Langsung ke konten utama

Ngulik Buku Sejarah Filsafat Cina Karya Fung Yu-Lan

Kesadaran sekelompok manusia adalah gambaran reflektif dari mana ia tumbuh dan bagaimana pengupayaan kebutuhan materialnya. Tak terkecuali filsafat Tiongkok yang merupakan refleksi orang-orangnya yaitu masyarakat petani dan kondisi geografis yaitu manusia yang menghuni daratan benua. Dan, dari internal orang-orang Tiongkok sendiri, mazhab-mazhab ini dicetuskan si filsuf dan cerminan kelas sosial si filsuf dan pengikutnya. 

Stratifikasi sosial masyarakat Tiongkok klasik sendiri dapat diklasifikasikan ke dalam kelas petani, kesatria-pengelana (hsieh atau yu hsieh), dan kelas cendekiawan-aristokrat (ju). Petani sendiri, meski sebagai kelas terbesar dalam sejarah Tiongkok klasik, bukanlah kelas yang memiliki andil dalam kefilsafatan. Seperti kelas petani di mana saja, mereka hanya objek dari pemikiran kontemplatif.


Bab Didasarkan Lintasan Waktu

Buku ini memberi gambaran ke pembaca tentang bagaimana sejarah kefilsafatan Tiongkok terbentuk dan berkembang sejak jauh waktu Sebelum Masehi hingga munculnya mazhab-mazhab. Penyusunan bab buku ini didasarkan lintasan waktu para tokoh dan pemikirannya. Buku memberi pula gambaran komparatif dengan gaya filsafat Yunani yang kuat berkutat pada ontologi, sementara filsafat Tiongkok tidak. Sisa buku ini membahas perkembangan dari zaman ke zaman masing-masing mazhab tadi, terutama Konfusianisme, Taoisme, dan Buddhisme yang datang dari India dan perlahan membaur dengan filsafat Tiongkok, yang dari rahimnya muncul Mahayana, sub aliran Ch'ian yang ketika menyebar ke Jepang diistilahkan Zen, atau Thien dikenal di Vietnam. Ada pula mazhab Mohisme yang mirip Ordo Ksatria Templar, disusul mazhab Legalis. Inilah isi pokok buku kesejarahan secara keseluruhan.

Meski sejarah perkembangan doktrinnya panjang, Konfusianisme adalah filsafat paling mula muncul pasca zaman "kefilsafatan resmi" Tiongkok. Konfusianisme menitikberatkan pada Jen yang darinya diturunkan konsep li (prinsip keadilan) dan yi (prinsip keuntungan). Menurut Konfusianisme, orang yang hidupnya berpegang pada li tadi adalah manusia kerdil. Konfusianisme menekankan pada kemoralan murni dalam kehidupan sehari-hari dan dalam kaitannya bermasyarakat, berbuat non-pamrih sebagaimana manusia yi. Konfusianisme sangat moralis nan idealistik.

Dalam tataran sosial kemsyarakatan, Konfusianisme adalah pemberi justifikasi tatanan moral sosial yang telah mapan. Filsafatnya memberi justifikasi dan pengukuhan masyarakat yang gradatif yang telah ada. Manusia moralis yang idealistik adalah gagasan mendasar Konfusianisme, yang darinya kita bisa memahami lebih jauh prinsip atribusi sosial yang dicetuskannya.

Menurut Confusianisme, tugas sehari-hari berhadapan dengan urusan-urusan sosial dalam hubungan kemanusiaan bukanlah sesuatu yang asing bagi manusia bijaksana (h. 11).

Sepintas gagasan dasar manusia ideal Konfusianisme secara subtansi dekat konsep manusia eudonomia-nya Aristoteles. Walau tak dimungkiri, Konfusianisme adalah filsafat yang melingkupi banyak objek telaah: kemoralan, tatasosial, dan panduan-panduan upacara serta ritual ke‐āgama-an.

Mohisme, mazhab tertua kedua di sejarah kefilsafatan Tiongkok, mengkritik Konfusianisme dalam hal doktrin tatanan masyarakat di mana penekanan pada ritualisme dan doktrin filsafatnya dianggap tidak menjunjung kesetaraan; Mohisme menjunjung konsep fundamental, yaitu prinsip non-diskriminasi (kesederajatan tanpa gradasi sosial dan ketiadabedaan segala sesuatu) dan prinsip kealamsemestaan. Harus digarisbawahi terkait terma "kealamsemestaan" ini bukan dalam cara pikir fisikawan. Kealsamsemestaan  atau alam semesta, adalah totalitas dari segala yang ada.

