Langsung ke konten utama

Bagaimana Cara Mengawali Belajar Buddhisme?

Meski Buddhisme telah ada sejak sekitar 2500 tahun lalu dan pernah menjadi ajaran laku hidup yang dipraktikkan orang-orang di bagian barat Indonesia modern di beberapa abad lalu, banyak orang di luar ajaran ini asing akan apa itu Buddhisme. Terlepas ajaran ini memang paling sulit ditangkap dan untuk menyadari pokoknya. Sampai sekarang masih sering disalahpahami, di buku, majalah, dan sering kali bahkan di dunia akademis dan jurnal-jurnal akademik.



Buddhisme, karena pempraktik ajarannya adalah orang sebagaimana umumnya orang yang mengembangkan budayanya, tradisi atau cara pengajarannya juga berkembang beragam, seperti aliran-aliran dalam agama-agama dogmatik.Walau begitu, semua Buddhisme sama-sama berbagi ajaran mendasar: pencerahan atau pembebasan. Jika boleh disebut, Buddhisme adalah agama dharmik, bukan teistik. Agama penyadaran, bukan agama pernyataan.

Yang sering salah dipahami lagi adalah konsep "kitab suci". Sebagian besar agama-agama di dunia memiliki kanon yang diyakini suci oleh penganutnya masing-masing, yang diterima oleh setiap orang dalam tradisi keagamaan itu, sebagai otoritas. Ini tidak berlaku dalam Buddhisme. Ada perbedaan kanon yang dirujuk Theravada, Mahayana, ataupun Tibetan. Pun banyak pula sub aliran di dalam ketiga tradisi tersebut sering kali memiliki gagasan tersendiri tentang mana layak dipelajari dan mana yang tidak. Sutta yang dirujuk di satu aliran kadang tidak dijadikan rujukan bagi yang lain. 

Jika kamu tergerak untuk mempelajari Buddhisme, dari mana memulainya?


Buddhisme Bukan Sistem Kepercayaan

Hari Perdamaian Internasional didelenggarakan di Gereja Perdamaian di Swidnica, Polandia, pada 21 September 2016 (Dalailama.com)










Pertama-tama, tembok yang harus kita robohkan adalah anggapan bahwa Buddhisme adalah sistem kepercayaan (sekumpulan dogma wajib untuk dipercayai/diimani). Ketika Guru Gautama mencapai pencerahan, apa yang disadarinya begitu jauh dari pengalaman manusia biasa, tidak ada cara untuk menjelaskannya. Namun begitu, ia merancang jalan laku untuk dipraktikkan agar membantu orang-orang, yang mau menapakinya, merealisasi pencerahan bagi diri mereka sendiri, terbebas dari dukkha.

Pun, doktrin-doktrin ajaran Buddhisme tidak untuk dipercayai begitu saja. Ada pepatah Zen, "Tangan yang menunjuk ke bulan bukanlah bulan." Doktrin lebih mirip hipotesis untuk diuji, atau rambu penunjuk Kebenaran. Apa yang disebut Buddhisme adalah proses dimana kebenaran akan ajaran ini dapat direalisasi untuk diri sendiri.

Proses, yang dalam satu tempo disebut latihan, itu menempati posisi fundamental. Kebanyakan orang malah sering memperdebatkan apakah Buddhisme adalah filsafat atau agama, siapa atau apa Tuhannya. Buddhisme tidak menyangkal dan tidak pula menegaskan/menyatakan atau mendukung/menolak ide-ide akan Tuhan. Penekanan Buddhisme adalah mengalami langsung apapun, karenanya tidak berfokus pada ritual penyembahan. Karena hal yang demikian, Buddhisme tidak sesuai dengan definisi standar agama, yaitu adanya konsep entitas adikodrati seperti teisme.

Apa itu artinya filosofi? Em, tapi sebenarnya Buddhisme juga tidak sesuai dengan definisi standar filsafat. Namun, kita rumuskan di sini untuk pegangan awal, Buddhisme bukan filsafat dalam arti konvensional. Ajarannya, sederhananya, justru untuk melampaui filsafat. Menyudahi semua hal-hal spekulatif di pikiran, untuk hadir sepenuhnya ke kehidupan dari saat ke saat.

Dalam Kalama Sutta, Sang Buddha mengajarkan kita untuk tidak membabi buta menerima otoritas kitab suci atau guru. Orang sering suka mengutip bagian ini, tetapi mengabaikan penggalan lain di sutta yang sama, dikatakan untuk tidak menilai segala sesuatu dengan mengandalkan objektivikasi dan abstraksi, deduksi logika, preskripsi atau menilai, argumentasi, evaluasi, probabilitas, atau apakah suatu doktrin cocok dengan apa yang sudah kita yakini.

