Langsung ke konten utama

Etika dalam Filsafat Schopenhauer yang Pesimis

Dunia adalah tempat tak layak dan buruk. Demikian pandangan Arthur Schopenhauer. Jika demikian, bagaimana bisa kita menentukan mana benar dan mana salah, mana baik dan mana buruk, sembari berargumen bahwa pada dasarnya dunia adalah berisi masyarakat yang buruk?

Untuk mengeksplorasi pertanyaan tersebut lebih mendalam adalah tugas Etika, atau kadang disebut filsafat moral, yaitu suatu bidang yang masuk dalam kajian filsafat moral, berkenaan segala aspek kehidupan yang kita hadapi, baik sebagai individu ataupun sebagai masyarakat, dalam usaha mendefinisikan seperangkat prinsip yang adil dan sekaligus sebagai instrumen yang mengakomodasi setiap orang yang saling terhubung satu sama lain dengan cara paling layak dan patut. 

Di sini kta akan melihat bagaimana salah satu filsuf Jerman paling terkemuka, Arthur Schopenhauer, mendekati bidang ini dengan cara yang sangat unik, dan bagaimana jalan yang ditempuh pesimisme menjawab persialan-persoalan tersebut 


Filsafat "Keinginan" Arthur Schopenhauer

Seorang filsuf Jerman, Arthur Schopenhauer mewariskan beberapa karya penting yang secara umum tak bisa diabaikan begitu saja dalam sejarah dan tradisi kefilsafatan Barat. Dipengaruhi oleh idealisme transendental-nya Kant, Schopenhauer memuji-muji kecermelangan Kant dalam banyak aspek sekaligus mengkritik tajam pada beberapa aspek lain. Schopenhauer menciptakan sistem metafisikanya sendiri secara ekstensif yang diuraikan dalam magnum opus-nya berjudul The World as Will and Representation. Beberapa prinsip fundamental filosofinya terkandung dalam karya tersebut. Sesuatu yang sudah pasti harus kita tengok dalam usaha memahami secara keseluruhan pandangannya Etika-nya.

Arthur Schopenhauer.
Di tengah dunia yang mewujud sebagai Keinginan (Will) dan Representasi, Schopenhauer berpendapat bahwa dunia yang kita jumpai dan alami, yaitu dunia faktual dan aktualnya dunia, tidak ada dengan sendirinya. Namun semata-mata representasi yang diciptakan oleh subjek kognisi ketika bersinggungan dengan aktualnya dunia itu, dan ketika bersinggungan dengan benda-benda sebagaimana adanya diri mereka sendiri. Dunia dan benda-benda mengada sesuai hasrat keinginan, yaitu kekuatan pendorong buta dan tanpa tujuan, yang mana itu semua tiada lain sekedar representasi dari kenginginan. Keinginan adalah inti dari segala sesuatu yang aktualnya ada.

Dengan pembahasaan klasifikatif, dapat diungkapkan bahwa adanya segala sesuatu itu mencakup dua ranah: ada sebagai keinginan dan ada sebagai representasi bentuk yang kita alami. Perspektif metafisika ini mengingatkan pada Teori Bentuk atau Teori Ide-nya Plato. Baik Plato maupun Schopenhauer berasumsi bahwa dunia ada dalam dua cara yang berbeda, sebagai representasi dan sebagai transendensi, dan yang lainnya hanya sekedar gambaran dan empiris.

Kalau bicara sejatinya batin, tentu saja semua manusia tiada beda. Kita ini selama menjalani hidup didorong oleh keinginan, kita selalu mengingini, dan keinginan inilah yang menjadi sumber penderitaan. Karena kita tiada henti mengingini sesuatu, kita akhirnya tiada kesudahan merasakan penderitaan, sebab hal-hal yang kita ingini tetapi tidak kita miliki, atau tergapai. Kita tidak bisa seketika mendapatkan yang kita ingini pada saat bersamaan munculnya keinginan dalan batin kita itu sendiri. Toh kalaupun kita sudah sukses menggapai yang kita ingini, kita tidak lagi mengingininya. 

