Kreativitas itu adalah bentuk perilaku individual yang dipengaruhi oleh budaya.
![]() |
| Dokumen pribadi. |
Alur singkatnya, budaya membentuk struktur psikologis individu yang kemudian menentukan sikap dan tindakan seorang individu.
Kreativitas dan Kesesuaian, Aspek Emosional, dan Sikap Individualistik
Topik utama dalam buku Kwang jika saya telaah seksama sebenarnya berkaitan “kreativitas unggul” para penemu barat, dengan mengacu pada jumlah penghargaan Nobel bidang sains yang lebih banyak diterima saintis barat. Kemudian bertanya mengapa orang Asia tidak sekreatif mereka, meski tak dipungkiri bahwa Kwang juga acapkali membahas kreativitas secara umum. Misalnya, orang Asia juga kreatif di bidang kuliner.
Penemu adalah seseorang yang memiliki motivasi dan cara pandang yang tidak lazim dalam melihat dunia, karena proses berpikir yang tidak lazim pula. Karena kepribadiannya yang kuat, dia berusaha untuk membentuk seluruh masyarakat agar sesuai pandangannya tentang kehidupan.
Kita sejauh ini mengenali bahwa ciri individu kreatif adalah aversif, otonom, terbuka dan dominan, berpikir di luar konvensi, dan kritis dalam memandang dan mengupayakan perubahan suatu fenomena yang dikehendaki. Tak ayal, hubungan penemu dengan masyarakat paling mendasar tercermin dalam konflik antara kreativitas dan kesesuaian.
Istilah “kesesuaian” merujuk pada suatu perubahan sikap atau pendapat seseorang karena adanya tekanan nyata, atau sekedar bayangan akan hal itu, dari satu atau sekelompok orang. Dari perspektif invidu seseorang, kesesuaian bisa dipahami hilangnya sifat aversi dan hilangnya minat mengembangkan kreativitas. Orang yang berkecenderungan memilih kesesuaian dan persetujuan komunitasnya, dikatakan Kwang, cenderung tidak membuka diri untuk mengekspos tantangan-tantangan kreatif.
Berpikir kritis adalah proses pemecahan masalah yang tidak sebatas pada kebiasaan atau konvensi, tapi sikap bebas dan tidak biasa pada hal-hal yang tampak normal dan alamiah. Sikap terbuka pada pengalaman baru erat kaitannya dengan berpikir kritis.
Sikap semacam tadi tidak cukup banyak dimiliki oleh individu yang suka mencari kesesuaian dan bergantung pada kelompok, dan memperlihatkan kebutuhan psikologis yang besar pada persetujuan sosial.... Mereka malah menutupi apa yang mereka pikirkan dan rasakan.
Sifat menutupi diri ini membatasi kapasitas kreatif dan berpikir kritis.
Sikap Termotivasi dan "Psikologi Flow"
Sederhananya, wajah adalah ukuran bagi pengakuan reputasi sosial yang diberikan masyarakat kepada seorang individu.
Kepedulian tehadap wajah begitu umum dalam masyarakat Asia. Kwang kemudian bertanya retoris: Mengapa orang Asia bersikap begitu peduli dengan wajah? Individu timur dengan organisasi masyarakatnya yang rapat cenderung seperti itu, karena individu lain di masyarakatnya memiliki kecenderungan akan hirarki dan status sebagai pertimbangan. Orang Asia peka terhadap posisi sosial yang dimilikinya dalam hirarki status. Karena itu mereka, dijelaskan Kwang,
... berusaha untuk mendaki tangga sosioekonomi dengan mendapatkan benda-benda material di masyarakatnya yang akan 'mengangkat' wajahnya di komunitasnya.
Tingkat yang begitu tinggi pada wajah bagi kecenderungan orang Asia ini mengindikasikan jika sikap, keinginan, dan tindakannya dikendalikan dari luar diri, itu mencegahnya dari bersikap kreatif. Cara individu menemukan makna diri dan meraih nyaman semacam ini dikenal dengan sebutan contingent self-esteem.
Kasus Jepang dan Tiongkok
Individu timur yang organisasi masyarakatnya kolektivistik dan cenderung berbaur rapat, secara psikologis menjadikan individu di timur interpendensi.
Tidak ada yang membantah jika orang Jepang telah mengukir kemenangan di bidang industri yang diakui oleh seluruh dunia. Namun, semua itu diraih bukan melalui penemuan ilmiah independen dan terobosan teknologi, tetapi melalui peminjaman efesien atau adaptasi cerdas dari teknologi barat, yaitu mensintensiskan temuan-temuan independen yang sudah ada, untuk melahirkan teknologi hibrida. Hal itu difasilitasi oleh kecenderungan orang Jepang yang bekerja dan belajar secara kelompok.
![]() |
| Ng Aik Kwang. |
Beralih ke kasus orang Tiongkok. Kurangnya sentuhan kreatif juga tampak pada orang Tiongkok. Sebagai contoh, dalam buku The Who's Who of Nobel Prize Winners 1901–1995, hanya ada tiga entri orang Tiongkok. Tiga saintis Tiongkok tadi menghasilkan kontribusinya saat masih bekerja dan tinggal di barat. Terkait kecenderungan orang-orang awamnya, ada sebuah riset melaporkan hasil penelitiannya bahwa orang Hongkong-Tiongkok "kelancaran kreativitas" lebih rendah dibanding pelajar Amerika.
Dalam penelitian lain, responden Tiongkok lebih unggul dalam pemikiran kovergen dibanding responden Amerika, yang mana yang disebut terakhir ini lebih unggul dalam hal berpikir divergen. Terkait temuan riset ini, seorang pakar psikologi kognisi asli Tiongkok menyalahkan pada standar peraturan sosial timur yang begitu akut dan pervasif, karenanya menghalangi kefasihan verbal dan ideasional.
Pernyataan pakar tadi tentang keakutan dan pervasivitas budaya juga didukung observasi anekdotal. Salah satu bukti, misalnya, dalam hal kecenderungan untuk terlibat dan bersikap patuh atau kontra—sebagai pantulan dari watak individu di masyarakat hirarkis atau egaliter—terhadap otoritas politik konvensional. Individu muda dari Australia memiliki perbedaan kecenderungan sikap dibanding Singapura. (Sementara responden Hongkong-Tiongkok memiliki kesamaaan kecenderungan dengan Autralia terkait "sikap beda" terhadap otoritas, sebut Kwang.)
Empat dekade berkuasanya pemerintahan People's Action Party (PAP) terus menerus telah menumbuhkan "sikap politik Konfusianisme" di kalangan generasi muda Singapura. Ketika Mr. Goh Cok Tong dan para pemimpin PAP yang sebenarnya ingin membentuk asosiasi politik mahasiswa di kampus, dengan cara mengungkapkan retorika bahwa "mereka tidak harus menghormati orang yang lebih tua", para mahasiswa apolitis terhadap pernyataan si Perdana Menteri.
Berkebalikannya, mahasiswa di Australia menanggapi kebijakan politik pemerintahan baru di bawah PM John Howard yang mengumumkan ingin melakukan pemotongan anggaran pendidikan bagi pendidikan tinggi, mahasiswa di universitas Queensland di Australia, tempat Kwang kuliah, membentangkan banner yang dengan eksplisit menuliskan: Leher Howard-lah yang seharusnya dipotong!


Komentar
Posting Komentar