Langsung ke konten utama

Finlandia, Mengenal Sistem Edukasi Negara Top Ranking

Hakikat puncak pendidikan adalah mendorong anak manusia agar bernilai dan berdaya guna untuk diri sendiri dan kehidupan bersama kelak, menolong dan mengembangkan peradaban, tidak lain tidak bukan, ya kehidupan ini.

Buku Mengenal Sistem Pendidikan Finlandia (KPG: 2019) adalah naskah yang didasarkan pada pengalaman seorang ibu dari dua anak yang berkesempatan menempuh pos doc di Finlandia. Gaya penulisan deskriptif datar seperti catatan diari sederhana.

Karena memasuki Finlandia secara sah, otomatis anak-anaknya memiliki hak setara dengan anak dari orang tua berpaspor Finlandia, untuk mendapat pelayananan pendidikan yang diselenggarakan pemerintah. Juga layanan mendasar lain seperti halnya akses ke layanan kesehatan dan sejenisnya.

Dok. Pribadi.

Diterbitkan oleh KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) pada 2019. Berdimensi 14 cm x 21 cm, dan ketebalan x + 259 hlm, mungkin ini buku layak Anda baca, terutama untuk siapa saja yang menaruh perhatian terhadap sistem layanan dan kualitas pendidikan di negeri kita.

Anda tertarik mengetahui seperti apa sistem pendidikan di Finlandia, maka buku layak dipertimbangkan. Namun sebelum membeli buku, inilah gambaran isi buku secara umum.


Seperti Apa dan Dimana Finlandia?

Mungkin beberapa pembaca masih awam tentang Finlandia, Nah, tak ada salahnya kan Saya mulai dengan memberi gambaran singkat tentang negara ini. Finlandia adalah negara di di Eropa timur dan Atlantik Utara. Secara geopolitik kadang dianggap sebagai bagian Skandinavia, kadang disinonimkan sebagai bangsa Nordik. Bagian timur berbatasan dengan Rusia. Teritorinya lebih luas sekitar 200 km² dibanding Provinsi Lampung. Dengan populasi kisaran 5 jutaan jiwa lebih. Negara ini adalah republik dan sistem pemerintahan dijalankan oleh perdana menteri.

Warna hijau pekat adalah teritori Finlandia (sumber: Wikipedia).
Secara historis, negara ini pernah menjadi bagian dari Kekaisaran Swedia sejak akhir abad ke-12 hingga awal abad ke-18, kemudian menjadi bagian Kekaisaraan Rusia. Peristiwa Bolshevik dan Revolusi Rusia pecah pada 1917 dan selang setahun secara de facto Finlandia, mendeklarasikan kemerdekaan.

Gambaran Umum

ElunikΓ€inen oppiminem, begitu motto pendidikan Finlandia, 'pembelajaran seumur hidup'. Sistem pendidikan inklusif tentunya ditopang oleh suatu prinsip filosofis, itu adalah kesempatan untuk semua. 

Di bagian awal buku menceritakan pengamatan dan pengalaman penulis tentang bagaimana sistem pengadaan sumberdaya guru dan bahkan, melebar dari tema, dunia kerjanya yang butuh semacam sertifikat kompetensi. Juga bagaimana pengelolaannya dan sarana prasarana pendidikan di Finlandia. Bagian ini menceritakan pendidikan bukan hanya di sekolah, tetapi secara umum. Kata "pendidikan" bukan dalam pengertian sempit hanya pergi ke sekolah. Namun juga bagi orang dewasa yang ingin meng-upgrade dan meng-update pengetahuan dan skil di dunia yang berkembang dan terus berubah cepat dalam dunia kerja, hingga pendidikan untuk para pendatang dan pencari suaka.

Bicara sarana, cerita penulis, Finlandia memiliki fasilitas perpustakaan modern dan koleksi lengkap, dari yang berbentuk fisik, audiobook, hingga e-book yang bisa dipinjam sekaligus peralatan elektronik membacanya (ebook reader).

Dengan perpustakaan yang punya koleksi buku luar biasa, juga minta baca yang tinggi, tidak geran apabila angka literasi masyarakat Finlandia 100%, bahkan orang usia lanjut pun masih gemar membaca.

Perpustakaan juga menjadi tempat belajar bagi masyarakat umum dewasa yang berminat meng-upgrade pengetahuan dan skil. Menyediakan pula pembelajaran setingkat jenjang sekolah umum bagi para imigran utamanya pencari suaka (kebanyakan dari negera-negara gagal seperti Somalia, Irak, dan Afganistan) memperoleh pendidikan dasar-dasar bahasa Finlandia dalam "kelas integrasi", selama 1 hingga 2 tahun. Ini sebagai syarat untuk terintegrasi ke dunia kerja Finlandia. Di negeri ini juga sering diadakan kuliah umum yang bisa diikuti oleh khalayak umum. Gratis.