Dalam karya yang sama pula, di bab keempat, Schopenhauer mulai menyusun sistem Etika-nya. Uniknya, terinspirasi dari Buddhsme dan Hinduisme. Perspektif Etika-nya didasarkan pada prinsip welas asih dengan cara menidak terhadap keinginan yang muncul. Keinginan adalah bergantung pada egoisme yang ada pada setiap makhluk hidup, dan hanya melalui penidakan terhadap hasrat keinginan, kita mampu mengabaikan egoisme, dan pada akhirnya bisa mengembangkan welas asih terhadap lainnya, yang mana dari titik ini mengarah pada keputusan dan perilaku yang etis. 

Kita bisa menyebut yang demikian ini sebagai filsafat yang bercorak pesimistis karena menganggap bahwa segala sesuatu secara esensial adalah menderitakan tanpa kesudahan pada eksistensi kita.

Mengada (eksistensi), atau lahir, artinya adalah menjadi berkeinginan, dan keinginan adalah sumber penderitaan.


Merdeka dari Keinginan

Untuk menelaah lebih jauh Etika-nya Schopenhauer, kita harus membaca 2 esai berharga terkait subjek ini. Esai pertama adalah On the Freedom of Will. IDalam karya ini, Schopenhauer membahas persoalan kesadaran (batin) dan kehendak/keinginan bebas (free will) menurut sistem metafisika yang telah ia ditetapkan sebelumnya dalam World as Will and Representation. Schopenhauer menyatakan, kita itu bebas dalam batiniah kita saja, yaitu kuasa untuk bebas dari mengingini, dan begitu kita melakukan kontak dan interaksi dengan dunia empiris atau eksternal, kebebasan kita benar-benar raib karena kita tiada kuasa lagi mengendalikan rasa ingin. Rasa tanggung jawab kita atas tindakan atau perilaku kita itu bukanlah tanda bahwa kita itu memiliki kebebasan, melainkan hanya kebutuhan aktual. Kita hanya bisa merasakan kebebasan sesungguhnya manakala kita menyadari keberadaan batin kita sendiri sebagaimana adanya batin kita sendiri, dan keinginan-keinginan yang berkelebat. Kesadaran semacam ini memungkinkan kita untuk mengenali keinginan-keinginan dan emosi-emosi internal diri kita sendiri. Namun begitu, hal denikian ini itu bukan berarti kita memiliki kebebasan untuk mengendalikan batiniah kita mengikuti keinginan kita.

Sinchan dan keinginan-keinginannya (Bing Cretor Image)
Tak bisa dibantah bahwa manusia (subjek kognisi) masih tetap bertanggung jawab atas tindakan-tindakan dan perilaku-perilakunya, yaitu produk turunan dari keinginan bebas yang transendental yang, sekalipun di luar kendali kita, telah menjadikan demikian adanya kita ini. Tindakan kita adalah produk turunan dari siapa diri kita dan oleh karena itu setiap tindakan dan perilaku ya di bawah tanggung jawab mutlak kita.

On the Basis of Morality

Karya besar Arthur Schopenhauer berikutnya mengulas mengenai Etika adalah On the Basis of Morality. Esai ini sebagian besar berisi kritiknya terhadap sistem Etika-nya Kant dan pengembangan sistem Schopenhauer, yang menurut penulis adalah alternatif lebih baik. Filsafat Schopenhauer dapat didudukkan sebagai bentuk pengembangan lanjut dari pemikiran Kant, tidak terkecuali Etika-nya.

Schopenhauer menyoroti falasi mendasar dalam Etika Kant, yaitu gagasannya tentang moralitas. Menurut Kant, moralitas dibangun berdasarkan kepedulian terhadap hukum yang berlaku, dan konsekuensi atas tindakan atau perilaku kita. Oleh karena itu moralitas adalah sistem yang didasarkan pada pemahaman rasional kita akan dunia. Kita dapat memahami bahwa tindakan yang didasarkan pada mengindahkan hukum dan konsekuensinya, menurut Schopenhauer, tidak lain adalah egoisme. Dikatakan begitu karena tindakan kita itu dimotivasi untuk meraih ganjaran atau menghindari hukuman.

