Langsung ke konten utama

Kreativitas, Sikap Individualistik, dan Sikap Termotivasi: Rangkuman Bab IV dan V Buku Ng Aik Kwang

Dalam bab kedua dan ketiga, kita telah menelaah kreativitas dan hubungan antara struktur masyarakat dengan sikap dan tindakan kreatif individu. Individu timur yang in group berbeda dengan individu barat yang out group secara psikologis dalam hal representasi makna diri, yang mana makna diri dan kenyamanan diri berdasar otonomi lebih memacu kreativitas. Kecenderungan pemaknaan diri dan kenyamanan di barat ini disebut self-esteem. Tak dipungkiri, sebagaimana Kwang nyatakan,
Kreativitas itu adalah bentuk perilaku individual yang dipengaruhi oleh budaya.
Dokumen pribadi.

Alur singkatnya, budaya membentuk struktur psikologis individu yang kemudian menentukan sikap dan tindakan seorang individu.
Kreativitas dan Kesesuaian, Aspek Emosional, dan Sikap Individualistik

Topik utama dalam buku Kwang jika saya telaah seksama sebenarnya berkaitan “kreativitas unggul” para penemu barat, dengan mengacu pada jumlah penghargaan Nobel bidang sains yang lebih banyak diterima saintis barat. Kemudian bertanya mengapa orang Asia tidak sekreatif mereka, meski tak dipungkiri bahwa Kwang juga acapkali membahas kreativitas secara umum. Misalnya, orang Asia juga kreatif di bidang kuliner. 

Penemu adalah seseorang yang memiliki motivasi dan cara pandang yang tidak lazim dalam melihat dunia, karena proses berpikir yang tidak lazim pula. Karena kepribadiannya yang kuat, dia berusaha untuk membentuk seluruh masyarakat agar sesuai pandangannya tentang kehidupan.

Kita sejauh ini mengenali bahwa ciri individu kreatif adalah aversif, otonom, terbuka dan dominan, berpikir di luar konvensi, dan kritis dalam memandang dan mengupayakan perubahan suatu fenomena yang dikehendaki. Tak ayal, hubungan penemu dengan masyarakat paling mendasar tercermin dalam konflik antara kreativitas dan kesesuaian.

Istilah “kesesuaian” merujuk pada suatu perubahan sikap atau pendapat seseorang karena adanya tekanan nyata, atau sekedar bayangan akan hal itu, dari satu atau sekelompok orang. Dari perspektif invidu seseorang, kesesuaian bisa dipahami hilangnya sifat aversi dan hilangnya minat mengembangkan kreativitas. Orang yang berkecenderungan memilih kesesuaian dan persetujuan komunitasnya, dikatakan Kwang, cenderung tidak membuka diri untuk mengekspos tantangan-tantangan kreatif.

Telah dibuktikan penelitian bahwa antara kreativitas dengan kesesuaian saling bertolak belakang atau saling antipati. Karenanya, kreativitas bukan semata berkaitan aspek intelektual yang mengindikasikan berpikir kritis, tetapi juga melibatkan aspek emosional individu itu.
Berpikir kritis adalah proses pemecahan masalah yang tidak sebatas pada kebiasaan atau konvensi, tapi sikap bebas dan tidak biasa pada hal-hal yang tampak normal dan alamiah. Sikap terbuka pada pengalaman baru erat kaitannya dengan berpikir kritis.
Selain itu, meliputi pula skeptisisme intelektual, semangat, objektivitas, fleksibilitas, kemampuan mengambil keputusan. Dikatakan Kwang, bahwa
Sikap semacam tadi tidak cukup banyak dimiliki oleh individu yang suka mencari kesesuaian dan bergantung pada kelompok, dan memperlihatkan kebutuhan psikologis yang besar pada persetujuan sosial.... Mereka malah menutupi apa yang mereka pikirkan dan rasakan.

Sifat menutupi diri ini membatasi kapasitas kreatif dan berpikir kritis.

Itu bertolak belakang dengan individu yang cenderung menekankan otonomi diri dan spontan, meski berisiko mendapat ketidaksetujuan atau penolakan kelompoknya dan bisa memantik konflik. Kecenderungan individu yang menekankan otonomi diri lebih bersikap dan bertindak individualistik, meski individualistik tidak selalu berkorelasi sebaliknya.

