Tujuh faktor untuk munculnya Pencerahan batin adalah tujuh kualitas yang mengarahkan pada terealisasinya kecerahan batin, yang menggambarkan tergugahnya batin dan bangkit keluar dari belenggu ilusi. Sang Buddha menyebut faktor-faktor ini dalam beberapa khotbah Dhamma-nya sebagaimana terdokumentasi dalam Tipitaka. Faktor-faktor tadi disebut satta bojjhanga dalam Pali dan sapta bodhyanga dalam Sanskrit. Faktor-faktor tadi disebut begitu berguna sebagai penangkal Lima Rintangan: kesenangan terhadap sensasi indrawi (Kamaccahanda), pikiran atau perniatan buruk (Byapada), kemalasan (Thinamidha), kegelisahan dan penyesalan (Uddhacca-kukkucca), dan keragu-raguan atau kegamangan (Vicikiccha).
1/ Perhatian Benar (Sati)
2/ Penyelidikan (Dhammavicaya)
Faktor kedua adalah penyelidikan yang mendalam terhadap realitas. Di beberapa aliran Buddhisme, penyelidikan yang mendalam ini bercorak analitis. Istilah dhamma vicaya artinya penyelidikan dhamma atau dharma.
Kata dharma sering muncul dalam teks Buddhis dan memiliki banyak arti. Makna yang paling luas merujuk sesuatu yang mirip halnya "hukum alam". Dalam tempo lain juga mengacu pada ajaran Sang Buddha. Dalam tempo lain lagi merujuk pada ciri-ciri keberadaan atau fenomena, sebagai manifestasi dari realitas ultim.
Pada intinya penyelidikan dharma adalah penyelidikan terhadap ajaran Sang Buddha beserta sifat-sifat dari keberadaan. Sang Buddha mengajarkan ke siswa-siswanya untuk tidak menerima apa yang dikatakannya dengan keyakinan membuta, melainkan menyelidiki ajarannya untuk menyadari kebenarannya sendiri.
3/ Semangat Gigih (Virya)
Istilah yang ditulis viriya dalam istilah Pali ini diterjemahkan sebagai "semangat" dan "upaya yang antusias". Kata virya berakar dari vira yang dalam bahasa Indo-Iran kuno berarti "pahlawan". Karenanya, virya, dengan mempertahankan arti konotatifnya, adalah usaha heroik dan semangat gigih seorang pejuang.
Seorang bikkhu dan cendekiawan Theravadis, Banthe Piyadassi Thera, mengatakan bahwa ketika Pangeran Sidharta memulai pencarian akan pencerahan, ia berpegang pada motto ma nivatta, abhikkhama, 'jangan goyah; maju'. Pencarian pencerahan membutuhkan keteguhan dan keberanian yang tak kenal surut.
4/ Kebahagiaan atau Kedamaian (Piti)
Tentu saja, kita semua ingin kebahagiaan dan kedamaian. Namun apa maksud "kebahagiaan/kedamaian" di sini? Menempuh laku spiritual atau laku ruhaniah seringkali dimulai ketika kita menyadari betul bahwa setelah kita meraih apa yang kita ingini ternyata tidak membuat kita merasakan langgengnya kebahagiaan/kedamaian, tidak selalu menempatkan hidup kita dalam kebahagiaan. Lalu, apa yang akan membuat kita bahagia? Dalai Lama XIV menasihati bahwa,
Kebahagiaan bukan sesuatu yang ada dengan sendirinya, itu muncul dari tindakanmu.
Itulah yang kami Buddhis lakukan, bukan yang kami ingin dapatkan. Begitulah tumbuhnya kebahagiaan dalam diri, ayem batin.
Ini merupakan ajaran mendasar Buddhisme bahwa hasrat keinginan terhadap hal-hal (objek) yang berada di luar diri hanya akan mengikatkan diri kita pada dukkha, kekecewaan dan penderitaan, atau apapun anda istilahkan. Ketika kita beralih mencari kebahagiaan ke dalam sendiri, kita dapat memulai melepas hasrat nafsu keinginan dan kebahagiaan atau batin tenang atau kepuasan batin atau kepenuhan batin tumbuj dengan sendirinya.5/ Ketenangan (Passaddhi)
Faktor kelima ini adalah ketenangan atau ketentraman atau keheningan. Bisa disebut pula tubuh dan kesadaran atau pikiran rileks. Faktor sebelumnya adalah kebahagiaan yang sifatnya menggembirakan. Sementara faktor yang ini lebih merujuk pada kepuasan seseorang yang telah menyelesaikan pekerjaan dan sedang dalam kondisi beristirahat. Seperti kebahagiaan, ketenangan dan kedamaian tidak bisa dipaksakan atau dibuat-buat. Itu muncul secara alamiah tercipta dari faktor-faktor lain.
6/ Konsentrasi
Hampir mirip dengan Perhatian Benar, Konsentrasi Benar juga merupakan bagian dari Jalan Berunsur Delapan. Lantas, di mana perbedaan antara keduanya? Pada dasarnya, Perhatian Benar adalah kesadaran seluruh tubuh dan pikiran, biasanya dalam ungkapan literal mengacu tubuh, perasaan, dan pikiran. Konsentrasi adalah memfokuskan segenap mental seseorang pada satu objek fisik atau mental. Melatih dhyana (Sanskrit) atau jhana (Pali).
Istilah lain yang sering dipakai untuk dipadankan dengan Konsentrasi Benar ini adalah samadhi.John Daido Loori Roshi, seorang guru Soto Zen, di masa berikutnya mengatakan,
Samadhi adalah kondisi kesadaran di luar ketergugahan, bermimpi, atau tidur nyenyak. Ini adalah memperlambat aktivitas mental kita melalui mencurahkan konsentrasi pada satu objek.
Dalam samadhi yang mendalam, semua perasaan atau anggapan atau pikiran akan "diri", dan pikiran dualistik subjek-objek, luruh atau berhenti atau padam.
7/ Batin Seimbang atau Netral (Uphekka)
Batin Seimbang dalam pengertian Buddhis adalah suatu kondisi batin dalam titik antara enggan dan ingin yang ekstrim. Dengan kata lain, batin tidak condong ke salah satu titik, yaitu cpndong kepada apa yang anda sukai dan tidak sukai.
Bhikkhu dan cendekiawan Theravadin, Bhikkhu Bodhi, berkata bahwa Batin Seimbang adalah,
Pikiran selalu pada saat-kini, terbebasnya pikiran yang tiada tergoyahkan, keadaan batin seimbang yang tak terjamah rasa kecewa oleh untung dan rugi, kehormatan dan penghinaan, pujian dan celaan, kesenangan dan kepedihan. Upekkha adalah bebas dari semua referensi-diri; semata-mata terabaikannya tuntutan hasrat ego-diri atas akan kesenangan dan kedudukan, bukan pada kesejahteraan sesama umat manusia.