Taoist mengalamatkan kritiknya pada Konfusianisme yang moral-sentris. Menurut Taois, itu adalah hambatan menuju kesadaran supra-moral (padamnya dualisme pikiran). Supra-moral hanya bisa dicapai melalui spontanitas, tzu jan. Pertentangan ini dapat dimengerti karena Konfusianisme adalah filsafat kehidupan sehari-hari. Konfusianisme menekankan pada tanggung jawab sosial sehari-hari manusia, sementara Taoisme menekankan apa yang bersifat alami dan spontanitas, ini kemampuan intuitif, sesuatu yang disebut dengan pikiran-emosional dalam neurosains.

Awalnya, Taois adalah berpandangan defaitisme, sepintas hampir mirip nihilistik. Namun sebenarnya tiadalah sama.  Sementara itu, mazhab Legalis mengkritik konsep Jen—yang mana Konfusianisme menempatkan moralitas sebagai sumber utama mengatur kehidupan masyarakat. Sementara itu penganut Legalis berargumen bahwa tatanan sosial harus mengacu pada aturan hukum, bukan moral. Pandangan yang mirip dengan kaum positivistik hukum.


Sedikit Catatan Pembacaan

Filsafat adalah atribut manusia pemikir. Berfilsafat adalah privilese orang cerdas. Ada beberapa poin yang bisa kita garisbawahi dalam buku ini.

Pertama, perihal agama. Orang-orang Tiongkok klasik memahami agama dalam konteks kefilsafatan. Dalam membacai buku ini, baik itu Konfusianisme dan Taoisme, kita harus menempatkan cara pikir dalam koridor filsafat, bukan Konfusianisme dan Taoismw sebagai agama. Meski tak dipungkiri agama hanyalah produk kefilsafatan yang tak disadari sebagai itu oleh awam, yang kemudian bercampur dengan tradisi lisan ketakhayulan yang berkembang di suatu masyarakat yang tak lain ekspresi estetis manusia dengan alam, dibakukan dalam pelembagaan ritual dan upacara.

Kedua, perihal melampaui kematian dalam Taoisme, yang oleh Fung Yu-Lan dikatakan idealis dan tidak praktis. Seperti disebut penulis sendiri bahwa Taois menekankan pencapaian supra-moral atau, dalam bahasa lebih gampang, sebagai melampaui dualisme cara pikir. Secara biologis, semua yang dilahirkan akan binasa, tetapi dengan menggeser cara pikir, yaitu dengan nyawijiné pikir marang alam atau "mengembangkan perspektif akan aku yang lebih luas daripada terbatas jasmani ini", kematian dapat dilampaui. Dengan kata lain, "melampaui kematian" seyogyanya dipotret dari teropong kefilsafatan Oriental itu sendiri. Tidak mudah, memang.


Panduan Pembacaan

Buku ini adalah pengantar mengenal sejarah filsafat di Tiongkok klasik. Cara berpikir kita seyogyanya mampu menempatkan dalam capaian alam pikir mereka, mengimajinasikan seperti apa dunia Tiongkok klasik kiranya, dan meraba-raba konstruk sosialnya.

Banyak istilah-istilah mungkin bagi pembaca yang belum familiar filsafat Oriental menerka-nerka apa maksud kata atau frasa tertentu. Tak perlu khawatir dan langsung menyerah, dengan mengatakan segera buku ini tidak bagus. Buku bisa menjadi pengantar dan pembanding bagi wawasan kita yang selama ini didominasi wawasan kefilsafatan Yunani dan Barat.

Ini dapat dimengerti karena filsafat Oriental menekankan pada intuisi, karena tak berkutat dan berjibaku pada ontologi. Sementara itu filsafat Yunani dan Barat adalah filsafat yang titik tekannya pada postulasi, kebenaran adalah apa yang dirumuskan melalui kalimat deduktif.