Kecenderungan individualistik tadi disebabkan, sebagiannya, karena pengadopsian pola pikir baru dalam memahami, menyikapi, dan upaya pemecahan atas suatu hal yang dihadapi.


Sikap Termotivasi dan "Psikologi Flow"

Selain perilaku berpikir kritis yang dalam tindakan terrepresentasi sikap individualistik, kreativitas juga merupakan perilaku termotivasi. Perilaku termotivasi, dikatakan Kwang, dipengaruhi budaya. Spesifiknya, individu kreatif cenderung terlibat secara intelektual dan emosional pada event atau aktivitas yang sedang dikerjakannya itu. Kwang mengistilahkannya fokus-pada-tugas. Dalam bahasa sederhana sehari-hari kita: tertantang dan menikmati hal yang sedang dikerjakan, bukan merasa sebagai beban.

Individu yang menikmati apa yang dikerjakannya, secara psikologis menganggap dirinya sebagai sumber dari sebuah tindakan. Akibatnya, ia mengalami inner sense, yaitu kebebasan psikologis untuk mencipta, secara emosi internal juga tertantang dan termotivasi atas event yang dihadapinya itu.

Individu yang secara psikologis mengalami hal-hal tadi, oleh Csikzentmihalyi berdasar riset empirisnya yang dibukukan dalam Creativity: Flows and the Psychology of Creativity and Invention, disebut dengan "pengalaman psikologi mengalir" atau "psikologi flow". Istilah flow dipilih oleh Csikzentmihalyi untuk menggambarkan pengalaman menyenangkan yang optimal karena banyak responden sering menggambarkan kondisi di mana semuanya berjalan lancar seperti hampir otomatis, tanpa merasa ada beban kerja berat meski dalam fokus dan kesadaran tinggi.

Sebaliknya, individu yang tidak kreatif, dijelaskan Kwang, adalah individu yang fokus-pada-ego. Lanjutnya, individu semacam ini banyak ditemukan di masyarakat yang terorganisir rapat, kolektivistik, dan hirarkis.

Masyarakat yang fokus-pada-ego lebih memedulikan—seperti istilah yang dipakai Kwan—"wajah", yaitu mengacu pada reputasi sosial sebagai tolak ukur kesuksesan. Menarik statmen Kwang:
Sederhananya, wajah adalah ukuran bagi pengakuan reputasi sosial yang diberikan masyarakat kepada seorang individu.

Kepedulian tehadap wajah begitu umum dalam masyarakat Asia. Kwang kemudian bertanya retoris: Mengapa orang Asia bersikap begitu peduli dengan wajah? Individu timur dengan organisasi masyarakatnya yang rapat cenderung seperti itu, karena individu lain di masyarakatnya memiliki kecenderungan akan hirarki dan status sebagai pertimbangan. Orang Asia peka terhadap posisi sosial yang dimilikinya dalam hirarki status. Karena itu mereka, dijelaskan Kwang,

... berusaha untuk mendaki tangga sosioekonomi dengan mendapatkan benda-benda material di masyarakatnya yang akan 'mengangkat' wajahnya di komunitasnya.

Tingkat yang begitu tinggi pada wajah bagi kecenderungan orang Asia ini mengindikasikan jika sikap, keinginan, dan tindakannya dikendalikan dari luar diri, itu mencegahnya dari bersikap kreatif. Cara individu menemukan makna diri dan meraih nyaman semacam ini dikenal dengan sebutan contingent self-esteem. 


Kasus Jepang dan Tiongkok

Individu timur yang organisasi masyarakatnya kolektivistik dan cenderung berbaur rapat, secara psikologis menjadikan individu di timur interpendensi.

Tidak ada yang membantah jika orang Jepang telah mengukir kemenangan di bidang industri yang diakui oleh seluruh dunia. Namun, semua itu diraih bukan melalui penemuan ilmiah independen dan terobosan teknologi, tetapi melalui peminjaman efesien atau adaptasi cerdas dari teknologi barat, yaitu mensintensiskan temuan-temuan independen yang sudah ada, untuk melahirkan teknologi hibrida. Hal itu difasilitasi oleh kecenderungan orang Jepang yang bekerja dan belajar secara kelompok.

