Langsung ke konten utama

7 Faktor Pencerahan Batin

Tujuh faktor untuk munculnya Pencerahan batin adalah tujuh kualitas yang mengarahkan pada terealisasinya kecerahan batin, yang menggambarkan tergugahnya batin dan bangkit keluar dari belenggu ilusi. Sang Buddha menyebut faktor-faktor ini dalam beberapa khotbah Dhamma-nya sebagaimana terdokumentasi dalam Tipitaka. Faktor-faktor tadi disebut satta bojjhanga dalam Pali dan sapta bodhyanga dalam Sanskrit. Faktor-faktor tadi disebut begitu berguna sebagai penangkal Lima Rintangan: kesenangan terhadap sensasi indrawi (Kamaccahanda), pikiran atau perniatan buruk (Byapada), kemalasan (Thinamidha), kegelisahan dan penyesalan (Uddhacca-kukkucca), dan keragu-raguan atau kegamangan (Vicikiccha).

1/ Perhatian Benar (Sati)

Perhatian Benar, sering diistilahkan pula Mindfulness, adalah satu dari Jalan Berunsur Delapan dan begitu fundamental dalam latihan laku praktik Buddhis. Perhatian Benar merujuk pada kesadaran seluruh tubuh dan pikiran sepenuhnya hadir pada momen saat-kini, pikiran tidak terbang mengembara meninggalkan yang nyata saat-kini, terbelit dalam ketegangan atau kewaspadaan, kesenangan atau waswas, ataupun tenggelam dalam lamunan.

Perhatian Benar berarti juga melepaskan kebiasaan pikiran yang melekati ilusi akan adanya diri itu mandiri dan terpisah dari seluruh keberadaan. Perhatian Benar adalah kondisi pikiran tiada menilai (non-judgemental). Perhatian Benar berarti juga pikiran yang bebas dari abstraksi, konseptualisasi, evaluasi, dan pemolaan. Misalnya, ketika mengamati pada keluar-masuk napas, kita sadar sepenuhnya itu hanya napas, bukan "napas saya".


2/ Penyelidikan (Dhammavicaya)

Faktor kedua adalah penyelidikan yang mendalam terhadap realitas. Di beberapa aliran Buddhisme, penyelidikan yang mendalam ini bercorak analitis. Istilah dhamma vicaya artinya penyelidikan dhamma atau dharma.

Kata dharma sering muncul dalam teks Buddhis dan memiliki banyak arti. Makna yang paling luas merujuk sesuatu yang mirip halnya "hukum alam". Dalam tempo lain juga mengacu pada ajaran Sang Buddha. Dalam tempo lain lagi merujuk pada ciri-ciri keberadaan atau fenomena, sebagai manifestasi dari realitas ultim.

Pada intinya penyelidikan dharma adalah penyelidikan terhadap ajaran Sang Buddha beserta sifat-sifat dari keberadaan. Sang Buddha mengajarkan ke siswa-siswanya untuk tidak menerima apa yang dikatakannya dengan keyakinan membuta, melainkan menyelidiki ajarannya untuk menyadari kebenarannya sendiri.


3/ Semangat Gigih (Virya)

Istilah yang ditulis viriya dalam istilah Pali ini diterjemahkan sebagai "semangat" dan "upaya yang antusias". Kata virya berakar dari vira yang dalam bahasa Indo-Iran kuno berarti "pahlawan". Karenanya, virya, dengan mempertahankan arti konotatifnya, adalah usaha heroik dan semangat gigih seorang pejuang.

Seorang bikkhu dan cendekiawan Theravadis, Banthe Piyadassi Thera, mengatakan bahwa ketika Pangeran Sidharta memulai pencarian akan pencerahan, ia berpegang pada motto ma nivatta, abhikkhama, 'jangan goyah; maju'. Pencarian pencerahan membutuhkan keteguhan dan keberanian yang tak kenal surut.


