Kepercayaan, apapun bentuknya, terlepas dalam sejarah panjangnya menimbulkan konflik antar kelompok manusia yang mempercayai hal berbeda, itu tetaplah penting untuk manusia. Kepercayaan adalah pengandaian kebenaran.
Ada film yang bertema ini, The Book of Eli (2010). Yah, kita tahu bahwa kata "Eli" merujuk bahasa Hebrew, artinya Tuhanku, meski Eli dalam film ini merujuk pemeran utama, Denzel Washington. Film berlatar pos-apokaliptik dan mengusung tema manusia sebagai sosok paca-kebenaran. Untuk mampu secara mental, ruhaniah, atau psikis menjalani kehidupan di dunia; Manusia bukanlah berhasrat pada kebenaran, tetapi sosok yang butuh pembenaran akan eksistensinya. Pembenaran itu dengan jalan mempercayai akan sesuatu. Esensi pembenaran ini adalah peringan psikis atas eksistensinya.
Eli, selama 30 tahun perjalanan, karena sering membaca buku tersebut, menjadi seorang yang hafidz Bibel versi King James II yang ia punyai, berhuruf braile.
Dari dialog, kita dapat menebak bahwa bencana apokaliptikal itu adalah perang nuklir. Atmosfer Bumi rusak. Bumi menyulitkan hidup manusia yang tersisa. Tanpa tatanan selain hukum rimba. Manusia yang tersisa derajat moralnya menurun hingga titik rendah menyentuh tabiat alamiahnya, hewan, dan hidup dalam frustasi akan keadaan dunia yang menghimpitnya dan sering tak bersesuaian dengan hasratnya.
Film ini mengangkat tema akan agama-kepercayaan, dengan kata lain. Eli yang selamat dari tragedi adalah pemegang Bibel satu-satunya. Bibel braile. Carnigie (Gary Oldman) adalah sosok antagonis dan pemimpin sebuah kota kecil suram. Ia hidup bersama Claudia yaitu gundiknya yang tunanetra, ibunda Solara (Mila Kunis), anak gadis yang lahir setelah tragedi flash. Anak gadis yang kemudian nekat mengikuti Eli yang pergi ke pantai barat Amerika. "Apa kau ingat bagaimana rasa dunia sebelumnya?" Tanya ke Eli. Jawabnya,
Orang-orang memiliki lebih dari yang mereka butuhkan. Kami tak tahu apa yang berharga dan apa yang tidak.
Eli mengikuti intuisinya demi menyelamatkan buku satu-satunya itu agar bisa didengar manusia, yang ia sebut petunjuk Tuhan.
Carnigie, lelaki penguasa kota kecil suram karena menguasai sumber air, adalah penguasa tiran kota dan terdidik. Ia tahu masih ada satu salinan Bibel, ia mencari-carinya, mengerahkan para blater-nya. Menghadapi dunia yang suram, manusia butuh kata-kata menghibur yang mampu meringankan beban psikologisnya, kata-kata "penghiburan". Ia berhasil merebut Bibel versi King James II dari tangan Eli dan sayangnya ia tak bisa membaca braile. Claudia-pun tak mau membacakan untuknya. Karena ia tahu bahwa Carnigie dengan Bibel itu bermaksud jahat, mengendalikan manusia di kotanya dan memperalat mereka untuk kepentingannya. Bagaimanapun, seperti halnya kita hari ini, manusia adalah pecinta quotes (kata-kata bagus, motto, kata-kata bijak estetis, atau apapun sebutannya).Manusia sebagai sosok pasca-kebenaran lebih berhajat pada pembenaran akan eksistensinya, bukan kebenaran itu sendiri. Secara mental, kehidupan manusia adalah menyangkal dan berusaha melampaui kenyataan. Meski, dalam konteks aktual kehidupan manusia modern yang semakin membaur dan agama telah berekspansi melampaui rahim kebudayaan yang melahirkannya, justifikasi akan keberadaan diri manusia yang berbeda ini tak kurang menimbulkan gesekan.
Bagaimanapun inilah paradoksnya, "justifikasi eksistensial" atau "pembenaran eksistensial". Manusia butuh justifikasi pembenaran, umum disebut keyakinan. Kebenaran yang diandaikan, agar dapat bekerja dalam diri individu. Namun beberapa di antaranya bukan semata berisi panduan individu pemercaya, tetapi juga berisi intervensi pembenaran eksistensi yang dipercayai pihak lain yang berbeda,. Begitulah rupa-rupa relasi manusia Separadoks itu.
Kepercayaan, akan tetap ada selama manusia itu ada. Meski agama mengalami interpretasi dan reinterpretasi antargenerasi, menyesuaikan perkembangan manusia akan dunianya yang berkembang, diringi riak kecil ataupun besar.
Film ini menyisipkan kritik pula ke tabiat orang beragama hari ini. Ketika Bibel braile miliknya telah berpindah tangan setelah adegan baku tembak, Solora bertanya ke Eli karena tak mengira bahwa ia menyerahkannya demi keselamatan Solora, demi keselamatan dan kesejahteraan sesama manusia, terlebih ke semua mahluk. Jawab Eli,
Bertahun-tahun aku membacanya tiap hari. Aku terus menjaganya tetap aman. Aku lupa, aku harus mengamalkannya.

