Lagi-lagi, Gitsav baru-baru ini viral lagi. Katanya, tak punya anak membuat awet muda. Pernyataannya bisa benar dan bisa salah.
Bagi mereka yang berkeluarga dan beranak, sejauh saya amati di lingkaran perkawanan, yang ekonomi pas-pasan kebanyakan gurat wajahnya terlihat lebih cepat menua. Tekanan kebutuhan hidup, tak bisa dibohongi, berkorelasi terhadap tekanan psikologis. Malah, sebagian bubar jalan. Ada seorang kawan yang, selain memang wajahnya agak baby face, kebetulan orangtuanya mampu dan dia pun terlihat tidak lebih cepat menua dibanding kawan-kawan yang lain, juga lebih bisa menikmati hidup. Sebab, tebakanku, semua kebutuhan dasar dan lapangan usaha setelah ikrar kawin sudah tersedia, artinya ia tidak mengalami tekanan keterbatasan akses ke sumber daya sekuat seperti lainnya. Dengan penjelasan itu, kita bisa sedikit menerima pendapat Gitsav, perempuan asli Semarang.
Bagi sebagian pihak mungkin topik ini sensitif. Jika tidak siap secara emosional dan berpikir terbuka, saran saya untuk anda adalah, segera berhenti setelah selesai membaca paragraf ini. Sebab, topik childfree adalah topik yang mengusik hasrat instingtif bawaan alamiah kita, yaitu melestarikan spesies, yang juga terdapat dalam diri impala-impala di sabana Afrika sana. Meski melahirkan anak artinya memberi kans mahluk baru dari ancaman predator, impala tak bisa mengelak dari insting bawaannya itu, sebab mereka tak layaknya kita, meski tak semuanya bila menyangkut reproduksi, secara taraf rasio.Childfree biasanya dipertentangkan dengan prokreasi. Mengutip dari Benatar, "Kecenderungan prokreasi adalah konsekuensi dari insting seksual ketimbang hasil dari suatu keputusan untuk membawa seseorang ke kehidupan." Meski aktivitas seksual dalam diri manusia bukan lagi sekedar sarana reproduksi bersifat musiman layaknya kucing di tempatku, melainkan juga sarana rekreasi. Namun, kita secara awam bisa menarik pemahaman bahwa tak dipungkiri aktivitas ini bersifat instingtif dan, seperti tabiat asali semua mahluk hidup, berupa memperbanyak diri secara jumlah demi kelestarian spesies.
Memang tak disangkal ada yang memiliki pertimbangan kuat dan keputusan matang yang melatarbelakangi pilihan sadar melahirkan kehidupan baru, tetapi itu tidak bisa dianggap menarik dari sudut si calon anak dan tetap saja keputusan rasional itu didorong oleh dorongan instingtif yang lembut dan samar. Lebih-lebih dianggap tindakan altruistik.
Apa itu childfree? Jika memperhatikan beberapa definisinya akan simpang siur karena beragamnya motif seseorang memutuskan childfree. Definisi yang aku gunakan adalah fenomena manusia kontemporer yang tidak ingin memiliki anak kandung karena satu dan lain alasan.
Dalam beberapa kajian, kita juga akan mendapati beberapa istilah yang beririsan, misalnya anti natalis yang merupakan pandangan filosofis ekstrem dan di titik diametral prokreasi, ini kelompok paling militan dan agresif pandangannya. Ada pula yang menggunakan istilah non pro-kreasi, misalnya Benatar. Childfree adalah moderat, justru reaksi terhadapnya dari prokreasi yang militan dan seringnya tak berdasar argumen rasional—dan bisa kita perhatikan di masyarakat.
Motif seseorang memilih childfree sendiri beragam. Dari beberapa bacaan dan grup diskusi, berikut motif-motif yang dapat dipadatkan. Kelompok pertama, karena tak mau beban hidup tambahan dan lebih memilih sumber daya yang dikumpulkan dinikmati sendiri dan, kata mereka, sebagian ditabung untuk masa tua. Alasan ini secara umum dapat kita tangkap dari pernyataan-pernyataan Gitsav dan kelas mapan lain. Menurutku, ini pilihan cukup egois sebab mereka memiliki sumber daya. Meski, lagi-lagi, itu pilihan pribadi.
Kelompok kedua, kelompok bawah tidak mampu, yaitu siapa saja yang sadar bahwa memutuskan memproduksi anak berarti menempatkan manusia baru untuk sengsara, karena kita sebagai orang yang memproduksinya kekurangan material atau kekurangan sumber daya untuk tumbuh kembangnya demi bisa mengakses kehidupan yang lebih baik di masa dewasanya di dunia yang kompetitif dan ketat ini. Pandangan kedua ini biasanya kombinasi antara pengalaman diri akan kesadaran kelas sosialnya dan pemahaman sosial ekonomi kontemporer yang relatif matang. Pandangan ini adalah pilihan altruistik. Mereka secara insting masih seperti kebanyakannya, tapi terpaksa menindas naluriah reproduksinya. Istilah awamnya "sadar diri".
Ada pandangan lain, kelompok ketiga, yang menjadi pendorong seseorang atau pasangan kawin memutuskan childfree, pandangannya kompleks. Misalnya menyandarkan argumennya akan overpopulasi, keterbatasan sumber daya penopang kehidupan di Bumi, dan kepekaan akan krisis ekologi dan iklim.

Komentar
Posting Komentar