4/ Kebahagiaan atau Kedamaian (Piti)

Tentu saja, kita semua ingin kebahagiaan dan kedamaian. Namun apa maksud "kebahagiaan/kedamaian" di sini? Menempuh laku spiritual atau laku ruhaniah seringkali dimulai ketika kita menyadari betul bahwa setelah kita meraih apa yang kita ingini ternyata tidak membuat kita merasakan langgengnya kebahagiaan/kedamaian, tidak selalu menempatkan hidup kita dalam kebahagiaan. Lalu, apa yang akan membuat kita bahagia? Dalai Lama XIV menasihati bahwa,

Kebahagiaan bukan sesuatu yang ada dengan sendirinya, itu muncul dari tindakanmu.

Itulah yang kami Buddhis lakukan, bukan yang kami ingin dapatkan. Begitulah tumbuhnya kebahagiaan dalam diri, ayem batin.

Ini merupakan ajaran mendasar Buddhisme bahwa hasrat keinginan terhadap hal-hal (objek) yang berada di luar diri hanya akan mengikatkan diri kita pada dukkha, kekecewaan dan penderitaan, atau apapun anda istilahkan. Ketika kita beralih mencari kebahagiaan ke dalam sendiri, kita dapat memulai melepas hasrat nafsu keinginan dan kebahagiaan atau batin tenang atau kepuasan batin atau kepenuhan batin tumbuj dengan sendirinya.


5/ Ketenangan (Passaddhi)

Faktor kelima ini adalah ketenangan atau ketentraman atau keheningan. Bisa disebut pula tubuh dan kesadaran atau pikiran rileks. Faktor sebelumnya adalah kebahagiaan yang sifatnya menggembirakan. Sementara faktor yang ini lebih merujuk pada kepuasan seseorang yang telah menyelesaikan pekerjaan dan sedang dalam kondisi beristirahat. Seperti kebahagiaan, ketenangan dan kedamaian tidak bisa dipaksakan atau dibuat-buat. Itu muncul secara alamiah tercipta dari faktor-faktor lain.


6/ Konsentrasi

Hampir mirip dengan Perhatian Benar, Konsentrasi Benar juga merupakan bagian dari Jalan Berunsur Delapan. Lantas, di mana perbedaan antara keduanya? Pada dasarnya, Perhatian Benar adalah kesadaran seluruh tubuh dan pikiran, biasanya dalam ungkapan literal mengacu tubuh, perasaan, dan pikiran. Konsentrasi adalah memfokuskan segenap mental seseorang pada satu objek fisik atau mental. Melatih dhyana (Sanskrit) atau jhana (Pali).

Istilah lain yang sering dipakai untuk dipadankan dengan Konsentrasi Benar ini adalah samadhi.John Daido Loori Roshi, seorang guru Soto Zen, di masa berikutnya mengatakan,

Samadhi adalah kondisi kesadaran di luar ketergugahan, bermimpi, atau tidur nyenyak. Ini adalah memperlambat aktivitas mental kita melalui mencurahkan konsentrasi pada satu objek.

Dalam samadhi yang mendalam, semua perasaan atau anggapan atau pikiran akan "diri", dan pikiran dualistik subjek-objek, luruh atau berhenti atau padam.


7/ Batin Seimbang atau Netral (Uphekka)

Batin Seimbang dalam pengertian Buddhis adalah suatu kondisi batin dalam titik antara enggan dan ingin yang ekstrim. Dengan kata lain, batin tidak condong ke salah satu titik, yaitu cpndong kepada apa yang anda sukai dan tidak sukai.

Bhikkhu dan cendekiawan Theravadin, Bhikkhu Bodhi, berkata bahwa Batin Seimbang adalah,

Pikiran selalu pada saat-kini, terbebasnya pikiran yang tiada tergoyahkan, keadaan batin seimbang yang tak terjamah rasa kecewa oleh untung dan rugi, kehormatan dan penghinaan, pujian dan celaan, kesenangan dan kepedihan. Upekkha adalah bebas dari semua referensi-diri; semata-mata terabaikannya tuntutan hasrat ego-diri atas akan kesenangan dan kedudukan, bukan pada kesejahteraan sesama umat manusia.

