Langsung ke konten utama

Paulo Freire, Filsafat Pendidikan, dan Pedagogi Dialogis

Paulo Freire adalah salah satu filsuf paling berpengaruh dalam pedagogi. Berpaspor Brasil, ia mengubah cara pandang seluruh dunia terhadap pendidikan, Paulo Freire dan karya-karyanya sangat penting di bidang filsafat, pedagogi, dan Ilmu Sosial.


Paulo Freire

Lahir pada 1921, bernama lengkap Paulo Reglus Neves Freire lahir di Recife, ibu kota Pernambuco, salah satu negara bagian di Brasil yang terletak di Timur Laut. Ia salah satu pendiri gerakan pedagogi kritis. Ia diperhitungkan di seluruh dunia sebagai salah satu pemikir penting di bidang filsafat pendidikan dan pedagogi. Karya besarnya, Pedagogy of the Oppressed. Sebuah buku yang mendobrak pada masanya dan masih sangat relevan hingga kini. 

Paulo Freire.
Timur Laut Brasil adalah wilayah yang sulit dan terbelakang sepanjang sejarah berdirinya negara Brasil. Disebabkan oleh lingkungan yang keras dan terjadinya penyalahgunaan kekuasaan tanpa henti oleh otoritas lokal. Kenyataan menyengsarakan ini menjadi lebih menghantam masyaralatnya lagi ketika terjadi depresi ekonomi pada 1929, dikenal sebagai peristiwa Great Depression. Tak terkecuali, peristiwa ini juga memukul perekonomian Brasil.

Sekalipun Paulo terlahir dari keluarga kelas menengah, ketika terjadi krisis ekonomi memaksa keluarganya untuk merasakan kemiskinan dan kelaparan, untuk sementara waktu. Berangkat dari pengalaman hidup mencicipi kenyataan pahit itulah lahirnya filosofi yang digagas Paulo Freire.

Teorinya adalah sebuah sistem yang bertujuan untuk menyediakan pengetahuan kepada kelompok masyarakat marginal secara efektif tanpa mengabaikan kondisi sosial dimana mereka hidup, dan mendidik mereka untuk memiliki pandangan kritis terhadap dunia. Lebih luas, kita dapat mengamati pengaruh dari banyak filsuf sebelumnya dalam karya Paulo Freire, seperti Rousseau, Hegel, dan Kierkegaard. Bahkan pengaruh-pengaruh dari penulis pada era yang sama periode hidup Freire, semisal Jean-Paul Sartre dan John Dewey.

Tujuan filosofi paling utama digagas Paulo Freire adalah untuk mendidik masyarakat tentang potensi diri mereka sendiri sebagai manusia, untuk menunjukkan kepada mereka bahwa mereka itu memiliki kekuatan untuk mengubah nasib mereka sendiri dan dunia di sekitar mereka menjadi dunia dan tempat yang lebih baik. 

Contoh historis mengenai hal di atas terjadi pada 1961, ketika Freire dan timnya menerapkan metode yang mampu mengajarkan literasi kepada 300 pekerja pedesaan yang tidak memiliki pendidikan formal sebelumnya, itu dilakukan hanya dalam kurun 45 hari. Prestasi seperti itu cukup menarik perhatian pemerintah Brasil. Presiden João Goulart menerapkan metode yang sama di banyak wilayah lain di negaranya hingga terjadi kudeta militer pada 1964 yang membawa Brasil ke dalam kediktatoran yang lama. selama lebih dari dua dekade. Rentang periode itu, karena represi politik, Freire meninggalkan negaranya dan baru kembali pada 1980. 

Dalam bagian berikut nanti, kita akan membahas aspek terpenting dari karya Freire, yaitu mengeksplorasi dasar-dasar filsafat pendidikannya dan melihat gerakan pedagogi kritis yang dimulai pada abad ke-20 dan masih berlanjut hingga saat ini.


Filsafat Pendidikan

Filsafat pendidikan dan pedagogi sering kali salah dipahami. Lantas, apa perbedaannya? Pedagogi adalah praktik mengajar sekaligus mempelajari metode yang harus diaplikasikan dalam proses mengajar. Praktik ini sering diaplikasikam di sekolah dan lembaga pendidikan lainnya.

