Beberapa kali orang berkata, dilakoni karo ndungo. Saya jawab bahwa saya tidak berdoa. Orang awam sudah pasti merasa aneh. Saya maklum. Berdoa memang tak ada gunanya. Berdoa hanya menjauhkan kita dari mengenali kotoran batin kita sendiri, apalagi mengikisnya. Karena hanya dengan cara itu penderitaan dan ketidakpuasan kita menyusut dan lenyap.
Selama orang berdoa menghadapi tekanan kehidupan dan umumnya efek susulan berupa munculnya tekanan batin bagi awam itu, selamanya ia tak akan tahu dari mana sumber munculnya ketidakpuasan atau penderitaan. Ia akan hidup dalam kebingungan dan dibuat pontang-panting oleh batinnya yang penuh debu kotoran. Jika sudah tahu, mengapa berdoa?
Klasifikasi Doa
Kita dapat mengklasifikasikan doa dalam dua ranah. Pertama ranah budaya dan kedua ranah psikologis.
Yang pertama merujuk rumusan kata-kata khusus (mantra) dan bersifat formal serta baku yang harus dibaca pada bagian tertentu ritus ajeg dan berkala. Ini adalah doa dalam klasifikasi budaya.
Klasifikasi kedua adalah doa sebagai sarana pelarian psikologis, sarana penipuan diri dengan cara mencari penghiburan sesaat menghadapi kenyataan yang dipersepsikan psikis atau batin tidak enak dan tidak membahagiakan.
Ini alasan mengapa orang awam kalau terhimpit keadaan atau dalam titik nadir, ia berubah religius, sregep melakukan pemujaan sosok ajaib yang diielukan, ibadah. Kita bisa maklum karena alam bawah sadarnya ia berharap hidupnya diubah sesuai hasrat keinginannya, dengan sregep melakukan ritual itu. Anda perhatikan saja di lingkungan sekitar, orang yang tertekan pasti begitu.
Tanyakan ke diri sendiri secara jujur, memangnya hal begitu bisa mengubah kenyataan?
Cara kerja doa sebagai pelarian psikologis adalah seseorang itu secara mental mengandaikan atau berkhayal bahwa akan ada yang menyelesaikan semua masalahnya ataupun memberi semua hasrat keinginannya (atau apa yang dinafsui) kalau ia berdoa, merapalkan hasrat keinginannya berjuntai-juntai.
Memang, berdoa dalam konteks pelarian psikologis ini untuk waktu sebentar menghadirkan rasa tenang. Itu sebentar saja. Sebentar saja. Hanya sebentar saja. Temporal. Tekanan ya akan balik lagi. Sebab, tak ada permasalahan riil dan profan selesai dengan metode penyikapan khayali.
Mekanisme artifisial menjaga kesejahteraan ruhani atau batin atau kejiwaan atau psikologis yang demikian tadi, yaitu berdoa pada sosok imajinasi pikiran anda, tak mungkin bisa menyelesaikan masalah riil kehidupan yang anda hadapi.
Alasan pula mengapa sekalipun berdoa habis-habisan seseorang yang tertekan keadaan ataupun hasrat keinginannya belum tercapai, kejiwaannya terganggu yang umumnya dicirikan gampang meledak-ledak. Saya menjumpai beberapa orang mengalami gangguan ruhaniah semacam ini. Saya tolong salah satunya dengan mencarikan solusi. Sekarang saya perhatikan emosionalnya stabil. Ia tak menderita lagi.
Tentu saja frekuensi berdoanya meminta masalah yang dihadapi tak lagi menyita pikiran dan mengganggu kondisi psikisnya, intensitas dan durasi berdoa dan beribadahnya sudah pasti menyusut. (Sampai sini, apa masih belum paham perkataan saya bahwa manusia adalah mahluk hasrat? Tuhan berbagai versi yang dikenal awam itu sebenarnya alter ego dari ragam rupa hasrat manusia tadi.)
Semua situasi yang kita hadapi hanya butuh dihadapi dengan, pertama-tama, batin tenang. Baru kemudian anda mampu berpikir jernih menemukan solusi dan eksekusi solusinya.
Nasihat Banthe Paññavaro bahwa batin yang tenang artinya Anda menyelesaikan sebagian masalah.
Manusia layaknya Anak Kecil di Alam Semesta
Di semesta ini, manusia yang dibingungkan hasratnya dan pontang-panting karena kedunguannya karena tak mengenal batinnya sendiri, adalah seperti anak kecil yang butuh sosok ayah. Tuhan berbagai versi A, B, C, dan seterusnya adalah gambaran kondisi psikologis kekanak-kanakan hampir semua manusia. Anak-anak secara kejiwaan butuh pelindung, penolong, dan pemberi semua hasrat diingini. Inilah gambaran manusia-manusia dengan atribut hasratnya (nafsu) mendapati diri berada di semesta ini, yang mana semesta sendiri tak bertugas menyenangkan dan membahagiakannya; alam semesta punya kaidahnya sendiri.
Wajar, menjadi manusia dewasa yang sebenar-benarnya dewasa itu bukan perkara gampang, Tuan-tuan. Seperti kata Sang Buddha bahwa diri sendiri adalah penolong dan pelindung diri sendiri. Caranya ya berlatih mengamati batin sendiri, awas terhadap semua kelebatan pikiran dan hasrat. Dari sinilah hasrat keinginan muncul, kamu harus eling akan silih ganti yang muncul itu. Gejolaknya, dengan eling, akan padam secara sendirinya.
Apakah kamu termasuk yang kekanak-kanakan atau yang telah dewasa di tengah semesta ini?
Batin yang Kotor
Lalu, mengapa berdoa tak akan mengikis kotoran batin? Ketika seseorang tertekan atau mengingini sesuatu, maka kejiwaan atau kondisi psikologis orang itu terganggu, Masalah ruhaniah ini sumbernya ada dalam dirimu, kejiwaanmu. Obatnya ya tersedia dalam dirimu sendiri, bukan di luar diri. Carilah yang bisa menolongmu ke dalam dirimu sendiri dan bukan ke luar sana, di luar batinmu. Kamu tak akan ketemu selain menyelami diri sendiri, batin sendiri. Aneka versi tuhan atau aneka ragam tuhan artifisial rekaan pikiran manusia-manusia itu juga tak akan pernah bisa menolongmu menembusi kebahagiaan hakiki.

Komentar
Posting Komentar