Langsung ke konten utama

5 Ide Filsuf tentang Kematian

Kepastian dari dilahirkan adalah mati. Kematian adalah keniscayaan tidak dapat disingkiri oleh perjalanan setiap yang disebut hidup. Entah kita mengartikan sebagai kelegaan membebaskan atau ancaman menakutkan tergantung bagaimana kita mempersepsikannya.

Pemakaman di Desa Trunyan, Kintamani, Kab. Bangli, di Bali.
Ironi eksistensi adalah bahwa kita dilahirkan untuk mengalami proses perubahan: menua, sakit, dan mati. Kita mengerti pada akhirnya hidup ini akan berakhir dan kesadaran eksistensial ini berhenti. Meski kita juga tidak tahu persisnya kapan dan bagaimana proses atau cara kematian kita itu. Pun kita buta tentang apa yang terjadi setelah kita mati.

Kematian menjadi subjek penting dalam perenungan lintas generasi manusia. Banyak ide tentang kematian kita dengar, baik yang disampaikan oleh para klerik agama, terdengar dalam balutan mitologi di setiap lingkaran kebudayaan, ataupun para filsuf. Kematian  menjadi subjek penting kefilsafatan. Tulisan ini menyuguhkan beberapa ide para filsuf tentang kematian. Mulai dari Sokrates, Seneca, Kierkergaard, Schopenhauer, hingga Nietzsche.


1/ Romantisasi Kekekalan Roh ala Sokrates

Sokrates (sekitar 470 SM–399 SM) mendobrak pemikiran di zamannya. Pandangan filosofisnya ini menyebabkan ia diganjar hukuman mati oleh otoritas Athena atas kesalahan karena gagal mengimani tuhan-tuhan yang resmi diakui negara dan tuduhan bidat karena memperkenalkan tuhan baru. Ini dianggap tindakan kejahatan serius.

Ilustrasi lukisan Seneca melakukan mortum et libertum.

Sokrates menerima hukuman tanpa gentar dan mengeluh, mengejutkan para pengikutnya. Ia meyakini perilakunya selama menjalani hidup sudah sejalan dengan ide yang lebih tinggi tentang nilai-nilai moral universal dan keadilan, dan kekekalan roh manusia. Secara umum, kekekalan roh adalah poin sangat penting dari kefilsafatannya, menempati posisi sentral dari cara pandang kontemplatifnya tentang kematian itu sendiri. 

Menurut Sokrates, kekekalan dapat dibuktikan dengan argumen bahwa kehidupan adalah siklus. Ini juga menjadi alas opini ketuhanan yang ia cetuskan. Kematian hanyalah jalan alamiah untuk membebaskan roh dari belenggu dan mengantarkannya menuju kesejatian dan kebajikan abadi. Dengan kata lain, kematian dipandang oleh Sokrates sebagai terbebasnya roh dan oleh karenanya kematian harus dihadapi dengan tegar dan tabah. Itu hanya mungkin selama Anda sudah menjalani hidup dengan cara terbaik dan paling patut yang dimungkinkan.

Ide tentang roh yang tidak mati atau rusak atau kekal Sokrates ini mengajak kita menengok kenyataan bahwa manusia berkemampuan mengingat, memproses ingatan, dan kemudian berimajinasi bahkan tentang hal-hal yang belum sekalipun pernah mereka alami atau jumpai dalam kenyataan.

Pandangan Sokrates terhadap kematian ini melintasi zaman dan gemanya dapat dilacak di kepercayaan-kepercayaan yang muncul dari kebudayaan masyarakat sekitar Yunani, misalnyร  kepercayaan-keoercayaan Semitik. Pandangan Sokrates adalah seni menghibur diri dari kenyataan dunia dan diri yang terus menerus berubah tanpa jeda menuju kefanaan yang purna dan kemudian sirna.