Adapun filsafat pendidikan merupakan cabang filsafat terapan yang menjadikan pendidikan sebagai object materia secara keseluruhan. Mempelajarinya secara spesifik, karakteristik-karakteristiknya dan mempelajari tujuan dari model pendidikan yang berbeda-beda, serta masalah yang ditimbulkan dari metode yang diaplikasikan.

Asal-usul filsafat oendidikam dan pedagogi dapat dilacak ke belakang ke jantung filsafat itu sendiri, karena antara filsafat dan pendidikan tidak dapat dipisah. Gambaran bagus tebtang hal tersebut adalah konflik antara Sokrates dan kaum Sofis, yang berkutat mendebatkan sejatinya pendidikan itu apa dan bagaimana pendidikan harus dijalankan.

Selain Paulo Freire, yang notabene bapak gerakan pedagogi kritis, ada nama-nama lain yang juga berpengaruh. Diantaranya ada Henry Giroux, Peter McLaren, Gloria Jean Watkins, juga dikenal sebagai bell hooks, dan Antonia Darder. Titik kesamaan dari semua penulis ini adalah kepedulian mereka terhadap pengembangan sistem pendidikan yang demokratis, yaitu pengaplikasian metode pengajaran yang menghormati siswa sebagai sosok manusia dan kepentingan individunya, membimbing dan merangsang para siswa mengembangkan nalar kritis, dan mengajarkan mereka agar menyadari pentingnya melawan segala bentuk diskriminasi dan kesalahpahaman yang meluas. Gerakan pedagogi kritis masih berjalan hingga saat ini dan banyak pengikut aliran pemikiran ini tersebar di seluruh penjuru dunia.


Gerakan Pedagogi Kritis

Freire adalah filsuf pertama yang memperkenalkan istilah peyoratif “banking education” ketika mengkritik bentuk pendidikan tradisional yang diterapkan di hampir semua sekolah yang ada, dan masih saja dipraktikkan hingga saat ini terutama dipraktikkan di negara-negara tertinggal dan berkembanh. Model "pendidikan bank", sebagaimana dijelaskan Paulo Freire, merupakan suatu bentuk pedagogi—atau model praktik mendidik—yang menempatkan siswa ibarat rekening kosong dan pengajar kemudian mengisinya dengan pengetahuan tertentu hingga ambang batas yang diingini. 

Dari sudut pandang tersebut, problematika pedagogi model seperti ini sangat mudah untuk diterka, yaitu kurangnya ruang untuk para siswa mengekspresikan diri yang berguna menumbuhkan daya kreatifnya. Model pendidikan seperti tradisional ini abai terhadap realitas latar belakang dari mana masing-masing siswa berasal, juga abai terhadap realitas yang ada. Pengetahuan diberikan dengan cara kaku di ruang-ruang belajar.

Lebih jauh lagi, kita dapat berasumsi dan membaca bahwa kelas sosial yang mendominasi dalam bidang ekonomi mempunyai pengaruh besar terhadap model pendidikan tradisional. Diuntungkan. Karena mereka yang paling sering menduduki kekuasaan dan arah sistem pendidikan. Oleh karena itu mereka menerapkan model pendidikan yang menguntungkan kepentingan kelas mereka.

Dunia pendidikan seharusnya tidak menjadi mekanisme bagi kelas superior dan yang mendominasi untuk melanggengkan dan memperluas cengkeraman kekuasaannya melalui indoktrinasi di ruang-ruang pendidikan. Sebaliknya, pendidikan harus menjadi alat bagi kelas subordinat dan tertindas untuk tergerak aktif mengubah kondisi mereka sendiri menjadi lebih baik, agar kita menjadi lebih baik sebagai umat manusia. Singkatnya, ini adalah aliran pemikiran dalam pedagogi dan filsafat pendidikan yang golnya bersifat emansipatoris kelas subordinat dan tertindas baik dari sudut pandang intelektual maupun sosial.


Pendidikan Kaum Tertindas

Sampul buku Freire versi Bahasa Indonesia dari Pedagogy of the Oppresed.
Ketika berbicara tentang asal usul pedagogi kritis sebagai sebuah teori, gerakan sosial, dan filsafat, ada dua sumber sangat penting dari hal tersebut. Pertama ialah Mazhab Frankfurt. Mazhab tersebut melalui teori kritisnya. Dan yang kedua adalah buku Pedagogy of the Oppressed—naskah buku versi Indonesia berjudul Pendidikan Kaum Tertindas—yang ditulis Freire pada 1968 . Keduanya adalah patok penanda awal dari pedagogi kritis lahir.

