Ini adalah gambar bagus untuk penjelasan "batin suci". Candi secara kultural diasosiasikan oleh umumnya pikiran kita sebagai tempat yang dihormati (saya menghindari istilah "suci, keramat atau sakral" karena asosiasi makna kata itu bagi umumnya orang) secara budaya, sekalipun dalam konteks melihat apa adanya bahwa batu di sini ataupun di sana semisal di Arab sana, mau dipahat begini dan begitu atau disusun sedemikian rupa, adalah batu apa adanya batu.
Ketika umumnya persepsi pikiran kita terhadap tempat yang dihormati dalam konteks budaya, ketika menurut anggapan norma sosial ada perbuatan tak pantas, umumnya kita akan bereaksi. Ini gambar dari batin yang terkondisi oleh peristiwa dijumpai, yang menjadi stimulus untuk munculnya kondisi tertentu batin kita, seperti marah atau peluapan kekecewaan ke pelaku, misalnya.
Ketika apa pun anda jumpai di kehidupan ini tidak lagi mengondisikan batinmu menjadi sedih dan bahagia, ataupun mengondisikan munculnya sensasi/rasa senang dan benci. Itu artinya batin tetap suci, tiada apapun kejadian dan peristiwa mengondisikan batinmu bergeser dari asalinya yang geming, hening, bening, diam, dan suci.
Sebagai awam atau perumahtangga, seringkali batin kita terkondisi oleh silih ganti hal dan peristiwa di luaran. Kita sering secara alamiah bereaksi balik tak bermanfaat terhadap peristiwa yang menstimulasi munculnya rasa pada batin kita. Dengan berlatih sadar terhadap apa saja yang muncul dan lenyap dalam batin kita, entah itu pemikiran dan perasaan, maka batin kita tetap tenang dan damai, bening dan hening, serta suci.
Demikian menurut perenungan saya. Semoga anda dan keluarga bahagia. Semoga semua mahluk berbahagia.