Postingan populer dari blog ini

Review Buku Harmoni Dengan Segala Kehidupan Karya Eckhart Tolle

Buku ini diperhatikan bab-babnya berisi beberapa topik yang di awal-awal menyampaikan perihal kesaatkinian dan korelasinya adalah pelampuan gagasan yang mana meliputi gagasan waktu dan gagasan keterpisahan perihal ilusi eksistensi atau aku terpisah mutlak dari keberadaan lainnya ( atta ), kemudian topik diakhiri perihal "harmoni dengan segala kehidupan", yang dalam bahasa sederhana saya adalah: yang biasa dikira aku sejatinya adalah elemen tiada terpisah dari alam semesta. Anda adalah alam semesta itu sendiri.  Secara sistematis, bab-bab secara serial mengarahkan pembaca kepada kesadaran—apa yang diistilahkan Tolle sebagai—"ruang internal". Sebab di sanalah sumber keberhidupan dan arah tepat pencarian kebahagiaan, ketenangan batiniah. Itu muncul ketika konsepsi aku padam—tidak membersit pada pikiran Anda. Dengan kata lain, Anda menjalani, melakukan, menghadapi yang saat-kini Anda di situ dengan mode pikiran intuitif. Gaya Kebahasaan Gaya pengungkapan keb...

Orang Ewe dan Agama Kepercayaan Tradisionalnya

Orang Ewe bisa dijumpai di  Ghana, Togo, dan Benin. Semuanya adalah negara-negara di bagian barat benua Afrika. Populasi terbesar mendiami Ghana. Tradisi dan kepercayaanya banyak dipengaruhi kebudayaan orang Akan dan Yoruba. Bahasa ibu orang Ewe termasuk rumpun Gbe. Orang Ewe terbagi menjadi klan-klan, tetapi menurut cerita lisan dikatakan berakar pada garis leluhur yang sama. Sistem kepemilikan properti adalah komunal, tidak menganut kepemilikan properti secara individu. Asesedwa , kesenian kayu menyerupai bangku, sangat esensial dalam tradisi Ewe. Karenanya, hal itu dibuat dan diukir sangat hati-hati. Dalam ukiran benda tersebut kaya narasi mengenai klan bersangkutan. Dalam ritual, Asesedwa merupakan media yang berfungsi sebagai tempat memanggi roh leluhur. Asesedwa. Menurut cerita turun temurun, asal-usul mereka berasal dari Kotu/Ketu atau Amedzowe, terletak di sebelah timur Sungai Niger. Kira-kira pada 1500, leluhur mereka bermigrasi ke Notsie, Togo. Pada mulamya, migrasi merek...

Dua Kelahiran (Sebuah Esai Kontemplatif)

Kita kerap disuguhkan bahwa lahir, menua, kemerosotan fisik atau sakit/penyakitan, dan kemudian kematian adalah Penderitaan ( dukkha ). Bahasa sehari-harinya, kita sering kali tidak rela ketiga peristiwa akibat dari dilahirkan tadi menimpa kita dan orang-orang terdekat. Keempat fenomena alam tadi masuk klasifikasi penderitaan disebakan jasmani.  Ada klasifikasi penderitaan lainnya: bersama yang tak disenangi/dicintai, berpisah ataupun kehilangan yang disenangi/dicintai, dan terakhirnya adalah tidak memeroleh apa yang dihasratingini/dinafsui. Saya istilahkan penderitaan disebabkan oleh kemampuan mengada yang darinya muncul kemampuan mengingini (mengidealkan dunia kita alami). Mohon diingat. Ini adalah tulisan bersifat kontemplatif dan ini rasa-rasanya tak ada dalam pengajaran naratif Buddhisme arus utama. Sekedar hasil perenungan dan proses memperjelas istilah yang bagi penulis cukup membingungkan mulanya   Mengapa Kita kerap Alami Suasana Batin Tak Nyaman Kita secara emos...

Apa Itu 4 Kebenaran Hakiki dalam Buddhisme?

Awal-awal ceramah Guru Gautama setelah pencerahannya berkisar di seputar Empat Kebenaran Hakiki, yang merupakan dasar dari Buddhisme. Salah satu cara untuk memahaminya adalah dengan memandang Kebenaran-Kebenaran tersebut sebagai hipotesis dan Buddhisme sebagai proses pemverifikasiannya untuk menjadi tesis, atau merealisasi hakikat akan Kebenaran-Kebenaran itu. Empat Kebenaran Hakiki Umumnya, arti Kebenaran ini ditangkap secara serampangan. Kebenaran tersebut memberi tahu kita bahwa hidup adalah penderitaan. Penderitaan disebabkan oleh loba (ketamakan), dosa (kualitas-kualitas psikiis mengganggu semisal amarah dan ras frustasi), dan moha (pandangan deluaif). Penderitaan berakhir ketika kita terbebas dari 3 kotoram batim tadi. Caranya dengan mempraktikkan apa yang disebut 4 Kebenaran Beruas Delapan. Secara urutan formalnya, Kebenaran tersebut bunyinya berikut: Benar ada penderitaan atau rasa ridak puas ( dukkha ) Benar ada sumber munculnya penderitaan atau tasa tidak puas ( samudaya...