Em, lalu apa yang tersisa? Sisanya adalah praktik atau menapaki Jalan Laku.


Jebakan Kepercayaan

Dalai Lama bersikap hormat pada benda-benda artifisial yang bermakna bagi penganut lain (info-buddhis.com)




Gambaran paling singkat, Guru Gautama mengajarkan bahwa kita hidup dalam kabut ilusi. Kita dan dunia di sekitar kita tidak seperti yang kita pikirkan. Karena kita bingung, kita terperosok ke dalam ketidakbahagiaan dan kadang kehancuran diri. Satu-satunya cara untuk terbebas dari ilusi tadi adalah kita secara personal memahami diri kita sendiri secara intim, bahwa anggapan diri ada terpisah mandiri adalah ilusi. Hanya percaya pada doktrin akan adanya ilusi di pikiran kita saja juga tidak ada gunanya.

Karena alasan ini, banyak dari doktrin dan praktik mungkin tidak masuk akal pada mulanya. Tidak logis; Tidak sesuai dengan cara pikir konvensional kita selama ini. Yang jelas, jika harus sesuai dengan apa yang sudah menjadi cara berpikir kita selama ini, bagaimana bisa ajaran Guru akan membantu kita keluar dari cangkang pemikiran-pemikiran yang membingungkan tiada ujung? Doktrin seharusnya men-challange anggapan kita, yang selama ini kita kira pemahaman akan kebenaran. Ya, memang itulah ajaran ini ada.

Dalai Lama memenuhi undangan dari komunitas pemercaya Islam di Ladakh, India, pada Agustus 2022 (sumber phayul.com).

Sebab, Guru Gautama tidak ingin murid-muridnya berpuas diri dengan sekedar percaya begitu saja pada hal-hal yang diajarkannya. Kadang kala Guru malah menghindari memberi jawaban langsung untuk menjawab pertanyaan seperti "apa saya memiliki diri?" atau "bagaimana semuanya bermula?" Beliau kadang akan mengatakan pertanyaan itu tidak relevan untuk merealisasikan pencerahan. Namun beliau juga mengingatkan murid-muridnya untuk tidak terjebak oleh pandangan dan pendapat. Beliau juga tak ingin orang-orang mengubah jawaban-jawaban yang beliau sampaikan menjadi sistem kepercayaan dogmatis.


Sekilas Empat Kabenaran Hakiki dan Ajaran

Pada akhirnya, cara terbaik untuk mempelajari Buddhisme adalah dengan memilih satu di antara aliran pengajaran dalam Buddhisme dan membenamkan diri di dalamnya. Namun, jika ingin belajar sendiri untuk mengorek dan mengenal permukaan lebih dulu, inilah yang fundamental dan kesamaan semua ajaran Pembebasan yang dituju semua aliran pengajaran, yang sekiranya bisa sebagai saran.


Empat Kebenaran Hakiki—terkadang disebut "Empat Kebenaran Mulia" atau "Empat kebenaran Ariya" atau "Empat Kasunyatan Mulia"—adalah fondasi dasar yang di atasnya Sang Buddha membangun ajarannya untuk menolong orang-orang dari ketidakpuasan, dan tergerak menolong dirinya sendiri. Tidak ada keselamatan bisa diberikan oleh Sang Buddha, melainkan orang itu menolong dirinya sendiri, di tengah kehidupan ini.

Jika kamu ingin memahami kerangka dasar Buddhisme, hal tadi adalah tempat awal untuk memulai. Tiga kebenaran di urutan atas dari keempatnya itu memaparkan kerangka dasar argumen Guru tentang penyebab dan cara menyembuhkan dukkha, sebuah kata yang sering diterjemahkan sebagai "penderitaan". Meski arti yang lebih dekat adalah "stres" atau "tidak puas". Kebenaran Hakiki yang keempat adalah menggambarkan secara pokok praktik Buddhisme atau dikenal Jalan Berunsur Delapan. Singkatnya, tiga kebenaran pertama adalah "apa" dan "mengapa". Sementara yang keempat adalah "bagaimana". Melebihi segalanya, Buddhisme adalah praktik menapaki Jalan Berunsur Delapan. Kamu didorong untuk menapaki sendiri jalan yang ditunjukkan Guru Gautama untuk membuktikan kemujaraban Jalan tersebut dan semua pendukung laku.