Di buku itu, Paulo Freire menjabarkan konsep-konsep yang kunci seperti yang diterapkan dalam model "bank education" yang telah disinggung sebelumnya, yang banyak menuai kritik oleh para pemikir pedagogi kritis dan pengadvokasi metode pengajaran dialogis dua arah, di mana pendidik dan siswa akan berbagi pengetahuan satu sama lain melalui dialog-dialog. Juga mata pelajaran akademik dijadikan alat analisis realitas sosial dan pemetaan minat masing-masing siswa.

Setelah mengekspos kelemahan model pendidikan tradisional yang bermodel "pendidikan bank", Freire menawarkan alternatif metode pengajaran yang lebih baik, yaitu metode pengajaran dialogis, Freire selanjutnya menjelaskan pentingnya pendidikan sebagai alat untuk mengubah masyarakat menjadi lebih baik. 

Menurut sang filsuf, pendidik harus menjadi tokoh revolusioner yang memiliki tanggung jawab tidak hanya mentransfer pengetahuan kepada para siswa, tetapi juga yang mendorong mereka untuk melakukan refleksi diri, pengembangan diri, kemampuan berpikir kritis, dan kesadaran kelas. 

Pendidikan Kaum Tertindas adalah buku bacaan bernas dan tak lekang waktu bagi siapa pun yang tertarik merenungkan apa hakikat dari pendidikan. Buku fberungsi sebagai panduan bagi para profesional di bidang pedagogi yang di waktu luangnya mempertanyakan metode pengajaran tradisional dan mengupayakan pengembangan ruang pembelajaran demokratis di dalam ruang kelas.


Warisan Kefilsafatan Freire

Paulo Freire adalah salah satu filsuf paling menonjol dalam mendekati dan memahami bidang pendidikan. Ia hingga hari ini merupakan penulis Brasil paling terkenal dan dihormati, pelindung dan penasihat bidang pendidikan di Brasil, dan sosok yang diakui di seluruh dunia sebagai genius pedagogis, Institut Paulo Freire yang berdiri di São Paulo berfungsi sebagai arsip untuk karya-karya ekstensif sang maestro. Lembaga juga mendorong keberlanjutan pemikiran-pemikiran Freire di bidang pendidikan dan banyak menyelenggarakan acara seminar dan kegiatan berkaitan filsafat pendidikan dan metode pengajaran (pedagogi).

Terlepas setuju atau tidak dengan metode pengajaran yang diusulkan oleh para pemikir pedagogi kritis, tak dapat disangkal bahwa kita sebagai spesies untuk lebih berkembang lagi terus menerus harus mengupayakan perbaikan di setiap lini kehidupan sosial kita dan tak terkecuali sistem, sarana, dan metode pengajaran itu sendiri, sebagai rangkaian satu kesatuan tak terpisah. Pendidikan dan metodenya, serta gol dirancang dari pendidikan, merupakan pilar-pilar penting dalam membangun masyarakat. 

Model pendidikan harus selalu melakukan rekoreksi dan memperbarui dirinya agar tidak obselette terhadap tantangan zaman yang dihadapi atau diprediksi akan dihadapi, dan mampu menyelami kebutuhan dari generasi baru ke depan dan keotentikannya. Terbukti bahwa siswa belajar lebih baik ketika pelajaran yang diajarkan dengan pembejaran dua arah atau dialogis, dengan membenturkan pelajaran akademik dengan realitas keseharian, dan minat masing-masing siswa, ketika mereka secara bebas mengungkapkan pendapat dalam mendiskusikan pelajaran dengan membenturkannya terhadap lenyataan sehari-hari sekitar.

Pada intinya dan poin terpenting dari warisan Paulo Freire adalah dorongan kepada kita untuk mempertanyakan segala sesuatu yang kita jumpai, merenungkannya, dan berpikir kritis. Itu tadi adalah sesuatu yang paling berharga bagi kita sebagai manusia, yang menjadi pembeda krusial antara kita dengan hewan. Lebih-lebih di era sekarang di mana kita hidup di era surplus informasi, yang sebagian besarnya mungkin tidak akurat dan hoax.



