Dunia adalah tempat tak layak dan buruk. Demikian pandangan Arthur Schopenhauer. Jika demikian, bagaimana bisa kita menentukan mana benar dan mana salah, mana baik dan mana buruk, sembari berargumen bahwa pada dasarnya dunia adalah berisi masyarakat yang buruk?
Untuk mengeksplorasi pertanyaan tersebut lebih mendalam adalah tugas Etika, atau kadang disebut filsafat moral, yaitu suatu bidang yang masuk dalam kajian filsafat moral, berkenaan segala aspek kehidupan yang kita hadapi, baik sebagai individu ataupun sebagai masyarakat, dalam usaha mendefinisikan seperangkat prinsip yang adil dan sekaligus sebagai instrumen yang mengakomodasi setiap orang yang saling terhubung satu sama lain dengan cara paling layak dan patut.
Di sini kta akan melihat bagaimana salah satu filsuf Jerman paling terkemuka, Arthur Schopenhauer, mendekati bidang ini dengan cara yang sangat unik, dan bagaimana jalan yang ditempuh pesimisme menjawab persialan-persoalan tersebut
Filsafat "Keinginan" Arthur Schopenhauer
Seorang filsuf Jerman, Arthur Schopenhauer mewariskan beberapa karya penting yang secara umum tak bisa diabaikan begitu saja dalam sejarah dan tradisi kefilsafatan Barat. Dipengaruhi oleh idealisme transendental-nya Kant, Schopenhauer memuji-muji kecermelangan Kant dalam banyak aspek sekaligus mengkritik tajam pada beberapa aspek lain. Schopenhauer menciptakan sistem metafisikanya sendiri secara ekstensif yang diuraikan dalam magnum opus-nya berjudul The World as Will and Representation. Beberapa prinsip fundamental filosofinya terkandung dalam karya tersebut. Sesuatu yang sudah pasti harus kita tengok dalam usaha memahami secara keseluruhan pandangannya Etika-nya.
 |
| Arthur Schopenhauer. |
Di tengah dunia yang mewujud sebagai Keinginan (W
ill) dan Representasi, Schopenhauer berpendapat bahwa dunia yang kita jumpai dan alami, yaitu dunia faktual dan aktualnya dunia, tidak ada dengan sendirinya. Namun semata-mata representasi yang diciptakan oleh subjek kognisi ketika bersinggungan dengan aktualnya dunia itu, dan ketika bersinggungan dengan benda-benda sebagaimana adanya diri mereka sendiri. Dunia dan benda-benda mengada sesuai hasrat
keinginan, yaitu kekuatan pendorong buta dan tanpa tujuan, yang mana itu semua tiada lain sekedar representasi dari kenginginan. Keinginan adalah inti dari segala sesuatu yang aktualnya ada.
Dengan pembahasaan klasifikatif, dapat diungkapkan bahwa adanya segala sesuatu itu mencakup dua ranah: ada sebagai keinginan dan ada sebagai representasi bentuk yang kita alami. Perspektif metafisika ini mengingatkan pada Teori Bentuk atau Teori Ide-nya Plato. Baik Plato maupun Schopenhauer berasumsi bahwa dunia ada dalam dua cara yang berbeda, sebagai representasi dan sebagai transendensi, dan yang lainnya hanya sekedar gambaran dan empiris.
Kalau bicara sejatinya batin, tentu saja semua manusia tiada beda. Kita ini selama menjalani hidup didorong oleh keinginan, kita selalu mengingini, dan keinginan inilah yang menjadi sumber penderitaan. Karena kita tiada henti mengingini sesuatu, kita akhirnya tiada kesudahan merasakan penderitaan, sebab hal-hal yang kita ingini tetapi tidak kita miliki, atau tergapai. Kita tidak bisa seketika mendapatkan yang kita ingini pada saat bersamaan munculnya keinginan dalan batin kita itu sendiri. Toh kalaupun kita sudah sukses menggapai yang kita ingini, kita tidak lagi mengingininya.
