Langsung ke konten utama

Proselitisme dan Buddhisme

Terlepas ia mengajarkan kepada para siswanya untuk menghormati para klerik dan para pengikut agama mana saja, Sang Buddha secara terbuka tak setuju dengan banyak aspek cara pengajaran yang disampaikan para Brahmin, Jain, juga dari agama lain. Memang tak disangkal ada sebagian Buddhis secara agresif menganjurkan proselitisme. Proselitisme keagamaan adalah berdakwah atau pengabaran ke kelompok luar dengan tujuan menarik mereka masuk ke dalam kelompoknya. 

Sebelum melangkah lebih jauh, kiranya perlu diperjelas di sini bahwa proselitisme tidak sama dengan sekadar berbagi pengetahuan tentang keagamaan dimana kita tanpa maksud dalam batin menarik dan apalagi memaksa serta dengan tipu daya mempersulit orang lain yang berbeda agama agar masuk ke dalam laku spiritual hidup kita, Buddhisme.

Kita semua mafhum jika beberapa agama sangat menganjurkan dan begitu agresif mencari pengikut sebanyak mungkin agar bergabung ke dalam kelompok agamanya, karena satu dan lain alasan. Jika kita melacak ke masa lalu, ke zaman hidup Sang Buddha, tradisi Buddhis sejak zaman beliau adalah untuk tidak membicarakan Buddhadhamma kecuali ada yang bertanya. Beberapa aliran malah mensyaratkan sebanyak tiga kali lebih dulu.

Dalam Vinaya-Pitaka, satu dari tiga pitaka, yang berisi pedoman bagi siapa saja yang memilih kehidupan membiara, melarang bikkhu dan bikkhuni berceramah ke orang yang tampaknya tidak tertarik atau sekiranya akan melecehkan ajaran Guru Agung. Anjuran untuk tidak membicarakan atau berceramah tentang Dhamma berlaku pula ke orang yang sedang dalam kendaraan, sedang berjalan, atau yang tertarik menyimak ceramah dhamma dalam posisi duduk sementara sang bikkhu yang menyampaikan tentang dhamma dalam posisi berdiri.

Intinya, bukanlah tindakan patut dan terpuji menghampiri dan menyetop orang tidak dikenal di jalan atau mendatangi rumah orang satu per satu dan bertanya apa mereka telah menemukan Kecerahan.

Banyak kalangan di luar Buddhis mungkin heran dan bingung mengapa Buddhis tidak tertarik dan ogah berdakwah, mempromosikan, dan menyebarkan agama laku spiritualnya. Dapat dimaklumi karena di ajaran non-Buddhisme tadi melakukan usaha apa pun untuk mengubah orang lain agar ikut agamanya adalah dianggap amal kebaikan, tindakan patut, dan mendapat pahala. 

Meski begitu, banyak dari kita siswa Sang Buddha berikrar untuk membantu semua makhluk merealisasi kecerahan, pintu masuk menemukan kebahagiaan ke dalam diri mereka sendiri, yang telah ada dalam dirinya sendiri. Tugas para siswa Sang Buddha adalah berbuat baik konkrit, membantu sesama konkrit, dan menunjukkan kebahagiaan asali yang sudah ada di dalam diri para mahluk agar terbebas dari kebingungan batin dan kegelisahan hidup. Ini hanyalah itikad sederhana, berbagi kebijaksanaan, Kebahagiaan Sejati atau kebahagiaan non-stimulua, kepada semua. Sejak zaman Sang Buddha, para Buddhis telah berpindah dari satu ke lain tempat untuk membuat apa yang disampaikan Sang Buddha tersedia bagi siapa saja yang tergerak menolong dirinya sendiri menyudahi kegelisahan batin dan kebingungan hidup.

Intinya Buddhis tidak tertarik mengubah kolom agama di KTP seseorang. Saya kira hal itu tak ada gunanya bagi orang tersebut dan tidaklah mungkin hanya mengganti kolom saja menjadikan orang itu menyadari Kebahagiaan Sejati (ayem batin langgeng). Buddhis tidak berusaha "menjual" Buddhisme ke pihak yang tidak tertarik. Mengapa?


