentuk perbuatan sepele, yang secara moral tak perlu diperdebatkan bahwa itu keliru. Dicontohkan Frankl, teman akrabnya selama di kamp sengaja berjalan di atas ladang yang telah tertanami benih gandum yang mulai trubus. Ia mencari alasan pembenaran setelah ditegur Frank atas tindakan yang secara moral keliru. Seseorang, nasihat Frankl ke kita, yang baru saja terlepas dari beban psikis secara mendadak butuh, mengutip istilah Frankl, "perawatan spiritual".


Penderitaan dan Pemaknaannya

Penderitaan inheren dalam kehidupan manusia, bagian dari pengalaman batin/mental. Hal ini menjadi fenomena patologis. Dugaan Frankl, berbagai kondisi patologis semisal kelelahan menjalani hidup, ingin mati, keinginan bunuh diri, dan kondisi-kondisi serupa bersumber dari kegagalan menemukan makna. Menurutnya, manusia tidak dapat mengelak dari penderitaan, tetapi punya kebebasan dalam cara menghadapinya. Caranya, menurut dia lagi, menemukan tujuan baru. Tulis Frankl:

Analisis akhir jelas menunjukkan bahwa keputusan batinlah ... yang akhirnya menentukan akan menjadi manusia seperti apa tawanan tersebut kemudian ... setiap manusia pada dasarnya bisa menentukan apa yang terjadi pada dirinya—baik secara mental dan spiritual (h. 95).

Meski ia sendiri menimpali jika hal ini aneh, manusia bisa melewati segala penderitaan yang dirasakannya dengan melihat—yang oleh pikiran dikonsepsikan—ke masa depan, dengan menetapkan tujuan baru dan terus memperbaruinya. Meski manusia meraba-raba sasaran yang sifatnya personal itu. Menurut Frankl, 

... Kita harus berhenti bertanya tentang makna hidup. Jawabannya tidak hanya berbentuk ucapan dan niat, tetapi harus dituangkan dalam tindakan dan perilaku yang benar ... yang paling utama adalah menemukan jawaban-jawaban yang tepat dari semua permasalahan hidup, dan menyelesaikan tugas-tugas yang terus-menerus disodorkan oleh hidup kepada masing-masing individu .... Jika seseorang ditakdirkan untuk hidup menderita, dia harus menerima penderitaan tersebut sebagai tugasnya; tugas yang tunggal dan unik (h. 113-114).

Pencarian akan makna hidup, menurut Frankl, berbeda pada masing-masing individu, berbeda pula dari waktu ke waktu. Makna hidup, menurutnya, tak bisa dirumuskan secara umum atau dalam arti makna hidup A belum tentu sama dengan si  B. Berangkat dari penderitaan dirasakan, individu tergerak mencari makna hidupnya. Dengan kata lain, makna hidup adalah bersifat personal. 

Sebuah kehidupan yang aktif memberi manusia kesempatan untuk meraih nilai-nilai hidup dalam karya kreatif, sementara kehidupan yang pasif dan penuh kenikmatan memberi manusia kesempatan untuk meraih kepuasan dengan menikmati keindahan, seni, dan alam.

 

Penutup

Buku psikologi populer. Gaya penyampaian naratif dan bahasa mudah dimengerti siapa saja. Meski, hemat saya, karena mengadopsi gaya naratif populer, lumayan menyulitkan untuk membuat garis dari satu titik ke lain titik dalam menemukan gagasan-gagasan kunci Frankl, umpamanya kita hendak membacainya dengan serius dan seksama. Namun, pelajaran dari hidup Frankl mungkin merupakan pelajaran hidup di antara yang paling berharga. Namun keunggulan penggunaan bahasa yang sederhana lebih nyaman untuk dibaca saat bersantai, akan pentingnya menemukan dan menumbuhkan makna dan tujuan dalam hidup kita dan bagaimana hal itu dapat memberi masing-masing dari kita kekuatan untuk bertahan hidup, terlepas dari beratnya kesulitan dan rintangan. Sebab, hal-hal itu terkait bagaimana kita menetapkan persepsi atau—istilah Frankl—memaknai silih berganti peristiwa apa saja yang kita hadapi. Makna, terlepas setuju atau tidak pada Frankl, itu adalah mengarahkan pandangan ke depan. Nilai-nilai dan makna-makna hidup, nasihat Frankl, tidak lain mekanisme pertahanan diri, pembentukan reaksi atas yang dihadapi, dan sublimasi.