Postingan populer dari blog ini

Review Buku Harmoni Dengan Segala Kehidupan Karya Eckhart Tolle

Buku ini diperhatikan bab-babnya berisi beberapa topik yang di awal-awal menyampaikan perihal kesaatkinian dan korelasinya adalah pelampuan gagasan yang mana meliputi gagasan waktu dan gagasan keterpisahan perihal ilusi eksistensi atau aku terpisah mutlak dari keberadaan lainnya ( atta ), kemudian topik diakhiri perihal "harmoni dengan segala kehidupan", yang dalam bahasa sederhana saya adalah: yang biasa dikira aku sejatinya adalah elemen tiada terpisah dari alam semesta. Anda adalah alam semesta itu sendiri.  Secara sistematis, bab-bab secara serial mengarahkan pembaca kepada kesadaran—apa yang diistilahkan Tolle sebagai—"ruang internal". Sebab di sanalah sumber keberhidupan dan arah tepat pencarian kebahagiaan, ketenangan batiniah. Itu muncul ketika konsepsi aku padam—tidak membersit pada pikiran Anda. Dengan kata lain, Anda menjalani, melakukan, menghadapi yang saat-kini Anda di situ dengan mode pikiran intuitif. Gaya Kebahasaan Gaya pengungkapan keb...

Orang Ewe dan Agama Kepercayaan Tradisionalnya

Orang Ewe bisa dijumpai di  Ghana, Togo, dan Benin. Semuanya adalah negara-negara di bagian barat benua Afrika. Populasi terbesar mendiami Ghana. Tradisi dan kepercayaanya banyak dipengaruhi kebudayaan orang Akan dan Yoruba. Bahasa ibu orang Ewe termasuk rumpun Gbe. Orang Ewe terbagi menjadi klan-klan, tetapi menurut cerita lisan dikatakan berakar pada garis leluhur yang sama. Sistem kepemilikan properti adalah komunal, tidak menganut kepemilikan properti secara individu. Asesedwa , kesenian kayu menyerupai bangku, sangat esensial dalam tradisi Ewe. Karenanya, hal itu dibuat dan diukir sangat hati-hati. Dalam ukiran benda tersebut kaya narasi mengenai klan bersangkutan. Dalam ritual, Asesedwa merupakan media yang berfungsi sebagai tempat memanggi roh leluhur. Asesedwa. Menurut cerita turun temurun, asal-usul mereka berasal dari Kotu/Ketu atau Amedzowe, terletak di sebelah timur Sungai Niger. Kira-kira pada 1500, leluhur mereka bermigrasi ke Notsie, Togo. Pada mulamya, migrasi merek...

Dua Kelahiran (Sebuah Esai Kontemplatif)

Kita kerap disuguhkan bahwa lahir, menua, kemerosotan fisik atau sakit/penyakitan, dan kemudian kematian adalah Penderitaan ( dukkha ). Bahasa sehari-harinya, kita sering kali tidak rela ketiga peristiwa akibat dari dilahirkan tadi menimpa kita dan orang-orang terdekat. Keempat fenomena alam tadi masuk klasifikasi penderitaan disebakan jasmani.  Ada klasifikasi penderitaan lainnya: bersama yang tak disenangi/dicintai, berpisah ataupun kehilangan yang disenangi/dicintai, dan terakhirnya adalah tidak memeroleh apa yang dihasratingini/dinafsui. Saya istilahkan penderitaan disebabkan oleh kemampuan mengada yang darinya muncul kemampuan mengingini (mengidealkan dunia kita alami). Mohon diingat. Ini adalah tulisan bersifat kontemplatif dan ini rasa-rasanya tak ada dalam pengajaran naratif Buddhisme arus utama. Sekedar hasil perenungan dan proses memperjelas istilah yang bagi penulis cukup membingungkan mulanya   Mengapa Kita kerap Alami Suasana Batin Tak Nyaman Kita secara emos...

Apa Itu 4 Kebenaran Hakiki dalam Buddhisme?