2/ Berdamai dengan Kematian ala Seneca

Lucius Annaeus Seneca (3 SM – 65 SM) adalah politikus dan senator, rentenir, dan sekaligus seorang Stoik. Bukan perilakunya patut dikenang, melainkan petuah-petuahnya di hari-hari akhir hayatnya ketika menghadapi hukuman mortum et libertum (menyudahi kehidupan sendiri) yang patut direnungkan. Ia hidup di masa Kaisar Nero yang mana sang kaisar bisa melakukan apa saja ke siapa saja, termasuk menyiksa dan menghukum mati. Lebih memilih mati daripada hidup disiksa adalah kewajaran pada zaman itu. Zaman-lah yang mewajarkan, sebagai pilihan terakhir rasional melawan penderitaan yang bisa saja dihadirkan penguasa.

Lukisan "The Death of Seneca" karya Paul Robin.
Sebagian lagi terlalu mencintai hidupnya di mana di bawah penguasa tiran, mereka ini adalah orang-orang yang paling akan menderita bila waktunya menghadapi ketidakpastian mengancam dan kematian. Seneca sendiri tidak mengutuk kehidupan sepenuhnya. 

Seneca adalah Stoik. Alam pikir Stoik kental akan 2 ide utama, yaitu determinisme kosmis dan kebebasan rasio mempersepsi dan merespon hal-hal eksternal. Bahwa kematian adalah termasuk keniscayaan kosmis dan karenanya di luar kendali kita. Kita harus menyelaraskan diri dengan itu. Dalam arti menerima kematian sebagai keniscayaan bagi apa saja yang disebut hidup. Kematian bukanlah kebalikan dari kehidupan, tetapi bagian tiada terpisah dari hidup, demikianlah jalannya kosmos. 

Menolak kematian dan hasrat untuk hidup selama mungkin adalah insting alamiah mendasar kita dan motif di balik mengapa umumnya orang menabukan membicarakan kematian. Penabuan dan ketidakpedulian pada yang pasti terjadi kepada kita akan menghadirkan benturan kejiwaan kepada kita lebih besar ketika menghadapi kematian atau ditinggal mati sanak famili, dan masa-masa sulit lainnya. Ketidakakraban kita dengan keniscayaan ini sering membuat terjerembab pada keputusasaan dan penderitaan.

Cara menyiasatinya menurut Seneca adalah mengakrabkan diri dengan kematian agar gejolak rasa takut dan ngeri bisa diminimalisir, dan tumbuhnya kerelaan dan ketabahan karena telah mengakrabi jauh sebelum kita menghadapi momen kematian, ataupun mengalami momen ditinggal mati.

Berdamai dengan kematian adalah kebajikan dan mendorong perilaku orang menjadi patut dalam mengisi kehidupannya dan kerelaan diri menerima keniscayaan alam bekerja pada diri kita.


3/ Arti Penting Kematian dalam Eksistensialisme Kierkegaard

Sรธren Kierkegaard  (1813 – 1850) adalah filsuf Denmark, pendiri eksistensialisme modern, dan salah satu filsuf masyhur pada zamannya. Banyak karyanya berkutat membahas agama dan segala sesuatu yang berkaitan dengan itu: teologi, etika, dan aspek psikologisnya. 

Ketika kematian menjadi subjek kefilsafatannya, posisi Kierkegaard jelas tentang kematian, tersirat dalam pandangannya tentang eksistensi hidup seseorang dan jalannya hidup secara keseluruhan. 

Sรธren Kierkegaard.
Menurutnya, kematian adalah sesuatu yang pasti tapi tidak pasti. Sesuatu yang kita semua tahu pada akhirnya akan menerjang kita kapan saja. Ketidakpastian kapan tibanya dan penerimaan perasaan kita terhadapnya, itulah yang menuntun kita untuk memilih cara kita bereksistensi, menjalani hidup: apakah memilih mengejar sensasi-sensasi menyenangkan sebanyak yang kita bisa raih dan kumpulkan, apakah mencari-cari sesuatu yang membantu kita menyangkal limitasi hidup (kematian) itu sendiri, menciptakan kematian itu sendiri dalam hidup kita, atau berupaya membuat dunia kita menjadi tempat yang lebih baik. Pilihan jalan kita memaknai hidup dipandu oleh tahu kita akan limitasi hidup yang pada akhirnya menerjang. Dan sebelum itu tiba, kita harus menentukan pilihan bagaimana hidup kita dijalani, untuk makna.