Postingan populer dari blog ini

Review Buku Harmoni Dengan Segala Kehidupan Karya Eckhart Tolle

Buku ini diperhatikan bab-babnya berisi beberapa topik yang di awal-awal menyampaikan perihal kesaatkinian dan korelasinya adalah pelampuan gagasan yang mana meliputi gagasan waktu dan gagasan keterpisahan perihal ilusi eksistensi atau aku terpisah mutlak dari keberadaan lainnya ( atta ), kemudian topik diakhiri perihal "harmoni dengan segala kehidupan", yang dalam bahasa sederhana saya adalah: yang biasa dikira aku sejatinya adalah elemen tiada terpisah dari alam semesta. Anda adalah alam semesta itu sendiri.  Secara sistematis, bab-bab secara serial mengarahkan pembaca kepada kesadaran—apa yang diistilahkan Tolle sebagai—"ruang internal". Sebab di sanalah sumber keberhidupan dan arah tepat pencarian kebahagiaan, ketenangan batiniah. Itu muncul ketika konsepsi aku padam—tidak membersit pada pikiran Anda. Dengan kata lain, Anda menjalani, melakukan, menghadapi yang saat-kini Anda di situ dengan mode pikiran intuitif. Gaya Kebahasaan Gaya pengungkapan keb...

Orang Ewe dan Agama Kepercayaan Tradisionalnya

Orang Ewe bisa dijumpai di  Ghana, Togo, dan Benin. Semuanya adalah negara-negara di bagian barat benua Afrika. Populasi terbesar mendiami Ghana. Tradisi dan kepercayaanya banyak dipengaruhi kebudayaan orang Akan dan Yoruba. Bahasa ibu orang Ewe termasuk rumpun Gbe. Orang Ewe terbagi menjadi klan-klan, tetapi menurut cerita lisan dikatakan berakar pada garis leluhur yang sama. Sistem kepemilikan properti adalah komunal, tidak menganut kepemilikan properti secara individu. Asesedwa , kesenian kayu menyerupai bangku, sangat esensial dalam tradisi Ewe. Karenanya, hal itu dibuat dan diukir sangat hati-hati. Dalam ukiran benda tersebut kaya narasi mengenai klan bersangkutan. Dalam ritual, Asesedwa merupakan media yang berfungsi sebagai tempat memanggi roh leluhur. Asesedwa. Menurut cerita turun temurun, asal-usul mereka berasal dari Kotu/Ketu atau Amedzowe, terletak di sebelah timur Sungai Niger. Kira-kira pada 1500, leluhur mereka bermigrasi ke Notsie, Togo. Pada mulamya, migrasi merek...

Dua Kelahiran (Sebuah Esai Kontemplatif)

Kita kerap disuguhkan bahwa lahir, menua, kemerosotan fisik atau sakit/penyakitan, dan kemudian kematian adalah Penderitaan ( dukkha ). Bahasa sehari-harinya, kita sering kali tidak rela ketiga peristiwa akibat dari dilahirkan tadi menimpa kita dan orang-orang terdekat. Keempat fenomena alam tadi masuk klasifikasi penderitaan disebakan jasmani.  Ada klasifikasi penderitaan lainnya: bersama yang tak disenangi/dicintai, berpisah ataupun kehilangan yang disenangi/dicintai, dan terakhirnya adalah tidak memeroleh apa yang dihasratingini/dinafsui. Saya istilahkan penderitaan disebabkan oleh kemampuan mengada yang darinya muncul kemampuan mengingini (mengidealkan dunia kita alami). Mohon diingat. Ini adalah tulisan bersifat kontemplatif dan ini rasa-rasanya tak ada dalam pengajaran naratif Buddhisme arus utama. Sekedar hasil perenungan dan proses memperjelas istilah yang bagi penulis cukup membingungkan mulanya   Mengapa Kita kerap Alami Suasana Batin Tak Nyaman Kita secara emos...

Apa Itu 4 Kebenaran Hakiki dalam Buddhisme?