Sang Buddha Tak Tertarik Menarik Pengikut

Dalam Sutta-Pitaka, sebuah teks berbahasa Pali, di Ayacana Sutta (Samyutta Nikaya 6) dituliskan bahwa Sang Buddha sendiri enggan untuk mengajar setelah kecerahannya, meski beliau pada akhirnya memilih untuk mengajar ke orang-orang yang tergerak menyudahi kebingungan.

Dharma ini mendalam, sulit dilihat, sulit disadari, damai, begitu subtil, di luar jangkauan persangkaan pikiran, halus, tiada dapat dijangkau oleh orang bijak hanya melalui pengalaman.

Beliau sadar betul bahwasanya orang-orang akan salah tangkap ketika ia membabarkan tentang dhamma. Untuk menyadari akan dhamma, seseorang haruslah mengasah dan melatih praktik kanti laku "mengalami kebijaksanaan" yang tak lain oleh dirinya sendiri dan untuk dirinya sendiri.

Dengan kata lain, mendakwahkan dan mempromosikam dhamma hanya akan melahirkan masalah. Sebab ini sama halnya menciptakan doktrin-doktrin artifisial agar diimani orang-orang, untuk dilekatkan ke pikirannya. Ini tak ubahnya menumpukkan ubin-ubin di atas kepala.

Buddhisme sekadar menunjukkan kepada orang-orang di kehidupan kini ini untuk menyadari dhamma, untuk merealisasi Kebahagiaan Sejati oleh mereka sendiri, menemukan itu di dalam diri mereka sendiri. Buddhisme sekadar sebuah penunjuk arah (road maps) yang harus dilalui oleh mereka. Butuh komitmen dan tekad. Orang tidak akan sanggup dan tergerak sukarela kecuali ia telah menyadari ada masalah batin dalam dirinya dan termotivasi menemukan kebahagiaan itu dari kebingungan hidup. Itu adalah menyelami diri sendiri, batinnya sendiri.

Ketimbang selalu berpikir bagaimana "produk" Anda laku, bukankah lebih bijak membuat ajaran wis cemawis ketika ada orang kebingungan menjalani hidup dan mengalami kegelisahan emosional mulai tertarik dan tergerak menyudahi itu atas inisiatif sendiri tanpa paksaan, karena karma-nya sendirilah yang telah menuntunnya pada Sang Jalan.

Seorang yang saya anggap guru pernah berpesan, "Tirulah para Bikkhu [tradisi] hutan, tidak berdakwah. Tapi didatangi orang dari penjuru dunia. Jika orang memang sudah merasa perlu [menyudahi kegelisahan dan kebingungan], biarlah mendatangi dan "menimba air sumur' sendiri."


Mencemari Dhamma

Perihal dakwah, kalaupun toh ada yang melakukan, ini tidak membantu sama sekali untuk bertumbuh dan terawatnya kualitas batin pempraktik Buddhis. Ini dapat menimbulkan agitasi dan kemarahan yang tidak berkesudahan karena bertengkar dengan orang-orang yang "coretan" di pikirannya berbeda.

Jika menarik pengikut adalah penting bagi Anda demi membuktikan ke seluruh dunia bahwa kepercayaan Anda-lah satu-satunya yang benar dan yang lain salah, itu terserah Anda untuk mengajak sebanyak mungkin orang, yang menurut Anda salah. Apakah semua itu membantu menunjukkan sejatinya kamu?

Dapat dikatakan bahwa Anda memiliki kemelekatan kuat terhadap keyakinan—sesuatu yang layaknya coretan di pikiran—Anda. "O, coretan di kertas. Tak putih lagi". Jika Anda seorang Buddhis berarti Anda—tada!—meleset.

