Asal mula Sikhisme dapat ditelusuri ke wilayah Punjab yang kini terletak di wilayah negara Pakistan. Sikhisme bersumber dari pendirinya, Guru Nanak Dev, pada awal 1500-an Masehi. Lahir dari keluarga Hindu yang tinggal di desa Talwandi di Punjab, sekarang masuk Nankana Sahib. Guru Nanak mulai mempertanyakan ritual-ritual keseharian di masyarakatnya yang ia perhatikan sejak usia dini.
Kelahiran Guru Nanak
Pendiri Sikhisme ini, biasa dinisbatkan sebagai Guru Pertama dari Sepuluh Guru Sikhisme, lahir pada suatu pagi menjelang fajar dari ibu bernama Tripta, ayahnya bernama Kalu Bedi. Mereka menamai putra mereka Nanak, hampir mirip dengan nama kakak perempuannya yang dinamai Nanaki. Keluarga itu tinggal di kota Nankana, yang kini menjadi bagian dari negara Pakistan.
Nanak sebagai Penggembala
Ketika Nanak mulai cukup umur, ayahnya memberinya tugas menggembala dan menjaga ternak. Namun remaja tanggung Nanak kerap tertidur pulas ketika menjaga gembalaannya. Beberapa kali ia mendapat banyak masalah manakala ternak gembalaannya berkeliaran memasuki ladang masyarakat, memakan dan merusak tanaman mereka. Ayah Nanak merasa kesal padanya dan sering keras memarahinya karena menganggap ia pemalas. Namun begitu, beberapa penduduk desa memperhatikan ada hal-hal yang sangat tidak wajar ketika ketika Nanak tertidur. Mereka meyakini bahwa Nanak pasti seorang mistikus atau orang suci.
Nanak sebagai Penstudi
Salah seorang warga desa, Rai Bullar, memperhatikan jika Nanak akan bermeditasi bilamana ada kesempatan di waktu luangnya. Tetangganya tadi meyakini jika Nanak memiliki karakter yang saleh. Ia membujuk ayah Nanak untuk mengirimnya ke sekolah di mana ia bisa memperoleh dan mendalami materi keagamaan. Nanak memiliki kemampuan mencerap materi pelajaran dengan sangat cepat dan membuat takjub gurunya, berangkat dari kecondongannya pada spiritualisme dalam materi pelajaran. Pengajar Nanak percaya bahwa hal tersebut tidak lepas dari campur tangan ilahiah.
Nanak sebagai Reformis
Ketika Nanak memasuki usia cukup matang, ayahnya mengatur agar dia berpartisipasi dalam ritual upacara pengikatan benang dalam Hindu, sebagai ritual simbolis akan hubungan manusia dengan Tuhan. Nanak menolak dan menyatakan bahwa benang itu tidak ada nilainya karena benang pada akhirnya akan aus. Ia juga menentang sistem kasta dalam Hindu dari hierarki Brahman. Nanak mencela penyembahan berhala atau penyembahan terhadap simbol-simbol entitas ilahiah.
Nanak sebagai Pedagang
Saat Nanak beranjak dewasa, keluarganya menjodohkannya dengan gadis bernama Sulakhani. Dari perempuan tersebut, ia mendapat dua putra. Ayah Nanak berusaha merayunya agar terjun ke dunia dagang menjadi pedagang, agar ia dapat menghidupi keluarganya sendiri. Ayahnya memberi Nanak modal dan mengutusnya untuk melakukan sebuah pembelian. Namun Nanak menghabiskan seluruh uang modal itu untuk membeli makanan bagi tunawisma dan orang kelaparan, orang-orang suci atau pertapa yang ia jumpai di jalan. Ketika ia kembali tanpa membawa dagangan apa-apa tetapi uang habis, ayahnya seketika meledak amarahnya dan memarahinya dengan keras. Namun, Nanak bersikeras bahwa berbuat baik untuk orang lain telah menghasilkan keuntungan yang luar biasa.
Nanak dalam Rumah Tangga
Ayah Nanak semakin bertambah frustrasi kepadanya. Sementara kakak perempuannya, Nanaki, tinggal bersama suaminya di suatu kota bernama Sultanpur. Keluarganya mencarikan Nanak pekerjaan. Dan, akhirnya ia bekerja di sebuah gudang. Nanak meninggalkan istri dan anaknya dimana orang tuanya berjanji akan selekasnya mengirim anak istri Nanak setelah ia bisa menghidupi mereka. Nanak melakukannya dengan baik di posisi barunya. Ia memperlakukan semua orang dengan kemurahhatian dan selalu berlaku adil. Tak lama kemudian keluarganya menyusulnya untuk bergabung dengannya. Mereka pindah ke rumah mereka sendiri. Nanak berkenalan dengan seorang penyanyi muslim, Mardana. Mereka bertemu setiap pagi di sungai setempat, tempat mereka bermeditasi sebelum pergi bekerja. Lingkungan sekitat keheranan melihat dua orang berlainan agama dapat menjalankan ritual bareng.
Nanak sebagai Yang Tercerahkan
Suatu pagi, Nanak pergi bermeditasi dan mandi di tepi Kali Bein, atau Sungai Hitam, bersama Mardana. Nanak berjalan ke tengah sungai dan menghilang di dalam arusnya. Ia tidak lagi muncul untuk berngkat bekerja, majikannya menemukan bahwa dia tidak pernah keluar dari bawah air. Orang-orang mengira ia telah tenggelam, kecuali saudara perempuannya Nanaki. Tiga hari berlalu dan tiba-tiba, mengejutkan orang-orang, Nanak muncul dari dalam arus sungai hidup-hidup sembari berkata, "Na koe Hindu, na koe Musalman (Tidak ada Hindu, tidak ada Muslim)". Orang-orang di kota itu takjub dan banyak yang setuju bahwa Nanak menjadi seseorang yang sepenuhnya telah tercerahkan dan mereka mulai memanggilnya "Guru".
Nanak sebagai Pengelana
Nanak sepenuhnya membenamkan diri dalam meditasi. Jarang berbicara dengan siapa pun dan berhenti dari pekerjaannya. Dia menmberikan semua barang-barang mililnya kepada fakir dan miskin. Ia mengatur kehidupan untuk istri dan anak-anaknya, lalu meninggalkan kota bersama rekan spiritualnya, Mardana. Mereka menjadi penyanyi pengelana. Mardana memainkan alat musik gesek, rebab, dan mengiringi Nanak saat menyanyikan gubahan puitisnya. Mereka memulai serangkaian tur Udasi dan melakukan perjalanan bersama untuk berkhotbah dan mengajarkan bahwa hanya ada satu pencipta. Tidak ada Hindu, tidak ada orang Islam, hanya ada persaudaraan kemanusiaan tiada terpisah terpilah.
Mangkatnya Guru Nanak
Guru Nanak pulang ke rumahnya dari pengelanaannha setelah misi keliling tersebut yang selama 25 tahunan. Dia berdiam dan tetap melanjutkan pelayanannya di Kartarpur di mana ia pada akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Ia menunjuk muridnya Lehna untuk menerima cahaya spiritual-nya dan menggantikannya sebagai Guru Kedua dengan nama Angad Dev.

Komentar
Posting Komentar