Tentang kematian, Kierkegaard adalah seorang realis yang kontemplasi kefilsafatannya sangat menekankan pada sisi keunikan penerimaan rasa kita terhadap kematian sebagai diri kita sendiri. Kierkegaard menyuguhkan sudut pandang menarik dan membuka mata kita bukan hanya mati itu pasti dari segala hal yang bereksistensi, tetapi juga ketidakpastian kapan tibanya. Artinya, apa pun yang ingin kita lakukan dalam hidup harus kita kerjakan segera karena kita tidak tahu persis kapan mati. Mungkin inilah kesempatan terakhir kita untuk melakukannya.


4/ Hidup adalah Rangkaian Kematian ala Schopenhauer

Fakta, kita menjalani hidup ini tiada hentinya menghendaki atau mengingini sesuatu. Karenanya takdir kita adalah mati, entah mati oleh kesedihan karena tidak meraih apa yang dingini atau datangnya rasa hambar dan bosan sekalipun sudah meraih yang diingini. 

Arthur Schopenhauer.
Dalam kontemplasi Arthur Schopenhauer (1788 – 1860), hidup berarti keinginan akan sesuatu dan keinginan berarti penderitaan. Dengan mengadopsi logika demikian, kita dapat melepaskan diri dari kekangan penderitaan dengan memperhatikan keinginan-keinginan yang muncul. Termasuk keinginan tentu saja keinginan untuk hidup. Dengan kata lain, kita sebenarnya hidup dalam alam keinginan akan hal-hal, dimana hal-hal yang kita ingini itu sebenarnya bisa kita alami dan akses di kehidupan yang nyata senyatanya. Hanya hidup yang nyata itulah yang tersedia untuk kita dan dapat diakses.

Adapun kematian menurut Schopenhauer adalah terminal akhir hidup. Hanya dalam kematian, kita terbebas dari siklus penderitaan tiada ujung. Perihal ini sering disalahpahami sebagai anjuran untuk bunuh diri. Walau Schopenhauer menegaskan bahwa kematian adalah penidakan terakhir terhadap keinginan, ia juga menyatakan bahwa keinginan untuk mengakhiri hidup itu juga termasuk keinginan itu sendiri. Dalam kasus seseorang yang mengakhiri hidupnya sebenarnya tidak ingin mengakhiri hidupnya. Yang menimpa mereka adalah keinginan untuk mengalami hal-hal dalam hidupnya yang tidak dapat mereka akses pada saat itu. Penidakan terhadap keinginan adalah untuk mengatasi keinginan. Artinya, kita menidak untuk dikalahkan oleh penderitaan yang ditimbulkannya. 

Dengan memahami kematian sebagai terminal akhir dan tujuan hidup, seseorang juga dapat menarik pemahaman bahwa hidup ini adalah gerak laju tanpa jeda menuju kematian. Manusia terus bergerak semakin dekat dengan pelepasan akhir dari siklus kehendak/keinginan yang menderitakan. Pandangan Schopenhauer terhadap kematian mirip dengan perspektif Socrates, karena keduanya memahami kematian sebagai pelepasan final yang pada dasarnya baik, namun tidak mendukung bunuh diri sebagai cara untuk mencapai pelepasan tersebut lebih cepat.

Melegakan mengetahui bahwa kepastian paling pasti  yang tak terpisah dari status hidup kita adalah bahwa penderitaan akan berakhir. Sementara melalui penidakan terhadap hasrat  keinginan, kita langkah demi langkah bergerak menuju titik final pelepasan keinginan.