Perspektif Schopenhauer tentang Etika bukanlah bermaksud untuk menetapkan aturan atau hukum ketat yang kudu dipatuhi oleh orang-orang. Sebab, moralitas mestilah fokusnya pada bagaimana kita memikirkan kesejahteraan orang lain. Sebaliknya, watak hukum itu berpusat pada menjaga keselamatan kita sendiri dengan cara tidak merugikan orang lain, karena kita tahu itu akan membahayakan diri kita sendiri, yaitu berakibat dijatuhi sanksi hukuman. 

Alternatif yang diajukan Schopenhauer adalah Etika Sejati atau moralitas murni yang dilandaskan pada welas asih. Kita manusia pada dasarnya adalah egois karena memang begitulah bawaan alamiah kita. Dari egoisme itu lahirnya rasa mengingini. Oleh karena itu tiada cara lain untuk merealisasi moralitas, yang dapat diterjemahkan sebagai bentuk kepedulian kita terhadap kesejahteraan orang lain, dengan menumbuhkembangkan spontanitas intuitif dari welas asih dan perasaan empati atas penderitaan orang lain karena perilakunya yang tak bermoral demi mengurangi atau mencegahnya menderita lebih dalam lagi. 

Hakikat inheren dari batin setiap manusia adalah menderita. Artinya, sebuah keniscayaan bahwa kita mampu merasakan penderitaan orang lain sebagai penderitaan kita sendiri. Melalui kemampuan itu kita bisa benar-benar terdoring membantu orang lain dan tidak membuat mereka lebih jauh menderita. Inilah esensi dari moralitas.

Etika Welas Asih dalam Filsafat yang Pesimistik

Menelaah dasar-dasar Etika Schopenhauer, kita dapat menarik konklusi bahwa titik tekan filsafatnya adalah pada welas asih. Suatu pendekatan terntang apa itu moralitas yang begitu pure. Asumsi yang dapat ditarik adalah, satu-satunya cara membuat keputusan moral yang tanpa motif keuntungam pribadi ​​adalah bertindak ya bertindak saja secara spontan dan intuitif, tidak perlu mempertimbangkan secara rasional njlimet faktor-faktor eksternal luar diri. 

Tentu saja menarik bagaimana filsafat yang bercorak pesimistis dapat melahirkan perspektif tentang Etika yang jernih dan sehat dan secara paralel juga menjadi konsekuensi logis dari aspek inti filsafatnya yang tanpa celah kecacatan.

Danbo look at himself on mirror.
Pemahaman kita akan apa itu penderitaan yang merupakan bawaan alamiah eksistensi menyiratkan pemahaman kita bahwa diri kita secara alamiah adalah mungkin untuk keluar dari penderitaaan kita dengan menumbuhkembangkan welas asih. Mengakui egoisme kita sebagai akar penderitaan kita berarti mengakui tiada cara lain yang harus kita tempuh selain jalan tidak mementingkan diri sendiri. 

Sudah pasti dapat ditebak sistem Etika yang dikembangkan Schopenhauer dipengaruhi tradisi filsafat timur. Ia sendiri mengenal tradisi filsafat Asia selama ia tinggal di Weimar, Banyak aspek filsafat Asia, yaitu Buddhisme dan Hinduisme, terdetekai dalam karya-karyanya. Bahkan Schopenhauer mengklaim Buddhisme adalah agama terbaik di dunia. Aspek terpenting yang diadopsi oleh Schopenhauer dari agama-agama tadi adalah ide menidak pada hasrat keinginan dan puncak dari pengembangan diri ini adalah laku asketik.

Tak dapat disangkal jika pendekatan Schopenhauer terhadap moralitas berpengaruh besar terhadap karya-karya pemikir kaliber setelahnya dari berbagai bidang seperti Friedrich Nietzsche, Sigmund Freud, Albert Einstein, dan banyak lagi.