Awal-awal ceramah Guru Gautama setelah pencerahannya berkisar di seputar Empat Kebenaran Hakiki, yang merupakan dasar dari Buddhisme. Salah satu cara untuk memahaminya adalah dengan memandang Kebenaran-Kebenaran tersebut sebagai hipotesis dan Buddhisme sebagai proses pemverifikasiannya untuk menjadi tesis, atau merealisasi hakikat akan Kebenaran-Kebenaran itu. Empat Kebenaran Hakiki Umumnya, arti Kebenaran ini ditangkap secara serampangan. Kebenaran tersebut memberi tahu kita bahwa hidup adalah penderitaan. Penderitaan disebabkan oleh loba (ketamakan), dosa (kualitas-kualitas psikiis mengganggu semisal amarah dan ras frustasi), dan moha (pandangan deluaif). Penderitaan berakhir ketika kita terbebas dari 3 kotoram batim tadi. Caranya dengan mempraktikkan apa yang disebut 4 Kebenaran Beruas Delapan. Secara urutan formalnya, Kebenaran tersebut bunyinya berikut: Benar ada penderitaan atau rasa ridak puas ( dukkha ) Benar ada sumber munculnya penderitaan atau tasa tidak puas ( samudaya...

𝙀𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙣 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖, 𝗔𝗽𝗮 𝙨𝙞𝙝 𝗠𝗮𝗸𝘀𝘂𝗱𝗻𝘆𝗮?

Leluhur mewariskan kita ajian tentang bagaimana menjalani hidup yang damai dalam diri, dituangkan dalam 𝘴𝘢𝘯é𝘱𝘢. Dengan itu kita diminta membuka kitab kita sendiri. Kitab itu adalah batin kita masing-masing untuk 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘯𝘢𝘰𝘯𝘪 dan 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪. Orang Sunda dan orang Kenekes (Badui di Lebak, Banten) menyebut "ngaji diri". 𝘌𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘢𝘥𝘩𝘢 (baca: 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘰𝘥𝘩𝘰) adalah ajaran bagaimana mergondisikan batin tiada gangguan agar kembali tenang, tiadanya semacam lubang dalam ruhani atau psikis atau batin, batin puas dengan yang ada, batin bening dan suci sebagaimana sifat asalinya, atau psikis bagaimana mengalami rasa syukur yang sebenar-benarnya syukur (bukan syukur 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘣é) apapun sedang dijumpai. 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖 "Waspadha" (baca: waspodho) atau 𝘯𝘺𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢'𝘯é adalah hadirnya pikiran pada saat-kini, pada momen yang berlangsung. Kita sering makan tetapi kita tak sepenuhnya benar-benar makan, tidak a𝘸𝘢𝘳𝘦 denga...

Apa Maksud Ungkapan Ikonik "Gott Ist Tot" Nietzsche?

Friedrich Wilhelm Nietzsche lahir dari seorang ayah pendeta Kristen pada 1844. Seperti ayahnya yang meninggal usia sangat muda yaitu 36 tahun, ia meninggal pada usia 56 tahun, setelah menghabiskan sepuluh tahun terakhir hidupnya dalam kegilaan yang disebabkan oleh gangguan mental, pada tahun 1900. Ia menulis beberapa buku mencekam dan menelanjangi cara pandang manusia. Di antara paling elegan ada Thus Spoke Zarathustra (Sabda Zarathustra),   Kelahiran Tragedi , Beyond Good and Evil (Melampaui Kebaikan dan Kejahatan) , Silsilah Moral , dan beberapa lainnya adalah yang populer dan dibaca kalangan luas. Terkenal bukan sekedar karya filosofisnya yang luar biasa, tetapi juga pengaruhnya terhadap ratusan pemikir filsafat, psikologi, dan sastra di era setelahnya. Sesuatu yang tak bersambut dan dihargai semasa hidupnya karena ide-ide dan gaya kefilsafatannya di luar arus ortodoksi, hal yang sangat mengganggunya. Namun, setelah itu, seperti ungkapan terkenalnya, "Beberapa lah...

Apa Maksud Samsara dalam Buddhisme?

Dalam Buddhisme, samsara sering diartikan sebagai roda siklus tumimbal lahir tiada berujung. Atau, anda mungkin menangkapnya sebagai dunia penderitaan dan ketidakpuasan ( dukkha ), lawan dari nibbana  yang mana istilah kedua ini merujuk pada suatu kondisi terbebas dari penderitaan dan siklus tumimbal lahir—atau orang umum mengenal dan menyamakannya dengan reinkarnasi. Secara literal, istilah samsara yang berasal dari Sansekerta, berarti "mengalir" atau "melewati", yang dilustrasikan dengan Roda Kehidupan dan digambarkan dengan Dua Belas Asal Muasal Saling Bertaut Kemengadaan. Pada umumnya dipahami sebagai kondisi terbelenggu oleh keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan, atau terjebak ilusi yang mengaburkan realitas sejati ( Sunyata ). Dalam falsafah Buddhis tradisional, kita terjebak dalam samsara dari satu kehidupan ke lain kehidupan hingga kita menemukan kebangkitan melalui ketercerahan. Namun, pengartian samsara paling baik, dan mungkin pengartiannya dapat dit...