Patut diingat bahwa Buddhisme adalah jalan menuju kebijaksanaan. Sebuah proses  di mana bagian dari proses tadi adalah selalu terbuka akan pemahaman baru yang datang ke kita. Seperti yang Thich Nhat Hanh ajarkan,
Jangan berpikir bahwa pengetahuan yang Anda miliki sekarang adalah kebenaran mutlak yang tidak berubah. Hindari berpikiran sempit dan terikat pada pandangan yang sekarang. Belajarlah dan praktikkanlah ketidakmelekatatan atas pandangan-pandangan agar terbuka menerima sudut pandang pihak lain. Kebenaran ditemukan dalam kehidupan dan tidak hanya dalam pengetahuan konseptualistik. Senantiasalah untuk selalu belajar sepanjang hayat Anda dan amati realitas dalam diri Anda sendiri dan dunia setiap saat. 
Jika Anda bergerombol lalu meyakini bahwa Anda benar, Anda menutup diri dari pemahaman baru. Jika Anda bergerombol mencoba membuktikan bahwa agama lain salah, Anda menciptakan kebencian dan antagonisme di pikiran Anda (dan orang lain). Anda merusak praktik Anda sendiri.

Thich Nhat Hahn mengunjungi Borobudur pada 2010.

Ada yang mengatakan bahwa doktrin Buddhisme tidak boleh digenggami erat-erat dan dijadikan berhala kefanatikan, tetapi diletakkan di atas telapak tangan terbuka, sehingga pemahaman akan berkembang selalu.


Dekrit Raja Ashoka

Raja Ashoka, memerintah India dan Gandhara rentang tahun 269 hingga 232 SM, adalah Buddhis dan penguasa yang baik hati. Dekritnya tertulis di pilar-pilar yang dibangun di seantero wilayah kerajaannya. Bahkan sampai ke negeri-negeri lain, tertulis pula dalam bahasa Hebrew kuno, Timur Tengah.

Ashoka mengutus para misionaris Buddhis untuk menyebarkan ajaran tentang dharma ke seluruh penjuru Asia dan sekitarnya. Ia pernah berujar, "Seseorang memetik kemanfaatan di dunia ini dan memperoleh jasa yang besar di masa datang dengan berdana dhamma." Tapi ia juga berkata,

Bertumbuh dalam hal yang hakiki dapat dilakukan dengan cara yang berbeda-beda, tetapi semua itu berakar pada menahan kata-kata, yaitu tidak memuji agamanya sendiri, atau mencela agama orang lain tanpa alasan yang baik. Dan jika bermaksud menyampaikan kritik, itu harus dilakukan dengan cara yang sejuk. Tetapi lebih baik menghormati agama lain karena alasan ini. Dengan berbuat demikian, agamanya sendiri mendapat manfaat, demikian pula agama lain, yang sebaliknya dapat merugikan agamanya sendiri dan agama orang lain. Barangsiapa mengagungkan berlebihan agamanya sendiri, karena dedikasi yang berlebih, dan mencela orang lain dengan pemikiran "Biarlah Aku meagung-agungkan agamaku", hanya akan merugikan agamanya sendiri. Oleh karena itu, terjadinya kontak (antar agama) adalah baik. Seseorang harus mendengarkan dan menghormati doktrin yang dianut oleh orang lain. 

Para sales agama harus mempertimbangkan kembali bahwa untuk setiap orang yang mereka "selamatkan", kemungkinan besarnya mereka akan terjerumus ke dalam tindakan menindas lebih banyak orang. Hal ini juga berkaitan bagaimana proselitisme dapat merusak praktik seorang Buddhis.

Pun merendahkan agama orang lain, serta mengagungkan agama sendiri, bukanlah welas asih, ini ajaran Sang Buddha melampaui kerja konsepsi pikiran benar-salah.


Ikrar Bodhisattva

Mari kembali ke Ikrar Bodhisattva, yaitu ikrar untuk membantu semua makhluk dan membawanya menemukan kecerahan dan ketergugahan batinnya. Para guru telah menjelaskan hal ini dengan banyak cara. Pada pokoknya adalah tidak memandang dunia ini dualistik, kecerahan adalah padamnya p(emi)ikiran subjek-objek.