Ng Aik Kwang.
Di dalam Kaisha atau perusahaan, anggota pengendali mutu produk, mereka bersama-sama menghabiskan banyak waktu mendiskusikan bagaimana mengembangkan produk tertentu ke taraf lebih baru lagi, terus dan terus secara kesinambungan, diistilahkan kaizen. Bukti bahwa orang-orang dalam perusahaan Jepang tidak lebih kreatif dibanding orang-orang dalam perusahaan Amerika terletak pada: perusahaan Jepang kemungkinan besarnya berinvestasi pada riset-terapan, sementara perusahaan Amerika kemungkinan besarnya berinvestasi pada riset-dasar. Teknologi hibrida vs inovasi pijakan dasar (first mover).

Beralih ke kasus orang Tiongkok. Kurangnya sentuhan kreatif juga tampak pada orang Tiongkok. Sebagai contoh, dalam buku The Who's Who of Nobel Prize Winners 1901–1995, hanya ada tiga entri orang Tiongkok. Tiga saintis Tiongkok tadi menghasilkan kontribusinya saat masih bekerja dan tinggal di barat. Terkait kecenderungan orang-orang awamnya, ada sebuah riset melaporkan hasil penelitiannya bahwa orang Hongkong-Tiongkok "kelancaran kreativitas" lebih rendah dibanding pelajar Amerika.

Dalam penelitian lain, responden Tiongkok lebih unggul dalam pemikiran kovergen dibanding responden Amerika, yang mana yang disebut terakhir ini lebih unggul dalam hal berpikir divergen. Terkait temuan riset ini, seorang pakar psikologi kognisi asli Tiongkok menyalahkan pada standar peraturan sosial timur yang begitu akut dan pervasif, karenanya menghalangi kefasihan verbal dan ideasional.

Pernyataan pakar tadi tentang keakutan dan pervasivitas budaya juga didukung observasi anekdotal. Salah satu bukti, misalnya, dalam hal kecenderungan untuk terlibat dan bersikap patuh atau kontra—sebagai pantulan dari watak individu di masyarakat hirarkis atau egaliter—terhadap otoritas politik konvensional. Individu muda dari Australia memiliki perbedaan kecenderungan sikap dibanding Singapura. (Sementara responden Hongkong-Tiongkok memiliki kesamaaan kecenderungan dengan Autralia terkait "sikap beda" terhadap otoritas, sebut Kwang.)

Empat dekade berkuasanya pemerintahan People's Action Party (PAP) terus menerus telah menumbuhkan "sikap politik Konfusianisme" di kalangan generasi muda Singapura. Ketika Mr. Goh Cok Tong dan para pemimpin PAP yang sebenarnya ingin membentuk asosiasi politik mahasiswa di kampus, dengan cara mengungkapkan retorika bahwa "mereka tidak harus menghormati orang yang lebih tua", para mahasiswa apolitis terhadap pernyataan si Perdana Menteri.

Berkebalikannya, mahasiswa di Australia menanggapi kebijakan politik pemerintahan baru di bawah PM John Howard yang mengumumkan ingin melakukan pemotongan anggaran pendidikan bagi pendidikan tinggi, mahasiswa di universitas Queensland di Australia, tempat Kwang kuliah, membentangkan banner yang dengan eksplisit menuliskan: Leher Howard-lah yang seharusnya dipotong!




Judul: Asia VS. Barat (Benarkah Orang Barat Lebih Kreatuf Daripada Orang Asia?
Judul asli: Why Asians Less Creative Than Westerners
Penulis: Ng Aik Kwang
Penerjemah: Wida Utami
Penerbit: Kaifa
Tahun terbit: 2016
Jumlah halaman: xviii + 358 hlm.
Dimensi: –

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Buku Harmoni Dengan Segala Kehidupan Karya Eckhart Tolle

