Sebagai Tibetan monk, Yongey Mingyur Rinpoche telah berkeliling dunia untuk mengajar dan mendengar keluh kesah orang-orang yang mencari-cari kebahagiaan. Persisnya ketenteraman atau ketenangan mental, atau—istilah lebih kuno—batin atau ruhaniah. Buku Kebijaksanaan Yang Membahagiakan ini diterbitkan Karaniya, dengan jumlah halaman xi + 361 hlm., dan berdimensi 14,5 cm x 21 cm.
Mungkin anda terbersit "Wah, ini buku tentang agama Buddha!"
Santuy. Buku ini tidak ngomongin kepercayaan yang menjadi pernak-pernik pikiran. Buku mengajak mengenali segala atribusi mental kita, mengenalinya, memberi perhatian padanya, dan bagaimana cara menghadapi langsung kondisi-kondisi aliran pikiran dan perasaan dengan lembut dan sadar penuh perhatian.
Seperti halnya yang dialami Mingyur Rinpoche di masa mudanya yang sering cemas dan gelisah, gugup, tak percaya diri, mudah merasa khawatir, jengkel, dan munculnya perasaan-perasaan tak menyenangkan lainnya, tuturnya, ia ternyata juga mendapati masyarakat Barat secara ruhaniah atau mental dengan fasilitas "kenyamanan modern" sama halnya dengan masyarakat di kampungnya, Nepal di Asia, yang kehidupan sehari-harinya sengsara karena kurangnya penunjang fasilitas hidup atau yang memudahkan kehidupannya sehari-hari dibanding Barat. Bedanya,
... orang Asia pada umumnya malu untuk membahas perasaan mereka, kecemasan dan keputus-asaan terlihat jelas di wajah mereka dan cara mereka berjuang bertahan hidup (h. 8).
Reputasinya sebagai guru spiritual juga telah membawanya ke universitas-universitas Barat untuk menyampaikan kuliah umum tentang "psikologi Buddhis" dan berkenalan dengan para neurosaintis—memberinya kesempatan belajar akan aktivitas otak kita. Tak ketinggalan berdiri di mimbar
TED Talk.
Saya telah bertemu banyak orang yang sungguh-sungguh tidak memiliki petunjuk apa pun ketika menghadapi tantangan-tantangan yang disediakan kehidupan bagi mereka (h. 9).
Layaknya seorang epigraf lihai, ia menghadirkan penjelasan akan ajaran Sang Buddha dengan bahasa mudah dipahami untuk non-Buddhis. Bahasanya kekinian, enteng, dan riang sebagai topik psikologi.
Buku ini, jika kita sedikit familiar ajaran fundamental Sang Buddha, berisi pembabaran Empat Kebenaran Mulia. Atau, untuk lebih terdengar kekinian, kita bisa menyebutnya "empat trik bebas dari emosi negatif": ketidakpuasan, tekanan batin, gelisah, kesedihan, kemarahan, frustasi, jengkel, kecemasan, kebencian, ketakutan, dsj. Anda diajak mengenalnya sebagai rambu anda untuk membangkitkan kebahagiaan atau ketenteraman batin anda, oleh anda sendiri, yang selama ini sudah ada di dalam diri anda sendiri. Kebahagiaan tanpa bergantung kondisi eksternal.
Empat Kebenaran Mulia adalah inti dari semua tradisi Buddhis (h. 45).
Dikelompokkan menjadi tiga bagian. Bagian pertama membahas Empat Kebenaran yang pertama, adanya ketidakpuasan atau penderitaan (dukkha), dari yang halus hingga yang kasar. Ia menggabungkan antara pengalaman hidupnya, tradisi kefilsafatan Buddhisme Tibetan, dan neurosains untuk menyuguhkan gambaran kepada kita bagaimana kerja otak kita merasakan ketidakpuasan/penderitaan.
Memahami dukkha sebagai kondisi dasar kehidupan adalah langkah pertama untuk bebas dari ketidaknyamanan atau kegelisahan (h. 49).
Dukkha adalah bagian dari kondisi manusia antar generasi sejak manusia modern ada. Guru Sidharta Gautama, Sang Buddha, telah menyadari itu sejak 2500 tahun lalu. Namun bukan untuk mengatakan bahwa kehidupan adalah kelabu dan karenanya kita berkubang pesimisme dan pasrah buta.
Buddha malah menjelaskan mengapa kita mengalami kepedihan, ketidaknyamanan, kejengkelan, frustasi, dan kemarahan, untuk memberi pengertian dasar, yang akan membantu kita untuk menghadapi dan mengatasi gabungan sebab-sebab dan kondisi yang menimbulkan setiap kesulitan yang kita alami dalam hidup ini (h. 93).
Singkatnya, bagian pertama ini mengajak kita mengenali kondisi alamiahnya kerja otak kita ketika mendapat stimulus dari luar.
Otak yang diasosiasikan dengan akal, memori [atau ingatan], dan perencanaan saling berhubungan erat dengan daerah yang menghasilkan respon emosional, apa pun bentuk-bentuk pikiran yang muncul biasanya diwarnai dengan sejenis perasaan (h. 18).