Seseorang selamanya tidak dapat hidup dengan baik dan bahagia serta damai jika masih terkungkung dalam kotak kerangkeng konseptual p(em)ikiran Saya benar dan Kamu salah tanpa mengobjektifkan di tempat mana yang dibicarakan. Kita diselimuti cemas, gelisah, dan ketidakpuasan atau penderitaan karena membiarkan liar seluruh respons pikran kita terhadap dunia yang tidak berakar pada saat kini.

Patut diingat juga bahwa Buddhis memiliki cara pandang yang tidak sesegera dapat kita pahami. Biar begitu, Anda tak perlu gusar jika sepanjang hayat Anda gagal untuk merealisasi kecerahan dan terbangun (pikiran-kebuddhaan), karena itu tidak berarti Anda akan dilemparkan ke dalam neraka untuk selama-lamanya.


Gambaran Umum Nan Ringkas

Meski ajaran dari berbagai agama sangat berbeda satu sama lain dan seringkali bertentangan, tetapi (mungkin) itu sekedar permukaan saja yang kita lihat. Penampakan "permukaan" ini sekedar sarana membantu penganutnya menemukan kesejatian atau yang benar-benar hakiki. Letak permasalahannya adalah, banyak dari orang salah anggap jika yang "permukaan" sebagai kenyataan itu sendiri. Ini tak ubahnya seperti yang diujarkan sebuah gatha Zen, tangan yang menunjuk ke bulan bukanlah bulan. Kita mengira telunjuk adalah bulan.

Kadang-kadang, percaya terhadap konsep Tuhan apa pun modelnya memang bisa menjadi sarana untuk menjadi terampil dalam kebijaksanaan. Banyak doktrin selain dalam Buddhis dapat dijadikan sebagai sarana eksplorasi spiritual dan refleksi batin. Inilah alasan lain mengapa Buddhis tidak merasa terancam oleh agama lain. Dalai Lama XIV kadang menasihati orang-orang untuk tidak pindah ke agama Buddha. Setidaknya tanpa mempelajari, menyelidiki, dan merenungkan serta mempertanyakan secara kritis dan mendalam ajarannya terlebih dahulu. Ia berkata,

Jika Anda mengadopsi Buddhisme sebagai agama Anda, bagaimanapun, Anda harus tetap menjaga rasa apresiasi Anda terhadap tradisi keagamaan-keagamaan lain. Sekalipun jika agama itu tidak lagi memberi manfaat lagi bagi Anda, jutaan manusia lain masih menerima kemanfaatan yang besar dari itu di masa lalu dan masih berlanjut sampai kini. Oleh karena itu, penting bagi Anda untuk menaruh rasa hormat ke agama mereka.

Postingan populer dari blog ini

Review Buku Harmoni Dengan Segala Kehidupan Karya Eckhart Tolle

Buku ini diperhatikan bab-babnya berisi beberapa topik yang di awal-awal menyampaikan perihal kesaatkinian dan korelasinya adalah pelampuan gagasan yang mana meliputi gagasan waktu dan gagasan keterpisahan perihal ilusi eksistensi atau aku terpisah mutlak dari keberadaan lainnya ( atta ), kemudian topik diakhiri perihal "harmoni dengan segala kehidupan", yang dalam bahasa sederhana saya adalah: yang biasa dikira aku sejatinya adalah elemen tiada terpisah dari alam semesta. Anda adalah alam semesta itu sendiri.  Secara sistematis, bab-bab secara serial mengarahkan pembaca kepada kesadaran—apa yang diistilahkan Tolle sebagai—"ruang internal". Sebab di sanalah sumber keberhidupan dan arah tepat pencarian kebahagiaan, ketenangan batiniah. Itu muncul ketika konsepsi aku padam—tidak membersit pada pikiran Anda. Dengan kata lain, Anda menjalani, melakukan, menghadapi yang saat-kini Anda di situ dengan mode pikiran intuitif. Gaya Kebahasaan Gaya pengungkapan keb...

