Kesadaran sekelompok manusia adalah gambaran reflektif dari mana ia tumbuh dan bagaimana pengupayaan kebutuhan materialnya. Tak terkecuali filsafat Tiongkok yang merupakan refleksi orang-orangnya yaitu masyarakat petani dan kondisi geografis yaitu manusia yang menghuni daratan benua. Dan, dari internal orang-orang Tiongkok sendiri, mazhab-mazhab ini dicetuskan si filsuf dan cerminan kelas sosial si filsuf dan pengikutnya.
Stratifikasi sosial masyarakat Tiongkok klasik sendiri dapat diklasifikasikan ke dalam kelas petani, kesatria-pengelana (hsieh atau yu hsieh), dan kelas cendekiawan-aristokrat (ju). Petani sendiri, meski sebagai kelas terbesar dalam sejarah Tiongkok klasik, bukanlah kelas yang memiliki andil dalam kefilsafatan. Seperti kelas petani di mana saja, mereka hanya objek dari pemikiran kontemplatif.Bab Didasarkan Lintasan Waktu
Meski sejarah perkembangan doktrinnya panjang, Konfusianisme adalah filsafat paling mula muncul pasca zaman "kefilsafatan resmi" Tiongkok. Konfusianisme menitikberatkan pada Jen yang darinya diturunkan konsep li (prinsip keadilan) dan yi (prinsip keuntungan). Menurut Konfusianisme, orang yang hidupnya berpegang pada li tadi adalah manusia kerdil. Konfusianisme menekankan pada kemoralan murni dalam kehidupan sehari-hari dan dalam kaitannya bermasyarakat, berbuat non-pamrih sebagaimana manusia yi. Konfusianisme sangat moralis nan idealistik.
Dalam tataran sosial kemsyarakatan, Konfusianisme adalah pemberi justifikasi tatanan moral sosial yang telah mapan. Filsafatnya memberi justifikasi dan pengukuhan masyarakat yang gradatif yang telah ada. Manusia moralis yang idealistik adalah gagasan mendasar Konfusianisme, yang darinya kita bisa memahami lebih jauh prinsip atribusi sosial yang dicetuskannya.
Menurut Confusianisme, tugas sehari-hari berhadapan dengan urusan-urusan sosial dalam hubungan kemanusiaan bukanlah sesuatu yang asing bagi manusia bijaksana (h. 11).
Sepintas gagasan dasar manusia ideal Konfusianisme secara subtansi dekat konsep manusia eudonomia-nya Aristoteles. Walau tak dimungkiri, Konfusianisme adalah filsafat yang melingkupi banyak objek telaah: kemoralan, tatasosial, dan panduan-panduan upacara serta ritual ke‐āgama-an.
Mohisme, mazhab tertua kedua di sejarah kefilsafatan Tiongkok, mengkritik Konfusianisme dalam hal doktrin tatanan masyarakat di mana penekanan pada ritualisme dan doktrin filsafatnya dianggap tidak menjunjung kesetaraan; Mohisme menjunjung konsep fundamental, yaitu prinsip non-diskriminasi (kesederajatan tanpa gradasi sosial dan ketiadabedaan segala sesuatu) dan prinsip kealamsemestaan. Harus digarisbawahi terkait terma "kealamsemestaan" ini bukan dalam cara pikir fisikawan. Kealsamsemestaan atau alam semesta, adalah totalitas dari segala yang ada.
Taoist mengalamatkan kritiknya pada Konfusianisme yang moral-sentris. Menurut Taois, itu adalah hambatan menuju kesadaran supra-moral (padamnya dualisme pikiran). Supra-moral hanya bisa dicapai melalui spontanitas, tzu jan. Pertentangan ini dapat dimengerti karena Konfusianisme adalah filsafat kehidupan sehari-hari. Konfusianisme menekankan pada tanggung jawab sosial sehari-hari manusia, sementara Taoisme menekankan apa yang bersifat alami dan spontanitas, ini kemampuan intuitif, sesuatu yang disebut dengan pikiran-emosional dalam neurosains.
Awalnya, Taois adalah berpandangan defaitisme, sepintas hampir mirip nihilistik. Namun sebenarnya tiadalah sama. Sementara itu, mazhab Legalis mengkritik konsep Jen—yang mana Konfusianisme menempatkan moralitas sebagai sumber utama mengatur kehidupan masyarakat. Sementara itu penganut Legalis berargumen bahwa tatanan sosial harus mengacu pada aturan hukum, bukan moral. Pandangan yang mirip dengan kaum positivistik hukum.
Sedikit Catatan Pembacaan
Filsafat adalah atribut manusia pemikir. Berfilsafat adalah privilese orang cerdas. Ada beberapa poin yang bisa kita garisbawahi dalam buku ini.
Pertama, perihal agama. Orang-orang Tiongkok klasik memahami agama dalam konteks kefilsafatan. Dalam membacai buku ini, baik itu Konfusianisme dan Taoisme, kita harus menempatkan cara pikir dalam koridor filsafat, bukan Konfusianisme dan Taoismw sebagai agama. Meski tak dipungkiri agama hanyalah produk kefilsafatan yang tak disadari sebagai itu oleh awam, yang kemudian bercampur dengan tradisi lisan ketakhayulan yang berkembang di suatu masyarakat yang tak lain ekspresi estetis manusia dengan alam, dibakukan dalam pelembagaan ritual dan upacara.
Kedua, perihal melampaui kematian dalam Taoisme, yang oleh Fung Yu-Lan dikatakan idealis dan tidak praktis. Seperti disebut penulis sendiri bahwa Taois menekankan pencapaian supra-moral atau, dalam bahasa lebih gampang, sebagai melampaui dualisme cara pikir. Secara biologis, semua yang dilahirkan akan binasa, tetapi dengan menggeser cara pikir, yaitu dengan nyawijiné pikir marang alam atau "mengembangkan perspektif akan aku yang lebih luas daripada terbatas jasmani ini", kematian dapat dilampaui. Dengan kata lain, "melampaui kematian" seyogyanya dipotret dari teropong kefilsafatan Oriental itu sendiri. Tidak mudah, memang.
Panduan Pembacaan
Buku ini adalah pengantar mengenal sejarah filsafat di Tiongkok klasik. Cara berpikir kita seyogyanya mampu menempatkan dalam capaian alam pikir mereka, mengimajinasikan seperti apa dunia Tiongkok klasik kiranya, dan meraba-raba konstruk sosialnya.
Banyak istilah-istilah mungkin bagi pembaca yang belum familiar filsafat Oriental menerka-nerka apa maksud kata atau frasa tertentu. Tak perlu khawatir dan langsung menyerah, dengan mengatakan segera buku ini tidak bagus. Buku bisa menjadi pengantar dan pembanding bagi wawasan kita yang selama ini didominasi wawasan kefilsafatan Yunani dan Barat.
Ini dapat dimengerti karena filsafat Oriental menekankan pada intuisi, karena tak berkutat dan berjibaku pada ontologi. Sementara itu filsafat Yunani dan Barat adalah filsafat yang titik tekannya pada postulasi, kebenaran adalah apa yang dirumuskan melalui kalimat deduktif.