5/ Mati tunduk pada Kebebasan ala Nietzsche

Terkenal karena pandangan filosofi yang subversif dan kontroversial, Friedrich Wilhelm Nietzsche (1844 – 1900) menjadi salah satu filsuf paling populer dan digandrungi. Bersama Kierkegaard, ia adalah pelopor Eksistensialisme. Namun ia memiliki titik terminal filosofisnya sangat berbeda. 

Tujuan dari karya Nietzsche dengan jelas ditetapkan oleh penulisnya sendiri, untuk menentang dan menyibak setiap mitos dan khayalan yang mengaburkan pemahaman umat manusia tentang dunia dan untuk memungkinkan mereka untuk hidup dengan sukacita. 

Friedrich Wilhelm Nietzsche.
Menurut sang filsuf, tujuan kita sebagai manusia seharusnya adalah mencapai kebebasan mutlak, yang  mana dari hal itu kita bebas menentukan nilai, prinsip, dan tujuan bagi hidup kita sendiri. Nietzsche menyatakan bahwa seperti halnya kita harus memiliki kebebasan untuk menentukan tujuan hidup kita sendiri, kita juga mempunyai kebebasan untuk menentukan kematian kita sendiri. Kematian bukanlah malapetaka yang harus kita tunggu atau sebagai pembebasan terakhir, tetapi tunduk pada tindakan bebas yang dipilih. Seseorang yang telah menemukan kebebasannya dapat menentukan tujuannya sendiri, karenanya harus dapat mengklaim kematian bagi dirinya sendiri, tidak berlama-lama di dunia ini setelah misinya di dunia tercapai. Nietzsche mendudukkan kematian sebagai titik akhir dari rangkaian kisah luar biasa yang kapan pun mereka ingin, maka ia bebas memutuskan itu.

Pandangan Nietzsche tentang kematian mengundang kontroversi meluas, karena memang tersurat mendorong bunuh diri, sebagai bagian yang tunduk di bawah gaung kebebasan mutlak.

Namun harus dicatat bahwa Nietzsche tidak pernah dengan tegas memberi anjuran ke kita untuk bunuh diri sebagai cara melarikan diri dari kehidupan atau lari dari masalah apa pun yang kita alami dalam kehidupan. Sebaliknya, ia menegaskan bahwa kita harus mengupayakan dan menjalani hidup yang penuh kepuasan sesuai dengan pandangan kita sendiri terhadap dunia. Dan kematian tidak pantas dipaksakan kepada kita.

Nietzsche menunjukkan kepada kita bahwa kita memiliki kekuatan untuk tidak takut pada kematian dan menjadikannya sebagai bagian dari kisah gemilang kehidupan.



Postingan populer dari blog ini

Review Buku Harmoni Dengan Segala Kehidupan Karya Eckhart Tolle

Buku ini diperhatikan bab-babnya berisi beberapa topik yang di awal-awal menyampaikan perihal kesaatkinian dan korelasinya adalah pelampuan gagasan yang mana meliputi gagasan waktu dan gagasan keterpisahan perihal ilusi eksistensi atau aku terpisah mutlak dari keberadaan lainnya ( atta ), kemudian topik diakhiri perihal "harmoni dengan segala kehidupan", yang dalam bahasa sederhana saya adalah: yang biasa dikira aku sejatinya adalah elemen tiada terpisah dari alam semesta. Anda adalah alam semesta itu sendiri.  Secara sistematis, bab-bab secara serial mengarahkan pembaca kepada kesadaran—apa yang diistilahkan Tolle sebagai—"ruang internal". Sebab di sanalah sumber keberhidupan dan arah tepat pencarian kebahagiaan, ketenangan batiniah. Itu muncul ketika konsepsi aku padam—tidak membersit pada pikiran Anda. Dengan kata lain, Anda menjalani, melakukan, menghadapi yang saat-kini Anda di situ dengan mode pikiran intuitif. Gaya Kebahasaan Gaya pengungkapan keb...

