Ketika Anda tahu ada meteor yang lintasannya pada 6 bulan 14 hari ke depan akan bertemu persis dengan titik orbit Bumi, apa yang Anda lakukan? Menghubungi otoritas, itu sudah pasti. Memberi saran dan apa yang perlu dilakukan. Terlebih, negara Anda adalah terkuat dan memiliki fasilitas antariksa lengkap dan berkemampuan melakukannya. Merekayasa lintasannya agar tidak menabrak Bumi. Ada waktu cukup untuk mencegah terjadinya kepunahan massal yang ke sekian.
Ketika Anda tahu ternyata orang-orang di pemerintahan negara Anda adalah orang-orang inkompeten, bertele-tele, sibuk pencitraan politik diri dan elektabilitas, dan gandrung protokoler, bagaimana perasaan Anda? Don't Look Up (2021), adalah film yang menggambarkan itu. Film komedi dengan ending absurd, tak seperti biasanya yang heroik. Tidak begitu.Plot
Kate Dabiasky (Jennifer Lawrence) adalah kandidat PhD di bawah bimbingan Profesor Randall Mandy (Leonardo DiCaprio). Dua sosok yang digambarkan mengidap gangguan mood. Konsumer setia pil penenang. Hoalah.
Bermula dari Dabiasky yang menemukan koordinat sebuah benda angkasa di observatorium. Kabar gembira. Mereka merayakannya. Kaget, di tengah perayaan kecil-kecilan di observatrium itu, setelah mengalkulasi jarak dan lintasan orbit benda yang diperkirakan 5 -10 km diameternya itu, mereka mendapati bahwa arahnya meluncur ke titik posisi Bumi. Mereka harus melapor ke presiden (Meryl Streep). Melalui agensi kampusnya, mereka dijemput militer, menggunakan pesawat militer, terbang ke Washington. Tak segera bisa menyampaikan hal urgen ke presiden langsung, mereka harus menunggu dan menunggu, beberapa hari. Protokoler istana beribet. Presiden adalah orang sibuk. Termasuk sibuk memikirkan strategi kampanye untuk pilpres yang sudah dekat. Meteor tak bisa mengerek elektabilitas. Insting politik, ia berakal bulus bagaimana mengemas peristiwa ini untuk mengerek elektabilitas mereka. Blunder fatal. Bukan saja ia kalah, tetapi juga oponennya. Sama-sama punah.
Kejadian satir lain adalah ketika mereka menunggu, Dabiasky dan Mandy disuguhi makanan ringan oleh Jenderal Themes, jenderal Pentagon, ia menarik uang atas suguhan. Dr. Teddy Oglethorpe (Rob Morgan), kepala Koordinasi Pertahanan Antar Planet (tentu saja badan fiktik di lembaga AS dan sekedar banyolan), yang melihatnya menegur dengan halus, meminta si jenderal mengembalikan uang kembalian, bentuk lain teguran halus bahwa sebenarnya itu gratis di istana negara. Dengan merasa tak berdosa, si jenderal menjawab "Aku tak punya uang kembalian".
Jengkel dan frustasi terhadap respon pemerintah, mereka berinisiatif menyampaikan ke publik langsung melalui TV. Risikonya, mereka dapat dituduh sebagai penghianat keamanan negara, membocorkan hal yang "classified"—ancaman yang tak ada gunanya ketika Anda tahu 100 persen kematian Anda sudah dekat! Haha. Dengan berapi-api si Dabiasky berbicara di depan kamera, padahal sudah ada pengarahan bagaimana bersikap di depan kamera. Tetap saja ia tak bisa mengendalikan mood-nya. Dampaknya, masyarakat panik dan rusuh. Masyarakat yang selama ini telah mendengar kasak-kusuk.Film menampilkan banyak tokohnya bukan sebagai yang berintegritas. Dari undangan TV itu, Si Mandy menjalin affair dengan si janda presenter TV—tak lain adalah orangnya si presiden dan simpatisannya. Mirip buzzer. Yongalah Robi (Darwis)!
Demokrasi (Seringnya) Adalah Komedi
Alih-alih bertema tentang luar angkasa dan eksplorasinya, film ini berkisah tentang realitas politik dan orang-orangnya dari dekat, dikemas dalam komedi satir. Begitulah, kita lima tahun sekali memilih (seringnya) komedian. Film memberi kita pesan kuat bahwa demokrasi adalah sistem politik yang tidak praktis. Seringkali malah membahayakan. Seringkali tidak berjalan sesuai nilai-nilai ideal yang didengungkan. Dalam film digambarkan dalam bentuk hubungan patron klien antara kekuasaan dengan pengusaha, dalam film direpresentasikan perusahaan teknologi BASH yang pendirinya adalah Sir Peter Isherwell (Mark Rilance). Ia adalah donatur kuat kampanye presiden. Dia malah berpikir meteor yang akan menumbur Bumi adalah sumber daya langka yang bisa digunakan sebagai bahan baku dalam perusahaannya, berguna bagi kemajuan hidup manusia—lupa dan optimis mengesampingkan risiko tumburan adalah kepunahan massal.
Permasalahan demokrasi sendiri terletak pada watak dan kecenderungan populisnya. Inkompetensi bertindak para politisi yang digambarkan dalam film mengingatkan kita pada risalah Plato, Replublic. Filsuf ini mencemooh sistem demokrasi. Konsepsi negara-ideal yang dimaksudkan Plato adalah negara yang diperintah oleh—sesuai zamannya disebut—filsuf. Filsafat politiknya menjelaskan bahwa urusan publik harus dikelola oleh orang-orang kompeten, ahli, berwawasan, dan terpenting bijak dan solutip. Diistilahkan, sistem negara aristokrasi, dalam arti bukan sebagaimana kita pahami hari ini.
