Theodor W. Adorno adalah salah satu filsuf dan kritikus sosial terkemuka di abad ke-20. Ia begitu tersohor di Jerman pascaperang, menelurkan banyak karya yang meliputi berbagai bidang. Mulai sosiologi, psikologi, dan musikologi. Selain berkecimpung di dunia akademis, ia bahkan menggubah musiknya sendiri. Tema pokok dalam seluruh keryanya adalah mengenai begitu banyaknya penderitaan manusia, khususnya yang disebabkan oleh struktur sosial masyarakat modern yang rusak (corrupt). Berikut sekilas mengenai beberapa fakta seputar kehidupannya sang filsuf.
Lahir dan Tumbuh di Jerman
Adorno menghabiskan tigapuluh tahun pertama hidupnya di Jerman. Lahir pada 1903 dengan nama lengkap Theodor Ludwig Wiesengrund. Ia adalah anak laki-laki semata wayang dari keluarga kaya. Ayahnya Oscar Alexander Wiesengrund adalah pedagang anggur dari keturunan Jewis dan ibunya Calvelli-Adorno della Piana adalah penyanyi klasik berbakat berdarah Korsika.Sebagai remaja yang mulai matang, Adorno belajar filsafat di Universitas Johann Wolfgang Goethe, Frankfurt. Setelah lulus, ia menjadi dosen di sana selama beberapa tahun pada awal 1930-an. Sayang, posisinya tidak bertahan lama, ia diusir oleh NAZI bersama dengan beberapa sejawatnya yang notabene berdarah keturunan Jewis. Diskriminasi yang begitu kuay ini memaksa Adorno mengubah nama belakangnya, mengadopsi nama keluarga ayahnya menjadi inisial W, dan meletakkan nama keluarga dari garis ibunya, Adorno.
Hampir Saja menjadi Komposer
Ibu Adorno adalah penyanyi ternama yang pernah tampil di Istana Kekaisaran Wina. Pengaruhnya terhadap putranya sangat besar. Berkat dorongam motivasi dari ibunya, Adorno belajar bermain piano dan memainkan karya Beethoven saat usia 12 tahun, menjadi pemain biola ulung, dan mulai menggubah ka4ya musiknya sendiri sejak usia muda. Adorno bahkan sempat belajar komposisi musik, dan melanjutkan belajar musik dengan biola dan piano hingga dewasa bersama beberapa musisi kenamaan Jerman. Sekalipun pada akhirnya minat Adorno pada filsafat dan sosiologi mengalahkan karier musiknya, musik tetap menjadi latar belakang tak terpisah bagi beberapa artikel, ulasan, dan esainya yang paling terkenal.
Adorno Kerap Berpindah-pindah di Awal Kiprah
Pada 1934, Adorno melarikan diri dari Jerman. Mula-mula ia pergi ke Inggris, menghabiskan waktu di sana sebagai mahasiswa doktoral di Universitas Oxford. Kemudian, ia mengajar di Universitas Princeton di New York, sebelum alhirñya ia menjadi salah satu direktur Proyek Penelitian tentang Diskriminasi Sosial di Universitas California. Saat tinggal di AS. Adorno menulis beberapa karya terpentingnya, termasuk Dialectic of Enlightenment (bersama Max Horkheimer) (1944), Philosophy of New Music (1949), dan Minima Moralia, yang rampung pada 1949, diterbitkan pada 1951.
Ia Meneguhkan Namanya di Frankfurt
Pada 1949, Adorno kembali ke Frankfurt dan menduduki jabatan tetap di jurusan filsafat Universitas Frankfurt. Selama bekerja di sana, Adorno menjadi anggota penting Institut Penelitian Sosial bersama dengan para pemikir Jewis-Jerman terkemuka lainnya, termasuk Max Horkheimer, Friedrich Pollock, Herbert Marcuse, dan Leo Lowenthal. Kelompok akademisi perintis ini dipersatukan oleh komitmen mereka terhadap Marxisme dan kecaman mereka terhadap teror brutal fasisme dan antisemitisme yang menjadi pemicu PD II.
Tokoh Perintis dalam Teori Kritis Mazhab Frankfurt
Bersama rekan-rekannya di Frankfurt, Adorno memimpin Sekolah Teori Kritis Frankfurt. Dalam perannya ini, Adorno menyumbang kontribusi yang bertahan lama bagi filsafat abad ke-20 melalui beberapa karya teks terpenting dari generasinya. Yang paling menonjol dan berpengaruh di antaranya adalah The Authoritarian Personality (1950), berisi kajian sepanjang seribu halaman tentang asal-usul fasisme di masyarakat, yang menjelaskan bagaimana kepribadian "otoriter" sering kali menjadi akar penyebab lahirnya fasisme.
Sebagai kekuatan pinggir, teks karya Adorno menantang gagasan fasisme. Sebaliknya menyatakan bahwa fasisme berada di pusat pengalaman modern. Ia secara khusus menyoroti cara kepribadian "otoriter" dapat salah menilai hal-hal yang tidak diketahui atau tidak dapat diprediksi, dan membagi kelompok menjadi "kita" dan "mereka", dan menganggap bahwa kelompok "kita" sendiri lebih unggul. Ia menulis: "intoleransi terhadap ambiguitas adalah tanda kepribadian otoriter." Pada bulan Juli 2003, kota Frankfurt mendirikan sebuah monumen untuk Adorno dalam rangka memperingati akan nilao penting teks karya Adorno tadi dan banyak teks lainnya, berula meja tulis dan kursi dalam kubus kaca, dirancang oleh seniman Rusia, Vadim Zakharov.