Orang Ewe dan Agama Kepercayaan Tradisionalnya

Orang Ewe bisa dijumpai di  Ghana, Togo, dan Benin. Semuanya adalah negara-negara di bagian barat benua Afrika. Populasi terbesar mendiami Ghana. Tradisi dan kepercayaanya banyak dipengaruhi kebudayaan orang Akan dan Yoruba. Bahasa ibu orang Ewe termasuk rumpun Gbe. Orang Ewe terbagi menjadi klan-klan, tetapi menurut cerita lisan dikatakan berakar pada garis leluhur yang sama. Sistem kepemilikan properti adalah komunal, tidak menganut kepemilikan properti secara individu. Asesedwa , kesenian kayu menyerupai bangku, sangat esensial dalam tradisi Ewe. Karenanya, hal itu dibuat dan diukir sangat hati-hati. Dalam ukiran benda tersebut kaya narasi mengenai klan bersangkutan. Dalam ritual, Asesedwa merupakan media yang berfungsi sebagai tempat memanggi roh leluhur. Asesedwa. Menurut cerita turun temurun, asal-usul mereka berasal dari Kotu/Ketu atau Amedzowe, terletak di sebelah timur Sungai Niger. Kira-kira pada 1500, leluhur mereka bermigrasi ke Notsie, Togo. Pada mulamya, migrasi merek...

Dua Kelahiran (Sebuah Esai Kontemplatif)

Kita kerap disuguhkan bahwa lahir, menua, kemerosotan fisik atau sakit/penyakitan, dan kemudian kematian adalah Penderitaan ( dukkha ). Bahasa sehari-harinya, kita sering kali tidak rela ketiga peristiwa akibat dari dilahirkan tadi menimpa kita dan orang-orang terdekat. Keempat fenomena alam tadi masuk klasifikasi penderitaan disebakan jasmani.  Ada klasifikasi penderitaan lainnya: bersama yang tak disenangi/dicintai, berpisah ataupun kehilangan yang disenangi/dicintai, dan terakhirnya adalah tidak memeroleh apa yang dihasratingini/dinafsui. Saya istilahkan penderitaan disebabkan oleh kemampuan mengada yang darinya muncul kemampuan mengingini (mengidealkan dunia kita alami). Mohon diingat. Ini adalah tulisan bersifat kontemplatif dan ini rasa-rasanya tak ada dalam pengajaran naratif Buddhisme arus utama. Sekedar hasil perenungan dan proses memperjelas istilah yang bagi penulis cukup membingungkan mulanya   Mengapa Kita kerap Alami Suasana Batin Tak Nyaman Kita secara emos...

Apa Itu 4 Kebenaran Hakiki dalam Buddhisme?

Awal-awal ceramah Guru Gautama setelah pencerahannya berkisar di seputar Empat Kebenaran Hakiki, yang merupakan dasar dari Buddhisme. Salah satu cara untuk memahaminya adalah dengan memandang Kebenaran-Kebenaran tersebut sebagai hipotesis dan Buddhisme sebagai proses pemverifikasiannya untuk menjadi tesis, atau merealisasi hakikat akan Kebenaran-Kebenaran itu. Empat Kebenaran Hakiki Umumnya, arti Kebenaran ini ditangkap secara serampangan. Kebenaran tersebut memberi tahu kita bahwa hidup adalah penderitaan. Penderitaan disebabkan oleh loba (ketamakan), dosa (kualitas-kualitas psikiis mengganggu semisal amarah dan ras frustasi), dan moha (pandangan deluaif). Penderitaan berakhir ketika kita terbebas dari 3 kotoram batim tadi. Caranya dengan mempraktikkan apa yang disebut 4 Kebenaran Beruas Delapan. Secara urutan formalnya, Kebenaran tersebut bunyinya berikut: Benar ada penderitaan atau rasa ridak puas ( dukkha ) Benar ada sumber munculnya penderitaan atau tasa tidak puas ( samudaya...

๐™€๐™ก๐™ž๐™ฃ๐™œ ๐™ก๐™–๐™ฃ ๐™’๐™–๐™จ๐™ฅ๐™–๐™™๐™๐™–, ๐—”๐—ฝ๐—ฎ ๐™จ๐™ž๐™ ๐— ๐—ฎ๐—ธ๐˜€๐˜‚๐—ฑ๐—ป๐˜†๐—ฎ?

