Sebagai perempuan Amerika yang menikah dengan pria Denmark, begitu pernyataan di awal-awal buku, Jessica mendapati perbedaan pola pengasuhan antara di negara asalnya dan negeri suaminya. Suaminya selalu sabar dan punya stok kata-kata ajaib menghadapi anak-anaknya. Bersama Iben, psikoterapis asli Denmark, ia tergerak mencari tahu dan memetakan nilai-nilai dasar filosofi pengasuhan orang tua Denmark. Dan, lahirlah buku ini.
Cetakan ke-14 pada 2022, berketebalan xxiv + 184 hlm, berdimensi 14 cm x 20,8 cm, dan diterbitkan oleh B First dari Jogja. Begitu identitas buku ini.
P.A.R.E.N.T., akronim dari Play, Autenticity, Reframing, Empaty, No Ultimatum, dan Togetherness. Itulah pilar pengasuhan orang Denmark. Namun begitu, ada nilai-nilai filsosfis kultural yang menjadi jalinan berdirinya tiap pilar itu, dan ini bersumber dari warisan turun temurun budaya masyarakat Denmark. Jessica dan Iben dengan bahasa sederhana, mengalir bercerita masing-masing pilar-pilar pengasuhan tadi.
Bermain, sebagaimana dijelaskan, adalah cara alamiah anak-anak meredakan tekanan (stress). Reframing—dapat pula dipadankan sebagai kemampuan membangun perspektif ulang terhadap setiap peristiwa—juga bekal untuk anak-anak memiliki kemampuan memaknai setiap kejadian dalam kehidupan yang mungkin dijumpainya, sehingga anak-anak kelak lebih siap secara psikologis menghadapi dan menyikapi jatuh bangun kehidupan, serta memecahkan tantangan-tantangannya. No ultimatum sendiri terkait bahwa anak-anak untuk tumbuh berkembang tak dipungkiri berkaitan trial and error. Kebersamaan erat dengan budaya hygge orang Denmark. Masyarakat Denmark, dikatakan, memiliki kecenderungan untuk menciptakan momen-momen bersama yang hangat. Semua nilai-nilai kultural dan bawaan alamiah inilah yang menjadi "bahan mentah" dari pilar-pilar filososfis pengasuhan.
Hal menarik patut disorot adalah bagaimana orang-orang Denmark menyeimbangkan antara individualitas dan kehidupan bersama. Jadi, dalam perihal tersebut orang-orang Denmark memiliki kecerdasan bersosial yang dapat dikatakan berimbang.
Catatan kecil yang bisa ditambahkan dari perspektif pribadi sih, meski menambah wawasan akan kepengasuhan (parenting) penting, tetapi pengasuhan adalah seni mengarahkan dan membentuk. Bermodal wawasan kepengasuhan anak, kita bisa berimprovisasi ketika menemani, membimbing, dan mengarahkan anak-anak berangkat dari bahwasanya setiap anak memiliki kecenderungan berbeda. Dan, ini pengingat penting bagi kita, pengasuhan dimulai dari pengandaian diri kita sebagai anak-anak. Ini adalah modal dasar cara kita memahami mereka yang sedang tumbuh. Dengan begitu, kita bisa menyelam ke dalam taraf alam pikir dan kesadaran mereka dalam melihat dan memahami dunia dan, terpenting, memahami dirinya sendiri. Dari titik ini pengasuhan dimulai.