Dua Kebenaran dalam Mahayana Buddhis

Apa itu kenyataan? Kamus memberi tahu kita bahwa kenyataan adalah "kondisi sebagaimana adanya". Dalam Buddhisme Mahayana, kenyataan dijelaskan dalam doktrin Dua Kebenaran. Doktrin ini memberi tahu kita bahwa kenyataan dapat dimengerti baik sebagai kenyataan ultim sekaligus kenyataan konvensional (atau absolut dan relatif). Kebenaran konvensional adalah seperti kita sehari-hari melihat dunia, tempat yang penuh dengan hal-hal dan fenomena-fenomena khas yang beragam. Kenyataan ultim-nya adalah tidak ada hal-hal atau fenomena khas. Mengatakan tidak ada perbedaan hal-hal atau fenomena yang khas bukan berarti tidak ada yang eksis sama sekali, yang jelas tidak ada perbedaan. Yang mutlak absolut adalah  dhammakaya , kemenyeluruhan segala sesuatu dan eksistensi, tiadalah pula tampak. Mendiang Chogyam Trungpa menyebut dhammakaya sebagai "dasar dari ketidaklahiran yang asli." Bingung? Anda banyak temannya  kok . Ini bukan ajaran yang mudah untuk "ditangkap", tetapi s...

Mengapa Banyak Orang Amerika Menganggap Buddhisme Sekedar Filsafat?

Di Asia timur, Buddhis merayakan mangkatnya Buddha dan datangnya pencerahan di akhir bulan Februari. Akan tetapi di kuil  Zen  lokal saya di North Carolina, pencerahan Buddha diperingati selama musim liburan bulan Desember, diisi dengan ceramah singkat bagi anak-anak, penyalaan lilin, dan makan malam ala kadarnya di akhir acara. Selamat datang di Buddhisme, gaya Amerika. Pengaruh Awal Pengaruh Buddhisme dalam kesadaran budaya masyarakat Amerika muncul di akhir-akhir abad ke-19. Zaman ketika gagasan romantis tentang mistisisme Timur nan eksotis memantik imajinasi filsuf dan penyair Amerika, penikmat seni, dan angkatan awal para penstudi religi-religi global. Penyair dengan kecenderungan gaya transendentalis seperti Henry David Thoreau dan Ralph Waldo Emerson mempelajari filsafat Hindu dan Buddha secara mendalam. Juga ada Henry Steel Olcott, yang rela pergi ke Sri Lanka pada 1880, yang melakukan konversi ke Buddhisme dan mendirikan aliran filosofi mistik yang terkena...

Berkenalan Tema-tema Dasar Buddhisme dari Buku Peter D. Santina

Anda akan dapat menemui banyak ragam dikenali dari Buddhisme di tataran kasarnya. Namun ragam rupa tampakan tradisi dan pengajaran Buddhisme, yang seolah berbeda, disamakan oleh tema-tema utama: Empat Kebenaran Ariya dan Delapan Ruasnya, Tiga Ciri Universal Keberadaan, Karma, dan tumimbal lahir (saya pahami sebagai kemampuan mengada (bereksistensi), bukan sekadar ada, yang dalam konteks filsafat Buddhis adalah produk ilusi mental). Jika Anda ingin mengenal apa kiranya yang bermanfaat untuk kesehatan mental kita di dunia yang cepat nan sesak ramai objek-objek merangsang hasrat keinginan kita tanpa sudah, maka buku Dr. Peter D. Santina ini layak. Menyuguhkan dasar-dasar bagi siapa saja yang baru awal-awal mengenal Buddhisme. Santina mengupas dalam pendekatan sekuler. Tak salah kalau bab pertama buku ini diberi tajuk "Agama Buddha: Sebuah Sudut Pandang Modern". Walau di beberapa titik tampak sekilas Santina menyinggung nilai-nilai Buddhisme yang kebanyakannya memenuhi alam pikir...