Leluhur mewariskan kita ajian tentang bagaimana menjalani hidup yang damai dalam diri, dituangkan dalam ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏรฉ๐˜ฑ๐˜ข. Dengan itu kita diminta membuka kitab kita sendiri. Kitab itu adalah batin kita masing-masing untuk ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ช dan ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช. Orang Sunda dan orang Kenekes (Badui di Lebak, Banten) menyebut "ngaji diri". ๐˜Œ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ด๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ฉ๐˜ข (baca: ๐˜ธ๐˜ข๐˜ด๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ฉ๐˜ฐ) adalah ajaran bagaimana mergondisikan batin tiada gangguan agar kembali tenang, tiadanya semacam lubang dalam ruhani atau psikis atau batin, batin puas dengan yang ada, batin bening dan suci sebagaimana sifat asalinya, atau psikis bagaimana mengalami rasa syukur yang sebenar-benarnya syukur (bukan syukur ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃรฉ) apapun sedang dijumpai. ๐™’๐™–๐™จ๐™ฅ๐™–๐™™๐™๐™– "Waspadha" (baca: waspodho) atau ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข'๐˜ฏรฉ adalah hadirnya pikiran pada saat-kini, pada momen yang berlangsung. Kita sering makan tetapi kita tak sepenuhnya benar-benar makan, tidak a๐˜ธ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ denga...

Apa Maksud Ungkapan Ikonik "Gott Ist Tot" Nietzsche?

Friedrich Wilhelm Nietzsche lahir dari seorang ayah pendeta Kristen pada 1844. Seperti ayahnya yang meninggal usia sangat muda yaitu 36 tahun, ia meninggal pada usia 56 tahun, setelah menghabiskan sepuluh tahun terakhir hidupnya dalam kegilaan yang disebabkan oleh gangguan mental, pada tahun 1900. Ia menulis beberapa buku mencekam dan menelanjangi cara pandang manusia. Di antara paling elegan ada Thus Spoke Zarathustra (Sabda Zarathustra),   Kelahiran Tragedi , Beyond Good and Evil (Melampaui Kebaikan dan Kejahatan) , Silsilah Moral , dan beberapa lainnya adalah yang populer dan dibaca kalangan luas. Terkenal bukan sekedar karya filosofisnya yang luar biasa, tetapi juga pengaruhnya terhadap ratusan pemikir filsafat, psikologi, dan sastra di era setelahnya. Sesuatu yang tak bersambut dan dihargai semasa hidupnya karena ide-ide dan gaya kefilsafatannya di luar arus ortodoksi, hal yang sangat mengganggunya. Namun, setelah itu, seperti ungkapan terkenalnya, "Beberapa lah...

Apa Maksud Samsara dalam Buddhisme?

Dalam Buddhisme, samsara sering diartikan sebagai roda siklus tumimbal lahir tiada berujung. Atau, anda mungkin menangkapnya sebagai dunia penderitaan dan ketidakpuasan ( dukkha ), lawan dari nibbana  yang mana istilah kedua ini merujuk pada suatu kondisi terbebas dari penderitaan dan siklus tumimbal lahir—atau orang umum mengenal dan menyamakannya dengan reinkarnasi. Secara literal, istilah samsara yang berasal dari Sansekerta, berarti "mengalir" atau "melewati", yang dilustrasikan dengan Roda Kehidupan dan digambarkan dengan Dua Belas Asal Muasal Saling Bertaut Kemengadaan. Pada umumnya dipahami sebagai kondisi terbelenggu oleh keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan, atau terjebak ilusi yang mengaburkan realitas sejati ( Sunyata ). Dalam falsafah Buddhis tradisional, kita terjebak dalam samsara dari satu kehidupan ke lain kehidupan hingga kita menemukan kebangkitan melalui ketercerahan. Namun, pengartian samsara paling baik, dan mungkin pengartiannya dapat dit...