Postingan populer dari blog ini

Review Buku Harmoni Dengan Segala Kehidupan Karya Eckhart Tolle

Buku ini diperhatikan bab-babnya berisi beberapa topik yang di awal-awal menyampaikan perihal kesaatkinian dan korelasinya adalah pelampuan gagasan yang mana meliputi gagasan waktu dan gagasan keterpisahan perihal ilusi eksistensi atau aku terpisah mutlak dari keberadaan lainnya ( atta ), kemudian topik diakhiri perihal "harmoni dengan segala kehidupan", yang dalam bahasa sederhana saya adalah: yang biasa dikira aku sejatinya adalah elemen tiada terpisah dari alam semesta. Anda adalah alam semesta itu sendiri.  Secara sistematis, bab-bab secara serial mengarahkan pembaca kepada kesadaran—apa yang diistilahkan Tolle sebagai—"ruang internal". Sebab di sanalah sumber keberhidupan dan arah tepat pencarian kebahagiaan, ketenangan batiniah. Itu muncul ketika konsepsi aku padam—tidak membersit pada pikiran Anda. Dengan kata lain, Anda menjalani, melakukan, menghadapi yang saat-kini Anda di situ dengan mode pikiran intuitif. Gaya Kebahasaan Gaya pengungkapan keb...

Orang Ewe dan Agama Kepercayaan Tradisionalnya

Orang Ewe bisa dijumpai di  Ghana, Togo, dan Benin. Semuanya adalah negara-negara di bagian barat benua Afrika. Populasi terbesar mendiami Ghana. Tradisi dan kepercayaanya banyak dipengaruhi kebudayaan orang Akan dan Yoruba. Bahasa ibu orang Ewe termasuk rumpun Gbe. Orang Ewe terbagi menjadi klan-klan, tetapi menurut cerita lisan dikatakan berakar pada garis leluhur yang sama. Sistem kepemilikan properti adalah komunal, tidak menganut kepemilikan properti secara individu. Asesedwa , kesenian kayu menyerupai bangku, sangat esensial dalam tradisi Ewe. Karenanya, hal itu dibuat dan diukir sangat hati-hati. Dalam ukiran benda tersebut kaya narasi mengenai klan bersangkutan. Dalam ritual, Asesedwa merupakan media yang berfungsi sebagai tempat memanggi roh leluhur. Asesedwa. Menurut cerita turun temurun, asal-usul mereka berasal dari Kotu/Ketu atau Amedzowe, terletak di sebelah timur Sungai Niger. Kira-kira pada 1500, leluhur mereka bermigrasi ke Notsie, Togo. Pada mulamya, migrasi merek...

Dua Kelahiran (Sebuah Esai Kontemplatif)

Kita kerap disuguhkan bahwa lahir, menua, kemerosotan fisik atau sakit/penyakitan, dan kemudian kematian adalah Penderitaan ( dukkha ). Bahasa sehari-harinya, kita sering kali tidak rela ketiga peristiwa akibat dari dilahirkan tadi menimpa kita dan orang-orang terdekat. Keempat fenomena alam tadi masuk klasifikasi penderitaan disebakan jasmani.  Ada klasifikasi penderitaan lainnya: bersama yang tak disenangi/dicintai, berpisah ataupun kehilangan yang disenangi/dicintai, dan terakhirnya adalah tidak memeroleh apa yang dihasratingini/dinafsui. Saya istilahkan penderitaan disebabkan oleh kemampuan mengada yang darinya muncul kemampuan mengingini (mengidealkan dunia kita alami). Mohon diingat. Ini adalah tulisan bersifat kontemplatif dan ini rasa-rasanya tak ada dalam pengajaran naratif Buddhisme arus utama. Sekedar hasil perenungan dan proses memperjelas istilah yang bagi penulis cukup membingungkan mulanya   Mengapa Kita kerap Alami Suasana Batin Tak Nyaman Kita secara emos...

Apa Itu 4 Kebenaran Hakiki dalam Buddhisme?