𝙀𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙣 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖, 𝗔𝗽𝗮 𝙨𝙞𝙝 𝗠𝗮𝗸𝘀𝘂𝗱𝗻𝘆𝗮?

Leluhur mewariskan kita ajian tentang bagaimana menjalani hidup yang damai dalam diri, dituangkan dalam 𝘴𝘢𝘯é𝘱𝘢. Dengan itu kita diminta membuka kitab kita sendiri. Kitab itu adalah batin kita masing-masing untuk 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘯𝘢𝘰𝘯𝘪 dan 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪. Orang Sunda dan orang Kenekes (Badui di Lebak, Banten) menyebut "ngaji diri". 𝘌𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘢𝘥𝘩𝘢 (baca: 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘰𝘥𝘩𝘰) adalah ajaran bagaimana mergondisikan batin tiada gangguan agar kembali tenang, tiadanya semacam lubang dalam ruhani atau psikis atau batin, batin puas dengan yang ada, batin bening dan suci sebagaimana sifat asalinya, atau psikis bagaimana mengalami rasa syukur yang sebenar-benarnya syukur (bukan syukur 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘣é) apapun sedang dijumpai. 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖 "Waspadha" (baca: waspodho) atau 𝘯𝘺𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢'𝘯é adalah hadirnya pikiran pada saat-kini, pada momen yang berlangsung. Kita sering makan tetapi kita tak sepenuhnya benar-benar makan, tidak a𝘸𝘢𝘳𝘦 denga...

Apa Maksud Ungkapan Ikonik "Gott Ist Tot" Nietzsche?

Friedrich Wilhelm Nietzsche lahir dari seorang ayah pendeta Kristen pada 1844. Seperti ayahnya yang meninggal usia sangat muda yaitu 36 tahun, ia meninggal pada usia 56 tahun, setelah menghabiskan sepuluh tahun terakhir hidupnya dalam kegilaan yang disebabkan oleh gangguan mental, pada tahun 1900. Ia menulis beberapa buku mencekam dan menelanjangi cara pandang manusia. Di antara paling elegan ada Thus Spoke Zarathustra (Sabda Zarathustra),   Kelahiran Tragedi , Beyond Good and Evil (Melampaui Kebaikan dan Kejahatan) , Silsilah Moral , dan beberapa lainnya adalah yang populer dan dibaca kalangan luas. Terkenal bukan sekedar karya filosofisnya yang luar biasa, tetapi juga pengaruhnya terhadap ratusan pemikir filsafat, psikologi, dan sastra di era setelahnya. Sesuatu yang tak bersambut dan dihargai semasa hidupnya karena ide-ide dan gaya kefilsafatannya di luar arus ortodoksi, hal yang sangat mengganggunya. Namun, setelah itu, seperti ungkapan terkenalnya, "Beberapa lah...

Apa Maksud Samsara dalam Buddhisme?

Dalam Buddhisme, samsara sering diartikan sebagai roda siklus tumimbal lahir tiada berujung. Atau, anda mungkin menangkapnya sebagai dunia penderitaan dan ketidakpuasan ( dukkha ), lawan dari nibbana  yang mana istilah kedua ini merujuk pada suatu kondisi terbebas dari penderitaan dan siklus tumimbal lahir—atau orang umum mengenal dan menyamakannya dengan reinkarnasi. Secara literal, istilah samsara yang berasal dari Sansekerta, berarti "mengalir" atau "melewati", yang dilustrasikan dengan Roda Kehidupan dan digambarkan dengan Dua Belas Asal Muasal Saling Bertaut Kemengadaan. Pada umumnya dipahami sebagai kondisi terbelenggu oleh keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan, atau terjebak ilusi yang mengaburkan realitas sejati ( Sunyata ). Dalam falsafah Buddhis tradisional, kita terjebak dalam samsara dari satu kehidupan ke lain kehidupan hingga kita menemukan kebangkitan melalui ketercerahan. Namun, pengartian samsara paling baik, dan mungkin pengartiannya dapat dit...