Orang Ewe dan Agama Kepercayaan Tradisionalnya

Orang Ewe bisa dijumpai di  Ghana, Togo, dan Benin. Semuanya adalah negara-negara di bagian barat benua Afrika. Populasi terbesar mendiami Ghana. Tradisi dan kepercayaanya banyak dipengaruhi kebudayaan orang Akan dan Yoruba. Bahasa ibu orang Ewe termasuk rumpun Gbe. Orang Ewe terbagi menjadi klan-klan, tetapi menurut cerita lisan dikatakan berakar pada garis leluhur yang sama. Sistem kepemilikan properti adalah komunal, tidak menganut kepemilikan properti secara individu. Asesedwa , kesenian kayu menyerupai bangku, sangat esensial dalam tradisi Ewe. Karenanya, hal itu dibuat dan diukir sangat hati-hati. Dalam ukiran benda tersebut kaya narasi mengenai klan bersangkutan. Dalam ritual, Asesedwa merupakan media yang berfungsi sebagai tempat memanggi roh leluhur. Asesedwa. Menurut cerita turun temurun, asal-usul mereka berasal dari Kotu/Ketu atau Amedzowe, terletak di sebelah timur Sungai Niger. Kira-kira pada 1500, leluhur mereka bermigrasi ke Notsie, Togo. Pada mulamya, migrasi merek...

Dua Kelahiran (Sebuah Esai Kontemplatif)

Kita kerap disuguhkan bahwa lahir, menua, kemerosotan fisik atau sakit/penyakitan, dan kemudian kematian adalah Penderitaan ( dukkha ). Bahasa sehari-harinya, kita sering kali tidak rela ketiga peristiwa akibat dari dilahirkan tadi menimpa kita dan orang-orang terdekat. Keempat fenomena alam tadi masuk klasifikasi penderitaan disebakan jasmani.  Ada klasifikasi penderitaan lainnya: bersama yang tak disenangi/dicintai, berpisah ataupun kehilangan yang disenangi/dicintai, dan terakhirnya adalah tidak memeroleh apa yang dihasratingini/dinafsui. Saya istilahkan penderitaan disebabkan oleh kemampuan mengada yang darinya muncul kemampuan mengingini (mengidealkan dunia kita alami). Mohon diingat. Ini adalah tulisan bersifat kontemplatif dan ini rasa-rasanya tak ada dalam pengajaran naratif Buddhisme arus utama. Sekedar hasil perenungan dan proses memperjelas istilah yang bagi penulis cukup membingungkan mulanya   Mengapa Kita kerap Alami Suasana Batin Tak Nyaman Kita secara emos...

Apa Itu 4 Kebenaran Hakiki dalam Buddhisme?

Awal-awal ceramah Guru Gautama setelah pencerahannya berkisar di seputar Empat Kebenaran Hakiki, yang merupakan dasar dari Buddhisme. Salah satu cara untuk memahaminya adalah dengan memandang Kebenaran-Kebenaran tersebut sebagai hipotesis dan Buddhisme sebagai proses pemverifikasiannya untuk menjadi tesis, atau merealisasi hakikat akan Kebenaran-Kebenaran itu. Empat Kebenaran Hakiki Umumnya, arti Kebenaran ini ditangkap secara serampangan. Kebenaran tersebut memberi tahu kita bahwa hidup adalah penderitaan. Penderitaan disebabkan oleh loba (ketamakan), dosa (kualitas-kualitas psikiis mengganggu semisal amarah dan ras frustasi), dan moha (pandangan deluaif). Penderitaan berakhir ketika kita terbebas dari 3 kotoram batim tadi. Caranya dengan mempraktikkan apa yang disebut 4 Kebenaran Beruas Delapan. Secara urutan formalnya, Kebenaran tersebut bunyinya berikut: Benar ada penderitaan atau rasa ridak puas ( dukkha ) Benar ada sumber munculnya penderitaan atau tasa tidak puas ( samudaya...