Awal-awal ceramah Guru Gautama setelah pencerahannya berkisar di seputar Empat Kebenaran Hakiki, yang merupakan dasar dari Buddhisme. Salah satu cara untuk memahaminya adalah dengan memandang Kebenaran-Kebenaran tersebut sebagai hipotesis dan Buddhisme sebagai proses pemverifikasiannya untuk menjadi tesis, atau merealisasi hakikat akan Kebenaran-Kebenaran itu. Empat Kebenaran Hakiki Umumnya, arti Kebenaran ini ditangkap secara serampangan. Kebenaran tersebut memberi tahu kita bahwa hidup adalah penderitaan. Penderitaan disebabkan oleh loba (ketamakan), dosa (kualitas-kualitas psikiis mengganggu semisal amarah dan ras frustasi), dan moha (pandangan deluaif). Penderitaan berakhir ketika kita terbebas dari 3 kotoram batim tadi. Caranya dengan mempraktikkan apa yang disebut 4 Kebenaran Beruas Delapan. Secara urutan formalnya, Kebenaran tersebut bunyinya berikut: Benar ada penderitaan atau rasa ridak puas ( dukkha ) Benar ada sumber munculnya penderitaan atau tasa tidak puas ( samudaya...

𝙀𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙣 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖, 𝗔𝗽𝗮 𝙨𝙞𝙝 𝗠𝗮𝗸𝘀𝘂𝗱𝗻𝘆𝗮?

Leluhur mewariskan kita ajian tentang bagaimana menjalani hidup yang damai dalam diri, dituangkan dalam 𝘴𝘢𝘯é𝘱𝘢. Dengan itu kita diminta membuka kitab kita sendiri. Kitab itu adalah batin kita masing-masing untuk 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘯𝘢𝘰𝘯𝘪 dan 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪. Orang Sunda dan orang Kenekes (Badui di Lebak, Banten) menyebut "ngaji diri". 𝘌𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘢𝘥𝘩𝘢 (baca: 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘰𝘥𝘩𝘰) adalah ajaran bagaimana mergondisikan batin tiada gangguan agar kembali tenang, tiadanya semacam lubang dalam ruhani atau psikis atau batin, batin puas dengan yang ada, batin bening dan suci sebagaimana sifat asalinya, atau psikis bagaimana mengalami rasa syukur yang sebenar-benarnya syukur (bukan syukur 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘣é) apapun sedang dijumpai. 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖 "Waspadha" (baca: waspodho) atau 𝘯𝘺𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢'𝘯é adalah hadirnya pikiran pada saat-kini, pada momen yang berlangsung. Kita sering makan tetapi kita tak sepenuhnya benar-benar makan, tidak a𝘸𝘢𝘳𝘦 denga...

Apa Maksud Ungkapan Ikonik "Gott Ist Tot" Nietzsche?

Friedrich Wilhelm Nietzsche lahir dari seorang ayah pendeta Kristen pada 1844. Seperti ayahnya yang meninggal usia sangat muda yaitu 36 tahun, ia meninggal pada usia 56 tahun, setelah menghabiskan sepuluh tahun terakhir hidupnya dalam kegilaan yang disebabkan oleh gangguan mental, pada tahun 1900. Ia menulis beberapa buku mencekam dan menelanjangi cara pandang manusia. Di antara paling elegan ada Thus Spoke Zarathustra (Sabda Zarathustra),   Kelahiran Tragedi , Beyond Good and Evil (Melampaui Kebaikan dan Kejahatan) , Silsilah Moral , dan beberapa lainnya adalah yang populer dan dibaca kalangan luas. Terkenal bukan sekedar karya filosofisnya yang luar biasa, tetapi juga pengaruhnya terhadap ratusan pemikir filsafat, psikologi, dan sastra di era setelahnya. Sesuatu yang tak bersambut dan dihargai semasa hidupnya karena ide-ide dan gaya kefilsafatannya di luar arus ortodoksi, hal yang sangat mengganggunya. Namun, setelah itu, seperti ungkapan terkenalnya, "Beberapa lah...

Apa Maksud Samsara dalam Buddhisme?

Dalam Buddhisme, samsara sering diartikan sebagai roda siklus tumimbal lahir tiada berujung. Atau, anda mungkin menangkapnya sebagai dunia penderitaan dan ketidakpuasan ( dukkha ), lawan dari nibbana  yang mana istilah kedua ini merujuk pada suatu kondisi terbebas dari penderitaan dan siklus tumimbal lahir—atau orang umum mengenal dan menyamakannya dengan reinkarnasi. Secara literal, istilah samsara yang berasal dari Sansekerta, berarti "mengalir" atau "melewati", yang dilustrasikan dengan Roda Kehidupan dan digambarkan dengan Dua Belas Asal Muasal Saling Bertaut Kemengadaan. Pada umumnya dipahami sebagai kondisi terbelenggu oleh keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan, atau terjebak ilusi yang mengaburkan realitas sejati ( Sunyata ). Dalam falsafah Buddhis tradisional, kita terjebak dalam samsara dari satu kehidupan ke lain kehidupan hingga kita menemukan kebangkitan melalui ketercerahan. Namun, pengartian samsara paling baik, dan mungkin pengartiannya dapat dit...