Awal-awal ceramah Guru Gautama setelah pencerahannya berkisar di seputar Empat Kebenaran Hakiki, yang merupakan dasar dari Buddhisme. Salah satu cara untuk memahaminya adalah dengan memandang Kebenaran-Kebenaran tersebut sebagai hipotesis dan Buddhisme sebagai proses pemverifikasiannya untuk menjadi tesis, atau merealisasi hakikat akan Kebenaran-Kebenaran itu. Empat Kebenaran Hakiki Umumnya, arti Kebenaran ini ditangkap secara serampangan. Kebenaran tersebut memberi tahu kita bahwa hidup adalah penderitaan. Penderitaan disebabkan oleh loba (ketamakan), dosa (kualitas-kualitas psikiis mengganggu semisal amarah dan ras frustasi), dan moha (pandangan deluaif). Penderitaan berakhir ketika kita terbebas dari 3 kotoram batim tadi. Caranya dengan mempraktikkan apa yang disebut 4 Kebenaran Beruas Delapan. Secara urutan formalnya, Kebenaran tersebut bunyinya berikut: Benar ada penderitaan atau rasa ridak puas ( dukkha ) Benar ada sumber munculnya penderitaan atau tasa tidak puas ( samudaya...

𝙀𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙣 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖, 𝗔𝗽𝗮 𝙨𝙞𝙝 𝗠𝗮𝗸𝘀𝘂𝗱𝗻𝘆𝗮?

Leluhur mewariskan kita ajian tentang bagaimana menjalani hidup yang damai dalam diri, dituangkan dalam 𝘴𝘢𝘯é𝘱𝘢. Dengan itu kita diminta membuka kitab kita sendiri. Kitab itu adalah batin kita masing-masing untuk 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘯𝘢𝘰𝘯𝘪 dan 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪. Orang Sunda dan orang Kenekes (Badui di Lebak, Banten) menyebut "ngaji diri". 𝘌𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘢𝘥𝘩𝘢 (baca: 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘰𝘥𝘩𝘰) adalah ajaran bagaimana mergondisikan batin tiada gangguan agar kembali tenang, tiadanya semacam lubang dalam ruhani atau psikis atau batin, batin puas dengan yang ada, batin bening dan suci sebagaimana sifat asalinya, atau psikis bagaimana mengalami rasa syukur yang sebenar-benarnya syukur (bukan syukur 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘣é) apapun sedang dijumpai. 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖 "Waspadha" (baca: waspodho) atau 𝘯𝘺𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢'𝘯é adalah hadirnya pikiran pada saat-kini, pada momen yang berlangsung. Kita sering makan tetapi kita tak sepenuhnya benar-benar makan, tidak a𝘸𝘢𝘳𝘦 denga...

Apa Maksud Ungkapan Ikonik "Gott Ist Tot" Nietzsche?

Friedrich Wilhelm Nietzsche lahir dari seorang ayah pendeta Kristen pada 1844. Seperti ayahnya yang meninggal usia sangat muda yaitu 36 tahun, ia meninggal pada usia 56 tahun, setelah menghabiskan sepuluh tahun terakhir hidupnya dalam kegilaan yang disebabkan oleh gangguan mental, pada tahun 1900. Ia menulis beberapa buku mencekam dan menelanjangi cara pandang manusia. Di antara paling elegan ada Thus Spoke Zarathustra (Sabda Zarathustra),   Kelahiran Tragedi , Beyond Good and Evil (Melampaui Kebaikan dan Kejahatan) , Silsilah Moral , dan beberapa lainnya adalah yang populer dan dibaca kalangan luas. Terkenal bukan sekedar karya filosofisnya yang luar biasa, tetapi juga pengaruhnya terhadap ratusan pemikir filsafat, psikologi, dan sastra di era setelahnya. Sesuatu yang tak bersambut dan dihargai semasa hidupnya karena ide-ide dan gaya kefilsafatannya di luar arus ortodoksi, hal yang sangat mengganggunya. Namun, setelah itu, seperti ungkapan terkenalnya, "Beberapa lah...

Apa Maksud Samsara dalam Buddhisme?

Dalam Buddhisme, samsara sering diartikan sebagai roda siklus tumimbal lahir tiada berujung. Atau, anda mungkin menangkapnya sebagai dunia penderitaan dan ketidakpuasan ( dukkha ), lawan dari nibbana  yang mana istilah kedua ini merujuk pada suatu kondisi terbebas dari penderitaan dan siklus tumimbal lahir—atau orang umum mengenal dan menyamakannya dengan reinkarnasi. Secara literal, istilah samsara yang berasal dari Sansekerta, berarti "mengalir" atau "melewati", yang dilustrasikan dengan Roda Kehidupan dan digambarkan dengan Dua Belas Asal Muasal Saling Bertaut Kemengadaan. Pada umumnya dipahami sebagai kondisi terbelenggu oleh keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan, atau terjebak ilusi yang mengaburkan realitas sejati ( Sunyata ). Dalam falsafah Buddhis tradisional, kita terjebak dalam samsara dari satu kehidupan ke lain kehidupan hingga kita menemukan kebangkitan melalui ketercerahan. Namun, pengartian samsara paling baik, dan mungkin pengartiannya dapat dit...

