Film dokumenter Oppenheimer—yang dalam versi lain juga diberi judul To End All War: Oppenheimer and The Atomic Bomb—mengangkat kompleksitas kepribadian dan desas-desus yang mengelilingi pencipta bom atom. Juga, perjalanan hidupnya dari seorang pahlawan yang membawa sekutu menyudahi Perang Dunia II menjadi seorang paria politik. Itulah Julius Robert Oppenheimer. Lahir sebagai Jewis-Amerika, keturunan migran Jewis-Jerman. Oppenheimer kecil hidup di tengah keluarga berkecukupan, bahkan lebih dari cukup. Ia juga orang yang secara teiretis memprediksi keberadaan black holes.
Memanfaatkan kekuatan dasar alam, menciptakan bom paling mematikan! Menonton film ini kita diselimuti semacam kecamuk pertanyaan moral, apakah perbuatannya jahat atau baik?Oppenheimer dan Kerumitannya
Antisosial semasa kecil, usia muda yang krisis identitas, dan terindikasi mengalami gangguan syaraf. Ia juga lembut dan perasa. Begitu kepribadian Oppenheimer digambarkan. Titik baliknya ketika ia meneruskan studi ke Göttingen, Jerman, di bawah bimbingan fisikawan Max Born yang mampu membangun karakternya yang rapuh menjadi Oppie yang percaya diri dan bertujuan—karakter Jerman. Ia mendapat panggilan khas dari mentornya: "Opje" atau Oppie" yang bau-bau Jerman. Di sana ia mengenal banyak tokoh fisika tersohor, diantaranya Heisenberg, yang ketika pecah Perang Dunia II ia menjadi ketua bidang pengembangan bom atom pihak NAZI.
Balik AS. Ia mengajar di Barkeley. Keberuntungan hadir ketika ia dipilih mengetuai Komisi Energi Atom, bertugas melakukan riset dan menciptakan bom mematikan demi segera mengakhiri perang, dan terpenting memenangkannya.
Bukan semata persoalan kepribadian. Di tengah tugas itu, ia diperlihatkan kenyataan sosial banyak masyarakat dan mahasiswanya kurang makan; memakan makanan kucing. Imbas Great Depression. Itu mengganggu pikiran Oppie yang sensitif perasa dan berempati lebih.
![]() |
| Jean Frances Tatlock. |
Bom Terakhir dan Kompleksitas Moral
Bersama dengan komunis Soviet, Nazi telah dikalahkan bahkan sebelum bom sukses diuji. Menyerah tanpa syarat, ultimatum Truman di Postdam kepada Jepang yang terdesak dan hampir kalah. Tetapi Jepang punya tradisi tersendiri. Kalah tidak sama dengan menyerah.
Ada yang unik ketika hendak memutuskan penjatuhan bom. Ada 3 opsi. Menjatuhkan bom di atas padat penduduk artinya ada korban ratusam ribu. Tidak menggunakan bom akan banyak korban dan perang tak usai. Pilihan ketiga adalah menjatuhkan bom di pesisir laut Jepang untuk menggertak demi meminimalisir korban. Namun tak memcerminkan Oppenheimer yang berempati dan lembut, ia memilih opsi pertama dan bahkan mem-briefing bagaimana agar bom meledak optimal. Mengapa Oppenheimer memilih keputusan sulit dimengerti?
Efek destruktifnya harus ditunjukkan ke dunia agar itu menjadi bukan yang pertama tetapi yang terakhir digunakan. Agar itu menjadi pengingat merusakmya perlombaan senjata dan perang untuk generasi masa depan.
![]() |
| Julius Robert Oppenheimer. |
Pada 1949 Soviet berhasil menguji coba bom yang sama. Kecamuk Perang Dingin meningkat. Washington menginginkan bom lebih kuat, bom hidrogen. Lima belas kali lebih kuat daripada bom yang jatuh di 2 kota Jepang. Oppenheimer adalah penentang pertama ambisi pemerintah AS itu. Buat apa?
Keputusan untuk membuat atau tidak membuat bom hidrogen menyentuh dasar moralitas kita. Dan keputusan panitia pada dasarnya adalah tidak .... Jika kita hanya dibimbing oleh rasa takut, kita akan gagal di masa krisis ini. Jawaban atas rasa takut terkadang terletak pada keberanian,
Tegas Oppenheimer menolak. Sebuah titik balik Oppenheimer dan awal kejatuhan menjadi paria; menentang ambisi penguasanya. Bangkit kembali kecurigaan lama penguasa. Oppenheimer sendiri tak pernah meminta maaf atas Hiroshima dan Nagasaki, tetapi pasca itu kehidupannya diselimuti penyesalan.
Ia telah menghentikan perang paling mematikan dan secara pertimbangan rasional penggunaan ciptaannya meminimalisir korban perang dan lebih-lebih korban dari pihaknya. Apakah perbuatannya jahat? Ciptaannya telah membunuh ratusan ribu warga sipil (orang-orang tua, perempuan, dan bahkan anak-anak yang belum tahu menahu). Apakah perbuatannya baik?