Buku ini diperhatikan bab-babnya berisi beberapa topik yang di awal-awal menyampaikan perihal kesaatkinian dan korelasinya adalah pelampuan gagasan yang mana meliputi gagasan waktu dan gagasan keterpisahan perihal ilusi eksistensi atau aku terpisah mutlak dari keberadaan lainnya ( atta ), kemudian topik diakhiri perihal "harmoni dengan segala kehidupan", yang dalam bahasa sederhana saya adalah: yang biasa dikira aku sejatinya adalah elemen tiada terpisah dari alam semesta. Anda adalah alam semesta itu sendiri.  Secara sistematis, bab-bab secara serial mengarahkan pembaca kepada kesadaran—apa yang diistilahkan Tolle sebagai—"ruang internal". Sebab di sanalah sumber keberhidupan dan arah tepat pencarian kebahagiaan, ketenangan batiniah. Itu muncul ketika konsepsi aku padam—tidak membersit pada pikiran Anda. Dengan kata lain, Anda menjalani, melakukan, menghadapi yang saat-kini Anda di situ dengan mode pikiran intuitif. Gaya Kebahasaan Gaya pengungkapan keb...

Orang Ewe dan Agama Kepercayaan Tradisionalnya

Orang Ewe bisa dijumpai di  Ghana, Togo, dan Benin. Semuanya adalah negara-negara di bagian barat benua Afrika. Populasi terbesar mendiami Ghana. Tradisi dan kepercayaanya banyak dipengaruhi kebudayaan orang Akan dan Yoruba. Bahasa ibu orang Ewe termasuk rumpun Gbe. Orang Ewe terbagi menjadi klan-klan, tetapi menurut cerita lisan dikatakan berakar pada garis leluhur yang sama. Sistem kepemilikan properti adalah komunal, tidak menganut kepemilikan properti secara individu. Asesedwa , kesenian kayu menyerupai bangku, sangat esensial dalam tradisi Ewe. Karenanya, hal itu dibuat dan diukir sangat hati-hati. Dalam ukiran benda tersebut kaya narasi mengenai klan bersangkutan. Dalam ritual, Asesedwa merupakan media yang berfungsi sebagai tempat memanggi roh leluhur. Asesedwa. Menurut cerita turun temurun, asal-usul mereka berasal dari Kotu/Ketu atau Amedzowe, terletak di sebelah timur Sungai Niger. Kira-kira pada 1500, leluhur mereka bermigrasi ke Notsie, Togo. Pada mulamya, migrasi merek...

Dua Kelahiran (Sebuah Esai Kontemplatif)

Kita kerap disuguhkan bahwa lahir, menua, kemerosotan fisik atau sakit/penyakitan, dan kemudian kematian adalah Penderitaan ( dukkha ). Bahasa sehari-harinya, kita sering kali tidak rela ketiga peristiwa akibat dari dilahirkan tadi menimpa kita dan orang-orang terdekat. Keempat fenomena alam tadi masuk klasifikasi penderitaan disebakan jasmani.  Ada klasifikasi penderitaan lainnya: bersama yang tak disenangi/dicintai, berpisah ataupun kehilangan yang disenangi/dicintai, dan terakhirnya adalah tidak memeroleh apa yang dihasratingini/dinafsui. Saya istilahkan penderitaan disebabkan oleh kemampuan mengada yang darinya muncul kemampuan mengingini (mengidealkan dunia kita alami). Mohon diingat. Ini adalah tulisan bersifat kontemplatif dan ini rasa-rasanya tak ada dalam pengajaran naratif Buddhisme arus utama. Sekedar hasil perenungan dan proses memperjelas istilah yang bagi penulis cukup membingungkan mulanya   Mengapa Kita kerap Alami Suasana Batin Tak Nyaman Kita secara emos...

Apa Itu 4 Kebenaran Hakiki dalam Buddhisme?

Awal-awal ceramah Guru Gautama setelah pencerahannya berkisar di seputar Empat Kebenaran Hakiki, yang merupakan dasar dari Buddhisme. Salah satu cara untuk memahaminya adalah dengan memandang Kebenaran-Kebenaran tersebut sebagai hipotesis dan Buddhisme sebagai proses pemverifikasiannya untuk menjadi tesis, atau merealisasi hakikat akan Kebenaran-Kebenaran itu. Empat Kebenaran Hakiki Umumnya, arti Kebenaran ini ditangkap secara serampangan. Kebenaran tersebut memberi tahu kita bahwa hidup adalah penderitaan. Penderitaan disebabkan oleh loba (ketamakan), dosa (kualitas-kualitas psikiis mengganggu semisal amarah dan ras frustasi), dan moha (pandangan deluaif). Penderitaan berakhir ketika kita terbebas dari 3 kotoram batim tadi. Caranya dengan mempraktikkan apa yang disebut 4 Kebenaran Beruas Delapan. Secara urutan formalnya, Kebenaran tersebut bunyinya berikut: Benar ada penderitaan atau rasa ridak puas ( dukkha ) Benar ada sumber munculnya penderitaan atau tasa tidak puas ( samudaya...

