Apakah pikiran bisa diam hening, tanpa ada aktivitas apapun? Saya renungkan tidak bisa. Kita tak bisa mengartikan ungkapan itu secara harfiah.
Pikiran, sebuah produk dari kerja otak kita selain memberi reaksi emosional (merasakan) pengalaman-pengalaman dijumpai, pasti ada aktivitas sepanjang hidup seseorang. Bahkan saat tidur, otak Anda tetap beraktivitas. Sepertinya halnya jantung yang tidak pernah berhenti berdenyut selama hidup.
Secara general kerja otak meliputi berpikir, berimajinasi, mememori, mengabstraksi dan menciptakan konsep, menganalisis, menduga dan meyakini, bereaksi secara emosional terhadap stimulus seperti suka dan benci, dan bahkan yang memerintah jaringan otot anggota badan kita bergerak tertentu adalah kerja otak. Bahkan berkedip. Bahkan ketika otak Anda dalam mode sleep.***
Apakah pikiran atau persisnya otak bisa diam atau hening, tiada apapun aktivitas berpikir? Kita harus ingat bahwa mungkin saja kita memiliki pemaknaan berbeda ketika mendengar kata "berpikir" atau "pikiran". Kita samakan dahulu perspesi terhadap kata tersebut dalam coretan ini.
Pikiran dalam konteks tulisan ini meliputi semua yang muncul dalam pikiran Anda kala terjaga. Seperti ketika Anda membaca tulisan ini, yang muncul dalam lesadaran Anda adalah pikiran. Arus-arus yang hanya Anda sendiri tahu persisnya apa yang sedang muncul di latar pikiran, yang selama ini membuat Anda terbenam dan terseret ke dalam aktivitasnya... Karena Anda tak pernah sadar (eling) terhadap arus yang sedang muncul pada latar pikiran Anda sendiri.
***
Pikiran hening bukanlah pikiran yang tiada aktivitas, namun pikiran yang mindful. Pikiran yang hadir sepenuhnya pada kesekarangan, intuitif, melebur dengan keseluruhan keberadaan atau padamnya dualitas. Pada mode intuitif ini segala konsep aku (atta), eksistensi dan pikiran mode mengenali dengan membuat pembedaan (atau pikiran dualistik) dan konsepsi waktu padam dari kesadaran atau pikiran kita. Kita secara batin atau psikis mengalami kemutlakan, nyawijii atau manunggal, atau transenden. Dicirikan munculnya antusiasme dan keberhidupan, tubuh ringan menjalani apa yang sekarang menjadi intensi.
Mindful atau mental hadir sepenuhnya pada kesekarangan-lah, kita mengerti Ajaran terdalam Sang Buddha. Habits pikiran yang perlu dilatih dan ditumbuhkan melalui latihan meditasi. Baik meditasi pernafasan, meditasi jalan, atau—versi saya acap jalani—meditasi nyetek kopi. Kebahagiaan mendalam, kepuasan atau mengalami syukur sebenar-benarnya aplikasi syukur, atau ayem. Kita punya banyak istilah untuk pengalaman nyawiji inj.
Demikian catatan kecil pengalaman saya pribadi mengenal dan terbantu oleh Ajaran Mahaguru Buddha Sakyamuni, keluar dari kekusutan mental dan susah membuat diam pikiran sendiri. Aho sukham.
Komentar
Posting Komentar