Diangkat dari sejarah ekspedisi militer Romawi memperluas tanah taklukan ke utara, Pulau Inggris. Bergenre kolosal dan drama. Mengambil pusat tokoh Quintus Dias, wakil komandan yang bertugas di perbatasan utara Kekaisaran Romawi, yang selamat dari diburu orang-orang Pict yang mendiami utara pulau Inggris. Bangsa yang sulit ditaklukkan oleh legion Kekaisar Romawi.
Plot cerita film dibangun di atas beberapa gagasan dasar: rasa kehilangan dan api amarah membalas dendam, tidak ada orang atau bangsa mana saja mau ditindas, kesetiakawanan dan penghianatan, dan menjadi orang terbuang.Masing-masing pihak dari dua kelompok yang berperang ini dan terutama dari sisi orang Pict yang hendak ditaklukkan melawan karena dendam untuk rasa kehilangan atas orang-orang terkasih. Penghianatan, lebih-lebih, tergambar dari beberapa adegan. Dan menjadi orang terbuang dan inilah yang menyatukan Ariane seorang gadis bangsa Pict yang diasingkan bangsanya sendiri karena dituduh penyihir dengan Dias yang lari dari kaum yang selama ini ia banggakan, bangsa Romawi, yang ingin meracunnya.
Atas nama kebanggaan menjadi prajurit, pergi ke dunia antah berantah demi tugas negara memperluas kekuasaan, meregang nyawa meninggalkan istri dan anak, sebuah kebanggaan semu.
Film juga menyuguhkan gambaran watak dominan politikus yang hanya peduli diri dan kepentingannya daripada orang sebangsanya. Digambarkan oleh sosok senator yang ditugaskan menjadi gubernur Romawi untuk wilayah Inggirs oleh Hadrianus, kaisar Romawi. Keputusan ceroboh senator telah membuat kerugian lebih jauh legion kekaisaran dan tumpasnya batalion IX yang dipimpin Jendral Titus Flavius Virliius. Hasil kecerobohan keputusan politik Gubernur Agricola pula yang menggerakkan dirinya untuk menyingkirkan Dias yang susah payah lepas dari diburu orang-orang Pict. Harapannya aib karir politiknya dapat dihapus.Dalam kacaunya pertempuran, saat tanah di bawah kakimu bersimbah darah, muntah-muntahan, air kencing, dan ceceran isi perut kawan dan musuh, mudah berdoa kepada Dewa untuk keselamatan. Namun prajurit-lah yang bertempur, dan prajurit-lah yang mati. Sementara Dewa tidak pernah mengizinkan kakinya basah. (Quintus Dias)
Dari penangkapan perspektif saya, plot cerita tidak menyuguhkan mana pihak antagonis dan mana yang protagonis yang klise. Ini adalah film realis, menggambarkan sisi manusia yang tidak hitam putih.