𝙀𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙣 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖, 𝗔𝗽𝗮 𝙨𝙞𝙝 𝗠𝗮𝗸𝘀𝘂𝗱𝗻𝘆𝗮?

Leluhur mewariskan kita ajian tentang bagaimana menjalani hidup yang damai dalam diri, dituangkan dalam 𝘴𝘢𝘯é𝘱𝘢. Dengan itu kita diminta membuka kitab kita sendiri. Kitab itu adalah batin kita masing-masing untuk 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘯𝘢𝘰𝘯𝘪 dan 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪. Orang Sunda dan orang Kenekes (Badui di Lebak, Banten) menyebut "ngaji diri". 𝘌𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘢𝘥𝘩𝘢 (baca: 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘰𝘥𝘩𝘰) adalah ajaran bagaimana mergondisikan batin tiada gangguan agar kembali tenang, tiadanya semacam lubang dalam ruhani atau psikis atau batin, batin puas dengan yang ada, batin bening dan suci sebagaimana sifat asalinya, atau psikis bagaimana mengalami rasa syukur yang sebenar-benarnya syukur (bukan syukur 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘣é) apapun sedang dijumpai. 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖 "Waspadha" (baca: waspodho) atau 𝘯𝘺𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢'𝘯é adalah hadirnya pikiran pada saat-kini, pada momen yang berlangsung. Kita sering makan tetapi kita tak sepenuhnya benar-benar makan, tidak a𝘸𝘢𝘳𝘦 denga...

Apa Maksud Ungkapan Ikonik "Gott Ist Tot" Nietzsche?

Friedrich Wilhelm Nietzsche lahir dari seorang ayah pendeta Kristen pada 1844. Seperti ayahnya yang meninggal usia sangat muda yaitu 36 tahun, ia meninggal pada usia 56 tahun, setelah menghabiskan sepuluh tahun terakhir hidupnya dalam kegilaan yang disebabkan oleh gangguan mental, pada tahun 1900. Ia menulis beberapa buku mencekam dan menelanjangi cara pandang manusia. Di antara paling elegan ada Thus Spoke Zarathustra (Sabda Zarathustra),   Kelahiran Tragedi , Beyond Good and Evil (Melampaui Kebaikan dan Kejahatan) , Silsilah Moral , dan beberapa lainnya adalah yang populer dan dibaca kalangan luas. Terkenal bukan sekedar karya filosofisnya yang luar biasa, tetapi juga pengaruhnya terhadap ratusan pemikir filsafat, psikologi, dan sastra di era setelahnya. Sesuatu yang tak bersambut dan dihargai semasa hidupnya karena ide-ide dan gaya kefilsafatannya di luar arus ortodoksi, hal yang sangat mengganggunya. Namun, setelah itu, seperti ungkapan terkenalnya, "Beberapa lah...

Apa Maksud Samsara dalam Buddhisme?

Dalam Buddhisme, samsara sering diartikan sebagai roda siklus tumimbal lahir tiada berujung. Atau, anda mungkin menangkapnya sebagai dunia penderitaan dan ketidakpuasan ( dukkha ), lawan dari nibbana  yang mana istilah kedua ini merujuk pada suatu kondisi terbebas dari penderitaan dan siklus tumimbal lahir—atau orang umum mengenal dan menyamakannya dengan reinkarnasi. Secara literal, istilah samsara yang berasal dari Sansekerta, berarti "mengalir" atau "melewati", yang dilustrasikan dengan Roda Kehidupan dan digambarkan dengan Dua Belas Asal Muasal Saling Bertaut Kemengadaan. Pada umumnya dipahami sebagai kondisi terbelenggu oleh keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan, atau terjebak ilusi yang mengaburkan realitas sejati ( Sunyata ). Dalam falsafah Buddhis tradisional, kita terjebak dalam samsara dari satu kehidupan ke lain kehidupan hingga kita menemukan kebangkitan melalui ketercerahan. Namun, pengartian samsara paling baik, dan mungkin pengartiannya dapat dit...