Sebenarnya, ajaran Empat Kebenaran adalah "masuk ke dalam" diri. Ada ajaran penting lain sebelum itu, untuk merobohkan pandangan ilusi kerja otak kita selama ini, menyelesaikan diri dengan yang di luar diri sebagaimana anggapan kita selama ini. Itu menyadari terlebih dahulu ciri-ciri kemengadaan, ini dimaksudkan menyudahi pandangan ilusi dikotomistik pikiran kita dan atta (ego). Dikutip dari Handaka Vijananda (75: 2021), hal tersebut dalam aliran pengajaran Theravada mengacu pada tiga dan Mahayana mengacu pada empat: anicca, dukkha, anatta, dan nibbana.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orang Ewe dan Agama Kepercayaan Tradisionalnya

Orang Ewe bisa dijumpai di  Ghana, Togo, dan Benin. Semuanya adalah negara-negara di bagian barat benua Afrika. Populasi terbesar mendiami Ghana. Tradisi dan kepercayaanya banyak dipengaruhi kebudayaan orang Akan dan Yoruba. Bahasa ibu orang Ewe termasuk rumpun Gbe. Orang Ewe terbagi menjadi klan-klan, tetapi menurut cerita lisan dikatakan berakar pada garis leluhur yang sama. Sistem kepemilikan properti adalah komunal, tidak menganut kepemilikan properti secara individu. Asesedwa , kesenian kayu menyerupai bangku, sangat esensial dalam tradisi Ewe. Karenanya, hal itu dibuat dan diukir sangat hati-hati. Dalam ukiran benda tersebut kaya narasi mengenai klan bersangkutan. Dalam ritual, Asesedwa merupakan media yang berfungsi sebagai tempat memanggi roh leluhur. Asesedwa. Menurut cerita turun temurun, asal-usul mereka berasal dari Kotu/Ketu atau Amedzowe, terletak di sebelah timur Sungai Niger. Kira-kira pada 1500, leluhur mereka bermigrasi ke Notsie, Togo. Pada mulamya, migrasi merek...

Dua Kelahiran (Sebuah Esai Kontemplatif)

Kita kerap disuguhkan bahwa lahir, menua, kemerosotan fisik atau sakit/penyakitan, dan kemudian kematian adalah Penderitaan ( dukkha ). Bahasa sehari-harinya, kita sering kali tidak rela ketiga peristiwa akibat dari dilahirkan tadi menimpa kita dan orang-orang terdekat. Keempat fenomena alam tadi masuk klasifikasi penderitaan disebakan jasmani.  Ada klasifikasi penderitaan lainnya: bersama yang tak disenangi/dicintai, berpisah ataupun kehilangan yang disenangi/dicintai, dan terakhirnya adalah tidak memeroleh apa yang dihasratingini/dinafsui. Saya istilahkan penderitaan disebabkan oleh kemampuan mengada yang darinya muncul kemampuan mengingini (mengidealkan dunia kita alami). Mohon diingat. Ini adalah tulisan bersifat kontemplatif dan ini rasa-rasanya tak ada dalam pengajaran naratif Buddhisme arus utama. Sekedar hasil perenungan dan proses memperjelas istilah yang bagi penulis cukup membingungkan mulanya   Mengapa Kita kerap Alami Suasana Batin Tak Nyaman Kita secara emos...

Review Buku Harmoni Dengan Segala Kehidupan Karya Eckhart Tolle

Buku ini diperhatikan bab-babnya berisi beberapa topik yang di awal-awal menyampaikan perihal kesaatkinian dan korelasinya adalah pelampuan gagasan yang mana meliputi gagasan waktu dan gagasan keterpisahan perihal ilusi eksistensi atau aku terpisah mutlak dari keberadaan lainnya ( atta ), kemudian topik diakhiri perihal "harmoni dengan segala kehidupan", yang dalam bahasa sederhana saya adalah: yang biasa dikira aku sejatinya adalah elemen tiada terpisah dari alam semesta. Anda adalah alam semesta itu sendiri.  Secara sistematis, bab-bab secara serial mengarahkan pembaca kepada kesadaran—apa yang diistilahkan Tolle sebagai—"ruang internal". Sebab di sanalah sumber keberhidupan dan arah tepat pencarian kebahagiaan, ketenangan batiniah. Itu muncul ketika konsepsi aku padam—tidak membersit pada pikiran Anda. Dengan kata lain, Anda menjalani, melakukan, menghadapi yang saat-kini Anda di situ dengan mode pikiran intuitif. Gaya Kebahasaan Gaya pengungkapan keb...

Apa Itu 4 Kebenaran Hakiki dalam Buddhisme?