Postingan populer dari blog ini

Review Buku Harmoni Dengan Segala Kehidupan Karya Eckhart Tolle

Buku ini diperhatikan bab-babnya berisi beberapa topik yang di awal-awal menyampaikan perihal kesaatkinian dan korelasinya adalah pelampuan gagasan yang mana meliputi gagasan waktu dan gagasan keterpisahan perihal ilusi eksistensi atau aku terpisah mutlak dari keberadaan lainnya ( atta ), kemudian topik diakhiri perihal "harmoni dengan segala kehidupan", yang dalam bahasa sederhana saya adalah: yang biasa dikira aku sejatinya adalah elemen tiada terpisah dari alam semesta. Anda adalah alam semesta itu sendiri.  Secara sistematis, bab-bab secara serial mengarahkan pembaca kepada kesadaran—apa yang diistilahkan Tolle sebagai—"ruang internal". Sebab di sanalah sumber keberhidupan dan arah tepat pencarian kebahagiaan, ketenangan batiniah. Itu muncul ketika konsepsi aku padam—tidak membersit pada pikiran Anda. Dengan kata lain, Anda menjalani, melakukan, menghadapi yang saat-kini Anda di situ dengan mode pikiran intuitif. Gaya Kebahasaan Gaya pengungkapan keb...

Orang Ewe dan Agama Kepercayaan Tradisionalnya

Orang Ewe bisa dijumpai di  Ghana, Togo, dan Benin. Semuanya adalah negara-negara di bagian barat benua Afrika. Populasi terbesar mendiami Ghana. Tradisi dan kepercayaanya banyak dipengaruhi kebudayaan orang Akan dan Yoruba. Bahasa ibu orang Ewe termasuk rumpun Gbe. Orang Ewe terbagi menjadi klan-klan, tetapi menurut cerita lisan dikatakan berakar pada garis leluhur yang sama. Sistem kepemilikan properti adalah komunal, tidak menganut kepemilikan properti secara individu. Asesedwa , kesenian kayu menyerupai bangku, sangat esensial dalam tradisi Ewe. Karenanya, hal itu dibuat dan diukir sangat hati-hati. Dalam ukiran benda tersebut kaya narasi mengenai klan bersangkutan. Dalam ritual, Asesedwa merupakan media yang berfungsi sebagai tempat memanggi roh leluhur. Asesedwa. Menurut cerita turun temurun, asal-usul mereka berasal dari Kotu/Ketu atau Amedzowe, terletak di sebelah timur Sungai Niger. Kira-kira pada 1500, leluhur mereka bermigrasi ke Notsie, Togo. Pada mulamya, migrasi merek...

Dua Kelahiran (Sebuah Esai Kontemplatif)

Kita kerap disuguhkan bahwa lahir, menua, kemerosotan fisik atau sakit/penyakitan, dan kemudian kematian adalah Penderitaan ( dukkha ). Bahasa sehari-harinya, kita sering kali tidak rela ketiga peristiwa akibat dari dilahirkan tadi menimpa kita dan orang-orang terdekat. Keempat fenomena alam tadi masuk klasifikasi penderitaan disebakan jasmani.  Ada klasifikasi penderitaan lainnya: bersama yang tak disenangi/dicintai, berpisah ataupun kehilangan yang disenangi/dicintai, dan terakhirnya adalah tidak memeroleh apa yang dihasratingini/dinafsui. Saya istilahkan penderitaan disebabkan oleh kemampuan mengada yang darinya muncul kemampuan mengingini (mengidealkan dunia kita alami). Mohon diingat. Ini adalah tulisan bersifat kontemplatif dan ini rasa-rasanya tak ada dalam pengajaran naratif Buddhisme arus utama. Sekedar hasil perenungan dan proses memperjelas istilah yang bagi penulis cukup membingungkan mulanya   Mengapa Kita kerap Alami Suasana Batin Tak Nyaman Kita secara emos...

Apa Itu 4 Kebenaran Hakiki dalam Buddhisme?

Awal-awal ceramah Guru Gautama setelah pencerahannya berkisar di seputar Empat Kebenaran Hakiki, yang merupakan dasar dari Buddhisme. Salah satu cara untuk memahaminya adalah dengan memandang Kebenaran-Kebenaran tersebut sebagai hipotesis dan Buddhisme sebagai proses pemverifikasiannya untuk menjadi tesis, atau merealisasi hakikat akan Kebenaran-Kebenaran itu. Empat Kebenaran Hakiki Umumnya, arti Kebenaran ini ditangkap secara serampangan. Kebenaran tersebut memberi tahu kita bahwa hidup adalah penderitaan. Penderitaan disebabkan oleh loba (ketamakan), dosa (kualitas-kualitas psikiis mengganggu semisal amarah dan ras frustasi), dan moha (pandangan deluaif). Penderitaan berakhir ketika kita terbebas dari 3 kotoram batim tadi. Caranya dengan mempraktikkan apa yang disebut 4 Kebenaran Beruas Delapan. Secara urutan formalnya, Kebenaran tersebut bunyinya berikut: Benar ada penderitaan atau rasa ridak puas ( dukkha ) Benar ada sumber munculnya penderitaan atau tasa tidak puas ( samudaya...