Dua Kebenaran dalam Mahayana Buddhis

Apa itu kenyataan? Kamus memberi tahu kita bahwa kenyataan adalah "kondisi sebagaimana adanya". Dalam Buddhisme Mahayana, kenyataan dijelaskan dalam doktrin Dua Kebenaran. Doktrin ini memberi tahu kita bahwa kenyataan dapat dimengerti baik sebagai kenyataan ultim sekaligus kenyataan konvensional (atau absolut dan relatif). Kebenaran konvensional adalah seperti kita sehari-hari melihat dunia, tempat yang penuh dengan hal-hal dan fenomena-fenomena khas yang beragam. Kenyataan ultim-nya adalah tidak ada hal-hal atau fenomena khas. Mengatakan tidak ada perbedaan hal-hal atau fenomena yang khas bukan berarti tidak ada yang eksis sama sekali, yang jelas tidak ada perbedaan. Yang mutlak absolut adalah  dhammakaya , kemenyeluruhan segala sesuatu dan eksistensi, tiadalah pula tampak. Mendiang Chogyam Trungpa menyebut dhammakaya sebagai "dasar dari ketidaklahiran yang asli." Bingung? Anda banyak temannya  kok . Ini bukan ajaran yang mudah untuk "ditangkap", tetapi s...

Mengapa Banyak Orang Amerika Menganggap Buddhisme Sekedar Filsafat?

Di Asia timur, Buddhis merayakan mangkatnya Buddha dan datangnya pencerahan di akhir bulan Februari. Akan tetapi di kuil  Zen  lokal saya di North Carolina, pencerahan Buddha diperingati selama musim liburan bulan Desember, diisi dengan ceramah singkat bagi anak-anak, penyalaan lilin, dan makan malam ala kadarnya di akhir acara. Selamat datang di Buddhisme, gaya Amerika. Pengaruh Awal Pengaruh Buddhisme dalam kesadaran budaya masyarakat Amerika muncul di akhir-akhir abad ke-19. Zaman ketika gagasan romantis tentang mistisisme Timur nan eksotis memantik imajinasi filsuf dan penyair Amerika, penikmat seni, dan angkatan awal para penstudi religi-religi global. Penyair dengan kecenderungan gaya transendentalis seperti Henry David Thoreau dan Ralph Waldo Emerson mempelajari filsafat Hindu dan Buddha secara mendalam. Juga ada Henry Steel Olcott, yang rela pergi ke Sri Lanka pada 1880, yang melakukan konversi ke Buddhisme dan mendirikan aliran filosofi mistik yang terkena...

Berkenalan Tema-tema Dasar Buddhisme dari Buku Peter D. Santina

Anda akan dapat menemui banyak ragam dikenali dari Buddhisme di tataran kasarnya. Namun ragam rupa tampakan tradisi dan pengajaran Buddhisme, yang seolah berbeda, disamakan oleh tema-tema utama: Empat Kebenaran Ariya dan Delapan Ruasnya, Tiga Ciri Universal Keberadaan, Karma, dan tumimbal lahir (saya pahami sebagai kemampuan mengada (bereksistensi), bukan sekadar ada, yang dalam konteks filsafat Buddhis adalah produk ilusi mental). Jika Anda ingin mengenal apa kiranya yang bermanfaat untuk kesehatan mental kita di dunia yang cepat nan sesak ramai objek-objek merangsang hasrat keinginan kita tanpa sudah, maka buku Dr. Peter D. Santina ini layak. Menyuguhkan dasar-dasar bagi siapa saja yang baru awal-awal mengenal Buddhisme. Santina mengupas dalam pendekatan sekuler. Tak salah kalau bab pertama buku ini diberi tajuk "Agama Buddha: Sebuah Sudut Pandang Modern". Walau di beberapa titik tampak sekilas Santina menyinggung nilai-nilai Buddhisme yang kebanyakannya memenuhi alam pikir...