Bergenre sci-fi. Dunia futuristik di mana manusia hidup berdampingan dengan robot AI, simulant (hibrid antara transfer kesadaran serta ingatan manusia dengan robot berbasis AI), spiritualitas, dan asmara. Begitulah latar film The Creator (2023).
Sinopsis
Dengan latar waktu 2065, dunia terpolarisasi ke dua kutub, Barat yang anti eksistensi simulant vs. Asia Baru yang pro ko-eksistensi manusia dengan simulant. Perang Dunia.Joshua, seorang agen mata-mata Barat menyusup ke Asia Baru. Ia jatuh cinta dengan perempuan di sana, Maya, yang sejak kecil dibesarkan oleh para simulant. Ayahnya, diceritakan, adalah seorang saintis yang pro ko-eksistensi. Maya mendapat pengetahuan saintifik dan bagaimana menciptakan simulant darinya. Kemampuan yang ia dayagunakan untuk mereplikasi sifat-sifat altruistik DNA suaminya untuk ditanamkan ke kesadaran Alphie, simulant bocah, yang maya proyeksikan sebagai penghenti perang karena kekuatan—atau teknologi(?)—belajar otonom; Kekuatan mengintervensi semua aktivitas jaringan internet dan komputasi. Demi memutus permusuhan Nomad, mega pangkalan militer luar angkasa. Alphie adalah satu-satunya harapan Asia Baru memutarbalikkan arah konflik. Karenanya, Maya, "ibu" si simulant cilik, oleh masyarakat Asia Baru—manusia dan simulant—dipanggil sebagai Nirmata, harfiahnya berarti tak kasat indera. Meskk tak tepat, kadang dipadankan "The Creator", Sang Pencipta.
Ini bagian spiritualnya. Maya ternyata belum mati tetapi tak bisa diharapkan kepulihannya. Selama 5 tahun, sejak penyerangan Nomad ke rumahnya dengan Joshua di Konang, Asia Baru, kondisinya koma dan dirawat di Dian Deng, begitu istilah yang dipakai script dialog.
"She can not return. She can not depart. Death will bring her rebirth," kata biksu simulant yang menjagai Maya yang koma.
Joshua, "Then why You haven't do?"
"It is impossible. We simulant can not harm Nirmata."
"Dian Deng" secara harfiah dapat dipadankan dengan tempat damai nan tenang. Bisa pula dipadankan semacam "Svarga". Visualisasi Dian Deng sepertinya terinspirasi kuil-kuil Buddhis Tibet dan Tibet, di atas puncak perbukitan yang dingin. Digambarkan, para penghuninya, biksunya, adalah para simulant AI.
Keseruan dimulai di hampir di setengah akhir durasi film, ketika kita sudah menangkap alur dan dibuat penasaran oleh intrik-intrik. Dipungkasi oleh bertemunya Maya dalam bentuk simulant dengan Joshua. Maya terlahir kembali dalam raga robot. Mereka bersatu kembali di dalam Nomad yang berkeping jatuh berserak ke Bumi.Penetrasi Sains dan Pertanyaan Etika
Manusia hari ini sedang mempelajari rekayasa genetik lebih jauh, di antaranya anak perusahaan Google yang meneliti reproduksi sel dengan harapan manusia bisa hidup kekal di masa depan—kekal dalam arti nyata. Bisa baca di Sapiens karya Harari. Seorang pakar di Universitas Oxford sedang meneliti, mengembangkan, dan menciptakan suatu prototipe teknologi bagaimana mengunggah kesadaran dan memori ke perangkat non-organik, biaya penelitian ambisius ini jutaan dollar. Belum lagi perusahaan Neuralink-nya Elon Musk. Gambaran usaha-usaha mengalahkan kematian. Mungkin inilah yang menginspirasi ide film. Pelan tapi pasti, manusia dengan penetrasi capaian sains dan teknologi sedikit telah ikut membantu memikul beban yang selama ini dipikul sendiri oleh Tuhan.
Kalau saya pribadi sih memilih kehidupan yang dibatasi kematian ini. Nilai hidup, entah itu dalam bentuk banyak kegagalan atau kesuksesan (kalaupun ada), kebahagiaan ataupun penderitaan/kesedihan, itulah yang memberi kita makna hidup sebagai eksistensi yang dibatasi kematian! Seperti kata Einstein, Sekali hidup yang ini aku puas. Menurut saya, tak ada nilainya kehidupan kekal.
Film menggambarkan imajinatif tentang ko-eksistensi manusia dan semua produk berbasis AI. Mengingat yang terjadi dewasa ini, film mengambil posisi pro bahwa AI bukanlah hal membahayakan bagi eksistensi manusia di depan, sebagaimana kita tahu subjek ini menjadi perdebatan para saintis, filsuf, dan umum. Setidaknya di Barat hari ini.
![]() |
| Maya (Gemma Chan). |
Dari film itu muncul pertanyaan, kalaupun teknologi itu mungkin di masa depan, apakah kesadaran dan memori di suatu perangkat itu saya? (Pertanyaan ini sebangun dengan pertanyaan ke guru saya dulu, jika saya mati dan jasad saya dikubur dan kemudian rusak terurai, jika ruh saya masuk Surga, bagaimana saya melakukan hubungan seks? (Kita tahu bahwa seks adalah hubungan fisiologis—gesekan area-area sensitif kulit dan terjadinya kontraksi di pangkal paha yang kemudian ditransmisikan ke otak dan otak mempersepsikan "O, itu nikmat!"))
Film sendiri memberi pesan posisinya yang tergambar dalam pertemuan Joshua dengan Maya dalam bentuk simulant. Maya, istrinya yang telah mati fisiknya. Joshua itu mencintai Maya-simulant atau ketidalmampuan melepas ingatan-ingatan akan mendiang istrinya?
.jpeg)