𝙀𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙣 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖, 𝗔𝗽𝗮 𝙨𝙞𝙝 𝗠𝗮𝗸𝘀𝘂𝗱𝗻𝘆𝗮?

Leluhur mewariskan kita ajian tentang bagaimana menjalani hidup yang damai dalam diri, dituangkan dalam 𝘴𝘢𝘯é𝘱𝘢. Dengan itu kita diminta membuka kitab kita sendiri. Kitab itu adalah batin kita masing-masing untuk 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘯𝘢𝘰𝘯𝘪 dan 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪. Orang Sunda dan orang Kenekes (Badui di Lebak, Banten) menyebut "ngaji diri". 𝘌𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘢𝘥𝘩𝘢 (baca: 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘰𝘥𝘩𝘰) adalah ajaran bagaimana mergondisikan batin tiada gangguan agar kembali tenang, tiadanya semacam lubang dalam ruhani atau psikis atau batin, batin puas dengan yang ada, batin bening dan suci sebagaimana sifat asalinya, atau psikis bagaimana mengalami rasa syukur yang sebenar-benarnya syukur (bukan syukur 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘣é) apapun sedang dijumpai. 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖 "Waspadha" (baca: waspodho) atau 𝘯𝘺𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢'𝘯é adalah hadirnya pikiran pada saat-kini, pada momen yang berlangsung. Kita sering makan tetapi kita tak sepenuhnya benar-benar makan, tidak a𝘸𝘢𝘳𝘦 denga...

Apa Maksud Ungkapan Ikonik "Gott Ist Tot" Nietzsche?

Friedrich Wilhelm Nietzsche lahir dari seorang ayah pendeta Kristen pada 1844. Seperti ayahnya yang meninggal usia sangat muda yaitu 36 tahun, ia meninggal pada usia 56 tahun, setelah menghabiskan sepuluh tahun terakhir hidupnya dalam kegilaan yang disebabkan oleh gangguan mental, pada tahun 1900. Ia menulis beberapa buku mencekam dan menelanjangi cara pandang manusia. Di antara paling elegan ada Thus Spoke Zarathustra (Sabda Zarathustra),   Kelahiran Tragedi , Beyond Good and Evil (Melampaui Kebaikan dan Kejahatan) , Silsilah Moral , dan beberapa lainnya adalah yang populer dan dibaca kalangan luas. Terkenal bukan sekedar karya filosofisnya yang luar biasa, tetapi juga pengaruhnya terhadap ratusan pemikir filsafat, psikologi, dan sastra di era setelahnya. Sesuatu yang tak bersambut dan dihargai semasa hidupnya karena ide-ide dan gaya kefilsafatannya di luar arus ortodoksi, hal yang sangat mengganggunya. Namun, setelah itu, seperti ungkapan terkenalnya, "Beberapa lah...

Apa Maksud Samsara dalam Buddhisme?

Dalam Buddhisme, samsara sering diartikan sebagai roda siklus tumimbal lahir tiada berujung. Atau, anda mungkin menangkapnya sebagai dunia penderitaan dan ketidakpuasan ( dukkha ), lawan dari nibbana  yang mana istilah kedua ini merujuk pada suatu kondisi terbebas dari penderitaan dan siklus tumimbal lahir—atau orang umum mengenal dan menyamakannya dengan reinkarnasi. Secara literal, istilah samsara yang berasal dari Sansekerta, berarti "mengalir" atau "melewati", yang dilustrasikan dengan Roda Kehidupan dan digambarkan dengan Dua Belas Asal Muasal Saling Bertaut Kemengadaan. Pada umumnya dipahami sebagai kondisi terbelenggu oleh keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan, atau terjebak ilusi yang mengaburkan realitas sejati ( Sunyata ). Dalam falsafah Buddhis tradisional, kita terjebak dalam samsara dari satu kehidupan ke lain kehidupan hingga kita menemukan kebangkitan melalui ketercerahan. Namun, pengartian samsara paling baik, dan mungkin pengartiannya dapat dit...