Awal-awal ceramah Guru Gautama setelah pencerahannya berkisar di seputar Empat Kebenaran Hakiki, yang merupakan dasar dari Buddhisme. Salah satu cara untuk memahaminya adalah dengan memandang Kebenaran-Kebenaran tersebut sebagai hipotesis dan Buddhisme sebagai proses pemverifikasiannya untuk menjadi tesis, atau merealisasi hakikat akan Kebenaran-Kebenaran itu. Empat Kebenaran Hakiki Umumnya, arti Kebenaran ini ditangkap secara serampangan. Kebenaran tersebut memberi tahu kita bahwa hidup adalah penderitaan. Penderitaan disebabkan oleh loba (ketamakan), dosa (kualitas-kualitas psikiis mengganggu semisal amarah dan ras frustasi), dan moha (pandangan deluaif). Penderitaan berakhir ketika kita terbebas dari 3 kotoram batim tadi. Caranya dengan mempraktikkan apa yang disebut 4 Kebenaran Beruas Delapan. Secara urutan formalnya, Kebenaran tersebut bunyinya berikut: Benar ada penderitaan atau rasa ridak puas ( dukkha ) Benar ada sumber munculnya penderitaan atau tasa tidak puas ( samudaya...

𝙀𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙣 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖, 𝗔𝗽𝗮 𝙨𝙞𝙝 𝗠𝗮𝗸𝘀𝘂𝗱𝗻𝘆𝗮?

Leluhur mewariskan kita ajian tentang bagaimana menjalani hidup yang damai dalam diri, dituangkan dalam 𝘴𝘢𝘯é𝘱𝘢. Dengan itu kita diminta membuka kitab kita sendiri. Kitab itu adalah batin kita masing-masing untuk 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘯𝘢𝘰𝘯𝘪 dan 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪. Orang Sunda dan orang Kenekes (Badui di Lebak, Banten) menyebut "ngaji diri". 𝘌𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘢𝘥𝘩𝘢 (baca: 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘰𝘥𝘩𝘰) adalah ajaran bagaimana mergondisikan batin tiada gangguan agar kembali tenang, tiadanya semacam lubang dalam ruhani atau psikis atau batin, batin puas dengan yang ada, batin bening dan suci sebagaimana sifat asalinya, atau psikis bagaimana mengalami rasa syukur yang sebenar-benarnya syukur (bukan syukur 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘣é) apapun sedang dijumpai. 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖 "Waspadha" (baca: waspodho) atau 𝘯𝘺𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢'𝘯é adalah hadirnya pikiran pada saat-kini, pada momen yang berlangsung. Kita sering makan tetapi kita tak sepenuhnya benar-benar makan, tidak a𝘸𝘢𝘳𝘦 denga...

Apa Maksud Samsara dalam Buddhisme?

Dalam Buddhisme, samsara sering diartikan sebagai roda siklus tumimbal lahir tiada berujung. Atau, anda mungkin menangkapnya sebagai dunia penderitaan dan ketidakpuasan ( dukkha ), lawan dari nibbana  yang mana istilah kedua ini merujuk pada suatu kondisi terbebas dari penderitaan dan siklus tumimbal lahir—atau orang umum mengenal dan menyamakannya dengan reinkarnasi. Secara literal, istilah samsara yang berasal dari Sansekerta, berarti "mengalir" atau "melewati", yang dilustrasikan dengan Roda Kehidupan dan digambarkan dengan Dua Belas Asal Muasal Saling Bertaut Kemengadaan. Pada umumnya dipahami sebagai kondisi terbelenggu oleh keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan, atau terjebak ilusi yang mengaburkan realitas sejati ( Sunyata ). Dalam falsafah Buddhis tradisional, kita terjebak dalam samsara dari satu kehidupan ke lain kehidupan hingga kita menemukan kebangkitan melalui ketercerahan. Namun, pengartian samsara paling baik, dan mungkin pengartiannya dapat dit...

Apa Maksud Ungkapan Ikonik "Gott Ist Tot" Nietzsche?