𝙀𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙣 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖, 𝗔𝗽𝗮 𝙨𝙞𝙝 𝗠𝗮𝗸𝘀𝘂𝗱𝗻𝘆𝗮?

Leluhur mewariskan kita ajian tentang bagaimana menjalani hidup yang damai dalam diri, dituangkan dalam 𝘴𝘢𝘯é𝘱𝘢. Dengan itu kita diminta membuka kitab kita sendiri. Kitab itu adalah batin kita masing-masing untuk 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘯𝘢𝘰𝘯𝘪 dan 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘵𝘢𝘯𝘪. Orang Sunda dan orang Kenekes (Badui di Lebak, Banten) menyebut "ngaji diri". 𝘌𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘢𝘥𝘩𝘢 (baca: 𝘸𝘢𝘴𝘱𝘰𝘥𝘩𝘰) adalah ajaran bagaimana mergondisikan batin tiada gangguan agar kembali tenang, tiadanya semacam lubang dalam ruhani atau psikis atau batin, batin puas dengan yang ada, batin bening dan suci sebagaimana sifat asalinya, atau psikis bagaimana mengalami rasa syukur yang sebenar-benarnya syukur (bukan syukur 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘮𝘣é) apapun sedang dijumpai. 𝙒𝙖𝙨𝙥𝙖𝙙𝙝𝙖 "Waspadha" (baca: waspodho) atau 𝘯𝘺𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢'𝘯é adalah hadirnya pikiran pada saat-kini, pada momen yang berlangsung. Kita sering makan tetapi kita tak sepenuhnya benar-benar makan, tidak a𝘸𝘢𝘳𝘦 denga...

Apa Maksud Ungkapan Ikonik "Gott Ist Tot" Nietzsche?

Friedrich Wilhelm Nietzsche lahir dari seorang ayah pendeta Kristen pada 1844. Seperti ayahnya yang meninggal usia sangat muda yaitu 36 tahun, ia meninggal pada usia 56 tahun, setelah menghabiskan sepuluh tahun terakhir hidupnya dalam kegilaan yang disebabkan oleh gangguan mental, pada tahun 1900. Ia menulis beberapa buku mencekam dan menelanjangi cara pandang manusia. Di antara paling elegan ada Thus Spoke Zarathustra (Sabda Zarathustra),   Kelahiran Tragedi , Beyond Good and Evil (Melampaui Kebaikan dan Kejahatan) , Silsilah Moral , dan beberapa lainnya adalah yang populer dan dibaca kalangan luas. Terkenal bukan sekedar karya filosofisnya yang luar biasa, tetapi juga pengaruhnya terhadap ratusan pemikir filsafat, psikologi, dan sastra di era setelahnya. Sesuatu yang tak bersambut dan dihargai semasa hidupnya karena ide-ide dan gaya kefilsafatannya di luar arus ortodoksi, hal yang sangat mengganggunya. Namun, setelah itu, seperti ungkapan terkenalnya, "Beberapa lah...

Apa Maksud Samsara dalam Buddhisme?

Dalam Buddhisme, samsara sering diartikan sebagai roda siklus tumimbal lahir tiada berujung. Atau, anda mungkin menangkapnya sebagai dunia penderitaan dan ketidakpuasan ( dukkha ), lawan dari nibbana  yang mana istilah kedua ini merujuk pada suatu kondisi terbebas dari penderitaan dan siklus tumimbal lahir—atau orang umum mengenal dan menyamakannya dengan reinkarnasi. Secara literal, istilah samsara yang berasal dari Sansekerta, berarti "mengalir" atau "melewati", yang dilustrasikan dengan Roda Kehidupan dan digambarkan dengan Dua Belas Asal Muasal Saling Bertaut Kemengadaan. Pada umumnya dipahami sebagai kondisi terbelenggu oleh keserakahan, kebencian, dan ketidaktahuan, atau terjebak ilusi yang mengaburkan realitas sejati ( Sunyata ). Dalam falsafah Buddhis tradisional, kita terjebak dalam samsara dari satu kehidupan ke lain kehidupan hingga kita menemukan kebangkitan melalui ketercerahan. Namun, pengartian samsara paling baik, dan mungkin pengartiannya dapat dit...

