Setiap orang ingin bahagia, tetapi kebahagiaan tidak dapat dicapai dalam pengusolasian diri. Kebahagiaan seseorang bergantung pada kebahagiaan bersama dan kebahagiaan bersama berjangkar pada kebahagiaan individu-individu. Hal ini karena semua adalah kesalingtergantungan.
Untuk menjadi bahagia, kita perlu mengembangkan sikap yang baik kepada orang lain dalam masyarakat dan kepada sesama makhluk hidup. Cara terbaik untuk mengembangkan sikap yang baik ke semua makhluk adalah melalui meditasi. Di antara banyak tema meditasi yang diajarkan oleh Sang Buddha, ada empat yang secara spesifik berkenaan dengan pengembangan kasih sayang, kewelasan, ikut bahagia, dan ketakgoyahan. Empat hal ini disebut Empat Pikiran Luhur.Pancarkan pikiran yang penuh kasih sayang, kewelasan, ikut bahagia, ketakgoyahan (Dīgha Nikāya 13).
Keempatnya tertuju kepada makhluk hidup yang tak terhingga banyaknya. Karma baik yang dihasilkan dengan menjalani keempatnya tidaklah terukur. Empat Pikiran Luhur itu memunculkan “cinta sejati”, yang membawa sukacita bagi kita dan orang-orang yang kita cintai. Jika cinta kita tidak membawa sukacita bagi diri kita sendiri dan orang-orang yang kita cintai, itu bukan cinta sejati.
Dalam cinta sejati tidak ada perasaan terpisah dari yang lain. Aspek-aspek cinta sejati, seperti halnya semua aspek ajaran Buddha, saling berhubungan; ini berarti bahwa setiap aspek mengandung semua aspek lainnya. Dengan mengembangkan sikap-sikap luhur kasih sayang, kewelasan, ikut bahagia, dan Ketakgoyahan, kita dapat secara bertahap melenyapkan niat buruk, kekejaman, iri hati, dan hawa nafsu. Dengan jalan ini, mereka dapat mencapai kebahagiaan bagi diri mereka sendiri dan pihak lain.
1/ Kasih Sayang
Kasih sayang adalah pengharapan agar semua makhluk, tanpa terkecuali, bahagia. Kasih sayang menangkal niat buruk (kebencian). Sikap kasih sayang adalah seperti perasaan yang ada pada seorang ibu terhadap bayi yang baru dilahirkannya. Ia berharap agar anaknya beroleh kesehatan yang baik, memiliki teman yang baik, pandai, dan berhasil dalam segala usahanya. Pendeknya, ia berharap dengan tulus agar anaknya bahagia. Kita dapat memiliki sikap kasih sayang yang setara kepada seorang teman atau orang lain di kelas, komunitas, atau negara.Kasih sayang yang meluas dalam contoh di atas terbatas pada orang-orang yang mana kita masih memiliki keterikatan atau kepedulian. Akan tetapi, meditasi kasih sayang menuntut kita untuk meluaskan kasih sayang bukan hanya kepada orang-orang yang kita merasa dekat, tetapi juga kepada orang-orang yang hanya kita kenal sekilas atau bahkan tidak kita kenal sama sekali. Akhirnya, kasih sayang kita diperluas meliputi semua makhluk di seluruh alam kehidupan. Hanya dengan begitulah sikap kasih sayang universal yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari bisa mencapai tataran yang luhur atau tak terbatas.
2/ Kawelasan atau Welas Asih
Kewelasan atau belas kasih adalah pengharapan agar semua makhluk terbebas dari penderitaan. Ini adalah kehendak dan kemampuan untuk membebaskan dan mengubah penderitaan dan meringankan kesengsaraan. Ketika seorang ibu, misalnya, melihat anaknya sakit berat, secara alamiah ia akan tergerak oleh rasa kewelasan dan berharap dengan sungguh-sungguh dan bertindak sedemikian rupa agar anaknya terbebas dari penderitaan akibat penyakitnya. Begitu pula, kebanyakan orang telah mengalami kewelasan ketika menyaksikan penderitaan kerabatnya, teman sekolahnya, bahkan hewan peliharaannya. Kewelasan harus melampaui batas-batas kelompok atau individu yang kita cintai atau pedulikan. Kewelasan harus diperluas meliputi semua makhluk di segenap alam kehidupan agar menjadi tak terbatas.
3/ Berbahagia akan Sukacita Pihak Lain
Ikut bahagia atau simpati adalah sikap ikut bahagia akan kebahagiaan dan kebajikan pihak lain. Sikap ini berlawanan dengan iri hati dan bersifat mengurangi keterpusatan kepada diri sendiri. Ikut bahagia dapat dialami oleh seorang ibu yang bersukacita karena anaknya sukses dan bahagia dalam hidupnya. Demikian pula, hampir setiap orang pada suatu saat pernah mengalami perasaan sukacita atas nasib baik temannya. Hal-hal ini merupakan ungkapan ikut bahagia pada umumnya. Dengan melakukan meditasi ikut bahagia, kita memancarkan sukacita kepada semua makhluk dan tidak hanya kepada orang-orang yang dicintai. Hanya dengan demikian kita mengalami ikut bahagia sebagai suatu keadaan pikiran yang luhur dan tak terbatas.
4/ Ketakgoyahan
Ketakgoyahan adalah sikap menganggap semua makhluk hidup adalah setara, terlepas dari hubungan mereka dengan diri sendiri. Ketakgoyahan bersifat menetralkan ketamakan dan kebencian, ketakgoyahan tidak dingin dan tidak cuek, ketakgoyahan adalah kasih yang tak terbagi dan tanpa prasangka. Ketika seorang anak yang bertumbuh dewasa tinggal bersama keluarganya, ia mulai menjalani kehidupan yang mandiri dan bertanggung jawab kepada diri sendiri. Meskipun ibunya masih memiliki perasaan kasih sayang, kewelasan, dan ikut bahagia kepadanya, ketiga perasaan tersebut sekarang tergabung dengan sebuah perasaan baru: ketakgoyahan. Sang ibu mengenali posisi baru anaknya dalam kehidupannya yang mandiri dan bertanggung jawab, dan tidak mengikatnya erat-erat. Untuk mencapai keadaan pikiran yang luhur, sikap ketakgoyahan harus diperluas mencakup semua makhluk.Untuk melakukan hal ini, kita perlu ingat bahwa hubungan kita dengan keluarga, teman, bahkan orang yang memusuhi adalah akibat dari karma lampau. Dengan demikian, seyogianya kita tidak melekat erat pada keluarga dan teman, sementara memandang yang lainnya dengan tak acuh bahkan dengan kebencian. Lebih jauh, keluarga dan kawan kita dalam kehidupan sekarang mungkin pernah menjadi lawan dalam suatu kehidupan lampau dan mungkin menjadi lawan lagi pada kehidupan yang akan datang, sedangkan lawan kita dalam kehidupan sekarang bisa jadi adalah keluarga dan kawan kita dalam suatu kehidupan lampau, dan mungkin akan menjadi keluarga dan kawan kita lagi dalam kehidupan yang akan datang.