Dalam karya yang sama pula, di bab keempat, Schopenhauer mulai menyusun sistem Etika-nya. Uniknya, terinspirasi dari Buddhsme dan Hinduisme. Perspektif Etika-nya didasarkan pada prinsip welas asih dengan cara menidak terhadap keinginan yang muncul. Keinginan adalah bergantung pada egoisme yang ada pada setiap makhluk hidup, dan hanya melalui penidakan terhadap hasrat keinginan, kita mampu mengabaikan egoisme, dan pada akhirnya bisa mengembangkan welas asih terhadap lainnya, yang mana dari titik ini mengarah pada keputusan dan perilaku yang etis.
Kita bisa menyebut yang demikian ini sebagai filsafat yang bercorak pesimistis karena menganggap bahwa segala sesuatu secara esensial adalah menderitakan tanpa kesudahan pada eksistensi kita.
Mengada (eksistensi), atau lahir, artinya adalah menjadi berkeinginan, dan keinginan adalah sumber penderitaan.
Merdeka dari Keinginan
Untuk menelaah lebih jauh Etika-nya Schopenhauer, kita harus membaca 2 esai berharga terkait subjek ini. Esai pertama adalah On the Freedom of Will. IDalam karya ini, Schopenhauer membahas persoalan kesadaran (batin) dan kehendak/keinginan bebas (free will) menurut sistem metafisika yang telah ia ditetapkan sebelumnya dalam World as Will and Representation. Schopenhauer menyatakan, kita itu bebas dalam batiniah kita saja, yaitu kuasa untuk bebas dari mengingini, dan begitu kita melakukan kontak dan interaksi dengan dunia empiris atau eksternal, kebebasan kita benar-benar raib karena kita tiada kuasa lagi mengendalikan rasa ingin. Rasa tanggung jawab kita atas tindakan atau perilaku kita itu bukanlah tanda bahwa kita itu memiliki kebebasan, melainkan hanya kebutuhan aktual. Kita hanya bisa merasakan kebebasan sesungguhnya manakala kita menyadari keberadaan batin kita sendiri sebagaimana adanya batin kita sendiri, dan keinginan-keinginan yang berkelebat. Kesadaran semacam ini memungkinkan kita untuk mengenali keinginan-keinginan dan emosi-emosi internal diri kita sendiri. Namun begitu, hal denikian ini itu bukan berarti kita memiliki kebebasan untuk mengendalikan batiniah kita mengikuti keinginan kita.
.jpeg) |
| Sinchan dan keinginan-keinginannya (Bing Cretor Image) |
Tak bisa dibantah bahwa manusia (subjek kognisi) masih tetap bertanggung jawab atas tindakan-tindakan dan perilaku-perilakunya, yaitu produk turunan dari keinginan bebas yang transendental yang, sekalipun di luar kendali kita, telah menjadikan demikian adanya kita ini. Tindakan kita adalah produk turunan dari siapa diri kita dan oleh karena itu setiap tindakan dan perilaku
ya di bawah tanggung jawab mutlak kita.
On the Basis of Morality
Karya besar Arthur Schopenhauer berikutnya mengulas mengenai Etika adalah On the Basis of Morality. Esai ini sebagian besar berisi kritiknya terhadap sistem Etika-nya Kant dan pengembangan sistem Schopenhauer, yang menurut penulis adalah alternatif lebih baik. Filsafat Schopenhauer dapat didudukkan sebagai bentuk pengembangan lanjut dari pemikiran Kant, tidak terkecuali Etika-nya.
Schopenhauer menyoroti falasi mendasar dalam Etika Kant, yaitu gagasannya tentang moralitas. Menurut Kant, moralitas dibangun berdasarkan kepedulian terhadap hukum yang berlaku, dan konsekuensi atas tindakan atau perilaku kita. Oleh karena itu moralitas adalah sistem yang didasarkan pada pemahaman rasional kita akan dunia. Kita dapat memahami bahwa tindakan yang didasarkan pada mengindahkan hukum dan konsekuensinya, menurut Schopenhauer, tidak lain adalah egoisme. Dikatakan begitu karena tindakan kita itu dimotivasi untuk meraih ganjaran atau menghindari hukuman.