Dua Kebenaran dalam Mahayana Buddhis

Apa itu kenyataan? Kamus memberi tahu kita bahwa kenyataan adalah "kondisi sebagaimana adanya". Dalam Buddhisme Mahayana, kenyataan dijelaskan dalam doktrin Dua Kebenaran. Doktrin ini memberi tahu kita bahwa kenyataan dapat dimengerti baik sebagai kenyataan ultim sekaligus kenyataan konvensional (atau absolut dan relatif). Kebenaran konvensional adalah seperti kita sehari-hari melihat dunia, tempat yang penuh dengan hal-hal dan fenomena-fenomena khas yang beragam. Kenyataan ultim-nya adalah tidak ada hal-hal atau fenomena khas. Mengatakan tidak ada perbedaan hal-hal atau fenomena yang khas bukan berarti tidak ada yang eksis sama sekali, yang jelas tidak ada perbedaan. Yang mutlak absolut adalah  dhammakaya , kemenyeluruhan segala sesuatu dan eksistensi, tiadalah pula tampak. Mendiang Chogyam Trungpa menyebut dhammakaya sebagai "dasar dari ketidaklahiran yang asli." Bingung? Anda banyak temannya  kok . Ini bukan ajaran yang mudah untuk "ditangkap", tetapi s...

Mengapa Banyak Orang Amerika Menganggap Buddhisme Sekedar Filsafat?

Di Asia timur, Buddhis merayakan mangkatnya Buddha dan datangnya pencerahan di akhir bulan Februari. Akan tetapi di kuil  Zen  lokal saya di North Carolina, pencerahan Buddha diperingati selama musim liburan bulan Desember, diisi dengan ceramah singkat bagi anak-anak, penyalaan lilin, dan makan malam ala kadarnya di akhir acara. Selamat datang di Buddhisme, gaya Amerika. Pengaruh Awal Pengaruh Buddhisme dalam kesadaran budaya masyarakat Amerika muncul di akhir-akhir abad ke-19. Zaman ketika gagasan romantis tentang mistisisme Timur nan eksotis memantik imajinasi filsuf dan penyair Amerika, penikmat seni, dan angkatan awal para penstudi religi-religi global. Penyair dengan kecenderungan gaya transendentalis seperti Henry David Thoreau dan Ralph Waldo Emerson mempelajari filsafat Hindu dan Buddha secara mendalam. Juga ada Henry Steel Olcott, yang rela pergi ke Sri Lanka pada 1880, yang melakukan konversi ke Buddhisme dan mendirikan aliran filosofi mistik yang terkena...

Berkenalan Tema-tema Dasar Buddhisme dari Buku Peter D. Santina

Anda akan dapat menemui banyak ragam dikenali dari Buddhisme di tataran kasarnya. Namun ragam rupa tampakan tradisi dan pengajaran Buddhisme, yang seolah berbeda, disamakan oleh tema-tema utama: Empat Kebenaran Ariya dan Delapan Ruasnya, Tiga Ciri Universal Keberadaan, Karma, dan tumimbal lahir (saya pahami sebagai kemampuan mengada (bereksistensi), bukan sekadar ada, yang dalam konteks filsafat Buddhis adalah produk ilusi mental). Jika Anda ingin mengenal apa kiranya yang bermanfaat untuk kesehatan mental kita di dunia yang cepat nan sesak ramai objek-objek merangsang hasrat keinginan kita tanpa sudah, maka buku Dr. Peter D. Santina ini layak. Menyuguhkan dasar-dasar bagi siapa saja yang baru awal-awal mengenal Buddhisme. Santina mengupas dalam pendekatan sekuler. Tak salah kalau bab pertama buku ini diberi tajuk "Agama Buddha: Sebuah Sudut Pandang Modern". Walau di beberapa titik tampak sekilas Santina menyinggung nilai-nilai Buddhisme yang kebanyakannya memenuhi alam pikir...