Syalalalal! Eng-ing-eng! Ngabisin waktu bermalas-malas ria dan menyendiri dengan membaca buku tipis tujuhpuluh lima halaman ini. Berjudul Vipassana Bhavana–Meditasi Mengenal Diri (2009), diterbitkan oleh penerbit Suwung. Isinya adalah transkrip dari kata sambutan dan pengenalan sekilas oleh mendiang Romo Hud dan Banthe Paรฑรฑavro Mahathera, Vihara Mendut, Jogja, dalam suatu program retret.
![]() |
Kalau keinginan bertambah, maka masalah pun bertambah. Kalau masalah bertambah, penderitaan juga bertambah. Ini bukan dalil agama (h. 10)
Kalaupun yang anda kejar teraih, menurut pengalaman pribadi, nyatanya kebahagiaan cepat sekali berlalu—apa anda juga ngerasa gitu? Efeknya, kita menambah daftar keinginan dalam wish list, lagi dan lagi, panjang dan semakin puaaanjang suekali. Muncul adiksi atau ketagihan atau kecanduan atau ketergantungan dalam diri kita. Rasa-rasanya ada yang keliru deh. Kita tersesat. Tersesat dalam rimba hasrat keinginan yang, karena rasa ketagihan dan ketergantungan, di kepala kita tak sadar ada gunung keinginan yang semakin menggunung. Ndak bahaya tha?
Kebahagiaan yang benar justru akan tumbuh—begitulah bahasa yang boleh kita pakai—kalau keinginan dikurangi. Bukan dengan menambah keinginan lalu tercapai (h. 9).
Program retret, seperti disampaikan Romo Hud, adalah program untuk peserta berlatih mengenali diri melalui meditasi: untuk berlatih mengenali batin sendiri dan untuk berlatih mengenali serta akrab dengan arus-arus pikiran sendiri. Dan output diharapkan adalah—istilah yang saya gemari—peserta menjadi pawang monyet mahir atau menjadi penunggang keledai handal dan bukan malah keledainya digendong. Capek tau! Hehe.
Di akhir-akhir buku, diletakkan setelah sambutan dan wejangan Banthe Paรฑรฑavaro ke peserta retret, Romo Hud juga memberikan gambaran mengenai metode yang ia perkenalkan, yang oleh beliau dinamai MMD, berbeda dengan meditasi vipassana tradisional.
Adapun Banthe Paรฑรฑavaro Mahathera dalam sambutan dan ceramahnya lebih menekankan pada aspek mengenal pikiran dan pemikiran, kira-kira citta dan cetasika. Di mana darinya ke-aku-an muncul, yaitu suatu anggapan delusif keterpisahan antara si-aku dan bukan-aku. Munculnya anggapan delusif aku terpisah dari yang bukan-aku adalah sumber munculnya penderitaan, ketidakpuasaan, dan raibnya rasa puas batin atau rasa syukur.
Di samping memaparkan bahwa segala hal berubah dalam konteks bahagia yang sebentar kemudian berayun ke sebaliknya dan begitu selalu, beliau juga memaparkan perihal eksistensi hal-hal (termasuk si-aku) yang tiada terpisah atau bergantung satu sama lain, interbeing dalam istilah Thich Nhat Hahn. Pemaham ini kiranya penting, sebagai sarana kita melepas simpul-simpul ketidakpuasan atau penderitaan atau defisit rasa syukur yang selama ini melingkar membelit batin dalam diri.
Kita mengira penderitaan, ketidakpuasan, dan defisit rasa syukur dalam diri problemnya di luar sana. Tidak. Itu dalam diri kita. Banthe Paรฑรฑavaro Mahathera bertanya ke peserta retret dan sekaligus mewejang:
Apakah yang sering kita alami dan kita namakan kebahagiaan itu kekal? Sama sekali tidak; sebentar kesenangan atau kebahagiaan itu lenyap. Demikian juga penderitaan. Kalau kita mengamat-amati—dengan kalimat lain, kalau kita menyadari—saat penderitaan muncul atau saat kebahagiaan muncul, menyadari saja, maka padamlah penderitaan itu, padam. Dan padamlah juga kebahagiaan yang hanya sebentar itu, padam. Pada saat penderitaan padam, pada saat kebahagiaan atau kesenangan padam, timbulllah rasa bahagia yang lebih halus, atau ada yang menjelaskan dengan kalimat: timbullah kesunyian yang mendalam (h. 39).