Perspektif Schopenhauer tentang Etika bukanlah bermaksud untuk menetapkan aturan atau hukum ketat yang kudu dipatuhi oleh orang-orang. Sebab, moralitas mestilah fokusnya pada bagaimana kita memikirkan kesejahteraan orang lain. Sebaliknya, watak hukum itu berpusat pada menjaga keselamatan kita sendiri dengan cara tidak merugikan orang lain, karena kita tahu itu akan membahayakan diri kita sendiri, yaitu berakibat dijatuhi sanksi hukuman.
Alternatif yang diajukan Schopenhauer adalah Etika Sejati atau moralitas murni yang dilandaskan pada welas asih. Kita manusia pada dasarnya adalah egois karena memang begitulah bawaan alamiah kita. Dari egoisme itu lahirnya rasa mengingini. Oleh karena itu tiada cara lain untuk merealisasi moralitas, yang dapat diterjemahkan sebagai bentuk kepedulian kita terhadap kesejahteraan orang lain, dengan menumbuhkembangkan spontanitas intuitif dari welas asih dan perasaan empati atas penderitaan orang lain karena perilakunya yang tak bermoral demi mengurangi atau mencegahnya menderita lebih dalam lagi.
Hakikat inheren dari batin setiap manusia adalah menderita. Artinya, sebuah keniscayaan bahwa kita mampu merasakan penderitaan orang lain sebagai penderitaan kita sendiri. Melalui kemampuan itu kita bisa benar-benar terdoring membantu orang lain dan tidak membuat mereka lebih jauh menderita. Inilah esensi dari moralitas.
Etika Welas Asih dalam Filsafat yang Pesimistik
Menelaah dasar-dasar Etika Schopenhauer, kita dapat menarik konklusi bahwa titik tekan filsafatnya adalah pada welas asih. Suatu pendekatan terntang apa itu moralitas yang begitu pure. Asumsi yang dapat ditarik adalah, satu-satunya cara membuat keputusan moral yang tanpa motif keuntungam pribadi adalah bertindak ya bertindak saja secara spontan dan intuitif, tidak perlu mempertimbangkan secara rasional njlimet faktor-faktor eksternal luar diri.
Tentu saja menarik bagaimana filsafat yang bercorak pesimistis dapat melahirkan perspektif tentang Etika yang jernih dan sehat dan secara paralel juga menjadi konsekuensi logis dari aspek inti filsafatnya yang tanpa celah kecacatan.
 |
| Danbo look at himself on mirror. |
Pemahaman kita akan apa itu penderitaan yang merupakan bawaan alamiah eksistensi menyiratkan pemahaman kita bahwa diri kita secara alamiah adalah mungkin untuk keluar dari penderitaaan kita dengan menumbuhkembangkan welas asih. Mengakui egoisme kita sebagai akar penderitaan kita berarti mengakui tiada cara lain yang harus kita tempuh selain jalan tidak mementingkan diri sendiri.
Sudah pasti dapat ditebak sistem Etika yang dikembangkan Schopenhauer dipengaruhi tradisi filsafat timur. Ia sendiri mengenal tradisi filsafat Asia selama ia tinggal di Weimar, Banyak aspek filsafat Asia, yaitu Buddhisme dan Hinduisme, terdetekai dalam karya-karyanya. Bahkan Schopenhauer mengklaim Buddhisme adalah agama terbaik di dunia. Aspek terpenting yang diadopsi oleh Schopenhauer dari agama-agama tadi adalah ide menidak pada hasrat keinginan dan puncak dari pengembangan diri ini adalah laku asketik.
Tak dapat disangkal jika pendekatan Schopenhauer terhadap moralitas berpengaruh besar terhadap karya-karya pemikir kaliber setelahnya dari berbagai bidang seperti
Friedrich Nietzsche, Sigmund Freud, Albert Einstein, dan banyak lagi.