Semoga cerita ini membantu kita memahami apa sebenarnya yang selama ini dianggap 𝘢𝘬𝘶. Seperti halnya air hujan, aku adalah akibat dari suatu sebab, satu dari sekian jalinan mata rantai, atau sebuah siklus. Adanya air hujan turun, karena ada sebab sebelumnya. Itu sama seperti halnya kita ada. Kisah saya kutip dari sebuah halaman.
***
Ketika saya masih kecil, seperti banyak anak lain selama beberapa dekade terakhir, saya suka bermain dengan balok Lego. Adikku dan aku akan menghabiskan berjam-jam membuat hal-hal yang berbeda dari itu.
Sampai tahun lalu saya adalah seorang guru sekolah dasar. Saya memiliki sekotak Lego di kelas saya. Jadi, kadang kala ketika anak-anak telah menyelesaikan tugas mereka pada Jumat sore, saya akan membiarkan mereka mengeluarkan Lego dan bermain dengannya. Sangat menyenangkan melihat anak-anak menikmati hal yang persis sama dengan yang saya nikmati ketika saya seusia mereka.
Biasanya ketika salah satu anak selesai membuat sesuatu dari Lego, mereka akan membawanya untuk diperlihatkan kepada saya atau meminta saya untuk datang dan melihatnya. Saya akan selalu bertanya kepada mereka apa itu, dan jawaban yang saya dapatkan bisa sangat bervariasi."Itu pesawat luar angkasa!"
"Ini sebuah rumah!"
"Ini istana besar untuk tempat tinggal anjingku!"
"Itu ular!"
Semoga anda mengerti.
Kemudian, ketika hari sekolah hampir berakhir, pesawat luar angkasa, rumah, istana, dan ular semuanya dibongkar, dan Lego itu dimasukkan kembali ke dalam kotaknya sampai waktu berikutnya.
Pertanyaannya adalah, kemana perginya pesawat luar angkasa saat Lego dikemasi? Kemana perginya rumah, istana, ular itu?
Tentu saja, kita mengerti bahwa pertanyaan ini remeh, karena apa yang disebut pesawat luar angkasa itu tidak pernah benar-benar sebuah pesawat luar angkasa dan rumah itu tidak pernah benar-benar sebuah rumah, tidak pernah benat-benar ada. Pesawat luar angkasa, rumah, dan ular hanyalah kumpulan dan susunan temporer dari balok-balok tadi, tersusun untuk tujuan temporer tertentu, sebelum kembali ke keadaan semulanya: tumpukan balok bata plastik terpisah. Komponen yang membuat pesawat ruang angkasa kali ini mungkin akan menjadi bagian dari robot atau pesawat lain kali.
Kosong, tiada konsep dan tiada pola apa-apa, adalah apa yang terlihat apa adanya dari balok tadi dan jernih sekali ketika melihatnya dari segi model Lego.
Mengapa Sulit Menyadari Ilusi akan Apa Sejatinya Si-Aku
Sama seperti halnya Lego, aku terdiri dari banyak komponen, berbeda-beda. Beberapa di antaranya cocok satu sama lain, dan beberapa di antaranya mungkin kurang dan tidak cocok. Berbagai molekul yang membentuk tubuh saya karena siklusnya untuk berbentuk seperti saat ini, tetapi akan tiba waktunya ketika itu semua dimasukkan kembali ke dalam kotak—atau lebih persisnya dimasukkan peti mati dan dikubur—dan penyusun tubuh saya akan terpecah. Terurai. Kembali menjadi bagian-bagian komponen semula. Bagian-bagian itu kemudian akan bertransformasi menjadi komposisi struktur lain.Ringkasnya, saya tidak berbeda dengan model Lego. Anda juga tidak. Kita hanyalah sebagai kumpulan sementara komponen, berwujud sebagaimana kita karena suatu sebab. Komponen penyusun kita suatu hari akan kembali berpencar, pecah, atau terurai.
Ke mana kita pergi ketika kita mati? Pertanyaannya menjadi masuk akal selain menanyakan ke mana perginya pesawat luar angkasa Lego saat dibongkar atau diurai. Lego akan selalu menjadi seperti asal mulanya. Penyusun kita akan kembali sebagaimana mulanya, sekumpulan molekul.
Hanya saja, kondisi yang menyebabkan molekul-molekul itu terikat dengan cara tertentu yang membentuk manusia telah berubah, dan sekarang molekul-molekul itu tersusun secara berbeda.
Kebenaran akan pesawat ruang angkasa Lego adalah bahwa ia tidak pergi ke mana-mana, karena mulanya memang tidak pernah benar-benar ada, hanya susunan kumpulan balok Lego, dan berwujud begitu untuk sementara waktu.
Dengan cara yang sama, saat kita mati, kita tidak ke mana-mana, sejauh saya melihat apa adanya. Kita bertransformasi, tumimbal lahir. Saya akan mati dan itu akan menjadi akhir dari susunan temporer molekul-molekul yang dianggap sebagai aku, diri saya. Tidaklah apa, "aku" ternyata tidak sejati nyatanya, selalu bertransformasi.
Kita semua adalah bagian dari kotak besar tempat balok Lego, yang untuk saat ini tersusun sementara sebagai makhluk hidup, seperti halnya kesementaraan pesawat luar angkasa Lego, sebelum akhirnya kita kembali ke kotak lagi. Itulah salah satu kebenaran besar kehidupan. Kondisi yang terikat kesementaraan.