Dua Kebenaran dalam Mahayana Buddhis

Apa itu kenyataan? Kamus memberi tahu kita bahwa kenyataan adalah "kondisi sebagaimana adanya". Dalam Buddhisme Mahayana, kenyataan dijelaskan dalam doktrin Dua Kebenaran. Doktrin ini memberi tahu kita bahwa kenyataan dapat dimengerti baik sebagai kenyataan ultim sekaligus kenyataan konvensional (atau absolut dan relatif). Kebenaran konvensional adalah seperti kita sehari-hari melihat dunia, tempat yang penuh dengan hal-hal dan fenomena-fenomena khas yang beragam. Kenyataan ultim-nya adalah tidak ada hal-hal atau fenomena khas. Mengatakan tidak ada perbedaan hal-hal atau fenomena yang khas bukan berarti tidak ada yang eksis sama sekali, yang jelas tidak ada perbedaan. Yang mutlak absolut adalah  dhammakaya , kemenyeluruhan segala sesuatu dan eksistensi, tiadalah pula tampak. Mendiang Chogyam Trungpa menyebut dhammakaya sebagai "dasar dari ketidaklahiran yang asli." Bingung? Anda banyak temannya  kok . Ini bukan ajaran yang mudah untuk "ditangkap", tetapi s...

Mengapa Banyak Orang Amerika Menganggap Buddhisme Sekedar Filsafat?

Di Asia timur, Buddhis merayakan mangkatnya Buddha dan datangnya pencerahan di akhir bulan Februari. Akan tetapi di kuil  Zen  lokal saya di North Carolina, pencerahan Buddha diperingati selama musim liburan bulan Desember, diisi dengan ceramah singkat bagi anak-anak, penyalaan lilin, dan makan malam ala kadarnya di akhir acara. Selamat datang di Buddhisme, gaya Amerika. Pengaruh Awal Pengaruh Buddhisme dalam kesadaran budaya masyarakat Amerika muncul di akhir-akhir abad ke-19. Zaman ketika gagasan romantis tentang mistisisme Timur nan eksotis memantik imajinasi filsuf dan penyair Amerika, penikmat seni, dan angkatan awal para penstudi religi-religi global. Penyair dengan kecenderungan gaya transendentalis seperti Henry David Thoreau dan Ralph Waldo Emerson mempelajari filsafat Hindu dan Buddha secara mendalam. Juga ada Henry Steel Olcott, yang rela pergi ke Sri Lanka pada 1880, yang melakukan konversi ke Buddhisme dan mendirikan aliran filosofi mistik yang terkena...

Berkenalan Tema-tema Dasar Buddhisme dari Buku Peter D. Santina

Anda akan dapat menemui banyak ragam dikenali dari Buddhisme di tataran kasarnya. Namun ragam rupa tampakan tradisi dan pengajaran Buddhisme, yang seolah berbeda, disamakan oleh tema-tema utama: Empat Kebenaran Ariya dan Delapan Ruasnya, Tiga Ciri Universal Keberadaan, Karma, dan tumimbal lahir (saya pahami sebagai kemampuan mengada (bereksistensi), bukan sekadar ada, yang dalam konteks filsafat Buddhis adalah produk ilusi mental). Jika Anda ingin mengenal apa kiranya yang bermanfaat untuk kesehatan mental kita di dunia yang cepat nan sesak ramai objek-objek merangsang hasrat keinginan kita tanpa sudah, maka buku Dr. Peter D. Santina ini layak. Menyuguhkan dasar-dasar bagi siapa saja yang baru awal-awal mengenal Buddhisme. Santina mengupas dalam pendekatan sekuler. Tak salah kalau bab pertama buku ini diberi tajuk "Agama Buddha: Sebuah Sudut Pandang Modern". Walau di beberapa titik tampak sekilas Santina menyinggung nilai-nilai Buddhisme yang kebanyakannya memenuhi alam pikir...