Bab pertama buku Pedoman Studi Abhidharma oleh YM Sayādaw U Sīlānanda ini menjelaskan tentang citta (kesadaran) secara lebih lanjut. Terbentang di duaratus empat halaman. Namun, saking perlu beradaptasi dengan kosakata tidak faniliar dalam buku, hampir sepekan ini cuma membaca berulang pada duapuluh tujuh lembar yang secara keseluruhan membahas kesadaran tidak baik (akusala citta). Tantangan tersendiri untuk meraba-raba maksud kata dan, secara keseluruhan, memahami dan memetakan arah maksud penulis. Ada sedikit bagian bukan untuk saya pahami, saya akan melewatkan.
Mungkin ada yang tidak tepat atau terlewatkan dari pembacaan saya. Anda harus membaca tulisan ini dengan sikap skeptis, Sotarah! Bagaimanapun saya adalah pemula yang sedang tertarik "memasuki rimba pengetahuan perihal kesadaran."Pengertian Citta
Saya mengandaikan citta layaknya ruangan kosong tiada apa-apa, citta itu sendiri kemunculannya bersamaan atau tempat bergantungnya atau wadah dari cetasika. Cetasika layaknya pajangan dan isi suatu ruangan. Sekalipun ini kurang begitu persis menggambarkan. Namun saya kira analogi inilah yang paling dekat dan bisa menjadi jembatan sementara menangkap apa itu citta. Citta adalah yang mengetahui, citta yang mengetahui sesuatu.
... Mengetahui berarti hanya kesadaran, kesadaran semata, bahkan bukan perhatian semata yang kita gunakan dalam bimbingan untuk meditasi (h. 95)."
Citta di sini adalah sebagai agen yang mengetahui. Kaitannya dengan cetasika adalah, cetasika adalah sesuatu yang muncul karena adanya stimulan pengondisi munculnya cetasika (pemikiran/perasaan/ingatan) pada citta, karena lima landasan (panca indria) yang aktif melalukan kontak.
"Mengetahui" di sini bukan mengetahui objek di luar sana, melainkan citta mengetahui ada cetasika yang bergantung atau mewadah kepadanya. Mudahnya, pikiran/kesadaran/batin kita selama ini hanya melihat apa yang terpantul di cermin atau terekam di memori otak. Dengan kata lain, bila kita melihat atau mengingat pengalaman melihat batu besar sebesar gajah, kita sebenarnya hanya mengetahui arus atau kelebatan yang terekam/tercerap oleh pikiran (citta dan cetasika). Yang berkelebat di pkkiran kita bukan objek itu sendiri, tetapi kelebatan memori dan kesan. (Tentu terasa berat bukan jika ada apa yang oleh bahasa kita disebut batu benar-benar di dalam kepala kita, bukan? Hehe.)
Kita dituntut jeli dan teliti perihal ini. Ada sedikit paradoks karena sulitnya mengungkapkan Ada apa ketika batin/pikiran hening? Harus diperhatikan baik-baik, sekali lagi, bahwa tanpa cetasika, tiada pula citta.
Klasifikasi Citta
Disalebutkan ada 121 jenis kesadaran (citta). Kita diajak mempelajari klasifikasi dari citta. Disebutkan dalam buku ada—setidaknya seperti saya daftar—lima:
- Kesadaran tidak baik (akusala citta).
- Kesadaran tanpa akar (ahetuka citta).
- Kesadaran indah lingkup indriawi (kāmāvacara sabhama citta).
- Kesadaran lingkup materi-halus (rūpāvacara citta).
- Kesadaran lingkup nonmateri (arūpāvacara citta).
1. Akusala Citta
Istilah akusala citta dapat diartikan kualitas batin yang tidak baik, kualitas kesadaran yang tidak terampil, kualitas batin tidak terlatih, atau kualitas batin tanpa moral. Dikatakan tidak baik karena menghadirkan penderitaan (h. 113) atau—bisa kita istilahkan—kondisi psikologis tidak nyaman. Akusala adalah,
Jenis kesadaran yang disertai oleh keserakahan (lobha), kebencian (dosa) dan delusi (moha) itu disebut tidak baik (h. 99).
Ada duabelas jenis yang bisa diklasifikasikan ke dalam atau di bawah 3 sub di bawah payung akusala: kesadaran yang berakar pada keserakahan (lobhamūla citta), kesadaran yang berakar pada kebencian (dosamūla citta), dan kesadaran yang berakar pada delusi (mohamūla citta).
Lobha selalu disebutkan lebih dahulu sebab semenjak merekahnya kesadaran javana muncul disertai lobha. Kesadaran kualitas lobha ini muncul sejak pertama kali merekah kesadaran javana, mungkin sejenis rasa mawas atau ngeh bahwa " ini aku, aku yang ini dan bukan yang itu atau dia". Kesadaran javana adalah munculnya pelekatan pada kehidupan itu sendiri—mirip insting survival yang salah satu faktornya adalah mengusahakan apa pun yang dikira dapat memastikan kelangsungan keidupannya dan usaha instingtif untuk memastikan segala sesuatu untuk diri pribadi. Yang berkaitan dengan kesadaran javana (dan berbarengan pula berakar pada moha) adalah antipati, kebencian, kemarahan, dan suasana batin sejenis.
Berikutnya yang terklasifikasi dari akusala citta adalah dosamūla citta.
Ketika kalian merasa sedih, kalian meras sedih dengan salah satu citta ini [yaitu domanassa dan paţigha]; ketika kalian merasa tertekan, salah dari dua citta muncul; ketika kalian merasa marah, salah satu dari kedua kesadaran ini muncul. Juga ketika kalian merasa takut, ketika kalian merasa ngeri, salah satu dari kedua kesadaran ini muncul (h. 108).
Adapun yang terakhir adalah mohamula citta. "Moha" arti harfiahnya delusi, karakteristiknya menutupi atau menyelubungi sifat asli segala sesuatu yang sebagaimana adanya, yaitu impermanen, tidak memuaskan, dan seterusnya. Atau bisa dipahami pula, kita melihat hal-hal seolah permanen, terpisah dari lainnya, dan kita susul munculnya persepsi tertentu yang umumnya emosional terhadap apa yang adanya itu.
Pernyataan Penutup
Tidak mudah membaca buku ini sebab ini adalah buku yang menjelaskan buku lain dirujuk! Layaknya buku yang mengometari buku lain (biasa dikenal kitab syarach dalam tradisi pesantren). Akan menjadi pemahaman yang matang bila ada pihak yang bisa menjelaskan dan diskusi. Pasti menyenangkan ya'e.