Dua Kebenaran dalam Mahayana Buddhis

Apa itu kenyataan? Kamus memberi tahu kita bahwa kenyataan adalah "kondisi sebagaimana adanya". Dalam Buddhisme Mahayana, kenyataan dijelaskan dalam doktrin Dua Kebenaran. Doktrin ini memberi tahu kita bahwa kenyataan dapat dimengerti baik sebagai kenyataan ultim sekaligus kenyataan konvensional (atau absolut dan relatif). Kebenaran konvensional adalah seperti kita sehari-hari melihat dunia, tempat yang penuh dengan hal-hal dan fenomena-fenomena khas yang beragam. Kenyataan ultim-nya adalah tidak ada hal-hal atau fenomena khas. Mengatakan tidak ada perbedaan hal-hal atau fenomena yang khas bukan berarti tidak ada yang eksis sama sekali, yang jelas tidak ada perbedaan. Yang mutlak absolut adalah  dhammakaya , kemenyeluruhan segala sesuatu dan eksistensi, tiadalah pula tampak. Mendiang Chogyam Trungpa menyebut dhammakaya sebagai "dasar dari ketidaklahiran yang asli." Bingung? Anda banyak temannya  kok . Ini bukan ajaran yang mudah untuk "ditangkap", tetapi s...

Mengapa Banyak Orang Amerika Menganggap Buddhisme Sekedar Filsafat?

Di Asia timur, Buddhis merayakan mangkatnya Buddha dan datangnya pencerahan di akhir bulan Februari. Akan tetapi di kuil  Zen  lokal saya di North Carolina, pencerahan Buddha diperingati selama musim liburan bulan Desember, diisi dengan ceramah singkat bagi anak-anak, penyalaan lilin, dan makan malam ala kadarnya di akhir acara. Selamat datang di Buddhisme, gaya Amerika. Pengaruh Awal Pengaruh Buddhisme dalam kesadaran budaya masyarakat Amerika muncul di akhir-akhir abad ke-19. Zaman ketika gagasan romantis tentang mistisisme Timur nan eksotis memantik imajinasi filsuf dan penyair Amerika, penikmat seni, dan angkatan awal para penstudi religi-religi global. Penyair dengan kecenderungan gaya transendentalis seperti Henry David Thoreau dan Ralph Waldo Emerson mempelajari filsafat Hindu dan Buddha secara mendalam. Juga ada Henry Steel Olcott, yang rela pergi ke Sri Lanka pada 1880, yang melakukan konversi ke Buddhisme dan mendirikan aliran filosofi mistik yang terkena...

Berkenalan Tema-tema Dasar Buddhisme dari Buku Peter D. Santina

Anda akan dapat menemui banyak ragam dikenali dari Buddhisme di tataran kasarnya. Namun ragam rupa tampakan tradisi dan pengajaran Buddhisme, yang seolah berbeda, disamakan oleh tema-tema utama: Empat Kebenaran Ariya dan Delapan Ruasnya, Tiga Ciri Universal Keberadaan, Karma, dan tumimbal lahir (saya pahami sebagai kemampuan mengada (bereksistensi), bukan sekadar ada, yang dalam konteks filsafat Buddhis adalah produk ilusi mental). Jika Anda ingin mengenal apa kiranya yang bermanfaat untuk kesehatan mental kita di dunia yang cepat nan sesak ramai objek-objek merangsang hasrat keinginan kita tanpa sudah, maka buku Dr. Peter D. Santina ini layak. Menyuguhkan dasar-dasar bagi siapa saja yang baru awal-awal mengenal Buddhisme. Santina mengupas dalam pendekatan sekuler. Tak salah kalau bab pertama buku ini diberi tajuk "Agama Buddha: Sebuah Sudut Pandang Modern". Walau di beberapa titik tampak sekilas Santina menyinggung nilai-nilai Buddhisme yang kebanyakannya memenuhi alam pikir...