Guru Gautama, Sang Buddha, mengajarkan bahwa kebahagiaan adalah satu dari Tujuh Faktor Pencerahan. Namun begitu, apa maksud dari kebahagiaan itu? Kamus mendefinisikan sebagai kesenangan dan ketenteraman hidup (lahir batin); keberuntungan; kemujuran yang bersifat lahir batin. Dicontohkan di situ, kebahagiaan karena lahirnya bayi dalam keluarga. Dengan kata lain, kebahagiaan tadi adalah rentang spektrum emosi dari rasa bahagia hingga senang.
Kita mungkin beranggapan jika kebahagiaan sebagai sesuatu yang tidak langgeng, yang silih datang dan pergi dalam hidup kita, atau sebagai tujuan terpuncak yang diingini hidup kita, atau memahaminya secara literal sebagai kebalikan dari "kesedihan".
Satu hal yang pasti, "kebahagiaan" adalah kata yang dipergunakan untuk memadankan kata piti dalam teks Pali tersebut, yang maksudnya lebih dekat pada ketenangan atau kedamaian mendalam. Untuk memahami ajaran Sang Buddha tentang kebahagiaan, penting kiranya memahami maksud piti.
Kebahagiaan Sejati adalah Kondisi Pikiran Tertentu
Sebagaimana Sang Guru menjelaskan perihal tersebut, fisik dan perasaan emosional (vedana) kita bertalian atau melekat pada objek. Sebagai misal, sensasi pendengaran muncul tercipta ketika terjadi kontak antara organ pendengaran (telinga) terhadap objek (suara). Dengan kata lain, munculnya kebahagiaan-biasa harus ada objek yang merangsang terciptanya sensasi mental dalam diri kita. Sebagai contoh, acara yang memunculkan perasaan bahagia (perkawinan), menerima hadiah, atau memiliki sepatu baru yang indah sesuai selera.Problem mendasar dari kebahagiaan-biasa ini terletak pada, bahwa objek kebahagiaan tadi berubah dan karenanya rasa kebahagiaan akan memudar seiring berjalannya waktu. Semua objek tidak konstan dan bertahan terus menerus. Peristiwa yang menyenangkan segera diikuti oleh peristiwa yang menyedihkan, dan sepatu baru menjadi tidak bagus menyenangkan lagi. Sayangnya, sebagian besar dari kita menjalani hidup dengan mencari hal-hal yang membuat kita bahagia atau senang, tapi rasa bahagia kita itu tidak pernah langgeng, jadi kita terus menerus tiada berkesudahan mencari dan mengejar objek yang bisa "memperbaiki" kebahagiaan-biasa tadi.
Kebahagiaan yang merupakan salah satu faktor
Pencerahan, Ke-buddha-an, dalam Buddhisme tidak bergantung pada objek, tetapi merupakan kondisi pikiran tertentu yang dilatihkembangkan melalui praktik, latihan, dan disiplin mental. Karena tidak bergantung pada objek yang berubah, kebahagiaan tidak silih datang dan pergi. Seseorang yang telah mengembangkan piti masih merasakan sensasi emosional yang bersifat impermanen atau datang dan pergi itu, masih merasakan kebahagiaan atau kesedihan. Walau begitu, dengan apa yang dirasakan secara batin/mental tersebut, ia telah mengembangkan kesadaran bahwa itu bersifat sementara dan tidaklah nyata atau sekedar sensasi. Ia secara mental tidak lagi mati-matian mempertahankan atau menggenggam apa-apa yang diinginkan dan menolak secara mental apa saja yang tidak diingini.
Bahagia Dulu
Sebagian dari kita tertarik melirik dhamma (Pali) atau dharma (Sansekerta) karena ingin melenyapkan apa-apa yang menurut kita membuat diri kita tidak bahagia. Mungkin dari kita berpikir bahwa jika kita mencapai Pencerahan, kita akan terus menerus bahagia.
Namun Sang Buddha mengajarkan bukan begitu cara kerjanya. Kita tidak memahami Pencerahan untuk menemukan kebahagiaan. Sebaliknya, beliau mengajarkan pada murid-muridnya untuk mengembangkan kondisi mental bahagia, kondisi mental tertentu, untuk merealisasi Pencerahan.