Dua Kebenaran dalam Mahayana Buddhis

Apa itu kenyataan? Kamus memberi tahu kita bahwa kenyataan adalah "kondisi sebagaimana adanya". Dalam Buddhisme Mahayana, kenyataan dijelaskan dalam doktrin Dua Kebenaran. Doktrin ini memberi tahu kita bahwa kenyataan dapat dimengerti baik sebagai kenyataan ultim sekaligus kenyataan konvensional (atau absolut dan relatif). Kebenaran konvensional adalah seperti kita sehari-hari melihat dunia, tempat yang penuh dengan hal-hal dan fenomena-fenomena khas yang beragam. Kenyataan ultim-nya adalah tidak ada hal-hal atau fenomena khas. Mengatakan tidak ada perbedaan hal-hal atau fenomena yang khas bukan berarti tidak ada yang eksis sama sekali, yang jelas tidak ada perbedaan. Yang mutlak absolut adalah  dhammakaya , kemenyeluruhan segala sesuatu dan eksistensi, tiadalah pula tampak. Mendiang Chogyam Trungpa menyebut dhammakaya sebagai "dasar dari ketidaklahiran yang asli." Bingung? Anda banyak temannya  kok . Ini bukan ajaran yang mudah untuk "ditangkap", tetapi s...

Mengapa Banyak Orang Amerika Menganggap Buddhisme Sekedar Filsafat?

Di Asia timur, Buddhis merayakan mangkatnya Buddha dan datangnya pencerahan di akhir bulan Februari. Akan tetapi di kuil  Zen  lokal saya di North Carolina, pencerahan Buddha diperingati selama musim liburan bulan Desember, diisi dengan ceramah singkat bagi anak-anak, penyalaan lilin, dan makan malam ala kadarnya di akhir acara. Selamat datang di Buddhisme, gaya Amerika. Pengaruh Awal Pengaruh Buddhisme dalam kesadaran budaya masyarakat Amerika muncul di akhir-akhir abad ke-19. Zaman ketika gagasan romantis tentang mistisisme Timur nan eksotis memantik imajinasi filsuf dan penyair Amerika, penikmat seni, dan angkatan awal para penstudi religi-religi global. Penyair dengan kecenderungan gaya transendentalis seperti Henry David Thoreau dan Ralph Waldo Emerson mempelajari filsafat Hindu dan Buddha secara mendalam. Juga ada Henry Steel Olcott, yang rela pergi ke Sri Lanka pada 1880, yang melakukan konversi ke Buddhisme dan mendirikan aliran filosofi mistik yang terkena...

Berkenalan Tema-tema Dasar Buddhisme dari Buku Peter D. Santina

Anda akan dapat menemui banyak ragam dikenali dari Buddhisme di tataran kasarnya. Namun ragam rupa tampakan tradisi dan pengajaran Buddhisme, yang seolah berbeda, disamakan oleh tema-tema utama: Empat Kebenaran Ariya dan Delapan Ruasnya, Tiga Ciri Universal Keberadaan, Karma, dan tumimbal lahir (saya pahami sebagai kemampuan mengada (bereksistensi), bukan sekadar ada, yang dalam konteks filsafat Buddhis adalah produk ilusi mental). Jika Anda ingin mengenal apa kiranya yang bermanfaat untuk kesehatan mental kita di dunia yang cepat nan sesak ramai objek-objek merangsang hasrat keinginan kita tanpa sudah, maka buku Dr. Peter D. Santina ini layak. Menyuguhkan dasar-dasar bagi siapa saja yang baru awal-awal mengenal Buddhisme. Santina mengupas dalam pendekatan sekuler. Tak salah kalau bab pertama buku ini diberi tajuk "Agama Buddha: Sebuah Sudut Pandang Modern". Walau di beberapa titik tampak sekilas Santina menyinggung nilai-nilai Buddhisme yang kebanyakannya memenuhi alam pikir...