Penyediaan guru sendiri termanajemen dengan baik oleh pemerintah, rata-rata strata 2. Cara mengajarnya mereka lebih ke pendekatan co-teaching.


Yang Patut Diteladani 

Seperti umumnya kita lihat bagaimana aktivitas didik mendidik di Indonesia, di Finlandia juga hampir sama. Namun begitu ada poin-poin menarik dari catatan Dr. Ratih ini. 

Pertama, pendidikan Finlandia tidak menganut sistem kompetisi, tetapi menekankan pada semangat kebersamaan para siswa. Anak-anak dirangsang berkembang sesuai kemampuan diri sendiri secara alamiah, patokannya adalah diri si murid sendiri dan bukan kawan sekelasnya. Juga bukan didorong oleh pemeringkatan atau ranking. Ini adalah pesan bahwa, selain mengembangkan kecerdasan intelektual, kesehatan mental anak-anak tak kalah penting. Terlebih lagi mengingat rapor gelap pendidikan Asia, terutama negara-negara 5 besar PISA (Jepang, Republik Tiongkok, Korsel, dan Singapura) yang full preasure ke siswa dan berbasis kompetisi.

Kedua, pendidikan Finlandia mengusung semangat egalitarian di mana siswa dirangsang untuk mengemukakan isi pikiran dan pendapatnya, juga perwakilan siswa dilibatkan dalam rapat berkala dewan guru. Di jenjang luksio (jenjang menengah atas)  ketika pesta kelulusan, para siswa berparade keliling kota dan membentangkan spanduk yang berisi coretan pujian maupun kritik ke pihak guru dan sekolah. Selain tanda bahwa kelukusan mereka telah dewasa (17 tahun secara hukum di Finlandia), mereka dididik mengutarakan pendapat. Sesuatu tak mungkin terjadi tanpa kedewasaan pihak-pihak stakeholder bahwa kebebasan berpendapat adalah hal penting dan fundamental.

Ketiga, perihal kesuksesan tes PISA Finlandia terutama bidang literasi di mana Finlandia nangkring di puncak pada 2000, 2003, dan 2006 tidak lepas dari sistem yang menopang tercapainya itu. Pemerataan akses dan ketersediaan prasarana memadai, visi yang jelas, support nutrisi bagi siswa di mana makan siang juga disediakan sekolah dengan memerhatikan kebutuhan gizi anak, dan hubungan berlandas truat culture antara pihak pengajar dengan orang tua siswa.

Ilustrasi (finlandeducationshop.fi).
Keempat
, di balik kesuksesan menjadi negara top ranking pendidikan, sistem pendidikan Finlandia memang memiliki dukungan anggaran relatif besar dan sistem yang dirancang baik dan dijalankan oleh orang-orang berintegritas. Terkait perihal integritas ini, Dr. Ratih menceritakan sebagai contoh, siswa di Finlandia pada dasarnya bisa mendapat alat belajar gratis (buku tulis, pen, pensil, penggaris, dll.) di gudang sekolah. Mengambil tanpa diawasi. Siswa bisa mengambil bahkan lebih dari yang ia butuhkan, tetapi karena memang dirancang sedemikian rupa, tak ada siswa mengambil di luar kebutuhannya. Budaya sepintas remeh ini sebenarnya membangun budaya generasi Finlandia sejak dini tentang rasa cukup, kejujuran, dan integritas.

Apa yang Bisa Diambil?

Terlepas di Finlandia juga memiliki kekurangan, sebagaimana penilaian penulis dari perspektifnya, trust culture adalah budaya dalam dunia pendidikan yang perlu saya garis bawahi. Anak-anak bahkan dididik kejujuran sejak pendidikan dasar.

Meski buku membatasi objek ditulis yaitu perihal bagaimana sistem pendidikan Finlandia dibangun, mulai dari pencetakan tenaga didik, iklim selama di kelas, support pemerintah terhadap jalannya pendidikan, akan tetapi pendidikan terutama karakter tidak bisa dilihat sebatas skup sistem itu atau sekedar sejauh batas tembok-tembok sekolah. Namun lebih luas berkaitan bangunan mental kolektif sekelompok manusia itu dan sosiokultur masyarakat itu sendiri. Pengembangan sistem pendidikan di suatu entitas politik (negara) dan kultural seringnya adalah alter ego kesadaran kolektif masyarakat di situ.

Ini adalah catatan seorang ibu selama menempuh pendidikan di Finlandia, penyajian buku adalah deskriptif datar dengan narasi linear. Kadang agak membosankan dibaca. Walau begitu, bagi Anda yang penasaran mengetahui bagaimana sistem dan jalannya pendidikan di negara top ranking penyediaan dan layanan pendidikannya, mengapa tidak membaca buku ini?