Banthe Piyadassi Maha Thera (1914-1998), guru Theravadis, mengajarkan bahwa piti adalah "sifat-sifat mental (cetasika) dan merupakan kualitas yang meliputi tubuh dan pikiran." Lanjut beliau,
Orang yang tidak memiliki kualitas ini tidak mungkin menapaki laku menuju pencerahan. Akan muncul dalam dirinya rasa cuek masam terhadap dhamma, menolak praktik meditasi, dan manifestasi yang tidak wajar. Oleh karenanya, sangatlah penting bagi seseorang yang berjuang untuk meraih pencerahan dan pembebasan akhir dari belenggu samsara, pengembaraan yang berulang-ulang, berusaha mengembangkan faktor kebahagiaan yang sangat penting.
Bagaimana Mengembangkan Kebahagiaan?
Mempraktikkan disiplin dan pengembangan kondisi mental tertentu yang sehat adalah inti dari praktik Buddhisme. Biasanya berpusat pada meditasi rutin berkala atau praktik melantunkan paritta dan akhirnya berkembang menjadi praktik laku berdasar kesadaran atas Jalan Mulia Beruas Delapan. Dalam buku Seni Hidup Bahagia, Dalai Lama XIV menulis,
Banyak orang beranggapan bahwa meditasi adalah satu-satunya bagian terinti dalam Buddhisme, dan sisanya hanyalah embel-embel. Namun sebenarnya, Buddhisme adalah ragam praktik yang semuanya itu jalin jemalin dan saling menopang satu sama lain. Latihan meditasi berkala dengan sendirinya bisa sangat bermanfaat. Namun, meditasi saja layaknya kincir angin yang beberapa bilah baling-balingnya protol, artinya tidak bekerja sebaik ketika semua bagian baling-balingnya lengkap. Ini adalah cara mengembang piti yang paling mendasar dalam diri. Rasa-rasanya, maaf, tidak ada pengembangan instan atau tiga langkah sederhana menuju kebahagiaan yang langgeng, kebahagiaan sejati, pengalaman batin yang penuh, kepuasan batin, atau apapun anda menyebutnya.Jadi, sebenarnya praktik Dhamma adalah pertempuran terus menerus dalam diri, menggantikan kondisi negatif atau kebiasaan negatif sebelumnya dengan kondisi positif yang baru.
Jangan jadi Objek
Telah dikatakan bahwa kebahagiaan mendalam tidak memiliki objek. Jadi, jangan jadikan dirimu objek. Selama anda mencari kebahagiaan untuk diri anda sendiri, anda akan gagal menemukan apa pun kecuali kebahagiaan yang sifatnya sementara saja.
Dr. Nobuo Haneda, seorang tokoh spiritual dan guru di Jodo Shinshu, mengatakan,
Jika anda bisa melupakan kebahagiaan diri anda sendiri, itulah kebahagiaan yang dilehendaki dalam ajaran Buddha. Jika masalah kebahagiaan diri anda selesai menjadi masalah, itulah kebahagiaan yang dikehendaki dalam ajaran Buddha.
Ini membawa kita kembali kepada ketulusan mempraktikkan ajaran Buddha Master Dogen, seorang guru Zen Jepang kuno tersohor, yang berkata,
Mempelajari Jalan Buddha berarti mempelajari diri; mempelajari diri berarti melupakan diri; melupakan diri berarti tercerahkan oleh sepuluh ribu hal.
Sang Buddha mengajarkan bahwa stres dan rasa kecewa (dukkha) dalam hidup kita lahir dari loba dan kemelekatan. Akar dari loba dan kemelekatan adalah kebodohan batin. Dan kebodohan ini adalah sifat alamiah segala sesuatu, termasuk diri kita. Saat kita berlatih dan tumbuh dalam kebijaksanaan, kita perlahan tidak mementingkan diri sendiri dan lebih memperhatikan kesejahteraan orang dan mahluk lain.
Tidak ada jalan pintas untuk berkembangnya kualitas-kualitas tersebut, kita tidak bisa memaksa diri kita untuk tidak terlalu mementingkan diri sendiri. Sikap tidak mementingkan diri sendiri akan tumbuh dengan sendirinya, tanpa paksaan, dengan berlatih dan praktik batin.
Perihal lanjutan dari tidak mementingkan diri sendiri adalah bahwa kita juga tidak terlalu ingin mencari dan mengejar hal-hal yang "memperbaiki" kebahagiaan kita karena keinginan akan perbaikan itu kehilangan daya cengkeramnya. Yang Mulia Dalai Lama XIV berkata,
Jika anda ingin orang lain bahagia, praktikkan welas asih; dan jika anda ingin diri anda sendiri bahagia, praktikkan welas asih.
Sepintas terdengar sederhana dan gampang, tetapi menumbuh kualitas sadar tersebut dalam diri butuh praktik latihan batin secara tekun.

