Dengan menggabungkan sejarah, teori-teori dalam ilmu ekonomi dengan bahasa sederhana dan sering dibantu penggambaran analogis, Harari—seperti karya best seller-nya di seantero jagad Sapiens dan Homo Deus—bercerita mengalir bagaimana kapitalisme itu muncul, lahirnya kelas penguasa-penguasa baru menggantikan kelas bangsawan dan marquist dalam sistem ekonomi merkantilis.
Buku terdiri tiga kerangka pembahasan bila kita petakan. Dimulai dari penciptaan nilai tukar dan bagaimana emas kemudian menjadi alat tukar universal di masa lalu dan lahirnya uang modern seperti dollar dan digital, kapitalisme dan prinsip-prinsipnya serta kredo, dan meraba masa depan munculnya kaum atau kelas nirguna (useless) di era ekonomi artificial intellegent (AI).
Plot
Jelai, biji kakao, kain, kerang kuwuk, dan lainnya, ia memulai bercerita alat tukar yang pernah digunakan manusia di muka bumi di berbagai belahan dunia, ia memulai naskah buku dan menyampaikan ke kita bahwa nilai suatu benda yang disebut uang adalah fiksi. Dan, bisa berfungsinya sistem ekonomi dan moneter dunia karena kita semua mempercayai uang.Uang bukanlah realitas material, melainkan sebuah konstruk psikologis (h. 13).
Kepercayaan terhadap uang adalah transnasional, transkultural, dan bahkan trans kepercayaan keagamaan dianut oleh orang-orang di muka bumi.
Uang adalah fiksi. Fiksi atas benda yang sebenarnya tiada nilai inheren di situ. Menjadi seolah bernilai karena ditopang oleh kepercayaan kolektif kita semua. Dan tiada kepercayaan paling absolut selain terhadap uang. Uang tidak senyatanya ada sebagai dirinya sendiri, melainkan menjadi ada karena kita secara kolektif setuju menganggap/mengimajinasikan itu ada—ada dalam imajinasi kolektif benak kita.
Uang bukanlah koin dan kertas. Uang adalah apa pun yang orang-orang bersedia menggunakannya dalam rangka menyatakan nilai benda-benda lain secara sistematis untuk tujuan pertukaran barang dan jasa (h. 8).
Dalam pengertian lain, keberadaan uang bukanlah sesuatu yang empiris, melainkan ada sebagai kebenaran intersubjektif. Uang adalah fiksi kolektif, yang memampukan lebih efisien umat manusia dalam mengatur kerja sama dalam memenuhi kebutuhan materialnya daripada sistem barter.
Bagian kedua dari ketiga topik secara umum adalah cara kerja kapitalisme, prinsip-prinsip, dan kredonya. Bagian ini, Harari menunjukkan plus dan minus sistem kapitalisme secara fair. Kapitalisme adalah sistem ekonomi yang dimulai sejak terjadinya revolusi saintifik pada abad ke-15, yang kemudian melahirkan invensi dan penciptaan teknologi dari revolusi sains tersebut, dan selanjutnya diterjemahkan ke dalam aktivitas industri dan perdagangan. Ini dimungkinkan dengan berpegang pada prinsip imajinatif kemajuan dan pertumbuhan ekonomi; ada masa depan lebih baik.
Prinsip imajinatif kemajuan dan pertumbuhan dibangun di atas keinsafan bahwa jika kita mengakui ketidaktahuan dan menginvestasikan sumber daya dalam riset, bertujuan untuk mengatasi keterbatasan keadaan agar membaik. Prinsip imajinatif ada kemajuan di masa depan menggerakkan lebih banyak uang orang-orang untuk diinvestasikan ke dunia usaha dan bisnis—untuk bertumbuhnya "pai" ekonomi secara keseluruhan dan bagian pelaku kapital dari pai itu.
Di samping memberi gambaran umum bagaimana kaitan bank serta sistem moneter dan jalannya ekonomi kapitalisme, Harari dengan apik juga menyuguhkan fakta-fakta sejarah bagaimana kapitalisme telah menciptakan kolonialisasi dan penjajahan. Ia dalam konteks ini, memberi gambaran pembanding fair bahwa kredo pasar bebas, di mana pemerintah demi pertumbuhan ekonomi lebih cepat diyakini tak perlu ikut campur dalam jalannya ekonomi, bukanlah ramuan ajaib bagi terciptanya kemakmuran bersama.
... ketimpangan masih merajalela. Pai ekonomi tahun 2013 jauh lebih besar ketimbang tahun 1500, tetapi painya kini terdistribusi begitu timpang sehingga banyak petani Afrika dan buruh-buruh Indonesia pulang ke rumah setelah seharian bekerja dengan lebih kekurangan makanan dibandingkan dengan para leluhur mereka 500 tahun sebelumnya. Agrikultural, demikian pula pertumbuhan ekonomi modern bisa berubah menjadi kecurangan kolosal (h. 79).
Bagian terakhir meraba masa depan umat manusia yang sudah masuk gerbang awal revolusi lebih lanjut dan krusial. Lenyapnya banyak lapangan pekerjaan karena diadopsinya AI secara massif, yang kiranya akan melahirkan manusia per se sejak lahir menyandang nirguna. Namun bukan Harari namanya jika tidak memberi pesan optimisme bahwa akan tercipta peluang-peluang pekerjaan baru di masa depan. Tentu, ini hanya berlaku terhadap orang atau bangsa yang sadar bahwa dunia berubah dan karenanya bersiap diri menghadapi perubahan dan memetakan peluang—sesuatu yang otomatis tertutup bagi orang dan bangsa yang alam pikirnya diarahkan bukan memahami dan bersiap menyambut peluang dan tatangannya.
Penutup
Sejarah tak ada gunanya bagi yang mempelajarinya; Ia akan berguna justru untuk menggambar apa yang kedepannya akan terjadi. Dengan wawasan itu, artinya manusia lebih siap dan mampu menempatkan serta meraba apa yang akan terjadi di depan. Buku dengan ketebalan 166, berdimensi 13 cm x 19 cm, dan diterbitkan Global Indo Kreatif pada 2020 ini adalah bacaan asik di waktu senggang. Juga pengantar bagi siapa saja yang ingin mencari tahu bagaimana dunia manusia dan sejarah perkembangan cara mereka memenuhi kebutuhan, serta lahirnya kapitalisme itu sendiri.