Friedrich Wilhelm Nietzsche lahir dari seorang ayah pendeta Kristen pada 1844. Seperti ayahnya yang meninggal usia sangat muda yaitu 36 tahun, ia meninggal pada usia 56 tahun, setelah menghabiskan sepuluh tahun terakhir hidupnya dalam kegilaan yang disebabkan oleh gangguan mental, pada tahun 1900. Ia menulis beberapa buku mencekam dan menelanjangi cara pandang manusia. Di antara paling elegan ada Thus Spoke Zarathustra (Sabda Zarathustra),   Kelahiran Tragedi , Beyond Good and Evil (Melampaui Kebaikan dan Kejahatan) , Silsilah Moral , dan beberapa lainnya adalah yang populer dan dibaca kalangan luas. Terkenal bukan sekedar karya filosofisnya yang luar biasa, tetapi juga pengaruhnya terhadap ratusan pemikir filsafat, psikologi, dan sastra di era setelahnya. Sesuatu yang tak bersambut dan dihargai semasa hidupnya karena ide-ide dan gaya kefilsafatannya di luar arus ortodoksi, hal yang sangat mengganggunya. Namun, setelah itu, seperti ungkapan terkenalnya, "Beberapa lah...

Dua Kebenaran dalam Mahayana Buddhis

Apa itu kenyataan? Kamus memberi tahu kita bahwa kenyataan adalah "kondisi sebagaimana adanya". Dalam Buddhisme Mahayana, kenyataan dijelaskan dalam doktrin Dua Kebenaran. Doktrin ini memberi tahu kita bahwa kenyataan dapat dimengerti baik sebagai kenyataan ultim sekaligus kenyataan konvensional (atau absolut dan relatif). Kebenaran konvensional adalah seperti kita sehari-hari melihat dunia, tempat yang penuh dengan hal-hal dan fenomena-fenomena khas yang beragam. Kenyataan ultim-nya adalah tidak ada hal-hal atau fenomena khas. Mengatakan tidak ada perbedaan hal-hal atau fenomena yang khas bukan berarti tidak ada yang eksis sama sekali, yang jelas tidak ada perbedaan. Yang mutlak absolut adalah  dhammakaya , kemenyeluruhan segala sesuatu dan eksistensi, tiadalah pula tampak. Mendiang Chogyam Trungpa menyebut dhammakaya sebagai "dasar dari ketidaklahiran yang asli." Bingung? Anda banyak temannya  kok . Ini bukan ajaran yang mudah untuk "ditangkap", tetapi s...

Struktur Masyarakat Timur dan Barat: Rangkuman Bab II Buku Ng Aik Kwang

Setelah memiliki gambaran tentang kreativitas pada unggahan sebelumnya (bab satu buku Kwang), yang ternyata erat sekali dengan budaya masyarakat di situ. Kita sekarang masuk ke struktur masyarakat yang bagaimana lebih kreatif. Mari menelaah struktur masyarakat timur atau Asia yang Galilean dan masyarakat barat yang Ptolemian sebelum membahas struktur psikologis masing-masing masyarakatnya. Tulisan ini adalah intisari dan adaptasi dari bab kedua buku Why Asians are Less Creative than Westeners  versi bahasa Indonesia, oleh Ng Aik Kwang, Doktor di bidang psikologi di National University of Singapore. Dok. Pribadi . Struktur masyarakat Asia secara umum ditandai hubungan antarindividunya cenderung terorganisir rapat, strukturnya menekankan "ke-kami-an" dan hirarkis. Masyarakat Asia lebih menekankan keteraturan sosial, harmoni, menghindari konflik, dan hirarkis. Mereka cenderung bersepakat dengan apa yang menjadi standar yang disetujui kelompoknya. Interaksi sosial antarindividu ...

Berkenalan Tema-tema Dasar Buddhisme dari Buku Peter D. Santina

Anda akan dapat menemui banyak ragam dikenali dari Buddhisme di tataran kasarnya. Namun ragam rupa tampakan tradisi dan pengajaran Buddhisme, yang seolah berbeda, disamakan oleh tema-tema utama: Empat Kebenaran Ariya dan Delapan Ruasnya, Tiga Ciri Universal Keberadaan, Karma, dan tumimbal lahir (saya pahami sebagai kemampuan mengada (bereksistensi), bukan sekadar ada, yang dalam konteks filsafat Buddhis adalah produk ilusi mental). Jika Anda ingin mengenal apa kiranya yang bermanfaat untuk kesehatan mental kita di dunia yang cepat nan sesak ramai objek-objek merangsang hasrat keinginan kita tanpa sudah, maka buku Dr. Peter D. Santina ini layak. Menyuguhkan dasar-dasar bagi siapa saja yang baru awal-awal mengenal Buddhisme. Santina mengupas dalam pendekatan sekuler. Tak salah kalau bab pertama buku ini diberi tajuk "Agama Buddha: Sebuah Sudut Pandang Modern". Walau di beberapa titik tampak sekilas Santina menyinggung nilai-nilai Buddhisme yang kebanyakannya memenuhi alam pikir...