Kerja otak kita, pikiran dan perasaan, menyaring apa saja sumber perhatian yang dianggapnya penting. Momproses berbagai aliran informasi yang ditransmisikan oleh organ indra, mengolahnya dan mengevaluasi berdasar pengalaman yang dimemori sebelumnya, menyiapkan tubuh merespon dengan cara-cara tertentu, misalnya otak melepas adrenalin atau serotonin. Ini alasan pula di balik mengapa kita lebih tertarik informasi-informasi seperti gunung meletus atau informasi apa pun yang oleh pikiran dipersepsikan mengancam. Itu adalah sesuatu yang oleh psikologi dan neurologi diistilahkan sebagai "mekanisme pertahanan diri". Inilah Kebenaran Pertama akan kondisi mental atau ruhaniah atau kejiwaan atau kesadaran-bawaan kita. Seperti halnya sakit fisik yang mana kita lebih mudah tahu yang dalam ajaran Buddhisme Tibetan dikategorikan "penderitaan alamiah", kita harus mengenali kondisi-kondisi ini terlebih dahulu, karena hanya dengan ini kita berkesempatan untuk bertransformasi, dengan menjadikan gangguan-gangguan tadi sebagai solusi, teman dalam perjalanan dalam melintaskan gabungan materi ini yang biasa dianggap "tubuh saya", dan memberi kita landasan dari mana semua aliran-aliran pikiran tadi muncul, dari mana "asal mula" atau "penyebab" ketidaknyamanan dalam diri.
Penderitaan, bagaimanapun bukanlah kejadian atau keadaan, tetapi terletak pada cara kita memandang dan menerjemahkan pengalaman terjadi (h. 73).
Bagian kedua buku berisi Empat Kebenaran yang kedua dan ketiga, yaitu dari mana sumber ketidakpuasan dan cara menyudahinya—atau "mengelolanya", saya mengistilahkan, "dengan sekedar mengamatinya". Bagian ini, meski tampaknya Mingyur Rinpoche berusaha menyampaikan secara jenaka, adalah bagian serius. Kita diajak mengekplorasi, sejak merekah daya intelektual kita, bagaimana kerja otak kita berhadapan silih berganti fenomena dan realitas.
Umumnya kita menciptakan konsepsi diri dan bukan diri serta lain-lain. Ini bukanlah salah. Namun melekati gagasan ini kuat-kuat sebagai sesuatu yang solid mandiri sendiri alias terpisah dengan hal-hal lain adalah sumber ketidakpuasan, sumber masalah batin atau mental. Ini adalah ilusi yang harus dikikis untuk menembusi Kebenaran yang ketiga, sebuah transformasi kesadaran yang melampaui konsepsi kita akan diri yang selama ini dipersepsikan dalam "tubuh saya".Merealisasi pikiran kebuddhaan, yang oleh para psikolog diitstilahkan "pikiran polos", yang selama ini telah ada dalam diri semua orang.
... realisasi sifat sejati dari pengalaman yang melampaui subjek dan objek, diri dan orang lain, atau positif dan negatif (h. 158).
Sederhananya, sebagai pegangan awal kita memahami, menggeser cara pandang akan
aku konvensional ke
Aku yang tak terbatas konsepsi. Anda akan berpikir keras untuk hal ini, memecahkan teka-teki pikiran.
Hanya dengan menggeser cara pandang diri dan kemudian menjadi interior mental, ajaran Sang Buddha memungkinkan menolong kita bangkit keluar dari satu kubangan ke lain kubangan ketidakpuasan hidup. Ide dasarnya tentu, setelah anda diberi gambaran, anda menolong diri anda sendiri. Transformasi mental ini, banyak kesaksian mengatakan, ditandai sedikit kebingungan atau disorientasi pikiran untuk kemudian, perlahan, ada perasaan yang dilekati kuat-kuat, lepas.
Bagian ketiga buku berisi penjelasan Kebenaran yang keempat, yang bisa dikatakan bersifat "teknis", sebagaimana halnya Buddhisme lebih menekankan praktik, bukan berhenti pada mengoleksi dan menguasai konsep-konsep abstraks menjubeli pikiran.
Juga, bagian ini erat bertalian 8 unsur yang merupakan faktor turunan tiada terpisah Empat Kebenaran tadi. Terutama apa yang oleh nasihat orang Jawa kuno diistilahkan "eling lan waspodo (sadar dan mawas terhadap sekitar di mana saat-kini berada)." Dengan mental atau batin yang terlatih, penuhnya batin atau kebahagiaan atau apapun kita mengistilahkan akan menjadi semakin berkualitas dan selalu terawat, hingga akhir pemberhentian hayat.
Jadilah pelita bagi dirimu; jadilah pelindung bagi dirimu; jangan mencari pelindung luar dengan Kebenaran sebagai pelitamu; Kebenaran sebagai pelindungmu; jangan mencari pelindung lain (Dīgaya Nikāya: 16).
Komentar
Posting Komentar