Dua Kebenaran dalam Mahayana Buddhis

Apa itu kenyataan? Kamus memberi tahu kita bahwa kenyataan adalah "kondisi sebagaimana adanya". Dalam Buddhisme Mahayana, kenyataan dijelaskan dalam doktrin Dua Kebenaran. Doktrin ini memberi tahu kita bahwa kenyataan dapat dimengerti baik sebagai kenyataan ultim sekaligus kenyataan konvensional (atau absolut dan relatif). Kebenaran konvensional adalah seperti kita sehari-hari melihat dunia, tempat yang penuh dengan hal-hal dan fenomena-fenomena khas yang beragam. Kenyataan ultim-nya adalah tidak ada hal-hal atau fenomena khas. Mengatakan tidak ada perbedaan hal-hal atau fenomena yang khas bukan berarti tidak ada yang eksis sama sekali, yang jelas tidak ada perbedaan. Yang mutlak absolut adalah  dhammakaya , kemenyeluruhan segala sesuatu dan eksistensi, tiadalah pula tampak. Mendiang Chogyam Trungpa menyebut dhammakaya sebagai "dasar dari ketidaklahiran yang asli." Bingung? Anda banyak temannya  kok . Ini bukan ajaran yang mudah untuk "ditangkap", tetapi s...

Mengapa Banyak Orang Amerika Menganggap Buddhisme Sekedar Filsafat?

Di Asia timur, Buddhis merayakan mangkatnya Buddha dan datangnya pencerahan di akhir bulan Februari. Akan tetapi di kuil  Zen  lokal saya di North Carolina, pencerahan Buddha diperingati selama musim liburan bulan Desember, diisi dengan ceramah singkat bagi anak-anak, penyalaan lilin, dan makan malam ala kadarnya di akhir acara. Selamat datang di Buddhisme, gaya Amerika. Pengaruh Awal Pengaruh Buddhisme dalam kesadaran budaya masyarakat Amerika muncul di akhir-akhir abad ke-19. Zaman ketika gagasan romantis tentang mistisisme Timur nan eksotis memantik imajinasi filsuf dan penyair Amerika, penikmat seni, dan angkatan awal para penstudi religi-religi global. Penyair dengan kecenderungan gaya transendentalis seperti Henry David Thoreau dan Ralph Waldo Emerson mempelajari filsafat Hindu dan Buddha secara mendalam. Juga ada Henry Steel Olcott, yang rela pergi ke Sri Lanka pada 1880, yang melakukan konversi ke Buddhisme dan mendirikan aliran filosofi mistik yang terkena...

Berkenalan Tema-tema Dasar Buddhisme dari Buku Peter D. Santina

Anda akan dapat menemui banyak ragam dikenali dari Buddhisme di tataran kasarnya. Namun ragam rupa tampakan tradisi dan pengajaran Buddhisme, yang seolah berbeda, disamakan oleh tema-tema utama: Empat Kebenaran Ariya dan Delapan Ruasnya, Tiga Ciri Universal Keberadaan, Karma, dan tumimbal lahir (saya pahami sebagai kemampuan mengada (bereksistensi), bukan sekadar ada, yang dalam konteks filsafat Buddhis adalah produk ilusi mental). Jika Anda ingin mengenal apa kiranya yang bermanfaat untuk kesehatan mental kita di dunia yang cepat nan sesak ramai objek-objek merangsang hasrat keinginan kita tanpa sudah, maka buku Dr. Peter D. Santina ini layak. Menyuguhkan dasar-dasar bagi siapa saja yang baru awal-awal mengenal Buddhisme. Santina mengupas dalam pendekatan sekuler. Tak salah kalau bab pertama buku ini diberi tajuk "Agama Buddha: Sebuah Sudut Pandang Modern". Walau di beberapa titik tampak sekilas Santina menyinggung nilai-nilai Buddhisme yang kebanyakannya memenuhi alam pikir...