Dua Kebenaran dalam Mahayana Buddhis

Apa itu kenyataan? Kamus memberi tahu kita bahwa kenyataan adalah "kondisi sebagaimana adanya". Dalam Buddhisme Mahayana, kenyataan dijelaskan dalam doktrin Dua Kebenaran. Doktrin ini memberi tahu kita bahwa kenyataan dapat dimengerti baik sebagai kenyataan ultim sekaligus kenyataan konvensional (atau absolut dan relatif). Kebenaran konvensional adalah seperti kita sehari-hari melihat dunia, tempat yang penuh dengan hal-hal dan fenomena-fenomena khas yang beragam. Kenyataan ultim-nya adalah tidak ada hal-hal atau fenomena khas. Mengatakan tidak ada perbedaan hal-hal atau fenomena yang khas bukan berarti tidak ada yang eksis sama sekali, yang jelas tidak ada perbedaan. Yang mutlak absolut adalah  dhammakaya , kemenyeluruhan segala sesuatu dan eksistensi, tiadalah pula tampak. Mendiang Chogyam Trungpa menyebut dhammakaya sebagai "dasar dari ketidaklahiran yang asli." Bingung? Anda banyak temannya  kok . Ini bukan ajaran yang mudah untuk "ditangkap", tetapi s...

Mengapa Banyak Orang Amerika Menganggap Buddhisme Sekedar Filsafat?

Di Asia timur, Buddhis merayakan mangkatnya Buddha dan datangnya pencerahan di akhir bulan Februari. Akan tetapi di kuil  Zen  lokal saya di North Carolina, pencerahan Buddha diperingati selama musim liburan bulan Desember, diisi dengan ceramah singkat bagi anak-anak, penyalaan lilin, dan makan malam ala kadarnya di akhir acara. Selamat datang di Buddhisme, gaya Amerika. Pengaruh Awal Pengaruh Buddhisme dalam kesadaran budaya masyarakat Amerika muncul di akhir-akhir abad ke-19. Zaman ketika gagasan romantis tentang mistisisme Timur nan eksotis memantik imajinasi filsuf dan penyair Amerika, penikmat seni, dan angkatan awal para penstudi religi-religi global. Penyair dengan kecenderungan gaya transendentalis seperti Henry David Thoreau dan Ralph Waldo Emerson mempelajari filsafat Hindu dan Buddha secara mendalam. Juga ada Henry Steel Olcott, yang rela pergi ke Sri Lanka pada 1880, yang melakukan konversi ke Buddhisme dan mendirikan aliran filosofi mistik yang terkena...

Berkenalan Tema-tema Dasar Buddhisme dari Buku Peter D. Santina

Anda akan dapat menemui banyak ragam dikenali dari Buddhisme di tataran kasarnya. Namun ragam rupa tampakan tradisi dan pengajaran Buddhisme, yang seolah berbeda, disamakan oleh tema-tema utama: Empat Kebenaran Ariya dan Delapan Ruasnya, Tiga Ciri Universal Keberadaan, Karma, dan tumimbal lahir (saya pahami sebagai kemampuan mengada (bereksistensi), bukan sekadar ada, yang dalam konteks filsafat Buddhis adalah produk ilusi mental). Jika Anda ingin mengenal apa kiranya yang bermanfaat untuk kesehatan mental kita di dunia yang cepat nan sesak ramai objek-objek merangsang hasrat keinginan kita tanpa sudah, maka buku Dr. Peter D. Santina ini layak. Menyuguhkan dasar-dasar bagi siapa saja yang baru awal-awal mengenal Buddhisme. Santina mengupas dalam pendekatan sekuler. Tak salah kalau bab pertama buku ini diberi tajuk "Agama Buddha: Sebuah Sudut Pandang Modern". Walau di beberapa titik tampak sekilas Santina menyinggung nilai-nilai Buddhisme yang kebanyakannya memenuhi alam pikir...