Ditegaskan anak judulnya, "Sebuah Pengantar Singkat", buku memberi gambaran singkat akan aspek historis, sosial, dan budaya yang menjadi latar kehidupan Buddha. Tak ketinggalan, menyuguhkan gambaran penetrasi dan dinamika intelektual zaman pra-Buddha apa saja yang memberi pengaruh, dan aspek mana yang ia adopsi serta memberinya subtansi dan mana yang ia singkirkan. Juga dinamika pengikut awal Buddha dan dinamika kanonisasi pasca mangkat Buddha.
Meskipun dia suka menyendiri, dia adalah bagian dari masyarakat dan sejarahnya. Dia hidup di tengah perubahan sosial dan intelektual yang besar dan menentukan, ... yang selanjutnya dia beri kontribusi secara subtansial (h. 20).
Misalnya perihal tatanan sosial zamannya yang hirarkis, terkait kasta. Kebijaksanaan dan kebajikan dianggap diperoleh melalui garis keturunan, eksklusif milik kasta Brahmana dan diwariskan secara genetik, ia koreksi. Bebeberapa aspek kefilsafatannya menjadi antitesis terhadap penerimaan umum zamannya akan Diri yang diyakini menjadi subjek transformasi. Dari membaca ini, Buddha adalah sosok revolusioner.
Carritthers melakukan pembacaan kritis dan "sekular" pada kesejarahan Buddha yang hidup sekitar 2500 tahun lalu dan berpengaruh besar serta meluas hingga kini. Tak dimungkiri ada legenda dan mitos-mitos mengitarinya. Dengan cara memetakan gambaran terkait lingkungan sosiobudaya semasa ia hidup, yaitu peradaban masyarakat yang mendiami sebelah utara Sungai Gangga. Hingga masa Buddha merealisasi Kecerahan dan Ketergugahan. Dua istilah yang dekat dengan kefilsafatan untuk yang pertama, yang dengan sendirinya disusul efek yang kedua yaitu tatatan psikologis tertentu. Ditutup sejarah mangkatnya beliau di bab akhir.
Di setengah bagian lainnya, Carrithers membabarkan aspek fundamental ajaran Buddha, yang di zaman kontemporer ini menjadi kesamaan semua tradisi yang berkembang dalam Buddhisme. Itu adalah Lima Agregat yang secara tradisional disebut pancakhanda, meliputi materialitas (objek fisik, tubuh, dan alat/organ indera) dan empat lainnya meliputi perasaan/emosi, pencerapan / proses kerja penginderaan, aktivitas impuls-impuls, dan kesadaran. Hal tersebut erat dengan Empat Kebenaran Mulia (cattāri ariyasaccāni), alat diagnosis kejiwaan: ketidakpuasan, penderitaan, atau sensasi mental sejenis itu. Namun, hemat saya, bagian ini hanya memberi gambaran umum ke pembacanya. Anda tak akan menemukan penjelasan lebih detil, Anda perlu mencarinya ke buku-buku lain.
Buku berdimensi 14 cm x 20 cm dengan ketebalan 156 halaman ini layak dibaca bagi siapa saja yang tergerak mengenal tokoh historis berpengaruh yang hidup dua setengah milenia lalu dan elemen-elemen dasar ajarannya dan, sebagaimana disinggung sekilas oleh penulis buku, konfirmasi sains atas kontribusi Buddha terhadap dunia modern, misalnya psikologi. Yah, bagaimanapun ajaran Buddha yang menekankan sisi praktis dan internal ini bernilai praktis akan cara menjalani kehidupan enteng secara mental.
Kekurangan buku ini, sebagai upaya pelacakan kronologi kesejarahan Buddha historis, berdasar pembacaan-pembacaan konstruktif dari sumber-sumber, memisahkan mitologi-mitologi ataupun pandangan dilebih-lebihkan yang mengitari riwayat Buddha, tidak menyertakan catatan kaki atau rujukan terkait beberapa aspek historis tadi.
